Kael baru merasa benar-benar tenang setelah memastikan semuanya aman. Jejak pergerakan yang mencurigakan menghilang, pengawasan dilonggarkan, dan jalur pulang sudah dipetakan dengan rapi. Saat itulah ia membawa Clarisa kembali—bukan untuk menetap, melainkan untuk menutup satu bab hidupnya dengan cara yang layak. “Hanya dua hari,” kata Kael di perjalanan. “Satu hari buat beres-beres. Satu hari buat pamit.” Clarisa mengangguk. Ia memandang keluar jendela, kota yang dulu terasa biasa kini terlihat berbeda. Ada rasa asing yang halus, seperti pulang ke rumah lama setelah lama pergi. Hari pertama dihabiskan di kantor. Clarisa datang lebih awal, mengenakan kemeja sederhana dan celana hitam yang rapi. Tidak ada yang berubah dari caranya bekerja—fokus, dingin, profesional. Tapi ada sesuatu yan

