bc

Mendadak Jadi Istri Bos

book_age18+
295
FOLLOW
3.0K
READ
HE
arranged marriage
boss
heir/heiress
tragedy
sweet
bxg
witty
city
office/work place
assistant
like
intro-logo
Blurb

Hana, seorang sekretaris cantik memiliki kesan pertama yang buruk dengan seorang pria tampan bermata biru menawan yang langka dan berharap tidak bertemu dengannya lagi tapi siapa sangka di hari selanjutnya ia malah bertemu kembali dengan pria itu yang sialnya adalah atasan barunya di tempat kerja. Belum selesai dengan kesan pertama yang buruk, tiba-tiba Hans, bosnya itu tiba-tiba melamarnya dan mengakui bila dia telah jatuh cinta pada pandangan pertama pada sosok seperti Hana, Papanya juga terlibat dibalik perjodohan Hana dan Hans. Namun siapa sangka dibalik perjodohan itu ternyata Papanya Hans menyimpan suatu rahasia besar dan selain itu ada kesepakatan antara Hans dan Papanya yang tidak diketahui oleh Hana.

Bagaimana perjalanan rumah tangga mereka? apakah Hana akan tetap bertahan di pernikahan itu setelah mengetahui semua kebenaran atau memilih untuk berpisah?

chap-preview
Free preview
Bab 1
Seorang wanita cantik berambut panjang gelombang sepinggang dengan lekuk tubuh indah bak gitar spanyol tampak berjalan memasuki sebuah apartemen dengan wajah ceria, senyum mengembang di wajahnya. Siapapun yang melihatnya mungkin akan berpikir bila ia memiliki hari yang menyenangkan. Langkahnya berhenti di depan pintu kamar 465. Jemarinya bergerak menempelkan kartu akses dan pintu pun terbuka. Namun, senyumnya seketika memudar, matanya melotot ketika melihat pemandangan di depannya yang sangat melukai hatinya. "Hana," pria di dalam kamar berucap pelan. Lelaki itu bangkit dari atas tubuh seorang wanita. Sedangkan wanita itu buru-buru merapikan kemeja tipisnya yang terbuka. Pria itu mendekati wanita yang berdiri di ambang pintu. "Hana, kenapa kamu datang tiba-tiba?" Hana tersenyum getir, matanya berkaca-kaca menahan air mata. "Jadi, ini alasan kamu tidak mengangkat teleponku semalam, Gery?" "Aku bisa jelas—" Hana menarik tangannya yang hendak digenggam kekasihnya lalu menampar pipi kekasihnya keras. "Diam kamu!" Ia menunjuk wajah kekasihnya. "Aku tidak butuh penjelasan dari kamu! karena apapun yang keluar dari mulutmu akan membuatku semakin jijik." Hana menatap Gery dengan mata tajam penuh amarah, dadanya naik turun menahan kesal. "Mulai sekarang kita putus." Tanpa banyak bicara, Hana berbalik arah, melangkah dengan cepat menyusuri koridor yang cukup sepi, tangannya menghapus kasar air mata yang tanpa sadar mengalir di pipinya. Tanpa memperdulikan sekitar, ia terus berjalan keluar dari apartemen sampai tiba ke jalan besar, ia hendak menyeberang. Ia memarkirkan mobilnya di seberang jalan. Namun tiba-tiba... Tinn tinn! Tubuh Hana bergetar, sebuah mobil hampir menyentuh tubuhnya, ia menutup telinganya rapat, klakson itu memekakkan telinganya. Orang dibalik mobil keluar menghampiri Hana yang masih mematung di sana. "Hei, apa yang kamu lakukan? Apa kamu ingin mati?" Hana mengangkat kepalanya, menatap nyalang pria itu. "Apa kamu tidak lihat orang menyeberang, huh?! kamu yang tidak bisa berkendara kenapa malah menyalahkan orang lain? dan apa kamu tidak lihat lampu merah itu?!" Hana menunjuk lampu lalu lintas yang tak jauh dari mereka lalu meletakkan kedua tangannya di pinggang sambil menatap iris biru menawan pria itu dengan berani, enggan mengalah. Pria tampan berambut undercut itu mengerutkan alisnya. "Lampu itu baru berganti, tadinya masih hijau. Kamu jago sekali playing victimnya." Hana mendengus. "Terus sekarang kamu mau apa? Menuntutku ke pengadilan?! Bukannya minta maaf malah terus berkelit." "Bukankah kamu yang seharusnya minta maaf karena sudah nyebrang sembarangan?" "Apa?! Jadi sekarang kamu menuduhku yang salah. Kamu hampir menabrakku tapi kamu tidak mau minta maaf. Dasar pria arogan." Pria itu mengerutkan alisnya, rahangnya mengeras. "Apa kamu sudah gila?" Tin tinn! Kendaraan di belakang mobil pria itu membunyikan klakson berkali-kali seperti orang tidak sabaran. Pria itu tersadar, menatap ke arah lampu lalu lintas yang telah berubah hijau. "Sudah pergi sana. Kamu tidak lihat orang-orang yang protes itu," ucap Hana seraya mendengus. Ia bahkan sempat mengacungkan jari tengahnya sebelum melenggang pergi. Hans terus memandang Hana dengan wajah tak percaya, tidak bisa berkata-kata sampai bunyi klakson menyadarkannya. Ia bergegas kembali masuk ke mobilnya, melanjutkan perjalanan tanpa memikirkan wanita aneh tadi. Ia berharap tidak bertemu dengannya lagi. Hana masuk ke mobilnya yang berada di seberang jalan, mengendarainya menuju sebuah perusahaan ternama tempatnya bekerja. Setibanya di sana Terlihat sebuah bangunan megah menjulang tinggi di antara bangunan-bangunan tinggi di ibu