Jerat yang Tak Terhindarkan

1138 Words
Gita berdiri di depan kaca, menatap bayangannya dengan rasa resah yang tak bisa dia sembunyikan. Pesan yang dia terima dari Jhonathan masih mengganggu pikirannya, seolah kata-kata itu meresap ke dalam tubuhnya dan mengunci setiap gerakannya. Permainan apa yang dia maksud? Bagaimana mungkin dia terjebak dalam sesuatu yang tidak pernah dia mulai? Pikirannya kembali pada pertemuan mereka di kantor kemarin. Sentuhan tangan Jhonathan, cara dia mendekat, mengancam tapi di saat yang sama... menggoda. Gita menggelengkan kepala, mencoba menyingkirkan semua perasaan itu. Dia sudah bertunangan. Devan adalah pilihannya, meskipun belakangan, hubungan mereka terasa hambar. Namun, tidak ada alasan untuk membiarkan seorang pria seperti Jhonathan menghancurkan apa yang sudah dia bangun. Pikirannya terus berputar hingga malam tiba, dan seperti biasa, dia mengirim pesan singkat kepada Devan, berharap setidaknya mereka bisa berbicara sebentar. Namun, tidak ada balasan. Gita mencoba menelepon, tetapi panggilannya langsung masuk ke pesan suara. Ada sesuatu yang aneh. Devan selalu responsif, setidaknya pada jam-jam seperti ini. Sementara itu, di tempat lain, Devan justru tenggelam dalam malam penuh gairah dengan Aira. Kedua tubuh mereka terjalin di dalam kamar hotel mewah yang terletak jauh dari pusat kota. Mereka telah bertemu secara sembunyi-sembunyi selama beberapa minggu terakhir, dan setiap pertemuan semakin intens. Devan tahu ini salah, tapi dia tidak bisa menahan diri. Aira memiliki sesuatu yang membuatnya lupa segalanya—termasuk tunangannya, Gita. “Apa kamu pikir Gita tahu?” tanya Aira, suaranya lembut dan sedikit serak setelah berjam-jam b******u. Devan menghela napas, lalu berbaring di samping Aira, menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. “Dia tidak curiga. Tapi aku tahu dia merasakan ada sesuatu yang salah. Aku tidak bisa terus berbohong.” Aira tersenyum sinis, jemarinya bermain di d**a Devan. “Kamu sudah terlanjur terjebak di sini, Dev. Sama seperti aku. Jadi, tidak ada jalan keluar. Hanya ini yang kita punya.” Devan menatap ke langit-langit kamar, hatinya campur aduk. Dia menyukai Gita, tapi tidak bisa memungkiri bahwa Aira adalah kebebasan yang dia dambakan. Bersama Aira, dia merasa hidup—sesuatu yang hilang dalam hubungannya dengan Gita. Tapi tetap saja, di sudut kecil hatinya, ada rasa bersalah yang tak terelakkan. --- Keesokan harinya, Gita terbangun lebih awal dari biasanya. Matanya terasa berat, seperti semalaman tidak tidur nyenyak karena pikirannya terus diganggu bayangan Jhonathan dan kecurigaannya terhadap Devan. Dia memutuskan untuk pergi bekerja lebih awal, berharap suasana di kantor bisa mengalihkan perhatian. Namun, saat dia melangkah ke gedung perusahaan Jhonathan, getaran itu kembali. Ada sesuatu tentang tempat ini yang membuat dadanya berdebar, terutama saat lift mulai bergerak naik ke lantai tertinggi. Sesampainya di kantor Jhonathan, dia merasa lega melihat pintu ruangannya masih tertutup. Mungkin dia datang terlalu pagi. Tapi saat dia hendak berbalik menuju mejanya, pintu itu terbuka, dan suara berat Jhonathan memanggilnya. "Gita, masuklah." Gita menahan napas sejenak sebelum melangkah masuk. Ruangan itu terasa lebih dingin dari biasanya, meskipun suasananya tetap elegan dan mewah. Jhonathan duduk di belakang mejanya, matanya menelusuri Gita dengan tajam, seolah-olah dia sedang memeriksa sesuatu yang sangat berharga. “Kita harus membahas kasus ini lebih lanjut,” katanya dengan nada formal. Namun, tatapan matanya menceritakan sesuatu yang berbeda. “Ada beberapa dokumen yang harus kamu lihat. Duduklah di sini.” Dia menunjuk kursi tepat di sebelah mejanya. Gita mengangguk pelan dan mendekati meja, duduk di kursi yang telah ditunjukkan. Tangannya bergerak membuka folder yang sudah disiapkan di atas meja, mencoba fokus pada isi dokumen. Namun, setiap kali dia merasakan kehadiran Jhonathan begitu dekat, pikirannya terganggu. Laki-laki ini bukan sekadar bos. Dia adalah ancaman yang menawan, dan Gita tahu bahwa semakin lama dia di sini, semakin sulit baginya untuk menjauh. Saat dia sibuk memeriksa dokumen, Gita merasakan sesuatu yang membuatnya terhenti. Tangan Jhonathan tiba-tiba berada di atas pergelangan tangannya, menggenggamnya dengan lembut tapi tegas. Gita menatapnya dengan mata melebar. "Apa yang Anda lakukan?" tanyanya, suaranya bergetar. Jhonathan tidak melepaskan genggamannya. Sebaliknya, dia tersenyum kecil, tatapannya penuh dengan misteri. "Aku sudah mengatakan sebelumnya, Gita. Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan." Gita merasa sekujur tubuhnya memanas. Dia berusaha menarik tangannya, tapi Jhonathan tidak membiarkannya. Sebaliknya, pria itu justru mempererat genggamannya, lalu dengan lembut menggeser jari-jarinya ke lengan Gita, menimbulkan sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya. “Jhonathan, tolong... ini tidak pantas,” bisik Gita, meskipun dia tahu, jauh di dalam dirinya, dia tidak ingin dia berhenti. Ada sesuatu yang begitu memikat tentang sentuhannya, sesuatu yang membuatnya merasa lemah dan terjebak. Jhonathan mendekatkan wajahnya, membisikkan sesuatu di telinga Gita. “Kamu bisa mencoba melarikan diri, Gita, tapi aku tahu kamu merasakan hal yang sama.” Bibirnya hampir menyentuh kulitnya, membuat Gita terengah-engah dalam keheningan. “Aku bisa membuatmu melupakan segalanya, bahkan tunanganmu.” Kata-kata itu seperti racun yang meresap ke dalam jiwa Gita. Dia tahu ini salah, sangat salah. Tapi tubuhnya berkhianat, menolak perintah logika dan menyerah pada godaan yang ditawarkan Jhonathan. Sebelum dia bisa melawan, Jhonathan sudah mendekatkan wajahnya lebih dekat, hingga jarak antara mereka hanya beberapa inci. Gita bisa merasakan napas pria itu di wajahnya, aroma maskulinnya semakin mengganggu konsentrasinya. Jantungnya berdetak begitu keras hingga dia merasa seolah akan meledak. Dan saat Jhonathan akhirnya menyentuh bibirnya ke pipi Gita, perlahan bergerak menuju bibirnya, Gita tidak bisa lagi menolak. Dia menutup matanya, membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi yang ditawarkan pria itu. Namun, sebelum bibir mereka benar-benar bertemu, ponsel Gita tiba-tiba berdering, membuyarkan suasana yang semakin panas. Gita langsung terlonjak, menarik dirinya mundur dan meraih ponselnya. Nama Devan muncul di layar. Jantung Gita berdebar lebih keras. Apa yang dia lakukan? Apa yang baru saja hampir terjadi? Jhonathan menatap Gita dengan senyum tipis di wajahnya, tapi tatapannya masih dipenuhi gairah yang tertahan. “Jawablah,” katanya dengan suara rendah. “Tapi ingat, ini belum selesai.” Gita merasakan napasnya berat saat dia menekan tombol terima panggilan. “Devan?” Suara Devan terdengar di ujung sana, terdengar canggung. "Maaf baru menghubungi. Aku sibuk... dengan pekerjaan." Gita mengangguk, meskipun Devan tidak bisa melihatnya. "Tidak apa-apa. Aku juga sibuk." Namun, di dalam dirinya, perasaan bersalah mulai merambat. Apa yang baru saja hampir dia lakukan dengan Jhonathan? Bagaimana mungkin dia begitu mudah terjerat dalam permainan berbahaya ini? Ketika panggilan itu berakhir, Gita mencoba mengatur napasnya. Namun, saat dia menoleh kembali ke Jhonathan, dia tahu bahwa pria itu tidak akan membiarkannya lepas begitu saja. “Besok malam,” kata Jhonathan dengan suara yang memerintah, “kamu akan datang ke apartemenku. Tidak ada lagi alasan, tidak ada lagi penolakan.” Gita hanya bisa menatapnya dengan bingung, jantungnya masih berdetak kencang. Dia tahu, ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih gelap dan berbahaya. Tapi entah mengapa, dia tidak bisa menolak. Sementara itu, di sisi lain kota, Devan dan Aira kembali menghabiskan malam bersama. Tidak ada penyesalan di wajah mereka, hanya hasrat yang terus membakar. Devan semakin dalam terjerat dalam hubungan terlarang ini, dan dia tahu, cepat atau lambat, semuanya akan terbuka. Tapi untuk sekarang, dia tidak peduli. Yang ada di pikirannya hanyalah malam panas berikutnya bersama Aira.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD