"Ma, pa.. sebelumnya Farzan minta maaf. Farzan gak ngomong ini sebelumnya. Farzan suka sama seorang gadis. Tapi dia wanita sederhana. Tidak kaya. Tapi, yang Farzan tahu, dia kaya iman dan dia seorang wanita yang akan selalu menghormati Farzan. Dan satu lagi kesalahan Farzan, aku udah ngelamar dia."
Pak Shakeil dan istrinya sangat terkejut mendengar penuturan Farzan.
"Farzan, Papa percaya sama kamu nak. Kamu adalah anak tunggal. Papa tau sifat kamu. Papa yakin, apapun yang jadi pilihanmu, itu yang terbaik."
Pak Shakeil memeluk anaknya. Farzan gembira karena Papanya dapat menerimanya dengan mudah.
"Mama juga senang, nak. Sekarang anak mama gak jomblo lagi. Anak mama udah punya calon. " Bu Shakeil tertawa dan ikut memeluk putranya.
••
Risa memperhatikan kakaknya yang tengah senyum-senyum sendiri. Tanpa Nayra sadari, Risa melihat cincin yang dipakai Nayra.
"Kak, ini cincin baru ya?"
Nayra langsung menyembunyikan tangannya.
"Dapat dari siapa kak? Kelihatannya mahal ."
Nayra jadi bingung. Dia harus bicara apa, tentang semua ini?
"Kakak gak bisa kasih tahu sekarang. Nanti kamu bakalan tahu sendiri kok." Kata Nayra.
"Aku tahu, kakak dikasih kak Farzan, kan?" Kata Risa menebak.
"Udah, ah. Kakak mau keluar dulu."
Nayra keluar dari kamarnya. Mencari sosok ibunya. Namun tak ada diruangan manapun. Pastinya ada dikamarnya beristirahat.
"Ibu, kenapa?"
Nayra melihat kondisi ibunya yang sedang terbaring sakit.
"Ya Allah, ibu demam. Ibu minum obat dulu ya?" Nayra mencari kotak obat dan memberikan obat demam untuk ibunya.
"Kamu gak usah repot-repot nak. Ibu gak apa-apa kok."
Ibu Ismail masih saja mengelak, padahal dia tahu kalau Ibunya benar-benar sakit.
"Nak, kerjaan ibu masih banyak . Tolong selesaikan iya?"
Begitulah, terkadang Nayra sering datang kerumah Zayra untuk membantu menyelesaikan pekerjaan ibunya ketika sedang berhalangan.
Nayra menuju kerumah Zayra yang berada didepan rumahnya. Rumah Zayra sangat besar. Bahkan, saking besarnya , rumahnya yang begitu kecil tak terlihat.
"Assalamualaikum, yah." Nayra menghampiri ayahnya yang sedang menyiram bunga dihalaman.
"Waalaikumsalam. Kok kesini nak? Yang jaga butik siapa?" Tanya Pak Ismail.
"Ada Risa yah. Nay, mau gantiin ibu. Dia lagi sakit sekarang. Biar Nay, yang selesaikan pekerjaan ibu."
Pak Ismail tersenyum.
"Baiklah. Kerjakanlah. Setelah itu pulang."
Nayra masuk dan segera mencuci piring-piring kotor yang menumpuk banyak.
"Nayra, jangan lupa, setelah cuci piring, langsung bersihkan kamar tamu."
"Ya, bu." Jawab Nayra.
Bu Mirza, wanita yang tak pernah suka dengan Nayra. Apa lagi suami dan putrinya begitu peduli padanya.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Nayra pergi kekamar tamu dan mulai membereskannya. Tiba-tiba ada seseorang yang memegang tangannya.
"Bang Azriel. Lepasin tanganku, bang." Ucap Nayra.
"Hai, Nayraku sayang. Apa kabar? Kamu memang calon istri yang baik. Aku baru datang, kamarnya sudah bersih."
Azriel adalah sepupu dari Zayra. Dia punya tabiat yang buruk. Suka mabuk dan judi. Nayra tak pernah menyukai keberadaan pria itu. Azriel baru datang dari luar negeri. Dan perlu diketahui, Azriel suka pada Nayra sejak remaja. Dia selalu mencoba mengganggu Nayra setiap kali Datang ke Indonesia. Tapi, Nayra selalu menolak mentah-mentah lelaki itu.
"Kamu makin cantik aja." Ujar Azriel.
Nayra menarik tangannya dan segera berlari keluar.
"Ada Apa , Nay? Kok kamu ketakutan gitu." Ucap Zayra yang baru turun dari Kamarnya.
"A..aku."
Belum sempat berucap. Zayra sudah melihat Azriel.
