4

1071 Words
Sepulang dari kampus, Rasa mendatangi kamar F yang dibentengi garis kuning polisi. Sendirian. Sengaja ia tidak bilang pada Kakak ataupun adiknya. Karena kalau bilang pada Rissa, pasti tidak diperbolehkan. Pun bilang pada Ara, yang sudah pasti akan mengadu pada Rissa. Rasa tidak tahu apa yang mendorongnya untuk ke tempat ini, walau ia tahu tempat ini sudah menjadi tempat yang mengerikan semenjak kejadian semalam. Bercak darah yang mulai mengering, garis kapur yang dibuat pihak detektif untuk menandai posisi korban, semua tersisa di kamar itu. Kamar kosong, dan berantakan. Bahkan beberapa barang korban pun ada yang masih tertata rapi di tempatnya. Mata Rasa menjelajah. Dilihatnya satu persatu sisi kamar tersebut tanpa menyentuh satu benda pun. Sampai suatu benda berhasil menarik perhatiannya. *** Mata Rasa menjelajah. Dilihatnya satu persatu sisi kamar tersebut tanpa menyentuh satu benda pun. Sampai suatu benda berhasil menarik perhatiannya. Sebuah buku diary bersampul merah muda, yang tergeletak di kolong tempat tidur. Pantas saja kalau kemarin polisi tidak sempat menjangkaunya. Rasa hendak mengambilnya. Satu tangannya sudah terjulur maksimal. Namun buku tersebut yang letaknya agak ke tengah, membuat sedikit tubuh Rasa mesti ikut masuk ke kolong agar bisa meraihnya. Setelah buku itu berada di tangannya, Rasa merasa sedikit ada yang aneh. Ketika diperhatikan, buku itu sama sekali tidak berdebu. Dengan demikian artinya, dia belum lama berada di kolong. “Rasa, kamu ngapain di situ?!” Sentakan seseorang seketika membuat Rasa berbalik, dan menyembunyikan buku itu di balik punggungnya. Terlihat Kak Tita⸻begitu Rasa memanggilnya⸻sudah berdiri di ambang pintu sana. Rasa bingung ingin menjawab apa. Sampai kemudian Tita menyambar lagi. “Ayo, keluar. Kalau Rissa sampai tahu, dia bisa marahnya!” “Iya, Kak.” Gadis itu mengangguk. Dengan segera ia membawa tasnya dan menurut. Setelah sebelumnya sempat meminta pada Tita, “Jangan sampai Kak Rissa tahu soal ini ya, Kak.” Lalu Tita menjawab, “Iya. Udah, lebih baik kamu pulang sekarang. Mumpung kakak dan adikmu belum di rumah.” “Iya, Kak.” Tidak hanya keluar dari kamar tersebut, Rasa juga keluar dari kos-kosannya. Sama seperti Vera, Tita juga merupakan salah satu penghuni kamar kos, yang cukup akrab dengan Rissa. Berhubung kos ini memang khusus putri, jadi tidak hanya Vera dan Tita, hampir semua yang menyewa di sana juga cukup akrab dengan Rissa yang tergolong supel dan mudah berteman dengan siapa saja tanpa pilih-pilih. Meski ada beberapa yang tergolong pendiam dan susah untuk diajak interaksi. Ditambah lagi jadwal kerja mereka yang padat, yang menyebabkan mereka menyewa hanya untuk tidur dan menumpang barang-barang saja. *** “Kenapa, sih, semenjak banyak yang bunuh diri di kos-kosan kita, Kak Rissa jadi lebih diem gitu. Makan aja maunya sendiri. Paling kalau kita udah selesai, baru deh dia nyusul.” Rasa diam. Sejujurnya ia pun memikirkan hal yang sama. Namun gadis itu lebih memilih untuk tidak menyuarakan pikirannya seperti Ara. “Udah kamu habisin aja makannya. Jangan makan sambil ngomong. Pamali.” “Ah, bete. Kak Rasa mah serius banget. Jangan serius-serius, lho, Kak. Ntar botak!” Ara mencebik sambil mengunyah. Selesai makan malam, Rasa yang tiba-tiba teringat akan diary yang ditemukannya tadi, langsung buru-buru duduk di kursi meja belajarnya namun kali ini bukan untuk belajar. Melainkan untuk membaca isi dari buku diary itu. Yang ia sangat harapkan ada setidaknya satu petunjuk di sana. Pada halaman pertama tertulis di sana, ‘Aku terlahir dari keluarga sempurna, kecuali diriku’. Memiliki seorang kakak perempuan yang cerdas dan pemberani. Cantik. Membuatku semakin tidak percaya diri ketika sedang bersamanya. Memiliki seorang ibu yang sangat menyayangi adik laki-lakiku, membuatku semakin merasa tersingkirkan dan tak