20

811 Words

Dengan kedua tangan bertengger di besi pembatas balkon, Antara memandang jauh langit sore yang terbentang di depan matanya. “Apapun tentang saya nggak ada urusannya sama Kakak, sekalipun Kakak suka sama saya!” Seperti ada radio rusak yang tertanam di kepala Antara, kata-kata yang Rasa ucapkan saat itu sampai detik ini masih benar-benar terpatri kuat dalam ingatannya walau sekeras apapun ia berusaha untuk melupa. Lalu ketika dirinya juga teringat akan kejadian tadi pagi, ketika itu juga ia meyakini bahwa dirinya memang sangatlah bodoh. Gadis itu telah membuktikan perkataannya sekarang. Yang secara tidak langsung, intinya dia hanya ingin meminta Antara untuk berhenti. Berhenti menyukainya. Berhenti ingin tahu lebih jauh tentangnya. Dan berhenti mengharapkan sesuatu yang lebih darinya. “H

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD