Ketegangan

1095 Words
Gita duduk di sofa apartemen Jhonathan dengan perasaan campur aduk. Jantungnya masih berdebar kencang setelah ciuman yang mengguncang dunia. Dia meraba bibirnya, mengingat sentuhan lembut dan penuh gairah dari pria yang seharusnya menjadi ancaman. Kegelapan apartemen itu terasa semakin menekan, dan dia tahu bahwa dia harus pergi dari sini—sebelum semuanya menjadi lebih rumit. Namun, di sisi lain, dia merasa terikat oleh rasa penasaran dan ketertarikan yang tidak bisa diabaikan. Apa yang telah terjadi antara mereka bukanlah sekadar permainan; itu adalah sesuatu yang lebih mendalam, lebih berbahaya. Dengan langkah ragu, Gita berdiri dan beranjak menuju pintu. Dia sudah hampir sampai di ambang pintu ketika ponselnya bergetar di saku. “Gita?” Suara Devan terdengar dari ujung telepon. “Kau di mana? Aku sudah menunggu panggilan darimu.” Gita menahan napas sejenak. “Aku... baru saja keluar dari pertemuan,” jawabnya, berusaha terdengar tenang. “Pertemuan? Dengan siapa?” tanya Devan, nada suaranya mencerminkan kekhawatiran. “Tidak ada yang penting. Aku akan segera pulang,” Gita menjawab, berusaha menutupi kebohongan yang meluncur dari bibirnya. “Baiklah. Aku rindu kamu,” Devan berkata, dan mendengar kata-kata itu, hati Gita bergetar. Seharusnya dia merasa senang, tetapi bayangan Jhonathan masih mengganggu pikirannya. “Rindu? Aku juga, Devan. Kita perlu berbicara,” Gita menjawab, meski di dalam hatinya, dia tahu bahwa perbincangan itu tidak akan mudah. Setelah menutup telepon, Gita berjalan kembali ke sofa, merenungkan semua yang telah terjadi. Dia terjebak dalam dua dunia yang saling bertentangan—satu yang dikhususkan untuk hubungan dan komitmen dengan Devan, dan satu lagi yang membara dengan godaan dan bahaya yang dibawa oleh Jhonathan. --- Sementara itu, di sisi lain kota, Devan dan Aira terbaring di ranjang hotel, cahaya bulan menembus tirai tipis, menciptakan suasana intim yang menyelimuti mereka. Aira menyandarkan kepalanya di d**a Devan, memejamkan mata dengan senyuman puas. “Aku suka sekali waktu seperti ini,” Aira berbisik, mengelus tangan Devan. “Hanya kita berdua.” Devan tersenyum tipis, tetapi pikirannya melayang kepada Gita. “Kita seharusnya tidak melakukan ini,” katanya, berusaha terdengar tegas. “Lihat, aku tidak ingin menyentuh masa lalu,” Aira menjawab, menatap Devan dengan tatapan penuh tantangan. “Kamu bisa terus memikirkan Gita, tetapi dia tidak pernah bisa memberi apa yang aku berikan padamu. Kita punya ikatan yang lebih kuat.” “Apakah kita benar-benar memiliki ikatan?” Devan membalas, merasa tidak nyaman. Dia tidak bisa sepenuhnya melepaskan Gita, meskipun Aira memberikan hal-hal yang mungkin tidak pernah dia dapatkan dari wanita itu. Aira tersenyum, dan dengan gerakan cepat, dia menarik Devan ke dalam pelukannya. “Cobalah untuk menikmati saat ini. Kita hanya punya sekarang,” katanya, sambil mengecup bibir Devan dengan penuh gairah. Seolah-olah terjebak dalam kekuatan Aira, Devan membalas ciumannya, namun di dalam hatinya, suara Gita terus menggema, menjeratnya dalam rasa bersalah. Namun, saat Aira melanjutkan aksi menggoda dengan menyentuh tubuhnya, Devan merasa sulit untuk berpaling. --- Kembali ke apartemen Jhonathan, pria itu duduk di kursi sambil menatap ke luar jendela. Pikiran tentang Gita berputar-putar di kepalanya. Setiap detik yang berlalu seolah menambah rasa laparnya akan wanita itu. Dia menginginkan Gita—tidak hanya tubuhnya, tetapi juga jiwanya. “Apa yang kau lakukan?” bisik suara di dalam dirinya. Dia tahu bahwa dia seharusnya tidak merasa terikat, tetapi Gita adalah tantangan yang menarik. Dia terpesona oleh kecantikan dan kekuatan wanita itu, dan dia tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. Jhonathan meraih ponselnya, lalu mengetik pesan. “Kita perlu bicara. Segera.” Dia menekan tombol kirim dan menunggu dengan gelisah. Ketegangan di dalam dirinya semakin menumpuk saat dia membayangkan bagaimana reaksi Gita terhadap ajakannya. --- Beberapa jam kemudian, saat matahari mulai terbenam, Gita akhirnya keluar dari apartemen Jhonathan, berusaha untuk menyembunyikan semua kekacauan dalam pikirannya. Dia melangkah ke dalam mobilnya, tetapi pikirannya tidak bisa lepas dari bayangan Jhonathan. Saat dia memutar kunci kontak, ponselnya berbunyi lagi—pesan dari Jhonathan. “Kamu tidak akan bisa menolak.” Gita merasakannya seperti serangan petir. Perasaannya terombang-ambing antara ketakutan dan ketertarikan yang mendalam. Dia menghempaskan ponselnya ke kursi penumpang dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, berusaha menenangkan pikirannya. Namun, di dalam hati, api rasa penasaran itu semakin menyala. --- Kembali ke hotel, Devan dan Aira telah menyalakan suasana intim di dalam kamar. Mereka berdua terjebak dalam alunan musik lembut, diiringi detak jantung yang saling menyatu. Aira mendekatkan wajahnya ke wajah Devan, menggoda dengan tatapan menggairahkan. “Bicaralah padaku tentang Gita. Kenapa kamu masih memikirkannya?” Aira bertanya, suaranya lembut tetapi menuntut. “Aku tidak tahu. Mungkin karena dia bagian dari hidupku,” Devan menjawab, berusaha menghindari konfrontasi. “Dia tidak menghargaimu seperti yang aku lakukan,” Aira menyela, sedikit marah. “Kamu harus berfokus padaku, Devan. Aku adalah yang kamu butuhkan.” Devan menghela napas, merasakan tarikan antara keduanya. “Aku tahu, tapi aku merasa terjebak.” Aira merangkulnya dengan lebih erat. “Jangan merasa terjebak. Kita bisa menjelajahi dunia ini bersama-sama,” katanya dengan percaya diri. Dia mendekat dan mencium Devan lagi, dan kali ini Devan tidak bisa menahan diri. Dia membalas ciumannya dengan semangat, berusaha menyingkirkan semua keraguan dan kebingungan. --- Sementara itu, di luar apartemen Jhonathan, pria itu melangkah cepat menuju mobilnya, wajahnya tegang. “Ini tidak bisa menunggu,” gumamnya pada dirinya sendiri. Di benaknya, rencana sudah matang untuk membawa Gita lebih dalam ke dalam dunianya. Saat dia menyalakan mesin mobil, pikirannya melayang kembali ke Gita. Dia tidak bisa membiarkan wanita itu pergi tanpa berjuang. Dan kali ini, dia akan memastikan bahwa tidak ada yang bisa menghentikannya. --- Ketika Gita pulang ke apartemennya, dia merasa terjaga, seolah semua yang terjadi semakin mendekatkan mereka pada titik tanpa kembali. Dia melihat ke arah cermin dan merasakan cermin itu mengembalikan tatapannya yang tegang. Dalam benaknya, bayangan Jhonathan berputar, dan dia tahu bahwa dia tidak bisa terus mengabaikannya. Akhirnya, dia meraih ponsel dan membuka pesan Jhonathan. Dia merasa berdebar saat membaca kalimat itu, yang seolah berbicara langsung ke hatinya. Tiba-tiba, ponselnya bergetar lagi—pesan dari Devan. “Malam ini, aku ingin kita berbicara.” Gita menelan ludah, dan hatinya bergejolak. Dalam satu sisi, dia merasa tertekan oleh Devan, tetapi di sisi lain, Jhonathan menginginkannya dengan intensitas yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Dia terjaga di antara dua pria yang sama-sama menarik, namun dengan kekuatan yang berlawanan. Gita tahu bahwa setiap pilihan yang dia buat akan membawa konsekuensi yang lebih besar. Dan saat dia berusaha mengumpulkan pikirannya, sebuah suara di dalamnya berbisik, “Apakah kamu benar-benar siap untuk menghadapi kebenaran?” --- Di luar apartemen, Jhonathan menekan tombol ponselnya untuk menghubungi seseorang, wajahnya dingin dan serius. “Segera laksanakan rencananya. Saya tidak ingin ada yang menghalangi jalan kami.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD