Gita masih merasakan ketegangan yang menyelimuti tubuhnya saat dia keluar dari kantor Jhonathan. Seolah-olah udara di sekitar terasa semakin berat, setiap langkahnya menuju lift menjadi semakin sulit. Di pikirannya, perasaan bersalah bercampur dengan daya tarik aneh yang terus menekan hatinya. Jhonathan adalah ancaman—bukan hanya bagi hubungannya dengan Devan, tetapi bagi dirinya sendiri. Pria itu mengendalikan situasi, dan Gita tahu bahwa semakin lama dia berada di bawah pengaruhnya, semakin sulit baginya untuk melarikan diri.
Dia masih bisa merasakan sentuhan tangan Jhonathan di kulitnya, masih bisa mendengar suaranya yang rendah dan menggoda, “Ini belum selesai.” Apa yang terjadi tadi di kantornya bukan hanya sebuah kebetulan—itu adalah langkah pertama dalam permainan yang jauh lebih berbahaya dari yang pernah dia bayangkan.
Saat tiba di apartemennya malam itu, Gita merasa bingung. Dia meraih ponselnya, ingin menghubungi Devan, tapi teringat bahwa selama ini pria itu sering mengabaikan pesan atau panggilannya. Hubungan mereka semakin renggang, dan Gita tidak bisa menepis perasaan bahwa sesuatu yang gelap sedang terjadi di antara mereka.
Namun, sebelum dia bisa menelepon, ponselnya berbunyi. Nama yang muncul di layar membuat darahnya mendidih: Jhonathan.
Gita menatap layar ponselnya dengan bingung. Tangannya gemetar, hatinya berdebar kencang. Apakah dia harus mengangkatnya? Apa yang Jhonathan inginkan kali ini?
Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, dia menjawab panggilan itu. “Halo?”
Suara Jhonathan terdengar lembut, tapi ada ketegasan dalam nadanya. “Besok malam. Jangan lupa. Aku tidak suka ditolak, Gita.”
Gita menelan ludah, suaranya gemetar saat dia menjawab, “Saya tidak yakin ini adalah ide yang bagus.”
“Aku tidak butuh kamu yakin,” Jhonathan memotongnya. “Aku hanya butuh kamu datang. Kamu tahu ke mana harus pergi.”
Sebelum Gita bisa membalas, telepon itu terputus, meninggalkan dirinya dalam kebisuan yang menyesakkan. Dia jatuh ke sofa, mengubur wajahnya di tangan. Apa yang harus dia lakukan? Bagaimana mungkin dia bisa terus bertahan di situasi ini?
Namun, di lubuk hatinya, ada sesuatu yang membuatnya ingin tahu. Ada sesuatu tentang Jhonathan—sesuatu yang tidak bisa dia abaikan begitu saja. Tapi apa?
---
Di sisi lain kota, Devan berbaring di ranjang hotel dengan Aira di sampingnya. Mereka baru saja selesai menghabiskan malam penuh gairah, tapi suasana di antara mereka terasa jauh lebih santai daripada sebelumnya. Devan menyandarkan kepalanya di bantal, matanya menatap langit-langit kamar dengan pikiran berkecamuk.
“Kamu terlihat bingung,” Aira berbisik sambil membelai dadanya dengan lembut. “Apa yang kamu pikirkan?”
Devan menoleh, menatap wanita yang menjadi kekasih rahasianya. Aira tampak begitu tenang, seolah-olah mereka tidak sedang melakukan sesuatu yang salah. “Aku hanya... memikirkan Gita.”
Aira mendengus, tidak terkesan. “Gita? Kamu masih peduli padanya? Bukankah hubungan kalian sudah lama tidak berjalan dengan baik?”
Devan menarik napas dalam-dalam, merasa terjebak di antara perasaan bersalah dan ketertarikan pada Aira. “Aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Aku tidak tahu bagaimana caranya menyelesaikan ini.”
Aira menatap Devan dengan tatapan tajam, lalu menghela napas. “Kalau begitu, putuskan saja. Gita tidak akan pernah tahu tentang kita. Dan meskipun dia tahu, apa yang bisa dia lakukan? Dia terlalu polos untuk menghadapi kenyataan seperti ini.”
Devan diam. Ada kebenaran dalam kata-kata Aira, tapi entah mengapa dia masih merasa enggan melepaskan Gita. Meskipun hubungannya dengan Gita tidak lagi seperti dulu, ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa begitu saja mengakhiri semuanya.
“Besok malam,” lanjut Aira, “aku ingin kita bertemu lagi. Kita bisa merencanakan apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Gita tidak akan ada di sekitar. Dia sibuk dengan pekerjaannya.”
