Bab 3

1501 Words
Malamnya Hans baru tiba di rumah, ia memberhentikan mobilnya di halaman rumah lalu melemparkan kunci mobil ke pelayan yang sudah menunggu untuk membantunya memasukkan mobil ke garasi. Ia berjalan cepat memasuki rumah megah bergaya modern klasik 3 lantai itu. “Hans,” Hans menghentikan langkahnya saat melewati ruang tamu, Papanya memanggilnya. Papanya terlihat sedang duduk santai di sofa kain suede premium berwarna beige dengan tangannya merangkul pundak mamanya. Hans menoleh namun hanya diam. "Hans, kemari. Duduk sini sama kita. Ada yang ingin kami bicarakan padamu." Kali ini mamanya yang bicara. Hans menghampiri mereka, duduk di sofa single. Duduk mengangkang dan tegap, ditambah mengenakan setelan jas abu tua semakin membuatnya seperti seorang laki-laki sejati. "Ada apa?" tanya Hans to the point. "Hans, tahun ini kamu akan berulang tahun yang ke 29. Apa kamu sudah punya seseorang yang ingin kamu kenalkan pada Mama dan Papa?" tanya Mamanya. "Kalau sudah siap, aku pasti akan kenalkan perempuan itu." "Kenapa kamu sembunyi-sembunyi gitu sih? Jadi kamu udah ada gandengan?" Mamanya bertanya. Papanya ikut melirik Hans, menunggu jawaban Hans. Bola mata Hans bergerak-gerak pelan seolah mencari sesuatu, tiba-tiba gugup. "Ya ... ada." Hans berkata akhirnya. "Apa kamu udah yakin? nggak salah pilih lagi 'kan kali ini?" Papanya kali ini yang berbicara. "Papa kok ngomongnya gitu?" "Ya, kamu 'kan nggak pernah pintar milih pasangan. Buktinya kamu sering gonta-ganti pasangan gara-gara masalah di pacar kamu." "Pa, jangan ngomong gitu ke Hans." "Tapi, itu faktanya sayang." Hans makin menciut. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain seraya tersenyum kecut. "Nggak apa-apa Hans. Salah pilih itu biasa, mama yakin suatu saat nanti kamu pasti akan menemukan yang tepat.” Hans hanya mengangguk. “Kalau cari pacar itu, cari yang seperti Hana.” Hans mendongak, menatap Papanya ketika Papanya menyebut nama sekretarisnya. "Hana itu sekretaris Papa dan sebentar lagi akan menjadi sekretaris kamu. Dia baik, pekerja keras walaupun sedikit aneh.” “Mama juga kenal dia. Dia cantik dan baik.” Hans diam menyimak. "Sebenarnya, Papa dan Mama ada rencana ingin menjodohkanmu sama Hana." "Apa?!" Kali ini ia merespon seolah tidak setuju, alisnya menukik dan matanya berkilat menyiratkan kemarahan. "Aku nggak mau ya Pa, Ma dijodoh-jodohkan kayak gini. Aku juga nggak suka sama dia." "Loh, kenapa? kamu kok kayak kesel banget?" "Ya gimana nggak kesel tiba-tiba aku dijodohin sama perempuan yang baru aku kenal." "Betul, Pa kata Hans. Jangan terlalu terburu-buru. Biarlah mereka kenalan dulu. Nikah 'kan juga nggak segampang itu." "Nggak. Pokoknya kamu harus nikah dengan Hana dalam waktu 7 hari, tidak ada penolakan. Kalau cinta itu bisa dimulai setelah menikah. Lagipula nanti kalian akan sering bertemu." Mata Hans nyalang dengan d**a kembang kempis menahan amarah menatap Papanya yang pergi begitu saja tanpa mau mendengar pendapatnya dulu. Laura, Mamanya Hans segera menghampiri Hans yang kelihatan menahan emosi, duduk di lengan sofa. "Hans, jangan sakit hati ya." Laura mengusap kepala Hans. "Tapi Papa begitu juga buat kebaikanmu. Papa memang udah lama sekali pengen kamu nikah sama Hana dan Mama juga setuju. Menurut kami, Hana, perempuan yang cocok untuk kamu tapi kalau kamu