dianggap dalam keluarga itu. Memiliki ayah yang setiap harinya selalu membanggakan kakakku, membuatku tak pernah berhenti merasa, bahwa mungkin akan jauh lebih baik jika aku tidak pernah dilahirkan. Kakakku, adikku, orangtuaku, banyak orang mengagumi mereka. Sehingga mereka mudah untuk mendapatkan teman di mana saja. Mereka sempurna, terkecuali aku. Dan sekarang, aku akan mulai memisahkan diri dengan mereka. *** Bersama dengan Raga, Opin, dan Calvin, Antara berjalan beriringan keluar dari kelas. Lalu tiba-tiba Opin menceletuk, “Buah kedondong, buah salak!” “Cakep!” balas Calvin. “Gimana kalo kita ke rumah gue dulu?” “Yeeuu!” kesal Calvin, bersorak. Plak! Tidak segan Antara menggeplak kepala Opin, si kembaran Upin Ipin yang terbuang itu. “Kagak ada nyambung-nyambungnya, peleh!” “Lo nanya apa mau pantun, sih?” sewot Raga yang mulai menggunakan logikanya. “Ya, dua-duanya. Sambil menyelam, makan roti!” “Minum air! Mana ada makan roti!” “Sebelum minum kan kita pasti makan dulu. Nah gue maunya makan roti, elah, biar kenyang.” “Serah lo, Pin. Serah lo!” kesal Raga yang sudah angkat tangan, berjalan duluan. Entah memiliki dosa besar apa ia di kehidupan sebelumnya, sampai-sampai dipertemukan oleh orang-orang semacam mereka di kampusnya. Tidak perlu heran. Di antara mereka berempat, yang paling waras memang hanya Raga. Sehingga alhasil, yang dapat Raga lakukan sekarang hanya berupaya untuk mengadaptasikan diri dengan kelakuan dan daya pikir Opin, Calvin, dan Antara yang kelakuannya paling ajaib di antara tiga orang ajaib itu. Ada juga satu yang paling bermodal tampang di antara mereka, yaitu Calvin. Bule bernama belakang Peter, Calvin Peter, dapat diakui oleh siapapun bahwa ia memiliki pahatan wajah yang paling sempurna di antara yang lain. Iris mata berwarna biru, hidung mancung, bibir menawan, rahang keras. Benar-benar sempurna sampai beberapa lelaki di ULTRA⸻begitu banyak orang menyebut Universitas Latra⸻pernah menyatakan cinta padanya. Meski sayang seribu sayang, hampir semua dari mereka yang tidak mengenal dekat Calvin, hanya menilai Calvin dari luarnya saja. Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu, kalau sebenarnya cowok itu cuma bermodalkan tampang dan nama yang keren saja. Karena kelakuannya yang seperti percampuran antara Opin yang absurd, dan Antara yang bodoh juga petakilan, ditambah gaya bahasanya yang lokal parah dan kadang bercampur bahasa Jawa, betul-betul mampu menjadikan ketampanan cowok itu bisa langsung tiba-tiba hilang dalam sekejap mata. Seabsurd apa Opin? Cowok bernama lengkap Saropin Nuropin itu sering sekali berpantun tidak jelas. Kadang suka lagu rock ‘n roll. Kadang juga suka lagu indie yang mellow-mellow dan pendengarnya kebanyakan mereka yang sedang patah hati. Bahkan saking absurdnya cowok itu, suka tiba-tiba bicara sendiri, dan hanya Antara yang rajin menimpalinya. Lalu satu lagi yang paling menguji kesabarannya adalah Antara. Cetta Antara. Tokoh utama dalam cerita ini. Kalau di cerita-cerita lain biasanya tokoh utamanya harus memiliki karakter yang sempurna agar dicintai pembaca, keharusan itu di sini tidak berlaku bagi Antara. Yang merupakan satu-satunya makhluk di muka bumi yang lebih memilih 3 permen lolly milkita dibanding teman-temannya dalam situasi apapun dengan alasan yang sederhana. Karena katanya, “Tiga permen lolly milkita sama dengan segelas s**u. Sehat!” “Weh, gimana? Mau gak ke rumah gue dulu? Mumpung bonyok gue lagi pada keluar kota, nih, bege.” Opin kembali bertanya, mendesak. Namun Antara dengan lagak sombongnya menyahut santai, “Sori, Pin. Kalo sekarang gue nggak bisa. Ada mau kerja kelompok abis ini.” Semua ternganga mendengar jawaban Antara barusan. Bahkan Raga yang tadinya sudah berjalan duluan, seketika balik lagi dan bertanya, “Lo lagi sakit panas, Tar?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD