Di perjalanan menuju perusahaan, Hana sesekali mencuri pandang ke orang yang mengemudi. Dia ingin bertanya sesuatu tapi lidahnya terasa berat untuk berbicara.
"Kenapa? kamu kelihatan gelisah." Hans membuka suara seolah tahu kegelisahan istrinya tapi tatapan matanya tak beralih dari jalanan.
"Oh," Hana tersentak. Ternyata suaminya sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya walaupun matanya tidak menatapnya. "Hm, aku cuma mau tanya, apa kamu tidak apa-apa? kamu tidak sakit perut atau pusing 'kan?"
Tampak kerutan di dahi Hans sejenak sebelum menggeleng. "Aku baik-baik aja. Kenapa memangnya?" melirik Hana sekilas.
"Oh, syukurlah." Hana menghela napas lega seraya mengusap dadanya. "Tidak apa-apa. Aku pikir kamu sakit karena wajahmu keliatan pucat."
"Benarkah?" Hans reflek berkaca di kaca spion atas sekilas namun wajahnya terlihat baik-baik saja. "Aku baik-baik aja kok, nggak keliatan pucat juga."
"Oh, kalau begitu mungkin itu hanya perasaanku saja. Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, Mas." Hana menyunggingkan senyum kecil. Hans hanya meliriknya sekilas tanpa berniat ngomong apapun.
Setibanya di perusahaan. Mereka berjalan beriringan. Semenjak menikah dengan Hans, Hana makin dihormati dan disegani dengan rekan kerjanya karena bagaimanapun juga sekarang ia telah menjadi bagian keluarga besar Dirgantara.
Saat menyusuri koridor menuju ruangannya, Hana memegang tangan Hans menghentikan langkahnya tepat di depan ruangan Hana. Hans menoleh, menatap tangannya sekilas kemudian berpindah ke wajah istri sekaligus sekretarisnya itu. "Lain kali kalau masakanku tidak enak, kamu tidak perlu menghabiskannya Pak Hans," ucap Hana pelan seperti berbisik kemudian melepas genggamannya. Ia juga sengaja menekankan kata 'Pak Hans' pasalnya mereka sedang berada di tempat kerja jadi posisi mereka adalah seorang bos dan sekretaris sekarang. Mereka sudah sepakat untuk bersikap professional di tempat kerja. Jadi, kalau di tempat kerja mereka bukan suami istri.
"Kalau begitu saya permisi, Pak." sambung Hana sebelum masuk ke ruangannya yang terletak tepat di sebelah ruangan Hans.
Hans melirik pintu yang tertutup itu, sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis, telinganya memerah tanpa sadar. Ia pun melanjutkan langkahnya ke ruangannya.
Ia mendudukkan dirinya ke atas kursi, menyenderkan tubuhnya nyaman seraya mengamati langit-langit ruangannya dan hanya diam beberapa saat seolah sedang memikirkan sesuatu. Matanya tak berkedip sama sekali, helaan napas keluar dari bibirnya setelah beberapa saat. "Apa keputusan yang aku ambil ini sudah benar? Apa keputusanku ini akan menyakitinya kelak?"
Namun tiba-tiba...
Tok tok tok!
Hans tersentak, ia sontak duduk tegap seraya merapikan jasnya. "Masuk!"
Hana masuk seraya menyunggingkan senyum ramah. Ia membawa sebuah berkas. "Ini berkas yang Bapak minta kemarin." Hana memberikan berkas itu kepada Hans.
"Oh, iya terima kasih." Hans membuka map tersebut, membacanya sebentar.
"Ok. Jadi, jadwal saya apa saja hari ini?" Hans tampak menautkan jari-jarinya di atas meja sambil menatap Hana serius.
Hana berdiri di sebelah meja Hans, membuka tabletnya. "Jam 10 pagi bapak ada rapat dengan dewan direksi untuk membahas rencana pembangunan Blusky apartemen. Jam 1 siang makan siang dengan seorang investor dari DT Group, kemudian di jam 4 sore ada pertemuan dengan calon mitra yang akan menangani pembangunan apartemen di Barley hotel. Setelah itu free."
Hans mengangguk paham. "Ok. Siapkan semua dokumen yang diperlukan untuk rapat pagi ini dan pastikan semua hadir di rapat pagi ini," ujar Hans seraya membuka laptopnya.
"Baik Pak. Semua dokumen yang diperlukan sudah saya siapkan dalam bentuk digital yang sudah saya kirim ke email bapak dan salinannya juga sudah saya cetak. Semua yang hadir di rapat pagi ini juga sudah mengkonfirmasi kehadirannya melalui email, Pak."
"Ruang rapatnya di mana?"
"Di ruang rapat 7B, lantai 20."