mencintai perempuan lain, kamu boleh ajak dia kemari Minggu ini. Siapa tahu Papa akan restui kamu dengan perempuan yang kamu pilih." Hans menoleh ke samping. "Tapi, Papa kenapa sih ngotot banget mau jodohin aku sama Hana? Memangnya nggak ada perempuan lain?" Laura tersenyum. "Hana 'kan udah lama kerja sama Papa. Papa pasti kenal baik dengan Hana dan tahu betul kinerjanya di perusahaan." Hans menundukkan kepalanya, menghela napas kasar seraya memijat kepalanya yang terasa berdenyut. "Baiklah. Kalau begitu aku akan perkenalkan pacarku pada Mama dan Papa Minggu ini," ucap Hans akhirnya. *** Keesokan harinya “Jam 12 siang bapak ada meeting dengan klien pemilik tanah di restoran A&F. Jam 3 sore bapak ada meeting dengan direktur keuangan.” “Ok. Kamu ikut dengan saya nanti” “Baik Pak. Kalau begitu saya permisi.” "Hm," Hans hanya bergumam tanpa menatap ke arah Hana. Ia menyibukkan diri dengan memeriksa berkas-berkas di atas meja. Namun saat Hana belum benar-benar keluar, tiba-tiba seseorang masuk tanpa mengetuk pintu. Orang itu adalah William. "Eh, Pak William. Selamat pagi!" sapa Hana seraya menundukkan kepala sopan. Hans sontak mengangkat kepalanya. "Papa," berdiri dari kursinya, menghampiri papanya. "Papa ngapain ke sini?" "Papa mau ngobrol sama Hana," ujar William seraya melirik Hana. "Tapi, di ruangan kamu saja Hana," sambung William. Hana tampak menunjukkan raut bingung tidak dengan Hans yang sudah tahu dengan maksud kedatangan William. "Baik, Pak." Hans hanya bisa menatap punggung Papa dan sekretarisnya yang hilang dibalik pintu dengan tatapan yang tak bisa dibaca. Mereka akhirnya duduk di ruangan Hana yang berdekatan dengan ruang Hans. Mereka duduk di sofa single size kecil yang berada dalam ruangan Hana. "Hana, saya tahu ini mendadak tapi saya dan istri berencana untuk menjodohkan kamu dengan Hans, anak saya." Mata Hana membesar. Bibirnya bungkam, tidak tahu harus merespon apa. "Sebenarnya saya sudah lama punya rencana ini. Saya sudah kenal kamu lama dan saya pikir kamu perempuan yang cocok untuk Hans. Apa kamu bersedia?" "Hm ... maaf Pak sebelumnya. Jujur saya belum bisa jawab apa-apa sekarang, karena ini terlalu mendadak." "Kamu butuh apa? saya bisa kasih kamu apapun asal kamu mau menikah dengan Hans. Saya tidak mau Hans menikah dengan perempuan lain." Hana terdiam, menatap ke mata William yang tegas, menyiratkan akan kesungguhan. *** Siang ini Hans dan Hana sedang dalam perjalanan menuju restoran A&F untuk meeting bersama seorang klien. "Tadi Papa ngomong apa?" tanya Hans di perjalanan. Hana menoleh sekilas. "Bukan apa-apa, hanya soal pekerjaan." Hana terpaksa berbohong karena William sendiri yang memintanya untuk tidak memberitahukan siapapun termasuk Hans tentang pembicaraan mereka tadi. "Kenapa kamu tidak mau jujur? apa Papa mengancammu?" ucap Hans tanpa mengalihkan pandangan. "Tidak. Itu memang bukan apa-apa, Pak." Hans menyerah, tak mau memaksa. Ia pun diam, menghembuskan napasnya. Sekitar pukul setengah dua belas, Hana dan Hans tiba di sebuah restoran mewah bergaya modern eropa yang telah dipesan untuk pertemuan mereka dengan klien pemilik lahan. “Bagaimana dengan klien? Sudah kamu hubungi?” tanya Hans seraya melirik jam di pergelangan tangannya. “Sudah, Pak. Tadi pagi saya sudah mengingatkan beliau soal meeting siang ini,” jawab Hana tenang. Hans mengangguk pelan. “Ok. Kalau begitu kita tunggu sebentar. Semua dokumen sudah siap?” “Sudah, Pak,” Hana kembali mengangguk, kali ini sambil menunjukkan map berisi berkas yang tersusun rapi. Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya berjas abu-abu datang bersama seorang wanita yang tampak seperti sekretarisnya. Setelah saling menyapa dan bertukar basa-basi singkat, mereka pun langsung masuk ke inti pembicaraan, memulai negosiasi pembelian lahan kosong yang dimaksud. Hans sebagai CEO Dirgantara Family company, memaparkan penawaran mereka dengan bahasa yang tegas dan persuasif. Prosesnya memakan waktu cukup lama. Beberapa kali terjadi tawar-menawar, saling mempertahankan angka, hingga akhirnya tercapai titik temu yang menguntungkan kedua belah pihak. “Terima kasih atas kerjasamanya, Pak. Senang berbisnis dengan anda,” ujar Hans sambil menjabat tangan pria itu. “Sama-sama, Pak Hans. Saya juga berharap kita bisa bekerjasama lagi di masa depan,” jawab sang klien dengan senyum ramah. “Dengan senang hati, Pak,” balas Hans. Setelah perjanjian ditandatangani dan berkas-berkas diserahkan, mereka kembali berjabat tangan. “Kalau begitu, saya permisi. Masih ada urusan lain yang harus saya selesaikan,” katanya. “Baik, Pak. Sekali lagi, terima kasih,” sahut Hans. Sang klien pamit lebih dulu, diiringi sekretarisnya. Hans masih memandang punggung klien tersebut dengan senyum mengembang. Bagaimana tidak, dia berhasil mencapai kesepakatan sesuai rencana, ini adalah negoisasi pertamanya dan berhasil namun itu semua bisa terjadi juga berkat Hana yang membantunya memberikan penawaran. Hana sedari tadi menatapnya dan baru kali ini ia melihat ekspresi seperti itu di wajah atasannya dan hatinya ikut bahagia. “Bapak kelihatannya senang sekali?” Hans langsung merubah ekspresinya menjadi sedingin es kembali. “Bukan urusanmu.” Hana mendengus. “Dasar tsundere,” gumamnya dengan suara kecil. “Apa katamu?” “Tidak. Saya tidak ngomong apa-apa Pak.” Hana lalu membereskan berkas di atas meja. Sementara Hans memeriksa jam di pergelangan tangannya. “Ayo pesan makan.” “Huh?” “Pesan makan. Kita sekalian makan siang di sini.” Hana masih mencerna perkataan Hans. Ini pertama kalinya Hana diajak makan dengan atasan barunya. Ia hanya kaget. “Kamu tidak mau?” tanya Hans ketika tak kunjung mendapatkan jawaban. “Oh iya baik Pak.” Hans menatap Hana dengan mata memicing dan dahi berkerut sejenak sebelum memanggil pelayan dengan jarinya untuk memesan. Hana terkejut ketika Hans memesan banyak makanan. "Pak, kenapa pesan banyak sekali?" “Itu buat kamu. Makan yang banyak, kamu kurus sekali," jawab Hans seraya meliriknya sekilas. “Huh?” Hana sontak menunduk memperhatikan bentuk tubuhnya. ‘Apanya yang kurus? Tubuhku sexy begini, ya walaupun p****t agak tepos sih.’ Hana sampai bertanya-tanya dalam hati sambil mencuri pandang sesekali ke arah bosnya. Dengan tinggi 165 cm dan berat badan 50 kg memang terbilang kurang ideal tapi tubuhnya bisa terbilang langsing dan sehat. 'Atau mungkin dia menyukai wanita gemuk ya?' Hana hanyut dalam pikirannya. Setelah makan dan hendak meninggalkan restoran, tiba-tiba. "Hana," seseorang datang menyapanya. Hana melebarkan matanya ketika bertemu orang itu, tak menyangka bisa bertemu dengan orang itu di sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD