Gita tidak bisa mengabaikan getaran yang terasa di dalam dirinya sejak pertemuan pertama dengan Jhonathan. Setiap kali memikirkan tatapan intensnya, aroma tubuhnya, dan kata-kata penuh ancaman terselubung yang dia ucapkan, tubuhnya merespons dengan cara yang tidak dia pahami. Ada sesuatu yang berbahaya tentang pria itu, tetapi di balik ancaman yang dia bawa, Gita juga merasakan daya tarik yang kuat.
Hari-hari setelah pertemuan itu terasa aneh. Gita berusaha fokus pada pekerjaannya, tetapi setiap kali dia membuka laptop dan mencoba mengerjakan kasus yang diberikan Jhonathan kepadanya, pikirannya selalu kembali pada pria itu. Pesan singkat dari nomor tak dikenal yang dia terima di akhir pertemuan pertama mereka terus terngiang-ngiang di benaknya.
Aku ingin bertemu lagi, segera.
Sederhana, namun mengandung banyak makna. Apa yang sebenarnya diinginkan Jhonathan darinya? Apakah ini hanya masalah profesional, atau ada sesuatu yang lebih dalam di balik pesan itu? Gita berusaha mengabaikan perasaannya, tetapi ketika ponselnya kembali bergetar malam itu, hati kecilnya tahu bahwa Jhonathan tidak akan mudah dihindari.
---
Sore itu, Gita menerima undangan rapat dadakan di kantor Jhonathan. Hanya mereka berdua. Tidak ada asisten, tidak ada rekan kerja lain. Jantung Gita berdebar saat dia memasuki lift yang akan membawanya ke lantai paling atas gedung perusahaan Jhonathan. Semakin tinggi lift itu naik, semakin besar rasa cemas dan ekspektasi yang bercampur di dalam dirinya.
Begitu pintu lift terbuka, Gita melihat ruang kerja Jhonathan yang luas dan elegan. Jendela besar menghadap ke cakrawala kota yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit, memberikan pemandangan yang memukau. Namun, bukan pemandangan itu yang menarik perhatian Gita, melainkan Jhonathan, yang berdiri membelakanginya, menghadap jendela dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana.
“Selamat sore, Gita,” suaranya terdengar lembut namun penuh otoritas. “Tepat waktu.”
Gita menelan ludah, menenangkan dirinya sebelum melangkah masuk. "Sore, Pak Jhonathan. Apa yang ingin Anda diskusikan?"
Jhonathan berbalik perlahan, dan tatapan matanya segera menangkap Gita dengan kuat. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang sulit dijelaskan—sesuatu yang lebih dari sekadar urusan bisnis. "Aku hanya ingin membicarakan beberapa hal tentang kasus ini. Tapi sebelum itu…" dia berhenti, mengamati Gita dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Aku ingin tahu, bagaimana perasaanmu tentang bekerja untukku?"
Pertanyaan itu mengejutkan Gita. Dia tidak tahu bagaimana harus menjawabnya tanpa terdengar gugup. "Saya... merasa tertantang. Anda adalah klien yang... menarik," jawabnya dengan hati-hati.
Jhonathan tersenyum kecil, mendekat dengan langkah perlahan. “Menarik? Itu cara yang sopan untuk mengatakan bahwa aku sulit, bukan?” Dia berhenti tepat di depan Gita, membuatnya menahan napas. “Aku tahu reputasiku. Dan aku tahu orang-orang seperti kamu sering merasa terintimidasi di sekitarku.”
“Aku tidak mudah terintimidasi,” sahut Gita, mencoba mempertahankan kendali. Tapi dia tahu bahwa tubuhnya berkata sebaliknya. Jarak antara mereka terlalu dekat. Dia bisa merasakan kehangatan dari tubuh Jhonathan, bisa mencium aroma maskulin yang kembali mengganggu pikirannya.
“Apa benar?” bisik Jhonathan, dan tanpa peringatan, tangannya bergerak, menyentuh lengan Gita dengan lembut. Sentuhan itu membuat jantung Gita berdetak lebih cepat. Dia ingin mundur, tapi tubuhnya seolah membeku di tempat. Jhonathan menurunkan tangannya ke pergelangan tangan Gita, menggenggamnya dengan lembut namun kuat. “Aku bisa melihat ketakutan di matamu, Gita. Tapi aku juga melihat sesuatu yang lain.”
Gita berusaha menarik napas dalam-dalam, mencoba tetap tenang. “Apa yang Anda inginkan dari saya, Pak Jhonathan?” tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
Jhonathan mendekat lagi, hingga bibirnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari telinga Gita. "Aku ingin kamu mengerti satu hal," bisiknya dengan nada rendah. "Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan."