Hans lalu memeriksa jam di pergelangan tangannya yang telah menunjukkan pukul setengah 10 pagi. "Ok, kamu duluan saja, sebentar lagi saya nyusul."
"Baik Pak. Kalau begitu saya permisi."
"Hm."
***
Ruang rapat 7B lantai 20 dipenuhi suasana serius. Dinding kaca besar di samping memperlihatkan pemandangan kota metropolitan yang sibuk. Di ujung meja panjang, CEO duduk dengan ekspresi tenang tapi penuh wibawa melirik para peserta rapat dengan mata elangnya. Sementara Hana duduk di sebelahnya sebagai notulis rapat.
“Baik, mari kita mulai saja rapat hari ini. Proyek pembangunan Blusky Apartment akan menjadi wajah baru perusahaan kita. Ini proyek besar yang butuh perhatian khusus jadi saya ingin semua aspek dipaparkan dengan jelas hari ini. Mulai dari anggaran biaya dulu dan dilanjutkan dengan yang lain, silakan." Hans membuka rapat dengan tenang namun tegas.
"Untuk tahap awal, estimasi biaya konstruksi mencapai 1,2 triliun rupiah. Namun jika kita ingin menambahkan fasilitas premium seperti rooftop infinity pool dan smart home system di setiap unit, biaya bisa naik sekitar 15%. Dengan strategi harga yang tepat, margin keuntungan tetap bisa mencapai 30%.” seorang pria paruh baya yang menjabat sebagai CFO menjelaskan lalu dilanjutkan dengan penjelasan dari lainnya mengenai aspek lain.
Hans menatap satu per satu orang di ruangan itu, menyimaknya dengan wajah serius dan sesekali mengangguk. Sementara Hana sibuk mencatat sambil menyimak. Ia juga merekam jalannya rapat.
Setelah 1 jam setengah rapat berakhir dan akan dilanjutkan Minggu depan. Hans keluar dengan wajah kusut, rambutnya sedikit berantakan. Suasana rapat sedikit tegang karena adanya perbedaan pendapat diantara beberapa pihak maka dari itu Hans ingin diadakan rapat lanjutan Minggu depan.
Hana mengikutinya dari belakang, tidak berani menegur hingga sampai di ruangan Hans.
"Saya mau rangkuman rapat tadi sudah ada di meja saya besok pagi dan buat jadwal baru untuk rapat lanjutan minggu depan, pastikan semua peserta bisa hadir." Hans berbicara dengan telunjuk yang berayun di udara, ia menatap Hana serius.
"Baik, Pak. Ada lagi yang bisa saya bantu?"
Hans bersandar, mengecap-ngecap lidah, mulutnya terasa kering. "Tolong ambilkan saya air putih, mulut saya terasa kering. Air galonnya baru saja habis tadi pagi," ujar Hans seraya melirik dispenser yang terletak di sebelah meja kerjanya.
"Dan sekalian bilang ke Pak Andy untuk mengisi ulang galon air minum di ruangan saya."
"Oh, mau air putih aja, Pak? nggak mau yang lain?" tanya Hana namun ekspresinya kelihatan beda, ia menyeringai seraya mengangkat sebelah alisnya.
"Maksud kamu?" tanya Hans dengan dahi mengernyit.
Hana tak menjawab, ia justru melangkah maju hingga ke depan Hans. Ia membungkuk sedikit lalu menarik dasi yang dikenakan Hans dengan sengaja hingga wajah mereka dekat, hanya berjarak beberapa cm.
Hana melirik bibir suaminya yang kelihatan kering namun tetap kelihatan menggoda. d**a Hans berdebar tiba-tiba namun ia tak menunjukkan kegugupannya sama sekali. Ia justru menatap langsung ke mata istrinya tanpa berkedip, tanpa keraguan.
Hana bergerak mendekat, Hans tidak bergerak seolah membiarkan Hana yang memimpin, mengikis jarak di antara mereka sampai hembusan napas satu sama lain terasa menyapa kulit mereka.
Tok tok tok!
Namun tiba-tiba seseorang mengetuk pintu sebelum bibir mereka benar menempel. Hana reflek menjauhkan tubuhnya dan kembali ke posisi awalnya sementara Hans kembali duduk tegap, merapikan penampilannya.
Tok tok tok!
Hans sempat berdehem sekali sebelum berkata. "Masuk!"
Seorang dari dewan direksi masuk.
"Hm, kalau begitu saya permisi, Pak." Hana izin keluar, berpapasan dengan seorang dari dewan direksi dan saling membungkuk sopan. Hans melirik punggung Hana sampai hilang dibalik pintu dengan wajah datar namun debaran itu masih ada dan belum mereda.