Devan mengangguk, meskipun dia tidak sepenuhnya yakin. Aira memiliki kendali atas dirinya, sama seperti Jhonathan memiliki kendali atas Gita. Hubungan ini semakin dalam, semakin gelap. Tapi Devan tahu, pada akhirnya, dia harus membuat pilihan.
---
Keesokan harinya, Gita berusaha berkonsentrasi pada pekerjaannya, namun pikiran tentang pertemuannya dengan Jhonathan malam ini terus mengganggu. Dia tidak bisa fokus. Rasanya seolah-olah dia sedang berjalan di atas tali yang tipis, siap terjatuh kapan saja. Dia tahu apa yang akan terjadi jika dia pergi ke apartemen Jhonathan—itu akan menjadi titik di mana segalanya berubah. Tidak akan ada jalan kembali.
Namun, di saat yang sama, ada bagian dari dirinya yang tidak bisa menolak. Bagian dari dirinya yang penasaran, yang terpesona oleh kekuatan dan d******i Jhonathan. Dia tidak ingin terlihat lemah, tapi setiap kali dia berada di dekatnya, dia merasa seolah-olah seluruh dunianya berada di bawah kendali pria itu.
Saat hari mulai menjelang malam, Gita berdiri di depan cermin di apartemennya, menatap bayangannya dengan hati yang berdebar. Dia mengenakan gaun sederhana, namun elegan—sesuatu yang pantas untuk pertemuan profesional, meskipun dia tahu pertemuan ini jauh dari itu.
Ketika akhirnya dia tiba di gedung apartemen Jhonathan, perasaannya campur aduk antara takut dan penasaran. Lift yang membawanya ke lantai paling atas terasa seperti bergerak terlalu lambat, memberikan lebih banyak waktu bagi Gita untuk merenung tentang apa yang akan terjadi.
Pintu lift terbuka, dan di sana, di ujung lorong, pintu apartemen Jhonathan sudah sedikit terbuka, seolah-olah dia sedang menunggu kedatangan Gita. Dengan napas yang berat, Gita melangkah keluar dari lift dan menuju pintu itu.
Begitu dia memasuki apartemen, Jhonathan sudah berdiri di sana, menatapnya dengan senyuman tipis di bibirnya. Apartemen itu gelap, hanya diterangi cahaya lampu yang lembut dan atmosfer yang terasa intim. Gita bisa merasakan ketegangan yang merayap di udara.
“Kamu datang,” kata Jhonathan dengan nada puas, melangkah mendekati Gita. “Aku tahu kamu tidak bisa menolak.”
Gita menelan ludah, merasa seluruh tubuhnya tegang. “Ini salah,” bisiknya. “Saya tidak seharusnya ada di sini.”
Jhonathan mendekatkan wajahnya ke wajah Gita, jaraknya hanya beberapa inci. “Tapi kamu tetap datang. Dan sekarang, kamu adalah milikku, Gita. Milikku sepenuhnya.”
Sebelum Gita bisa merespon, Jhonathan menariknya mendekat dan menciumnya. Ciuman itu dalam, penuh gairah, dan Gita merasa seolah-olah dunia di sekitarnya menghilang. Dia tahu ini salah, tapi tubuhnya tidak bisa menolak.
Namun, saat ciuman itu semakin intens, sebuah bunyi dering telepon dari meja di dekat mereka membuat suasana terputus. Jhonathan melepaskan Gita dengan enggan dan mengangkat telepon itu.
Suara di ujung telepon membuat ekspresi wajah Jhonathan berubah serius. “Apa? Sekarang?”
Gita menatapnya bingung saat Jhonathan menyelesaikan panggilan dan menutup telepon dengan cepat. "Aku harus pergi. Ada sesuatu yang darurat," katanya dengan nada yang tidak bisa ditolak.
Tanpa menjelaskan lebih lanjut, Jhonathan meninggalkan apartemen dengan tergesa-gesa, meninggalkan Gita yang berdiri di sana dengan bingung dan jantung yang masih berdebar. Dia baru saja mengalami ciuman paling mengguncang dalam hidupnya, namun ditinggalkan begitu saja tanpa penjelasan. Ada sesuatu yang sedang terjadi, sesuatu yang lebih besar dari yang dia bayangkan.
Dan Gita tahu, apa pun itu, dia sudah terlalu jauh untuk mundur.
Di luar apartemen, Jhonathan berjalan cepat menuju mobilnya, wajahnya tegang. “Ini tidak bisa menunggu,” gumamnya pada dirinya sendiri.