06.wedding day

1023 Words
SATU BULAN KEMUDIAN hari yang tak di harapkan dalam agenda hidup Rania pun terjadi.meneguk air minum perlahan mengurangi kegugupannya. "Ran?"gadis itu bangkit dari duduknya menyambut kedatangan Salwa yang menyembul dibalik pintu kamar. "Salwa" Rania memeluk erat Salwa ,jujur dirinya benar benar tidak siap melepas masa lajangnya sekarang. "Jangan sedih!ikhlaskan"Rania mengangguk mendengar nasihat sahabatnya. tak dipungkiri,hatinya sedih karna sebentar lagi dia harus meninggalkan rumah yang menjadi tempat tinggalnya selama dua puluh tahun. "makasih,Sal" Rania mengusap air matanya yang sempat menitik saat memeluk Salwa . "yuk,keluar!sebentar lagi ijab qobul di mulai"Salwa menuntun Rania ke ruang tamu,dimana terdapat beberapa tamu sudah menunggu. tak banyak memang,karna Rania yang mengusulkan bahwa pernikahan ini dilangsungkan sederhana saja yang penting berkah. acara ijab qobul berlangsung sempurna dan khidmat. kini Rania dan Eros resmi menyandang status baru yakni suami istri. tatapan dingin Eros tak berubah kepada Rania,masih tetap sama. tapi Rania tak peduli,dirinya tak ingin mempermasalahkan apapun di hari sakralnya ini,meski dirinya pun sama.Namun tak ingin menuai curiga orang orang sekitarnya,gadis itu berusaha menampilkan senyum dibalik luka yang tersembunyi. hari yang sebenarnya tidak perlu ada secepat ini. 'semoga,engkau berikan aku ketabahan menghadapi Eros suamiku ya Rabb' Rania berdoa dalam hatinya **** Rania menginjakkan kakinya di unit apartemen mini milik Eros. Meski Arjuna maupun Widya keberatan karna mereka harus tinggal disana.Namun,Rania tak keberatan . dia mengatakan bahwa kemanapun Eros membawanya ,dia hanya ikut saja.Betapa mulia nya hati Rania dimata Arjuna dan Widya,meski kedua orang itu belum yakin sepenuhnya melepas Rania begitu saja berdua dengan Eros. sedangkan Eros,beralasan agar memilik privasi berdua dengan istrinya. tentu saja,Rania paham bahwa alasan itu bohong.Yang benar adalah ,agar dirinya bisa pergi dan pulang dengan bebas tanpa omelan dari Arjuna. "kita pisah kamar" tiga kata yang sudah Rania yakini akan terlontar dari mulut kejam suaminya. "saya,tahu!" jawab Rania seraya menarik kopernya kedalam kamar yang telah ditunjuk oleh Eros sebelumnya. sementara Eros bergeming,memperhatikan punggung gadis berhijab itu. . . . . "ibu,silahkan masuk" Rania menggandeng lengan ibunya menuju ruang tamu mini yang terhubung dengan dapur. "kemana,Eros?"tanya Widya setelah menyadari bahwa Rania hanya sendirian. "ada urusan kantor sebentar bu"jawab Rania sambil membawa minuman dan duduk disamping mertuanya. "anak itu,selalu saja begitu"dengus Widya kesal karena tingkah anaknya yang mengabaikan istrinya dihari pertama menikah. "tidak apa apa ,ibu.Rania tidak mau terlalu menekan mas Eros untuk tidak sibuk,memang dari awal dia pria yang selalu sibuk kan?" Widya tersenyum kearah Rania "kamu benar benar istri yang pengertian,Rania.Betapa beruntungnya Eros memiliki berlian seperti mu" "ibu bisa saja"jawab Rania tersipu malu,meski dalam hatinya dia merasa bersalah karna telah membohongi mertuanya. "Ran,saya mau pergi,kalau butuh apa apa kamu turun ke supermarket dibawah!" "iya!" "saya mau kerumah ,Aruna!"Rania sudah tahu. "satu lagi,kalau ibu atau ayah kesini ,kamu kasih tau kalau saya sibuk ngurusin kerjaan" tak menjawab apapun,Rania hanya mengangguk paham,kemudian berlalu kedalam kamarnya melewati Eros . "kamu tidak bisu kan?" "lalu harus seperti apa saya menjawab?bukankah kalau saya mengatakan tidak pun,itu tidak berarti apa apa untuk kamu"Rania terlihat sangat kesal sekarang,dirinya selalu diperintah sesuka hati oleh Eros. "ck,saya baru tau kamu cerewet sekali"Rania mengatupkan mulutnya,menghembuskan nafas gusar seraya beristigfar. "Ran?"Widya menggoyang bahu menantunya pelan. "iya bu?" "kamu tidak dengar apa yang ibu bicarakan barusan" "maaf ,bu"Rania menundukkan kepala. "lain kali,jangan suka melamun ya sayang,itu tidak baik" "iya bu,maaf" "tidak apa apa,ibu barusan hanya bilang kalau Eros alergi dengan udang dan sejenis ikan" Rania mengangguk paham,setidak nya informasi ini berguna untuk kedepannya. **** disisi lain,Eros memegang mesra tangan wanitanya,sesekali mengecup punggung tangan wanita itu menunjukkan betapa dia sangat mencintai Aruna. Salwa hanya geleng geleng kepala menyaksikan tingkah suami dari sahabatnya itu,meski dia tahu dari awal pernikahan mereka memiliki tujuan tertentu. Tapi tetap saja melihat eros pergi berdua bersama kekasihnya membuat Salwa panas hati ,dia ikut merasa sakit menyaksikan kemesraan kedua insan beda kelamin itu "kamu kenapa,dek?"tanya Firdaus kepada sang adik "nggak apa apa"jawabnya gugup sambil menyesap minuman di depannya,tidak lucu kalau Salwa menceritakan perihal ini kepada Firdaus. Salwa masih tahu batasan,untuk tidak menceritakan tentang masalah rumah tangga Rania,meski pada dasarnya Salwa dan Firdaus sangat dekat. "oh ya ,..katanya Rania mulai tinggal di Surabaya?"tanya Firdaus,Salwa mengangguk .Satu hal yang dia lupa,kini Rania sudah terbelenggu dalam sangkar emas milik suami nya yang kurang ajar itu,bahkan dia lupa bahwa pernah terpesona pada Eros,dia termasuk gadis dalam barisan pengagum pria itu. Namun,setelah tahu betapa liciknya pria itu,Salwa turut berduka karna ternyata pria dambaan semua wanita nusantara memanglah sangat buruk,dan sialnya harus Rania yang merasakan itu.kasihan sekali.... "muka kamu kenapa mendadak suram gitu sih dek?" "cuma mikirin Rania,gimana kehidupannya setelah bersuami,apa dia bahagia?"tanya Salwa menerawang. Firdaus tersenyum menanggapi pertanyaan adiknya,apakah sang adik sedang merasa cemburu karna ditinggal menikah oleh sahabat dekatnya. "iya jelas lah dek,namanya juga menikah dengan orang yang dicintai,kenapa ?kamu juga ingin menikah?" Salwa sontak mendelik kearah kakaknya "abang ih,Salwa belum punya pacar juga,gimana mau nikah" "ta'aruf dong,dek,masa pacaran" Salwa mendengus sebal,ta'aruf katanya?membayangkan tentang taaruf membuat dia bergidik ngeri.Bagaimana nanti jika bertemu dengan pria yang seperti Eros? . . . . "kamu tahu ini jam berapa?" Eros berdiri diambang pintu seraya berkacak pinggang setelah menyambut Rania yang baru saja pulang kerja,wajah gadis itu terlihat sangat lelah dan sayu.Namun Eros tak peduli. "maaf saya ada kerjaan tambahan"Rania tak berniat meladeni kemarahan Eros,dia cukup penat dan pusing karna pekerjaan nya hari ini sangat menguras tenaga. Eros menahan tangan gadis itu tang berniat meninggalkannya dan menyeretnya paksa ke dapur "akhh .sakit!"Rania meringis merasa sakit pada lengannya "bikin minum!saya ada tamu"netra gadis cantik berwarna coklat itu beralih ke ruang tamu mini ,dugaannya tidak salah,tamu yang dimaksud Eros adalah Aruna,yang kebetulan Aruna sedang menatap Rania dengan tatapan mengejek. setelah menghela nafas pelan,Rania mulai menyiapkan minuman,gadis itu meraih gelas kaca berkaki lalu menuangkan minuman segar kedalamnya. sementara Eros sudah duduk kembali berdekatan dengan Aruna ,wanita berpenampilan seksi itu bergelayut manja dilengan pria itu,entah kemana rasa malunya bisa bisanya bermesraan didepan orang lain. Meski demikian,tak membuat Rania ambil pusing,dia berusaha untuk membentengi diri untuk tidak jatuh pada pesona Eros. Entah akan sampai kapan?karna dia sendiri tidak berjanji bisa bertahan untuk membuat pertahanannya tidak roboh. "silahkan!"Rania meletakkan gelas itu keatas meja,kemudian berlalu ke kamarnya,meski baru saja dia merasakan nyeri akibat melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Eros bermesraan dengan kekasihnya,namun sesegera mungkin dia menyadarkan posisinya. astagfirullah, gumamnya seraya mengelus dadanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD