Hana sontak melirik pintu kamar mandi yang baru saja terbuka, pupil matanya membesar tatkala melihat Hans, suaminya keluar hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian bawahnya, membiarkan bagian atasnya terekspos. Tubuh bagian atasnya kelihatan sangat kokoh dan kuat, dadanya bidang, otot-otot perutnya tercetak jelas dan terdapat bulu halus di bagian dadanya.
Seketika wajahnya memanas, jantungnya berdegup kencang tanpa disadarinya. Ia hanya belum terbiasa. Hans berjalan santai, seolah tidak peduli dengan tatapan istrinya yang jelas-jelas salah tingkah. Butiran air masih menetes dari rambutnya, mengalir turun di sepanjang leher hingga ke d**a bidangnya.
"Kenapa menatapku begitu?" Hans membuka suara ketika memergoki tatapan istrinya yang berbeda, nada bicaranya datar namun ada sedikit guratan senyum samar di bibirnya.
"A–aku ... tidak ...," Hana tergagap, buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain, pura-pura sibuk merapikan lipatan selimut di atas ranjang. Namun semakin ia berusaha tidak menatap, bayangan suaminya yang baru keluar dari kamar mandi justru semakin jelas membekas di kepalanya.
Hans mendengus, sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis, melanjutkan langkahnya santai. Ia berhenti di depan meja rias, menatap pantulan dirinya di depan cermin.
Hana kembali mencuri pandang, bahu lebar dan kokoh kini menyapa penglihatannya. Ia tertegun dengan tubuh atletis suaminya, dadanya berdebar. Hans mengambil hairdryer, mengeringkan rambutnya dengan santai seperti seorang bintang model iklan.
'Sial! kenapa aku deg-degan banget,' keluh Hana dalam hati.
Beberapa saat kemudian ia tiba-tiba berbalik, Hana sontak buang muka ketika tertangkap basah masih memandangi suaminya. Ide nakal pun muncul di otak Hans.
Beberapa menit kemudian Hana kembali menoleh ketika Hans hanya diam. "Heh, kamu mau ngapain?!" tegur Hana ketika tak sengaja melihat Hans sedang memegang lilitan handuk di pinggangnya seolah ingin membukanya. Wajahnya panik, tangannya bergerak gemetar.
Hans mendongak, dahinya berkerut, mengangkat sebelah alisnya. "Kamu kelihatan panik banget? aku cuma mau kuatin lilitannya loh soalnya mau lepas. Kenapa?"
"Oohh ...." Hana tertawa canggung. "Nggak apa-apa sih. Ya udah cepat pakai bajumu. Apa kamu tidak kedinginan?" Hana berusaha untuk bersikap santai, mengabaikan detakan jantung yang terus meningkat.
Hans justru menyeringai. "Kamu kelihatan tegang sekali. Apa kamu belum siap?" Hans sengaja menaik-turunkan alisnya berniat menggoda dan itu kelihatan menakutkan di mata Hana. Padahal jarak umur mereka hanya terpaut 4 tahun namun Hans terlihat seperti sudah Om-om di matanya.
"Tidak. A-aku ... Aku ngantuk." Hana lalu berbaring, menarik selimut hingga ke batas dadanya lalu pura-pura menguap. "Ah, aku ngantuk sekali. Aku tidur duluan ya. Selamat malam, Mas."
Hans mendengus kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah aneh istrinya. Ia pun mengenakan pakaian yang sudah disiapkan oleh Hana sebelumnya.
Setelah berpakaian rapi, ia naik ke atas ranjang, bergerak gelisah seraya menatap ke sekitar ranjang seperti sedang mencari sesuatu. Tangannya sampai bergerak ke balik selimut dan bantal. "Ke mana kacamataku?" gumamnya pelan sampai akhirnya matanya menangkap kacamatanya tergeletak di sebelah badan Hana, di ujung ranjang hampir terjatuh.
'Kenapa bisa ada di sana?' pikirnya bingung. Ia melirik ke Hana yang sudah memejamkan mata. Wajahnya damai seperti benar sudah tertidur.