kota. Kawasannya cukup padat dan asri karena dikelilingi pepohonan yang tumbuh tinggi. Di atas sana terdapat papan nama berwarna keemasan yang bertuliskan Dirgantara Family Company yang tercetak tebal dan mewah. "Selamat siang Bu Hana! bukankah Bu Hana sedang mengambil cuti untuk hari ini?" Sapa seorang satpam yang cukup akrab dengan Hana. Ia kelihatan kebingungan. "Siang Pak Robi. Aku rasa aku orang yang pekerja keras, baru beberapa jam libur saja, aku sudah tidak sabar untuk kembali bekerja," jawabnya dengan sedikit bercanda diakhiri dengan senyum lebar yang nampak dipaksakan, satpam itu hanya tersenyum. Hana lalu melangkahkan kakinya memasuki perusahaan. Langkahnya panjang dan tegap seperti seorang model. "Hei, Hana!" Seorang wanita dibalik meja resepsionis menegurnya. "Mengapa kamu di sini? bukankah kamu sedang libur?" Hana mendekat, berdiri di depan meja resepsionis dengan wajah tertekuk, "Lia, aku sedang patah hati." Sudut bibirnya menekuk ke bawah. "Kamu kenapa? Kemari, duduk di sebelahku." Wanita berambut panjang lurus berkacamata itu menepuk kursi di sebelahnya. "Lia, huhu ... Gery selingkuh." Hana mulai terisak. Mata Lia membulat kemudian merangkul temannya. "Oh, i'm so sorry. Ada apa dengan dia? bukankah dia sangat mencintaimu?" "Aku tidak tahu. Aku rasa cintanya palsu, buktinya dia selingkuh dengan wanita lain. Padahal aku sangat mencintainya. Dasar laki-laki brengsek." Hana menggeram, meluapkan emosinya, ia meremas kuat ujung blousenya hingga kusut. Lia mengusap punggung Hana prihatin. "Kamu tidak perlu bersedih. Pria seperti Gery tidak perlu ditangisi." "Ya, aku tahu. Aku hanya sakit hati." Hana buru-buru menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Mata dan hidungnya memerah, ia berantakan sekali. "Dan, kamu tahu aku juga bertemu dengan pria aneh hari ini, itu membuatku semakin kesal." Lia mengerutkan keningnya. "Pria aneh? Orang gila maksudmu?" tebak Lia sembarang. "Aku tidak tahu, tapi aku rasa dia sedikit gila. Dia hampir menabrakku tapi dia tidak minta maaf sama sekali dan malah mengatakan aku gila." "Wah, kurang ajar sekali pria itu." Lia meninju telapak tangannya, ikut merasa kesal. "Tapi aku akui dia sedikit tampan sih," timpal Hana dengan suara kecil dan diakhiri dengan senyum tipis. Lia sontak mendorong pelan lengan Hana. Hana terkekeh seperti orang mabuk. Lia menatap jengah temannya yang agak aneh itu sambil melipat tangan di depan d**a. "Harusnya dari awal aku tidak bersimpati padamu." Baru saja menangis, sekarang Hana justru tertawa. "Jangan marah. Walaupun dia tampan tapi aku tetap kesal padanya." Ia menghela napas panjang. "Aku berharap tidak bertemu dengannya lagi, serius." "Hana," suara berat menginterupsi mereka. Hana dan Lia sontak berdiri dan merapikan pakaian mereka ketika mengetahui yang datang menyapa adalah bos mereka. "Pak William. Selamat siang!" "Selamat siang Pak," Hana ikut menyapa dengan senyum awkward. "Hana, kenapa kamu di sini? bukankah kamu libur hari ini?" Pertanyaan yang sama untuk ketiga kalinya. "I-iya Pak. Saya memang mengambil cuti hari ini. Saya hanya ke sini sebentar untuk bertemu Lia, ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengannya." "Ok. Tapi jangan mengajak ngobrol Lia saat sedang bekerja. Kamu tahu 'kan dia sedang bekerja?" "I-iya Pak, saya tahu. Maafkan saya." "Hm ... Ngomong-ngomong besok anak saya akan datang ke perusahaan untuk mengantikan posisi saya karena sebentar lagi saya akan pensiun. Saya akan perkenalkan dia kepada kalian untuk pertama kalinya besok. Semoga kalian bisa bekerjasama dengan baik dengannya terutama denganmu, Hana." Desas-desus tentang pergantian posisi CEO sudah terdengar dari beberapa bulan yang lalu jadi mereka tidak begitu kaget. "Baik Pak. Saya akan bekerja keras." "Ya sudah kalau gitu saya duluan." "Baik Pak." "Bos baru? Apa kamu kenal anaknya Pak William? kamu 'kan sekretarisnya, kamu pasti tahu," ucap Lia setelah William sudah hilang dari pandangannya. "Aku tidak tahu. Kehidupan Pak William se-privasi itu. Aku pernah ke rumahnya dan dia tidak menggantung foto keluarga di dinding rumahnya." Alis Lia terangkat. "Benarkah?" "Iya, tapi aku rasa itu anak yang kuliah di Switzerland. Beberapa tahun yang lalu Pak William pernah cerita padaku kalau beliau punya anak laki-laki yang sedang menempuh pendidikan S2 di Switzerland. Aku rasa sekarang dia sudah lulus makanya dia akan menggantikan posisi Papanya." "Hm, bagaimana rupanya dan yang paling penting bagaimana cara dia memimpin perusahaan? aku penasaran sekali." "Ya, aku juga." Hana termenung, mengingat kembali omongan-omongan dari William tentang putra tunggalnya yang akan menggantikan posisinya nanti dan entah kenapa dadanya tiba-tiba berdebar.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook