Perlahan ia buka pintu itu, walau ia rasa degup jantungnya sudah mulai tidak beraturan. Sampai saat pintu sudah benar-benar terbuka, sepasang mata Vera terbelalak bukan main. Ketika dirinya mendapati seorang wanita yang sempat disapanya satu jam lalu, sudah terkapar berlumuran darah, dengan tangan teriris yang menjadi sumber aliran cairan merah yang membanjiri kamar tersebut.
“AAAAAAKKK!” Detik itu juga jeritan Vera melengking keras.
Di saat hampir seluruh penghuni kos ramai pada berkeluaran dari kamar masing-masing, mengerubungi kamar nomor F lantaran mengikuti sumber jeritan Vera, Vera malah keluar dari kerubungan itu dan berlari untuk memberitahukan hal ini pada Rissa.
***
Suara sirine mobil polisi terdengar mengiung memekak telinga. Salah satu penghuni kos pasti sudah ada yang menghubungi polisi tanpa perlu meminta izin dari sang pemilik kos.
Vera yang ditemani oleh Rissa, Rasa, dan juga Ara, segera menerobos keramaian di depan kamar, sebelum pihak polisi masuk dan melarangnya.
“Astaga!” seru Ara, terkaget-kaget.
Sama seperti Ara, Rissa dan Rasa juga sangat terkejut. Mata tiga bersaudara itu terbuka lebar menyaksikannya. Ada cemas yang merasup dalam diri mereka tiba-tiba, terutama Rissa, sebagai kakak tertua.
Pasalnya, ini bukan baru sekali-dua kali. Adanya tragedi bunuh diri di kosan ini sudah masuk kali yang ke sekian, terhitung sampai tragedi yang sekarang ini. Sebelumnya sudah ada sekitar tiga orang yang bunuh diri juga di sini. Dua dari mereka gantung diri, sedangkan yang satunya sengaja meminum obat dengan dosis tinggi. Begitulah polisi dan hasil otopsi dokter melaporkan.
Jadi tidak heran, kalau satu persatu banyak penghuni yang pindah, meski masih banyak pula yang bertahan karena memang harga perbulannya yang terjangkau dibandingkan kos-kosan lain.
***
Memasuki ruang kelas, Rasa memilih tempat duduk bersebelahan dengan sisi dinding, paling depan. Yang mana di antara sekian kursi-meja yang ada dalam kelas tersebut, maka kursi-mejanya lah yang menjadi satu-satunya yang paling berhadap-hadapan dengan meja dosen. Sehingga tidak heran kalau banyak orang yang tidak ingin duduk di sebelahnya. Bahkan ada pula yang tampak begitu berantisipasi dan menghindari untuk duduk di dekatnya.
“Selamat pagi,” sapa Bu Anjani yang Rasa yakini sapaan itu tidak lebih dari basa-basi untuknya.
Dosen paruh baya itu duduk di kursinya. Bersiap mengeluarkan perkakas mengajarnya dengan wajah yang tidak ada satu pun guratan ekspresi. “Keluarkan buku kalian. Hari ini kita akan bahas dasar-dasar komunikasi.”
Sebenarnya dari sebelum Bu Anjani meminta, Rasa sudah merogoh-rogoh ranselnya untuk mengeluarkan buku catatan kuliahnya yang jelas saja saat ini masih putih polos. Namun begitu ia ke depankan ranselnya, yang didapat adalah bingung, ketika terlihat resleting ranselnya sudah terbuka. Padahal seingatnya, ia sama sekali belum mengeluarkan apa-apa dari dalam sana.
Lalu, apa yang membuatnya terbuka?
Gadis itu mulai panik, ketika ternyata salah satu barang miliknya yang ia yakini betul tersimpan di dalam ranselnya itu, tidak ada. Alias hilang! Yang paling penting dari yang terpenting; DOMPET.
Dengan cepat Rasa mengobrak-abrik ranselnya, mencari untuk memastikan kembali, sambil berharap semoga tidak benar-benar hilang. Fokusnya kacau. Sudah tidak ia pedulikan lagi Bu Anjani yang mulai menjelaskan materi di depan kelas. Teman-teman sekelasnya yang beberapa memerhatikan gerak-gerik resahnya, karena memang posisi duduknya yang di depan. Membuat pandangan anak-anak yang menduduki kursi belakang dengan begitu mudah menjangkaunya. Baik itu sengaja memerhatikan atau tidak, sudah pasti akan kelihatan oleh mereka.
Kemudian perhatian para mahasiswa/inya yang sebagian besar lebih terfokus pada gerak-gerik satu mahasiswi lain dibanding materi yang tengah dijelaskan olehnya, seketika Bu Anjani berhenti menjelaskan. Dilihatnya satu mahasiswi itu yang tampak sibuk sendiri di dalam kelasnya.
