Saat Gita kembali ke ruang kerja Jhonathan, suasana di dalam ruangan terasa semakin menegangkan. Dia mendapati Jhonathan berdiri di belakang meja, menyusuri dokumen sambil sesekali melirik ke arahnya. Saat Gita memasuki ruangan, Jhonathan langsung mengalihkan perhatiannya.
“Sudah siap?” tanya Jhonathan tanpa mengangkat pandangannya.
“Ya, dokumen untuk klien sudah saya siapkan,” jawab Gita, berusaha menampilkan sikap percaya diri meskipun rasa cemas menyelimuti dirinya.
Jhonathan mendongak dan memandangnya tajam. “Apa kamu yakin dokumen itu sudah sempurna? Aku tidak mau ada kesalahan,” dia berkata, suaranya dingin.
“Sudah saya cek berkali-kali. Saya pastikan semua sudah benar,” Gita berusaha meyakinkan.
Jhonathan berjalan mendekat, menciptakan jarak yang semakin kecil di antara mereka. “Jika ada kesalahan, aku akan membiarkan semua orang tahu siapa yang bertanggung jawab,” katanya, menekankan setiap kata seolah-olah mengancam.
Gita merasa tenggorokannya tercekat. “Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mengecewakan Anda,” balasnya, berusaha menahan rasa takut yang melanda.
“Bagus. Sekarang, bawakan dokumen ini ke klien dan tunjukkan bahwa kita adalah tim yang solid,” Jhonathan berkata, suaranya sedikit lebih lembut, tetapi Gita bisa merasakan tekanan di balik kata-katanya.
Setelah mengangguk, Gita keluar dari ruangannya, berusaha keras untuk menenangkan diri. Namun, saat dia melangkah keluar, perasaannya yang cemas kembali muncul. Dalam pikirannya, dia mulai meragukan semua keputusan yang diambilnya.
---
Sementara itu, Devan dan Aira berupaya menikmati waktu mereka bersama, tetapi Devan tak bisa lepas dari bayangan Gita. Ketika mereka berada di kafe, Aira berbicara dengan penuh semangat, sementara Devan hanya tersenyum tipis.
“Apa yang mengganggumu?” Aira bertanya, melihat ekspresi wajah Devan yang tampak tidak fokus.
“Aku hanya memikirkan Gita,” jawab Devan dengan jujur. “Aku merasa buruk meninggalkannya seperti ini.”
Aira menggelengkan kepalanya. “Devan, kamu tidak bisa terus terikat pada masa lalu. Dia sudah membuat pilihan. Kamu harus melanjutkan hidup.”
“Saya tahu, tetapi saya merasa ada sesuatu yang tidak beres. Gita bukan tipe orang yang mudah menyerah,” Devan menjawab, merenungkan bagaimana Gita selalu berjuang dalam setiap situasi.
“Bagaimana jika kita melakukan sesuatu yang bisa membuatnya merasa terdesak? Mungkin itu bisa membantumu untuk menghindarinya,” Aira berkata dengan nada menggoda.
Devan menatap Aira, merasa canggung dengan ide itu. “Apa maksudmu?” tanyanya, sedikit ragu.
“Biarkan aku merencanakan sesuatu yang bisa membuatnya merasa tertekan. Kita bisa mengubah pandangannya tentangmu,” Aira menyarankan dengan senyuman licik. “Kamu tahu, mungkin kita bisa menunjukkan bahwa kamu sudah move on dan tidak membutuhkannya lagi.”
Devan merasa hatinya berkonflik. Dia tidak ingin melukai Gita, tetapi dia juga tidak bisa menolak keinginan Aira. “Aku tidak tahu, Aira. Ini mungkin bukan ide yang bagus,” ujarnya, tetapi Aira sudah mulai merencanakan sesuatu.
---
Gita melangkah masuk ke dalam lift, hati berdebar-debar. Saat pintu lift terbuka, dia berjalan menuju kantor klien. Di dalam pikirannya, dia berusaha mengingat semua yang perlu dia katakan dan lakukan, tetapi ketegangan terus merasuki hatinya.
Ketika dia memasuki ruang rapat klien, suasana terasa sangat formal. Gita mengedarkan pandangannya, melihat beberapa wajah yang tidak dikenal. Dia merasakan tatapan mereka, menilai dirinya, dan saat itu Jhonathan masuk ke ruangan, memberikan aura d******i yang selalu dia bawa.
“Terima kasih telah datang. Kami sangat menghargai kesempatan ini,” kata Jhonathan dengan percaya diri, menyalami semua orang di ruangan itu.
Gita berdiri di sampingnya, merasa kecil. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya ketika presentasi dimulai. Jhonathan berbicara dengan tegas, sedangkan Gita berdiri di sampingnya, kadang-kadang menambahkan beberapa informasi. Namun, saat presentasi berlangsung, Gita merasakan pandangan tajam dari Jhonathan, seolah mengingatkannya untuk tidak melakukan kesalahan.
Ketika Gita menjelaskan beberapa poin penting, dia merasakan ada yang salah. Pikirannya melayang, dan dalam sekejap, dia menyadari dia telah melupakan poin penting yang harus dia sebutkan.
Melihat Jhonathan yang menatapnya dengan penuh amarah membuatnya semakin panik. “Maaf, saya hanya…,” Gita terputus, tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Dia merasa dunia di sekelilingnya mulai berputar.
“Bisa kamu ulangi itu?” Jhonathan bertanya, suaranya dingin dan mengintimidasi. “Kita tidak punya waktu untuk kesalahan.”
Gita berusaha mengendalikan dirinya, tetapi rasa cemasnya semakin meningkat. “Saya akan melakukannya,” jawabnya, berusaha untuk tidak terlihat lemah.
Ketika dia melanjutkan presentasi, dia merasa Jhonathan menekannya dengan tatapan yang tajam. “Harusnya kamu lebih siap. Kita tidak bisa membiarkan kesempatan ini terlewat begitu saja,” katanya di luar mikrofon, tetapi cukup keras agar Gita bisa mendengarnya.
Kekhawatiran menyelimuti Gita. Dia tidak ingin mengecewakan Jhonathan, tetapi tekanan yang dia rasakan semakin membuatnya merasa tertekan. Presentasi itu berlangsung dengan ketegangan, dan saat selesai, Gita merasa lelah dan tidak berdaya.
---
Setelah presentasi, Gita kembali ke kantornya, merasakan ketidakpastian menyelimuti. Ketika dia tiba di ruangannya, Jhonathan menunggu di sana, menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dia baca.
“Bagaimana kamu bisa begitu tidak siap?” tanya Jhonathan, suaranya dingin dan menuduh. “Kamu membuatku terlihat buruk di depan klien.”
“Saya minta maaf, Jhonathan. Saya hanya sedikit… gugup,” jawab Gita, berusaha menjelaskan.
“Gugup? Itu tidak bisa diterima. Kamu tahu betapa pentingnya ini bagi kita,” Jhonathan berkata, suaranya mengandung frustrasi.
Gita merasa terjepit. “Saya akan berusaha lebih baik lain kali,” jawabnya, tetapi Jhonathan hanya menggelengkan kepala.
“Tidak ada lain kali. Kita hanya punya satu kesempatan. Jika kamu tidak bisa mengikuti ritme ini, mungkin aku harus mempertimbangkan ulang posisi kamu di sini,” Jhonathan mengancam, dan Gita merasakan hatinya tercekat.
“Jhonathan, saya sudah berusaha sebaik mungkin,” Gita mendesak, merasa putus asa.
“Berusaha tidak cukup. Kamu harus memberikan hasil. Jika tidak, semuanya akan berakhir buruk untukmu,” Jhonathan menambahkan, dan saat dia berbalik untuk pergi, Gita merasakan rasa takut yang mendalam.
---
Di sisi lain, Devan dan Aira kembali ke hotel setelah merencanakan sesuatu yang bisa mengejutkan Gita. Devan merasa bersalah karena terlibat dalam rencana itu, tetapi saat Aira mencium bibirnya, semua keraguannya seolah menguap.
“Malam ini kita akan membuat Gita menyadari betapa salahnya memilihmu,” Aira berkata dengan senyuman licik, mengubah rencana mereka menjadi kenyataan.
Devan tidak bisa menahan perasaan campur aduk. Dia tidak ingin melukai Gita, tetapi sekaligus dia merasa terjebak dalam situasi yang tidak bisa dia hindari. Saat dia berusaha menjauh dari pikiran itu, dia menyadari bahwa perasaannya terhadap Gita semakin rumit.
---
Saat malam tiba, Gita merasa lelah dan bingung. Dia kembali ke apartemennya, memikirkan semua tekanan dan ketidakpastian yang dia hadapi. Dia ingin berbicara dengan Devan, tetapi rasa canggung di antara mereka membuatnya ragu.
Namun, di luar pengawasan Gita, rencana Devan dan Aira mulai mengancam stabilitasnya. Devan bersiap-siap untuk melakukan sesuatu yang mungkin akan mengubah segalanya, dan tanpa dia sadari, semuanya akan terungkap dengan cara yang sangat dramatis.
---
Gita memutuskan untuk memeriksa teleponnya, berharap mendengar dari Devan. Tetapi tidak ada pesan yang masuk. Dia merasa kesepian dan tertekan, dan saat itu, teleponnya berdering. Saat dia melihat nama di layar, jantungnya berdebar kencang.
Itu Jhonathan.
Dia ragu-ragu sejenak, tetapi akhirnya menjawabnya. “Halo, Jhonathan.”
“Aku ingin berbicara tentang proyek kita. Datanglah ke kantorku sekarang,” suara Jhonathan terdengar tegas di ujung telepon.
Gita merasa ragu, tetapi dia tidak bisa menolak. “Baiklah, saya akan segera ke sana.”
Saat Gita tiba di mansion Jhonathan, iya disambut dengan senyum yang menakutkan oleh Jhonathan.
Gita melangkah ragu memasuki ruangan yang luas dan menginjakkan kakinya dengan kaku diatas marmer berwarna putih gading. Langkahnya terasa berat ketika semakin dekat dengan sofa dimana Jhonatan duduk.
Belum juga sampai, Jhonathan tiba-tiba menarik tangan Gita hingga tubuh Gita jatuh diatas d**a bidang Jhonathan yang hanya mengenakan bathrobe.
"Apa yang Anda lakukan, Pak Jho?" tanya Gita saat tatapan mereka bertemu.
"Aku sangat menginginkan mu malam ini, Gita," jawab Jhonatan lalu mulai melumat bibir ranum Gita yang awalnya dengan lembut hingga berubah b*******h.