Gita merasakan seluruh tubuhnya bergetar karena kata-kata itu. Ada ancaman terselubung dalam suara Jhonathan, tetapi juga ada gairah yang tidak bisa dia abaikan. Jhonathan kemudian menggeser tangannya ke pinggang Gita, menariknya sedikit lebih dekat, hingga d**a mereka hampir bersentuhan.
"Aku bisa saja memecahkan mu, Gita," katanya pelan, dengan suara serak yang membuat bulu kuduk Gita meremang. "Tapi aku tidak akan melakukannya sekarang. Aku ingin melihat seberapa jauh kamu akan melangkah untukku."
Gita mencoba menenangkan diri, berusaha melepaskan diri dari pengaruh pria ini. "Ini tidak profesional," katanya, suaranya terdengar lebih lemah dari yang dia harapkan.
Jhonathan tertawa kecil, suara tawanya rendah dan memikat. "Kamu masih berpikir ini soal profesionalisme?" Dia menatap dalam-dalam ke mata Gita, seolah ingin menembus pertahanan terakhir yang dimiliki wanita itu. "Ini bukan hanya tentang pekerjaan, Gita. Ini lebih dari itu. Aku tahu kamu merasakannya juga."
Gita ingin menyangkal, tapi dia tahu bahwa Jhonathan benar. Ada sesuatu di antara mereka yang lebih dari sekadar hubungan klien dan pengacara. Ada ketertarikan yang tidak bisa dia jelaskan, meskipun dia tahu bahwa ini salah. Sangat salah.
Namun, sebelum Gita bisa mengatakan apa pun, ponselnya bergetar di dalam tasnya, membuyarkan ketegangan yang menggantung di udara. Dia dengan cepat meraih ponselnya, berusaha mengalihkan perhatian dari situasi yang semakin memanas.
Saat dia melihat layar ponselnya, darahnya terasa membeku. Nama yang tertera di layar adalah Devan.
Jhonathan memperhatikan ekspresi wajah Gita yang tiba-tiba berubah, dan dia memiringkan kepalanya sedikit. "Siapa itu?" tanyanya dengan nada ingin tahu, tetapi ada sedikit kecurigaan di dalamnya.
Gita menggenggam ponselnya erat-erat, berusaha mengendalikan perasaannya. "Itu... tunangan saya."
Jhonathan tersenyum sinis. "Oh, jadi kamu punya tunangan? Menarik."
Gita menatap Jhonathan dengan tajam, mencoba menghentikan percakapan yang mulai memasuki wilayah yang lebih pribadi. "Kita di sini untuk bekerja, Pak Jhonathan."
Tapi Jhonathan tidak melepaskan tatapannya dari Gita. "Kamu tahu, aku tidak peduli siapa pun di luar sana yang mencoba memilikimu, Gita. Pada akhirnya, aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan. Dan aku akan mendapatkan mu juga."
Gita tercekat. Apa yang baru saja dia dengar? Sebelum dia bisa memproses kata-kata Jhonathan, pria itu sudah berbalik dan berjalan kembali ke mejanya, meninggalkan Gita yang masih terdiam di tempat, hatinya berdetak kencang.
"Pertemuan selesai," ucap Jhonathan dengan nada santai, seolah percakapan intim mereka sebelumnya tidak pernah terjadi. "Kita akan bertemu lagi besok. Jangan terlambat."
Gita merasa campur aduk saat dia meninggalkan ruang kantor Jhonathan. Pikiran tentang tunangannya, Devan, yang menelponnya tadi, membuatnya merasa bersalah. Namun di sisi lain, ada sesuatu yang jauh lebih mengganggu—gairah dan tarikan yang tidak bisa dia kendalikan terhadap Jhonathan.
Sebelum pintu lift tertutup, Jhonathan menatapnya sekali lagi. "Sampai jumpa besok, Gita," katanya dengan suara rendah. "Dan ingat, aku tidak suka ditolak."
---
Saat Gita melangkah keluar dari lift dan berjalan ke arah pintu keluar gedung, dia menerima pesan lain di ponselnya. Tapi kali ini, pesan itu bukan dari Devan.
Pesan itu datang dari nomor yang sama dengan sebelumnya.
Kamu tidak bisa melarikan diri dari permainan ini, Gita.
Gita merasa jantungnya berhenti. Permainan apa yang sedang dimainkan Jhonathan? Dan apakah dia benar-benar bisa keluar dari permainan ini tanpa terluka?