"Ini pasti bang Azriel. Udah Zay bilang, bang. Jangan ganggu Nayra. Kalau abang ganggu dia lagi. Aku aduin sama Papa." Ancam Zayra.
"Zay, aku pamit dulu ya? Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Nayra masih keluar dengan wajah ketakutan.
"Abang, aku bilang sekali lagi. Jangan ganggu Nayra. Abang bisa kan, cari wanita lain. Wanita yang sama bejatnya kayak abang. Tapi Nayra, dia itu Wanita baik-baik." Kata Zayra.
"Ok. Ok. Aku ngerti." Azriel pergi
Dia memang selalu diam ketika Zayra mengomelinya. Tapi, dibalik semua itu, Dia tak pernah berhenti mengganggu Nayra.
••
Pak Shakeil dan juga istrinya sedang menuju ke alamat yang diberikan Farzan. Farzan tak bisa hadir karena dia harus keluar kota untuk mengecek perusahaannya. Tapi, Farzan sudah memberitahu pada Nayra jika dia tak bisa ikut.
Pak Shakeil menanyakan Alamat itu pada warga sekitar.
"Pak, alamat ini dimana ya? Rumahnya Nayra." Ucap pak Shakeil.
"Itu, pak. Rumah besar diujung sana." Kata bapak tua.
Sepertinya takdir berkata lain. Bapak tua itu salah dengar. Yang dia dengar adalah nama Zayra. Mungkin karena namanya mirip.
Pak Shakeil menuju rumah itu. Satpam membuka gerbang dan menyuruh pak Shakeil untuk kedalam.
"Pa, katanya Farzan. Calonnya ini cuma gadis biasa. Tapi kenapa rumahnya sebesar ini?" Kata bu Shakeil.
"Ah, mama kayak gak tahu aja kalau anak kita itu suka merendah." Kata pak Shakeil.
"Iya juga, pa."
"Assalamualaikum"
Ucap pak Shakeil ketika seseorang membuka pintu.
"Waalaikumsalam. Pak Shakeil?" Kata bu Mirza.
"Lho, ini kan, Bu Mirza." Kata Pak Shakeil.
"Ya Allah, pak. Suami saya pasti senang lihat bapak datang. Mari masuk."
Ternyata mereka sudah saling mengenal.
Disana sudah ada Bu Mirza dan juga pak Mirza . Mereka semua duduk dengan amat serius.
"Begini pak. Sebenarnya kedatangan kami kesini untuk melamar putri bapak dan Ibu Mirza, untuk putra kami, Farzan Reyhan Shakeil." Ucap pak Mirza.
Bu Mirza senang sekali mendengar ucapan pak Shakeil.
"Putri saya sering bercerita tentang putra kalian. Ayra selalu cerita sama saya." Ucap bu Mirza
"Ayra?" Tanya pak Shakeil.
"Iya, kami biasa manggil dia Ayra."
Pak Shakeil dan isrtrinya mengira gadis itu adalah Nayra yang dipanggil Ayra.
"Bagimana pak, bu? Apa lamaran kami diterima?" Pak Shakeil bertanya.
"Untuk itu, saya harus menanyakannya dulu pada Ayra."
Bu Mirza memanggil Zayra. Dan saat itu juga Zayra turun.
Bu Mirza tersenyum ketika melihat Zayra. Kesan pertama, wanita itu cantik.
"Nak, kami kesini untuk melamarmu. Anak kami, Farzan mencintaimu. Tapu, dia tidak bisa ikut kesini. Apakah kamu mau menerima lamarannya?"
Ucapan pak Shakeil membuat Zayra senang dan tak pernah menduganya.
Ternyata kak Farzan juga mencintaiku. Batin Zayra.
"Aku.. aku menerima lamaran ini." Zayra tertunduk malu sambil menjawab itu.
"Alhamdulillah. Farzan pasti senang mendengarnya."
Mereka semua senang dengan kebahagiaan ini. Tanpa mereka tahu ada seseorang yang sedang menanti. Menanti kepastian tentang janji seseorang yang dia cintai. Dari sinilah semuanya akan dimulai. Karena dari satu kesalahan ini akan menciptakan berbagai kesalahpahaman.
Saat di dalam mobil, keduanya berbincang mengenai Zayra.
"Zayra itu cantik dan berhijab ya pa? mama suka." kata bu Shakeil.
"papa juga suka, ma. Farzan pasti bahagia. Dia akan beruntung karena mendapat wanita yang cantik dan berhijab pula." kata pak Shakeil
Keduanya tiada hentinya memperbincangkan Zayra. Tanpa mereka tahu kalau mereka telah berbuat suatu kesalahan.