'Apa dia sudah tidur?' Hans bergerak pelan mendekati Hana, meletakkan kedua tangannya di kedua sisi badan istrinya seolah sedang mengukungnya. Niat awalnya hanya ingin mengambil kacamatanya tanpa membangunkan Hana, namun bukannya meraih benda itu, tubuhnya justru menegang ketika wajahnya tepat berada di atas wajah istrinya, masih ada jarak diantara mereka. Iris matanya bergerak pelan, menelusuri setiap detail wajahnya istrinya dengan jara sedekat ini, bulu mata lentik, hidung mancung dan bibir mungil yang sedikit terbuka itu nampak sangat menggoda di matanya.
'Kenapa aku baru sadar kalau dia secantik ini,'
Jantung Hans berdetak lebih kencang, dan tanpa disadari tubuhnya bergerak lebih dekat. Namun ketika jarak di antara wajah mereka semakin menipis, bulu mata Hana justru bergerak.
Hana membuka matanya perlahan, langsung mendapati wajah Hans yang begitu dekat dengan wajahnya. Mata mereka bertemu. Seketika dunia terasa berhenti, hanya ada detak jantung keduanya yang seakan berlomba.
"Aaaa!" Hana berteriak sekeras mungkin dan reflek mendorong d**a Hans hingga suaminya terjungkal.
"Aduh!" Hans mengaduh kesakitan, meringis sambil memegangi pinggangnya, untung saja ia tidak sampai jatuh ke bawah.
Hana terkejut dengan ulahnya sendiri. "Eh, maaf Pak, eh Mas maksudnya ... kamu nggak apa-apa?"
"Kamu gimana sih? bos kamu sendiri, kamu giniin."
"Aduh maaf, Pak. Tapi, sekarang bukan lagi di tempat kerja jadi kamu bukan bos-ku." Hana masih saja menjawab bahkan sempat nyengir. Tidak mau disalahkan.
"Jadi, kalau bukan lagi di tempat kerja, kamu bisa bersikap seenaknya?"
"Bukan begitu. Aku tidak sengaja tadi, beneran. Habisnya kamu ngagetin sih. Kamu mau ngapain sih tadi?"
Hans melipat bibirnya, cemberut. "Aku cuma mau ambil kacamataku itu, di situ."
Hana mengikuti arah pandang Hans. "Ooh, ini." Ia mengambil kacamata baca dengan frame kotak milik Hans. "Kirain tadi mau ngapain."
"Memang kalau aku mau 'ngapain-ngapain' nggak boleh?"
Bola mata Hana bergerak gelisah, membasahi bibirnya gugup. "Bukan nggak boleh. Tapi ...."
"Lagian siapa juga yang mau—"
"Apa?!" Hana mendengar yang suaminya katakan, reflek melototi Hans walaupun Hans belum menyelesaikan kalimatnya.
"Lagian siapa juga yang nggak mau sama kamu. Udah cantik, pintar, pekerja keras lagi." Hans menyambung kalimatnya tadi.
Hana tersenyum, "Ohh ... Bisa aja kamu, Mas." ucapnya malu sambil memukul manja lengan berotot Hans.
Hans menatapnya sinis. Istrinya seperti memiliki dua kepribadian. "Makanya dengerin dulu aku ngomong."
"Ya udah nih kacamatanya. Aku mau tidur, jangan ganggu aku ya." Hana kembali berbaring, menarik selimutnya dan berbalik membelakangi suaminya.
Hans menatap punggung kecil itu dengan dahi berkerut kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.
***
Keesokan paginya
Hans membuka matanya ketika merasakan tempat di sebelahnya kosong. Ia mengucek-ucek matanya dan menoleh, Hana sudah tidak ada di sebelahnya.
Ia duduk perlahan, mengumpulkan nyawanya sebelum turun dari ranjang. Dari arah dapur terdengar suara berisik panci dan wajan yang saling beradu. Aroma samar-samar gosong pun tercium. Hans menghela napas kecil, ia merasa khawatir namun juga penasaran.
Dengan langkah malas ia berjalan ke arah dapur. Benar saja, Hana sedang berdiri di depan kompor dengan celemek pink yang terlalu besar melekat di tubuhnya. Rambutnya diikat seadanya dan wajahnya terlihat serius sambil berusaha membalik sesuatu di wajan.
“Hana?” panggil Hans ragu.
Hana menoleh cepat, matanya langsung menyipit. “Kenapa?"
"Kamu lagi ngapain?"
"Kamu nggak lihat aku lagi masak? Duduk lah di sana. Sarapannya sebentar lagi akan jadi.”
Hans menghela napas, malas banyak berkomentar lalu duduk di kursi meja makan. Tak lama kemudian Hana meletakkan sepiring nasi goreng di depannya, bersama telur dadar yang bentuknya tak beraturan dan sedikit gosong.
“Coba makan,” kata Hana singkat.
Hans menelan ludah, mengambil sendok, lalu mencicipinya. Tampilannya tidak meyakinkan. Begitu suapan pertama masuk ke mulutnya, rasanya asin sekali, dengan aroma sedikit gosong. Matanya melotot, Lidahnya hampir protes bahkan sampai sulit menelannya tapi ia buru-buru tersenyum.
“Eum enak,” ucap Hans cepat sambil mengangguk, meski dalam hati ia menjerit.
Mata Hana menyipit lagi, merasa curiga. “Beneran?”
Hans menegakkan badan, tersenyum paksa. “Iya, enak banget. Aku baru tahu kamu jago masak.”
Hana tampak puas mendengar itu, lalu ikut duduk sambil menatap Hans makan sambil bertopang dagu. Karena merasa diawasi, Hans tak punya pilihan lain selain terus menyendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
Dalam hati Hans bergumam, 'Kalau begini terus, aku bisa mati muda, tapi dia kelihatan galak, mana mungkin aku bilang nggak enak.'
Hana tiba-tiba tersenyum tipis. “Sebenarnya aku jarang masak sih kalau di rumah. Tapi, kalau kata kamu enak, besok aku coba masak menu lain. Biar kamu nggak bosan. Ok?”
Hans langsung tersedak, buru-buru mengambil air.
"Eh, kamu kenapa?" Hana mengipasi Hans dengan tangannya. Wajah Hans memerah.
“Nggak apa-apa. Tapi, nggak usah repot-repot, yang ini aja udah … udah cukup kok. Kita 'kan juga bisa pesan makanan, takut kamu capek.”
Hana menatapnya tajam. “Maksudnya apa? Kamu nggak suka sama masakan aku makanya kamu lebih milih beli? Gitu?!”
Hans menggeleng cepat, menyunggingkan senyum kaku. “Bukan begitu! Aku suka banget! Aku cuma nggak mau kamu capek.”
Hana mengangguk puas, sementara Hans hanya bisa pasrah menikmati sarapan yang entah bagaimana harus ia habiskan. Namun karena terus diawasi, Hans dengan terpaksa menghabiskan sepiring nasi goreng asin buatan istrinya.
"Wah, hebat banget kamu, sampai habis loh nasi gorengnya." Hana menepuk-nepuk tangannya seraya tersenyum puas.
Sedangkan Hans memaksakan senyuman. "Hm, ya udah kalau gitu aku mandi duluan ya."
"Ok, nanti aku siapin baju untuk kamu ya." Hana menyunggingkan senyumnya sampai suaminya hilang dari pandangannya.
"Memangnya seenak apa sih nasi gorengnya? kok penasaran ya. Sampai habis loh, padahal aku baru pertama kali masak nasi goreng."
Hana beranjak ke depan kompor, mencicipi sesendok nasi goreng yang masih tersisa di wajan.
"Hoek!" Hana reflek memuntahkan nasi dalam mulutnya. "Ihh asin banget." Ia menjulurkan lidahnya lalu buru-buru mengambil air, meneguknya hingga habis. Ia tiba-tiba kepikiran Hans yang menghabiskan sepiring nasi goreng asin buatannya. Ia mengigit jarinya, alis matanya turun, merasa bersalah.