Ketika Jhonathan Melu*at bibir Gita dengan penuh gairah, tanpa terasa desahan-desahan kecil keluar dari mulut Gita yang masih terbungkam dengan bibir Jhonathan.
Gita harus mengakui jika Jhonathan adalah seorang good kisser.
Gita pasrah jika malam ini Jhonathan akan menyentuhnya. Tapi apa yang dikhawatirkan Gita tidak terjadi.
Jhonathan melepaskan Gita dan Gita merasa tenang.
Malam semakin larut, dan keheningan mansion Jhonathan terasa seperti bayang-bayang yang menyelimuti seluruh ruangan. Gita duduk di ujung tempat tidur, masih mengenakan pakaian yang sama sejak tadi siang, saat Jhonathan memintanya datang.
Jhonathan telah meninggalkannya sendirian di kamar mewah itu. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi sejak ancamannya yang dingin beberapa jam lalu. "Aku tahu rahasia terbesar Devan," kalimat itu terus terngiang di kepala Gita. Apa rahasia itu? Apa yang Jhonathan ketahui hingga membuat Devan berada dalam bahaya?
Saat Gita merenungkan semuanya, pintu kamar tiba-tiba terbuka, dan Jhonathan masuk dengan langkah tenang, seperti biasa. Dia menatap Gita dengan sorot mata tajam namun tetap datar, seolah dia sedang menghitung setiap reaksi Gita.
“Aku yakin kau punya banyak pertanyaan,” katanya, suaranya rendah dan penuh kendali.
Gita mendongak, menatapnya dengan ragu. “Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, Jhonathan? Apa rencanamu?”
Jhonathan melangkah mendekat, wajahnya tetap tanpa ekspresi. Dia berdiri tepat di depan Gita, menatapnya seolah dia tengah menilai seberapa jauh Gita bisa bertahan dalam permainan ini. "Aku ingin kau tetap di sini, di sisiku," ucapnya pelan, namun tegas. "Karena aku butuh seseorang yang bisa aku percayai dalam permainan ini."
Gita mengernyit. "Percayai? Setelah semua ini, kau pikir aku masih bisa mempercayaimu?" Dia tertawa pendek, sarkastik. "Kau menarik ku dari kehidupanku, memaksa aku tinggal di sini, dan kau berpikir aku bisa percaya padamu?"
Jhonathan duduk di kursi di seberang tempat tidur, memandang Gita dengan tatapan yang tidak mudah dibaca. "Percaya atau tidak, itu keputusanmu. Tapi aku tahu satu hal, Gita. Kau butuh aku sebanyak aku butuh mu." Dia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya mengambang di udara. "Devan tidak seperti yang kau kira. Dia tidak sebersih yang kau pikirkan. Dan rahasia yang aku pegang akan menghancurkannya—dan juga kau—jika kau tidak berdiri di sisiku."
Pernyataan itu membuat hati Gita tercekat. Dia tahu Devan mungkin bukan pria sempurna, tapi dia tak pernah membayangkan ada sesuatu yang begitu kelam di balik semua itu. "Apa yang kau ketahui tentang Devan?" desaknya, meskipun hatinya berdebar kencang, takut mendengar jawabannya.
Jhonathan menyeringai tipis. "Rahasia yang sangat buruk hingga bisa membuat Devan kehilangan segalanya. Kariernya, reputasinya, bahkan nyawanya." Dia mencondongkan tubuh ke depan, memandang Gita dengan intens. "Jika kau tetap melawan, Gita, aku tidak ragu untuk menghancurkan semuanya."
Gita merasa dunianya berputar. Dia tidak bisa melawan Jhonathan, tapi dia juga tidak bisa membiarkan Devan—meskipun telah mengkhianatinya—jatuh ke dalam kehancuran total. “Apa yang kau mau?” Gita akhirnya bertanya, suaranya bergetar. “Aku tahu ini bukan hanya tentang Devan. Ini tentang kita. Kau bermain dengan perasaan dan kehidupan banyak orang, termasuk aku.”
Jhonathan berdiri dari kursinya, mendekati Gita dengan langkah lambat namun pasti. “Aku menginginkan kendali, Gita. Aku ingin kau menyerah sepenuhnya padaku—pikiranmu, tubuhmu, dan hidupmu. Dan saat kau melakukannya, kau akan aman. Devan akan aman. Semua ini akan menjadi lebih mudah.”
Gita menatapnya tak percaya. “Kau pikir aku akan menyerahkan segalanya padamu hanya karena kau mengancam ku?” Ada getaran emosi dalam suaranya—antara marah, takut, dan tersesat.
Jhonathan berhenti tepat di depannya, mengangkat dagu Gita dengan satu jari, membuat mata mereka bertemu. "Aku tidak hanya mengancam mu, Gita. Aku memberimu pilihan. Tetap melawan, atau jatuh ke dalam pelukanku dan biarkan aku melindungi mu dari dunia luar yang lebih kejam."
Detik-detik berlalu dalam keheningan. Gita bisa merasakan napas Jhonathan di dekatnya, napasnya yang hangat tapi dingin dalam arti lain. Kedekatan fisik mereka membangkitkan perasaan yang bercampur aduk—ketertarikan, ketakutan, dan kebingungan.
Jhonathan melonggarkan cengkeramannya di dagu Gita, dan perlahan membungkuk mendekat, bibirnya hanya beberapa inci dari telinga Gita. "Kau tidak akan bisa lari dariku, Gita. Cepat atau lambat, kau akan tunduk."
Gita menahan napas, tubuhnya membeku di tempat. Sesaat yang lalu dia merasakan permusuhan yang dingin dari pria ini, tapi sekarang... ada sesuatu yang lebih mendalam, sebuah tarikan yang tidak bisa ia jelaskan. Namun, sebelum dia bisa bereaksi lebih jauh, Jhonathan menjauh dengan anggun, meninggalkan Gita dalam kebingungan.
"Besok, kita akan mulai," ucap Jhonathan sebelum keluar dari kamar, meninggalkan Gita sendirian dengan pikirannya yang kacau.
**
Keesokan harinya, Jhonathan memutuskan untuk bekerja dari mansion, memerintahkan agar semua laporan penting dibawa langsung kepadanya. Namun, yang lebih mengejutkan Gita adalah ketika Jhonathan menyuruh Devan datang ke mansion. Ada sesuatu yang Jhonathan rencanakan, dan Gita merasakan firasat buruk yang tak terhindarkan.
Saat Devan tiba di mansion, suasana di ruang tamu semakin tegang. Devan tampak gugup, berusaha menyembunyikan kecemasan di balik senyum tipis yang ia pasang ketika melihat Gita. “Gita, kau di sini?” tanyanya, matanya penuh pertanyaan.
Gita hanya mengangguk, tapi sebelum dia bisa mengatakan apa-apa, Jhonathan masuk ke dalam ruangan, menghentikan semua percakapan. “Devan,” sapa Jhonathan dingin. “Terima kasih sudah datang. Ada yang ingin kita bicarakan.”
Devan mengerutkan kening, jelas tidak nyaman dengan situasi ini. “Apa maksudmu, Jhonathan? Kenapa Gita ada di sini?” Suara Devan terdengar gugup, dan Gita bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
Jhonathan tersenyum tipis. "Gita dan aku... telah membuat kesepakatan. Aku rasa kau akan tertarik mendengarnya."
Gita menahan napas. Dia tahu ini akan menjadi saat yang menentukan, tapi dia tidak tahu bagaimana Jhonathan akan memainkan kartu-kartunya.
Jhonathan berjalan mendekati Devan, lalu berhenti tepat di depannya. “Kau tahu, Devan,” katanya dengan nada santai yang justru membuat suasana semakin mencekam, “aku selalu menghargai loyalitas. Tapi akhir-akhir ini, loyalitasmu mulai diragukan.”
Devan tersentak. "Apa maksudmu?"
“Aku tahu semuanya, Devan,” Jhonathan berkata pelan, tetapi penuh ancaman. “Tentang penggelapan dana di proyek besar yang kau tangani. Dan bagaimana kau mengalihkan sejumlah besar uang itu ke rekening pribadi.”
Gita merasakan dunia berputar di sekelilingnya. Apa yang baru saja didengarnya?
Devan membeku di tempat. Wajahnya memucat seketika. “K-kau... tidak mungkin...”
“Oh, tapi aku tahu.” Jhonathan tersenyum dingin. “Dan sekarang, aku punya kendali penuh atas hidupmu.”
Seketika, Gita menyadari betapa dalam jebakan ini. Jhonathan bukan hanya memegang kendali atas Devan secara profesional, tapi dia juga tahu rahasia paling kelam yang bisa menghancurkan segalanya. Dia sudah memenangkan permainan ini.
Devan berdiri kaku, tak mampu berkata apa-apa. Mata Gita beralih ke Jhonathan, mencoba memahami apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya.
Dan sebelum ada yang bisa bergerak, Jhonathan melangkah mendekat, menyentuh bahu Devan dengan tatapan menenangkan yang aneh. “Kau bisa memperbaiki ini, Devan. Tapi tentu saja, itu tergantung pada apa yang kau tawarkan padaku.”
Devan terdiam, jelas berusaha mencari jalan keluar, namun sebelum dia bisa menjawab, Jhonathan menambahkan satu kalimat lagi, yang membuat Gita merasakan ketegangan baru menjalari tubuhnya.
“Aira mungkin juga tertarik mendengar cerita ini,” bisik Jhonathan.
Devan menelan ludah, dan sebelum dia
melanjutkan jawabannya, suasana ruangan menjadi lebih mencekam. Gita menatap ke arah Devan yang sekarang terlihat semakin pucat, wajahnya kehilangan seluruh warna.
Gita menyadari bahwa Jhonathan benar-benar memegang kendali penuh sekarang. Dia tidak hanya tahu tentang penggelapan dana, tetapi juga hubungan terlarang antara Devan dan Aira, istri Jhonathan.
Jhonathan menatap Devan dengan senyum kemenangan di wajahnya, seolah dia sudah menantikan saat ini. “Kau mungkin bisa menyelamatkan dirimu, Devan. Tapi hanya jika kau bekerja sama denganku... sepenuhnya.”
Devan berdiri kaku, jelas tidak tahu harus bagaimana. “Apa yang kau inginkan?” suaranya nyaris bergetar, seolah menunggu vonis yang akan jatuh.
Jhonathan melipat tangan di dadanya. "Aku ingin kau tetap berada di posisimu, melanjutkan pekerjaan seperti biasa. Tapi, kali ini, kau bekerja untukku—bukan untuk dirimu sendiri." Dia berhenti sejenak, menikmati keterkejutan di wajah Devan. "Dan tentu saja, aku tidak ingin Aira mengetahui apa pun tentang ini."