Hari itu, Clarisa datang ke kantor dengan langkah yang sama seperti hari-hari sebelumnya—tenang, rapi, dan tanpa keraguan. Jika ada yang berbeda, itu hanya satu yaitu hari ini ia datang untuk berpamitan. Acara perpisahan sederhana diadakan di ruang rapat lantai tiga. Tidak berlebihan, tidak dibuat-buat. Meja panjang ditata rapi, beberapa kursi tersusun menghadap layar. Clarisa berdiri di depan, menunggu para leader dan supervisor yang selama tiga tahun terakhir menjadi bagian dari hidup profesionalnya. Satu per satu mereka datang. Ada supervisor yang dulu pertama kali mengajarinya membaca laporan tanpa emosi. Ada leader yang kerap mengajaknya berdiskusi sampai larut, membentuk cara berpikirnya yang tajam dan sistematis. Clarisa menunduk hormat, lalu mengangkat wajahnya kembali—tatapanny

