Eros terduduk lesu mendengar perintah Arjun yang kini telah meninggalkan dia sendirian.
kepala nya mendadak nyeri,karna memikirkan cara bagaimana memberi tahu Aruna?
pria itu menghela nafas gusar,lalu segera bangkit dari sofa menarik kasar jas yang tersampir di sisi sofa.
"kamu!turun sekarang!"
"tu-turun?"tentu saja Rania terkejut mendengar perintah Eros
"iya,cepet!saya mau kerumah Aruna" akhirnya dengan terpaksa Rania segera turun dari mobil itu.
Eros menekan pedal gas setelah menurunkan Rania,tidak perduli bagaimana gadis itu sampai kerumahnya.Yang hanya dia pikirkan adalah Aruna saat ini.
kekasihnya itu sangat butuh Eros saat ini,dengan kecepatan tinggi Eros melajukan kuda besinya menuju kediaman Aruna.
Sesampainya dirumah Aruna,Eros segera menuju kamar Aruna,kekasihnya terkulai tak berdaya diatas ranjang .
membuat Eros prihatin,badan wanitanya sangat panas dan menggigil hebat.
"sayang?aku kangen"katanya dengan suara lirih,Eros mengusap kepala Aruna lalu mengecup keningnya.
"ada aku disini,aku temenin ya.Sekarang kamu bisa tidur nyenyak"
Eros menepati janjinya,dia berasa disamping Aruna hingga pagi menjelang.
****
"Rania ,berangkat ya bu" setelah menghabiskan makannya,Rania segera mengamit tangan ibunya seraya melangkahkan kakinya menuju motor kesayangannya.
"hati hati ya,sayang"Rania mengangguk pelan,lalu menghidupkan motornya.
Rania memandang dari kaca spion bagaimana ibunya masih melambaikan tangan kearah punggung gadis itu.
selama berkendara,Rania tidak fokus pada sekitarnya,meski tatapan matanya fokus pada aspal yang halus.
nyatanya pikiran gadis itu melayang ,apalagi mengingat ucapan ibunya saat dimeja makan beberapa menit lalu.
ibunya mengungkapkan betapa dia sangat bahagia,karna Rania akhirnya menikah dengan lelaki yang baik dan tepat,gadis itu tersenyum getir,
laki laki baik?
bahkan karna laki laki itu,Rania harus berbohong pada semua orang.
pria macam apa Eros Narotama Reswari itu,belum menjadi suami sudah senang memerintah dan suka mengancam pula.
brukk...
motor Rania tidak sengaja menubruk mobil yang berhenti didepannya,membuat gadis itu tersungkur karna motornya oleng.
"ah..."dia meringis karna nyeri pada bagian siku yang terhantam aspal.
pemilik mobil segera keluar dan memeriksa yang terjadi.
"ma-maaf" Rania terbata bata seraya menundukkan kepala,dirinya sudah menyiapkan mental jika si pemilik mobil ini akan memakinya,dia sadar posisinya bersalah kana lalai saat berkendara
"nggak salah ,kalau kamu nabrak mobil orang.Apa kamu menyetir dengan menundukkan kepala?"terkejut dengan ucapan pria dihadapannya,membuat kepala Rania mendongak kasar.
"ma-mas Eros?ini mobil mas Eros?"tunjuk Rania kearah mobil,semakin ketakutan.Karna setau Rania mobil Eros berwarna hitam bukan putih seperti ini.
"kenapa?kaget?mobil saya banyak jadi nggak usah kaget gitu, biasa aja"jawabnya santai,Rania beristighfar dalam hati ,kalau saja bisa mengulang waktu ,dia memilih menabrak mobil orang lain saja.ketimbang milik Eros.
ya Allah,mengapa aku ditakdirkan seperti ini.
"sudah bengong nya?"tanya Eros sedikit menaikkan alis.
"ah maaf,saya -saya cuma sedikit kaget"
"ck,lain kali hati hati kalau nyetir.Untung yang kamu tabrak mobil yang lagi berenti,coba kalau bukan.Bisa melayang nyawa mu"entah itu sebuah perhatian atau ejekan.
yang jelas ucapan itu sangat kasar ditelinga Rania.
"satu lagi saya nggak suka dipanggil mas,kita nggak seakrab itu!"Rania mengangguk mengerti.
"ada apa sayang?"Eros maupun Rania menoleh kearah suara seorang wanita yang Rania yakin,itu adalah pacarnya Eros.
"nggak apa apa,cuma kecelakaan kecil"Eros menunjuk bagian mobil yang lecet.
"makanya,mbak.Lain kali tu lihat lihat dong,kalau bawa motor"ucap Aruna kepada Rania sedikit nada nya tinggi.
"udah,sayang nggak apa apa.Yuk,masuk!" Rania hanya mampu meringis,bagaimana memperhatikan sikap lembutnya Eros kepada Aruna seraya menggenggam tangan wanita itu ,
sangat berbeda saat Eros memperlakukan dirinya seperti tak punya harga diri.
apa kah akan seperti ini makanan sehari harinya setelah menikah dengan Eros nanti?entahlah,dia sendiri tidak tahu
***
"terlambat sepuluh menit"ujar Salwa menyambut Rania yang sedikit kusut,bajunya terdapat beberapa noda termasuk pada sikunya.
"maaf,tadi ada insiden kecil"jawab Rania seraya duduk di meja kerjanya ,menghidupkan CPU nya diikuti dengan Salwa dibelakangnya.
"ada apa?"tanya Salwa penasaran,sambil bersandar di meja Rania.
"nggak apa apa ,cuma habis jatuh aja"Salwa memindai pakaian yang melekat pada tubuh Rania.
"kok bisa?"
"nggak fokus nyetir aja tadi"jawab Rania tanpa minat
"ya udah,yuks..lanjut kerja"Rania mengangguk seraya menyalakan monitor dimeja kerjanya.
sementara Salwa,mengecek beberapa gulungan kain yang berada tak jauh dari meja Rania.
saat mereka fokus dalam kesibukan masing masing, lonceng berbunyi ketika pintu utama terdorong terbuka.
"ada customer,tuh" ujar Rania yang dapat anggukan dari Salwa.
"ada yang bisa dibantu?"tanya Salwa ketika menyambut kedatangan mereka
"saya mencari gaun untuk pacar saya"suara bariton yang membuat Rania menyentak kepala mengarah padanya.
dari sekian banyak customer yang datang mengapa hanya satu yang membuat tatapan mata Rania seolah tak ingin bergeser.
menatap keromantisan calon suaminya bersama dengan kekasihnya.
dari meja kerjanya,dia tampak memperhatikan kedua orang itu menyeleksi gaun yang di tawarkan oleh Salwa.
"Ran,gaun satin warna peach masih ada stok nggak?"
Rania masih terdiam,Salwa menatap aneh kepada wajah cantik Rania
"Ran"Salwa sepertinya mengerti kemana titik arah ekor mata itu berpusat.
"Ra-ni-a yuhuuu"
"hmm"Rania menoleh kearah Salwa setelah beberapa tepukan mendarat dibahu nya
"jangan bilang,kamu cemburu!"tuduh Salwa menggoda.
"enggak lah,siapa yang cemburu,ngada ngada aja"Rania menepis pikiran Salwa,dirinya merasa malu karna ketahuan menatap Eros dan Aruna seperti hendak menerkam.
"baguslah!aku nggak mau ,kalau sampai kamu jatuh cinta sama pria kejam seperti dia"
"bukannya ,waktu itu kamu muji katanya dia tampan sempurna,kenapa sekarang kayak kesel gitu?"tanya Rania seraya tersenyum.
"gimana nggak kesel,denger cerita kamu aja udah bikin aku menarik kata kata ku yang pernah kagum sama Eros"jawab Salwa yang diiringi gelak tawa Rania
benar kan?semua wanita pasti memuja ketampanan Eros,namun setelah mengetahui sisi buruk pria itu,maka perlahan mereka mengurungkan niatnya menjadi fanbase pria itu.
"ya udah buruan,gaun satin peach brokat "
"masih ada stok kok"jawab Rania,Salwa mengangguk kemudian berlalu di bagian gudang khusus penyimpanan.
.
.
.
.
"sayang,maaf sebelumnya.Aku harus mengatakan sesuatu sama kamu"
"apa itu sayang?"
Eros menghela nafas berat hingga akhirnya memutuskan untuk bicara.
"bulan depan,aku akan menikah sayang,dengan gadis pilihan orang tua aku"
Aruna menatap lekat manik gelap pria dihadapannya.
rasa bersalah menelusup dalam hati Eros
"apa benar begitu sayang?"tanya nya mulai parau.
Eros mengangguk,pria itu tahu baru saja menancapkan sebilah pisau tak kasat mata pada wanitanya.
"kenapa kamu mau?bukannya kamu akan memperjuangkan aku Eros?jadi sekarang,apa seperti ini caramu memperjuangkan aku?"air mata Aruna mulai menggenang.
"Sayang,aku tidak ada pilihan lain.Kalau aku menolak menikah dengan gadis itu,maka aku harus pergi ke L.A"
"untuk apa?"
"menetap disana"
Aruna menghela nafas,dia mulai paham namun hatinya tidak rela jika kekasihnya menjadi suami dari gadis lain.
"sayang!percaya sama aku"Eros menangkup kedua pipi kekasihnya.
Aruna mengangguk patuh,bukannya selama ini Eros sangat mencintainya,untuk apa dirinya ragu akan hal itu.
bukankah Eros menikahi gadis itu karna hanya demi dirinya?Aruna harus mendukung yang terbaik untuk hubungan mereka bukan.
"Makasih sayang"Eros memeluk erat tubuh Aruna.