Saat semua orang tertidur dengan lelap, Rere malah terbangun dari tidurnya. Ia melirik jam yang menggantung di dinding. "Pukul setengah dua belas," gumamnya. Alih-alih kembali tidur, ia malah berbalik dengan perlahan. Melihat Marcel yang masih tertidur, seraya memeluk dirinya. Dalam diam, Rere memperhatikan setiap inci wajah Marcel. Wajah yang begitu tampan, dengan hidung yang menjulang tinggi, serta rahang tegas yang ditumbuhi rambut halus. Tanpa bisa ditahan, Rere mengelus rahang tersebut. "Aku selalu melarangmu untuk kembali ke masa lalu untuk memperbaiki semuanya. Agar kita bisa bersama, tanpa ada pembatas diantara kita. Seperti sekarang ini. Jujur, Cel. Sebenarnya aku juga ingin." Kedua mata Rere mulai memanas. Mengingat besok ia akan kembali berpisah dengan Marcel. Kalau seper