“Kamu. Kalau tidak ingin masuk kelas, silakan keluar. Jangan mengganggu fokus teman-teman kamu di sini yang ingin belajar.”
“Maaf, Bu. Saya lagi cari⸻”
“Tidak ada alasan, sekarang silakan kamu keluar.” Dengan tegas, Bu Anjani merentangkan satu tangannya menunjuk ke arah pintu, yang artinya sama saja mengusir.
Tanpa berucap apa-apa lagi, Rasa akhirnya keluar. Menuruti apa yang diperintahkan oleh dosen itu. Apa boleh buat? Tidak ada pilihan lain, karena justru akan lebih malu jika ia membantah.
***
Di kursi panjang yang tersedia di koridor depan kelasnya, Rasa duduk dan lanjut mencari dompetnya di dalam tas. Barangkali terselip. Itu harapannya saat ini. Rasa menumpahkan seluruh isi di dalam ranselnya, tetapi hasilnya nihil.
“Cari ini?” Uluran sebuah tangan yang memegang sesuatu berwarna biru muda yang ia telah menyebabkan dirinya kelimpungan mencari, sesaat membuat kepalanya menengadah.
Dalam sedetik raut wajah Rasa berbalik jauh lebih bete, padahal sesaat sebelumnya baru saja sumringah ketika melihat dompetnya kembali.
Haduh, si Cowok Milkita lagi! Rutuk Rasa dalam hati.
Rasa merampas dompetnya dari tangan Cowok Milkita itu dengan kasar. “Kenapa dompet saya bisa ada di Kakak? Kakak nyolong maling, ya?!”
“Kalau gue mau maling, ngapain gue balikin ke lo. Mending ambil semua duitnya, buang dompetnya, bawa foto lo ke dukun biar lo cinta mati sama gue. Beres. Untung banyak kan gue?”
Setelah mengecek isi dompetnya dan ternyata memang tidak ada yang hilang, Rasa tetap menatap mata cowok itu dengan sinis. Menyampaikan segala kekesalannya, namun tidak berkata-kata.
“Tadi pas turun dari bus gue liat tas lo kebuka, dan dompet lo jatoh. Jadi sebelum ada orang niat jahat yang ambil, buru-buru aja gue ambil. Lo masih inget gue kan?”
Tatapan sinis Rasa masih bertahan. Sesaat kemudian menyahut ketus, “Nggak.” Lalu melangkah pergi. Meski tiba-tiba Cowok Milkita itu menghadang jalannya.
“Nama gue Antara. Cetta Antara.” Dengan senyum terlampau percaya diri, si Cowok Milkita yang ternyata bernama Antara itu menawarkan jabatan tangan.
Secuil pun Rasa tidak memiliki niat untuk menyambut jabatan itu. Gadis itu berjalan memutar arah dan kemudian dibingungkan oleh teman-teman sekelasnya tadi yang sudah pada keluaran dari kelas.
“Kelasnya udah selesai, ya?”
“Udah.”
“Kok sebentar banget?”
“Dikasih tugas kelompok.”
“Kelompok? Terus gue kelompoknya sama siapa?”
Cewek itu menggeleng, menggedikkan bahu, tidak tahu. “Coba aja lo tanya sama Bu Anjani.”
“Berapa orang?” sambar Antara yang tahu-tahu menyambung.
“Dua.”
“Yes! Pas kita,” senang Antara, kepedean.
Rasa menoleh kesal pada Antara, lalu beralih lagi pada cewek di hadapannya. “Yaudah, makasih ya infonya.”
Baru saja Rasa ingin mendatangi Bu Anjani yang ia pikir masih di kelas, wanita berambut pendek itu keluar. “Bu, untuk tugas kelompok, saya sama siapa, Bu?”
“Sama saya ya, Bu?” tanya Antara yang lagi-lagi ikut menyambar.
“Ish!” Rasa menyikut perut cowok itu, kasar.
“Sebentar saya lihat dulu.” Sejenak Bu Anjani membuka daftar hadir di tangannya. “Tadi cuma kalian berdua yang tidak ada di kelas. Jadi memang cuma kalian yang belum mendapat kelompok.”
“Mantep! Kalo gini terus, saya nggak bakal ngulang lagi, Bu!”
“Sudah kali yang ke berapa kamu ngulang mata kuliah ini, Antara?” tanya Bu Anjani, sarkas, seraya menutup lagi absensinya.
“Ah, baru juga 5 kali, Bu.”
Rasa terpelongo, kaget. “Lima kali?!”
“Santai aja. Masih ada tiga semester lagi ini buat jaga-jaga,” jawab Antara, enteng. Seolah hal tersebut bukanlah beban.
Sementara Bu Anjani sebagai dosen yang telah mengajar Antara lima kali berturut-turut di mata kuliah yang sama sampai detik ini hanya sanggup menggeleng-gelengkan kepala, dan berlalu pasrah.