Keesokan paginya, Hana perlahan membuka matanya saat sinar matahari pagi menembus tirai kamar. Sementara Hans tampak sudah bangun lebih dulu dan tengah duduk di sofa dengan kemeja putih rapi, menatap serius ke laptop di atas meja. “Pagi, Mas,” sapa Hana lembut, suaranya masih serak halus. Hans sontak menoleh, senyum kecil muncul di wajahnya. “Pagi, sayang. Apa kamu tidur nyenyak?” Hana bangun, meregangkan otot-ototnya. “Nyenyak banget,” jawab Hana seraya mengucek matanya. “Kamu lagi ngapain? kelihatannya sibuk banget.” “Masih ada laporan yang harus aku baca sebelum rapat di Surabaya siang nanti,” jawab Hans. “Kita berangkat jam sepuluh. Ayo, cepat bangun. Aku sudah siapkan sarapan untukmu,” sambung Hans seraya menutup laptop lalu beranjak dari tempatnya. Hana duduk di tepi ranjang. “S

