Keesokan harinya
Masih pagi, Hana sudah terduduk lemas di ruangannya. Matanya bengkak, ia memiliki kantung mata gelap dan wajahnya pucat. Ia tidak bisa tidur semalam, terlalu banyak yang menghantamnya kemarin. Pacarnya berkhianat, bertemu pria aneh dan omongan soal pergantian bos. Semua itu memenuhi pikirannya sejak semalam dan sekarang ia mengantuk sekali, nyaris tidur di saat jam kerja.
"Oh, tidak. Aku jelek sekali." Ia menatap ke cermin dengan bibir mengerucut. Ia menutup kaca kecilnya ke atas meja, tak tahan menatap wajah sayunya lebih lama. Ia menguap, matanya memerah dan berair.
"Aku mengantuk sekali. Sepertinya satu gelas kopi di pagi hari tidak masalah." Ia bangkit dari kursi, keluar dari ruangannya untuk memesan kopi.
Namun ia mengerutkan dahinya ketika melihat ada beberapa karyawan berjalan cepat di koridor seperti mengejar sesuatu.
"Hei, stop!" Hana menghentikan seorang karyawan. "Kalian mau ke mana? kenapa buru-buru sekali?"
"Bos baru sudah tiba, dia ada di lobi. Kamu tidak ingin lihat?" jawab karyawan tersebut lalu melanjutkan langkahnya tanpa menunggu respon dari Hana.
Hana masih melongo, masih memproses situasi. Sekian detik kemudian matanya membola lalu bergegas mengikuti yang lainnya ke lobi.
Setelah tiba di lobi, lobi sudah dipenuhi orang-orang yang berkerumun entah mengerumuni apa. Hana tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di depan. Hana bergerak mendekat, berusaha menerobos kerumunan.
"Hana!" Seseorang memanggilnya.Tangannya ditarik oleh seseorang. Orang itu adalah Lia. Lia menarik Hana, menyelinap ke celah-celah kosong hingga tiba di depan kerumunan.
Saat matanya bertemu dengan orang yang berdiri di hadapannya, tubuhnya menegang, matanya melotot. "Pria itu," ia berucap pelan. Pria aneh yang hampir menabraknya kemarin sekarang sedang berdiri tak jauh darinya. Ia kelihatan rapi dan tampan dalam balutan setelan jas abu-abu yang kelihatan mahal dan elegan. Rambut pendek undercutnya di tata rapi tanpa poni. Wajahnya bersih, rahangnya tegas. Bahunya lebar dan kokoh, dadanya bidang, kelihatan bila dia sangat hobi berolahraga. Fisiknya luar biasa.
Pria itu bersikap tenang, mengangkat sebelah alisnya seraya tersenyum miring pada Hana.
Dada Hana berdebar, bukan karena jatuh cinta pada pandangan pertama tapi karena ia sudah tahu takdir hidupnya ke depan akan seperti apa.
“Perhatian! Semuanya harap tenang!” suara lantang William membuat suasana riuh seketika tenang.
“Saya rasa sebagian dari kalian sudah tahu tentang kabar pergantian posisi CEO jadi saya akan perkenalkan orangnya. Di samping saya sudah berdiri Hans Dirgantara, putra tunggal saya yang akan menggantikan posisi saya sebagai CEO untuk ke depannya.”
“Sialan,” ujar Hana dengan suara kecil namun sedetik kemudian ia menutup mulut, takut bila ada yang mendengarnya. Bagai petir menyambar di siang cerah, begitulah perumpamaan mengejutkan yang dirasakan Hana sekarang. Masalah tak terduga terus datang padanya setelah putus dengan Gery.
“Selamat siang semuanya!” Hans menyapa. “Perkenalkan saya Hans Dirgantara, bos baru kalian,” katanya singkat dengan tatapan tajam yang mengarah tepat ke Hana sambil menyunggingkan senyum kecil yang di mata Hana terlihat mengerikan. Alhasil Hana langsung berbalik menerobos keluar dari kerumunan dengan jantung yang berpacu kencang.
Lia menoleh ke belakang dengan dahi berkerut kebingungan melihat reaksi temannya.
Hana pergi ke kamar mandi, membasuh wajahnya di wastafel seraya menggelengkan kepalanya berusaha menghilangkan bayang-bayang wajah Hans yang menunjukkan ekspresi menyebalkan padanya. "What a nightmare! Kenapa harus dia?" Hana berbicara pada pantulan dirinya di cermin dengan wajah panik. “Aku belum siap untuk dipecat.” Ia menggigit kuat bibirnya seraya menutup matanya rapat. Membayangkan kemungkinan terburuk saja Hana sudah tidak sanggup apalagi kalau sampai kejadian. Maksudnya dia hanya hidup sebatang kara, walaupun sekarang ia hidup berkecukupan tapi kalau ke depannya dia menganggur, ia tidak bisa membayangkan bagaimana cara dia melanjutkan hidup.
Uang gajinya sebagai sekretaris di Dirgantara Family Company cukup besar, ia tidak mungkin melepaskannya begitu saja.
Ia menghela napasnya, mencoba untuk tetap tenang. “Kamu harus tenang Hana, ok. Huh ....” setelah mengatur napasnya dengan baik, ia merapikan penampilannya sekali lagi sebelum keluar dari toilet.
“Ah!” Hana terperanjat ketika mendapati Hans, bos barunya sudah berada di hadapannya sambil memasang wajah menyebalkan dan melipat tangan di depan d**a.
“Kenapa kamu teriak? Kamu pikir saya setan, huh?” Hans berbicara santai namun formal seperti seorang pimpinan.
Hana sigap menundukkan kepala. “Maafkan saya Pak.”
“Untuk?” tanyanya seolah memancing.
Hana merapatkan bibirnya, diam. Hans bergerak maju membuat Hana reflek mundur beberapa langkah hingga terpojok ke dinding, menahan napasnya.
Iris biru itu menatapnya lekat seolah memaksa Hana untuk masuk lebih dalam, panas menjalar di pipi hingga ke telinganya. Ia sudah seperti kepiting rebus.
Hans tersenyum tipis sebelum akhirnya berkata, "Ikut ke ruangan saya sekarang," ujarnya singkat lalu keluar dari toilet duluan.
Hana sontak menutup wajahnya, mengusapnya kasar. “Bagaimana ini? mati deh aku.”
Dengan terpaksa Hana harus memenuhi panggilan dari Hans.
Tok tok tok!
“Masuk!” sahut Hans dari dalam ruangannya ketika ada yang mengetuk pintu. Ia sudah tahu siapa orang di depan pintu.
“Silakan duduk,” Hans mempersilakan Hana untuk duduk di kursi kosong di hadapannya.
Hans mengangkat tangannya ke atas meja, menautkan jari-jarinya sambil menatap ke orang di hadapannya dengan tatapan tajam namun bibirnya tersenyum. Tapi itu membuat bulu kuduk Hana berdiri.
“Ada yang ingin kamu katakan? sebelum saya yang bicara,” tanya Hans masih tersenyum.
Hana menelan ludahnya. “Pak, Pak Hans yang terhormat. Hari ini bapak ganteng banget deh.” Hana berusaha bicara tenang, ia bahkan mengacungkan dua jempolnya pada Hans.
Hans mendengus kemudian tersenyum. "Saya memang ganteng. Semua orang juga tahu itu," ucapnya percaya diri.
Hana rasanya ingin menonjok pria yang terlalu percaya diri di hadapannya itu tapi itu hanya suara hatinya, kebalikannya wajahnya justru menunjukkan senyum lebar hingga matanya ikut tersenyum.
"Sudah? tidak ada lagi yang ingin kamu katakan?"
Hana mengigit bibirnya, tangannya dibawah sibuk memilin ujung blousenya. "Hm, saya minta maaf, Pak. Saya salah kemarin."
"Jadi, kamu mengakuinya sekarang?"
Hana mengangguk pelan.
Hans berdiri berjalan pelan di sekitar Hana membuat Hana menelan ludah. Langkah kakinya pelan seperti langkah malaikat maut yang hendak merenggut nyawanya.
“Saya berpikir untuk memberikan beberapa tugas untukmu anggap saja sebagai salam perkenalan agar hubungan antara bos dan sekretaris ini bisa berjalan dengan baik.” Hana sontak menoleh ke samping, Hans sudah berada di sampingnya. Posisinya agak membungkuk hingga mata mereka bertemu. Mata Hana berkedip-kedip pelan. Iris biru itu begitu menyilaukan di matanya. “Bukankah begitu, Bu Hana?” suaranya berat dan serak dengan mata yang melirik ke nametag Hana di bajunya.
Hana menahan napas dengan susah payah. Hans kembali duduk di kursinya.
"Apa yang harus saya lakukan? saya akan lakukan apapun tapi tolong jangan pecat saya."
"Saya tidak pernah berpikir untuk memecatmu. Saya hanya ingin berkenalan denganmu." Hans terus tersenyum tapi itu justru membuat Hana tak nyaman. "Pertama, tolong pijat punggung saya. Punggung saya sakit."
"E-eh?"
"Tolong pijat punggung saya. Apa kurang jelas? Apa kamu berpikir hal lain?"
Hana sontak menggeleng. "Tidak. Saya mengerti." Hana lalu berdiri di belakang kursi yang diduduki Hans, jemarinya menyentuh bahu lebar Hans, mulai memijatnya perlahan.
"Kenapa pelan sekali?"
Hana lalu menekan kuat-kuat tangannya, meluapkan emosinya. "Nah itu baru enak." Namun justru Hans suka. Hans menutup matanya, menikmatinya.
'Dasar pria menyebalkan.' pikir Hana, matanya melotot menatap ke ubun-ubun Hans.
Setengah jam kemudian, "Ok, terima kasih. Untuk selanjutnya ...." Hans mengedarkan pandangannya dengan bibir mengerucut. "Saya mau kamu bereskan buku-buku yang ada di rak itu." Hans menunjuk rak buku yang sedikit berantakan di sebelah sofa.
"Tapi, saya harus kembali bekerja, Pak."
"Kamu mau menolak perintah saya?"
"Ti-tidak Pak."
"Kalau begitu kerjakan. Setelah ini, kamu boleh kembali ke ruanganmu."
Hana mengangguk. "Baik, Pak."
Hans menyandarkan diri dengan nyaman di kursinya, sesekali memandang Hana yang sedang bekerja dengan senyum puas. “Kita akan sering bertemu mulai sekarang. Pastikan kamu memperhatikan sekitar. Tidak hanya di jalan, tapi juga di pekerjaan,” ucapnya seolah menyindir Hana soal kemarin.
Hana bisa merasakan darah naik ke wajahnya, bukan karena malu tapi karena kesal. Pertemuan pertama sudah buruk, dan sekarang dia harus bekerja di bawah pria ini? dan hari ini baru hari pertama? bisa mati muda Hana dibuatnya.