Awal dari Permainan Berbahaya
Awal dari Permainan Berbahaya
Ruangan konferensi di lantai atas gedung megah itu terasa penuh tekanan. Semua orang yang duduk di sekeliling meja panjang terdiam, menunggu dengan cemas. Di sudut ruangan, Gita—seorang pengacara muda dan berbakat—menatap keluar jendela besar dengan perasaan campur aduk. Hari itu adalah hari pertamanya bertemu dengan klien paling kontroversial yang pernah dia tangani: Jhonathan Wijaya.
CEO berusia tiga puluh lima tahun itu terkenal bukan hanya karena kecerdasannya dalam dunia bisnis, tetapi juga karena sikapnya yang arogan, dingin, dan tak terduga. Jhonathan adalah sosok yang tidak pernah segan memecat karyawan di depan umum, atau menghancurkan perusahaan pesaing dengan satu keputusan. Gita sudah mendengar banyak cerita tentangnya, dan semuanya hanya memperkuat keyakinannya bahwa pria ini berbahaya, bukan hanya dalam hal bisnis, tetapi juga dalam hal emosi.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan suara pelan, namun kehadiran yang memasuki ruangan seolah mengisi setiap sudutnya dengan aura d******i. Gita berbalik dan melihat Jhonathan memasuki ruangan dengan langkah mantap, tubuhnya tegap dan wajahnya tanpa ekspresi. Mata gelapnya dengan cepat menyapu ruangan sebelum akhirnya berhenti pada Gita.
Tatapan mereka bertemu, dan dalam sekejap, Gita merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Detak jantungnya meningkat tanpa alasan jelas, dan dadanya berdebar-debar. Ada sesuatu tentang Jhonathan yang mengintimidasi, namun di saat yang sama, memikat dengan cara yang tidak bisa dijelaskan.
Jhonathan berhenti di ujung meja, tangan kuatnya dengan anggun merapikan lengan jas hitamnya. "Selamat pagi," suaranya dingin dan tajam, seperti sepotong es yang memotong keheningan. Semua orang di ruangan itu mengangguk dengan cepat, takut untuk melakukan kesalahan di depan pria ini. Namun, Jhonathan tetap memfokuskan pandangannya pada Gita.
“Jadi, Anda yang akan menangani kasus saya?” tanyanya, nadanya datar, namun ada sedikit kilatan yang sulit ditafsirkan di balik matanya.
Gita menarik napas dalam-dalam dan menguatkan dirinya. "Betul, Pak Jhonathan. Saya Gita, pengacara dari kantor hukum yang Anda pilih," jawabnya sambil menahan ketegangan yang merambat di tulang belakangnya.
Pria itu mengangkat alisnya, bibirnya melengkung sedikit, hampir seperti sebuah senyuman yang tidak sepenuhnya tulus. “Saya harap Anda tahu apa yang Anda hadapi,” katanya, suaranya penuh dengan keyakinan yang menggema di seluruh ruangan.
Gita menatapnya dengan tegas. "Saya tahu betul, dan saya siap untuk menangani segala sesuatu yang mungkin muncul," jawabnya, berusaha menunjukkan kepercayaan diri meskipun ada rasa gentar di dalam hatinya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Jhonathan berjalan ke kursinya dan duduk dengan angkuh, menyilangkan kakinya dan menatap Gita dengan intensitas yang membuatnya merasa seolah-olah ia sedang dievaluasi. Gita mencoba mengabaikan rasa panas yang merayap di lehernya. Namun, tatapan tajam Jhonathan seolah mampu menelanjangi setiap lapisan pertahanannya.
Pertemuan formal itu berjalan dengan lancar, meskipun ketegangan antara Gita dan Jhonathan semakin meningkat setiap menitnya. Gita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa pria ini bukanlah klien biasa. Setiap kata yang keluar dari mulut Jhonathan terasa seperti ujian, seperti dia menantang Gita untuk membuat kesalahan sekecil apa pun. Tetapi Gita, dengan profesionalisme yang teguh, menanggapi setiap pertanyaan dengan percaya diri, meskipun di dalam dirinya ada pertempuran antara ketertarikan dan perasaan cemas.
Setelah dua jam yang panjang, rapat itu akhirnya berakhir. Rekan-rekan kerja Gita mulai berkemas dan meninggalkan ruangan satu per satu, tetapi Jhonathan tetap duduk di kursinya, pandangannya masih tertuju pada Gita.
Saat Gita bersiap-siap untuk pergi, Jhonathan tiba-tiba berbicara. "Tunggu sebentar, Gita."
Langkahnya terhenti. Gita menoleh dan menatapnya, merasa napasnya tercekat. "Ada yang bisa saya bantu, Pak Jhonathan?" tanyanya, meskipun ada sesuatu dalam nadanya yang terdengar lebih pribadi daripada profesional.
Jhonathan berdiri dari kursinya dan mendekat. Gita bisa merasakan kehadirannya yang semakin kuat. Tatapan pria itu tak pernah lepas darinya, menimbulkan gelombang kecanggungan yang sulit diabaikan. Dalam jarak sedekat ini, Gita bisa mencium aroma parfum maskulin yang mahal dan merasakan kehangatan dari tubuh Jhonathan yang kokoh.
“Ada sesuatu yang ingin saya pastikan,” katanya, suaranya lebih lembut, tetapi tetap memancarkan kekuasaan. “Anda yakin bisa bekerja sama dengan saya?”
Gita mengangkat dagunya sedikit, menolak untuk tunduk pada aura dominan pria itu. "Tentu saja. Ini pekerjaan saya."
Mata Jhonathan menyipit sedikit, seolah mencoba membaca apa yang ada di balik sikap tenangnya. "Saya harap begitu. Saya tidak suka kekecewaan."
Saat Jhonathan mengucapkan kata-kata itu, Gita bisa merasakan hawa panas yang semakin meningkat di antara mereka. Tatapan pria itu terasa membara, dan entah kenapa, Gita tidak bisa melepaskan dirinya dari kekuatan yang ditimbulkan oleh kehadiran Jhonathan. Ada percikan di udara, sesuatu yang lebih dari sekadar ketegangan profesional. Jhonathan mendekat sedikit lagi, membuat jarak di antara mereka menjadi hampir tidak ada.
"Dan satu hal lagi," lanjut Jhonathan, suaranya hampir berbisik sekarang. “Saya selalu mendapatkan apa yang saya inginkan.”
Gita menelan ludah, berusaha mempertahankan ketenangannya, meskipun debaran jantungnya semakin keras. "Saya yakin kita bisa bekerja sama dengan baik, Pak Jhonathan."
Jhonathan tersenyum kecil, sebuah senyuman yang lebih mirip ancaman terselubung. "Kita lihat saja nanti."
Setelah itu, Jhonathan berbalik dan meninggalkan ruangan, meninggalkan Gita dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, dia merasa seperti baru saja melewati ujian yang sulit, tetapi di sisi lain, ada sesuatu dalam dirinya yang bergejolak. Sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman dan tertarik sekaligus.
Dia tahu, dari pertemuan pertama itu, bahwa Jhonathan bukan hanya klien biasa. Ada sesuatu di balik tatapan dinginnya yang menarik Gita, meskipun dia tahu ini adalah permainan berbahaya. Apa pun yang akan terjadi selanjutnya, Gita bisa merasakan bahwa ini baru awal dari sesuatu yang jauh lebih besar, lebih rumit, dan lebih panas dari yang dia bayangkan.
Di saat Gita melangkah keluar dari ruangan konferensi, dia menerima pesan singkat di ponselnya. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
Aku ingin bertemu lagi, segera.
Pesan itu hanya terdiri dari lima kata, tetapi cukup untuk membuat perasaan Gita terguncang. Nomor itu adalah milik Jhonathan.