“Halah, kerja kelompok ndasmu! Jangan sok rajin lo, nggak pantes! Ujan gledek ntar kalo lo rajin,” ujar Calvin seribu persen tidak percaya, yang tanpa sadar kembali pada kebiasaannya, menyelipkan bahasa Jawa pada ucapannya.
Antara mendecak. “Pada nggak percayaan amat, sih, sama gue. Serius gue, kali ini tugasnya penting banget. Makanya mau ada nugas kelompok sama Rasa.”
“Kan, dapet juga intinya. Bilang aja mau pedekate, ya, nyet. Nggak usah pake sok-sok mau nugas!”
“Tuh, tempe.” Antara tersenyum lebar memberi reward pada Opin yang tebakannya telah benar. “Kalo gitu gue cabut duluan, ye, takut si Rasa nungguin. Nggak suka Bang Antara, tuh, ngebiarin cewek nunggu,” angkuhnya, yang kemudian berlalu, dengan langkah penuh percaya diri.
***
Selesai kelas, Rasa langsung buru-buru bergegas menuju halte bus. Bukan, dirinya bukan ingin cepat-cepat pulang dan tiba di rumah atau mengerjakan tugas kelompok seperti yang diharapkan Antara. Melainkan ia ingin mengunjungi sebuah alamat, yang tertulis di halaman paling belakang diary yang ditemukannya kemarin.
“Rasa! Mau ke mana lo? Kata Bu Anjani, hari ini kita harus belajar kelompok kan?” Antara yang tiba-tiba menarik tangannya sampai tubuhnya otomatis berbalik, menyebabkan Rasa harus menghentikan pula langkahnya bahkan sebelum ia sempat keluar bahkan melewati area kampus.
Memang Rasa setuju ketika kemarin Antara dengan begitu semangatnya mengajak untuk mengerjakan tugas Bu Anjani. Akan tetapi pikirannya berubah, setelah di hari yang sama kemarin ia menemukan diary penghuni kamar F itu.
“Maaf, Kak. Hari ini saya ada urusan mendadak. Mungkin nanti tugasnya biar saya aja yang kerjain sampai tuntas. Kakak numpang nama aja nggak apa-apa. Saya duluan, ya, Kak.” Seakan tidak butuh persetujuan, gadis itu main langsung melipir ke halte bus sebelum dirinya ketinggalan bus yang menjadi jurusannya saat ini.
***
Di depan sebuah rumah sederhana dengan model yang bisa dikatakan tertinggal oleh jaman dan di sampingnya terdapat warung kelontong, Rasa berdiri celingak-celinguk sambil menyamakan alamat rumah yang tertera pada rumah itu dengan alamat yang tertulis pada buku diary di tangannya.
Jalan Melon I, nomor 87. Sepertinya memang benar ini rumahnya.
Ting nong!
Rasa menekan tombol bel yang letaknya tepat di samping pagar pendek rumah tersebut, sekali seraya mengatakan, “Permisiii!”
Ting nong!
“Permisiii!” pekik Rasa dengan nada panjang, namun tidak ada satu suara pun yang menyahutinya.
Sampai ketika tangannya sudah terangkat untuk menekan bel itu lagi, seorang pedagang warung kelontong di sebelah rumah itu memberitahu, “Biasanya jam segini Bu Lita masih di rumah majikannya, Neng.”
“Terus pulangnya jam berapa, Pak?” tanyanya pada Bapak paruh baya itu, seraya berjalan mendekat ke warung kelontongnya.
“Paling lima belas menit lagi juga dateng. Duduk aja dulu, Dek, tunggu di sini,” saran Bapak itu kemudian.
Sejenak Rasa menengok jam tangannya. Masih pukul 14.14. Kalau 15 menit lagi berarti dirinya harus menunggu sampai sekitar pukul 14.30. Tidak apa-apalah. Gadis itu mengambil posisi duduk, setelah mempertimbangkan untuk menunggu.
“Bang Japri, milkitanya tiga dong.”
Mendengar satu kata paling depan dalam kalimat itu, sontak saja Rasa menoleh cepat ke arah atas. Dilihatnya sosok jangkung Antara berdiri tepat di sampingnya.
“Bayar lu, awas aje ngutang!” oceh Bapak itu yang dipanggil Bang Japri oleh Antara.
“Iye-iye, elah. Tiga rebu doang, nih.” Antara menyodorkan selembar dua ribuan dan seribuan. “Sekali-sekali amal nape, sih, Bang, sama orang ganteng.”
“Halah, jaman sekarang, mah, ganteng nggak berlaku. Yang penting duit! Bener nggak, Neng?” Bang Japri yang awalnya ingin meminta pembenaran dari Rasa, seketika ragu saat melihat Rasa tengah memerhatikan Antara dengan raut serius. “Waduh, kayaknye gue salah orang, nih.”
“Hahaha, nape lu, Bang?” tawa Antara, yang kemudian menoleh dan langsung mendapati mata Rasa tertuju lurus ke arahnya.
Gadis itu langsung memalingkan wajahnya, berpura seakan tidak mengenal Antara.
Antara lagi-lagi tertawa, lalu ikut duduk di sebelahnya. “Mau nggak?” Cowok itu menawarkan satu gagang permen milkita yang barusan dibelinya.
“Nggak. Makasih.” Rasa menggeleng, tanpa menoleh.
Adalah pertama kalinya Antara menawarkan permen milkita yang dibelinya sendiri pada orang lain, apalagi secara cuma-cuma. Karena sebelumnya Antara tidak pernah memberikan milkitanya pada siapapun, sekalipun orang itu meminta. Mengingat semboyan dalam hidup cowok itu ‘milkita is my everything’, jadi ketika Rasa menolaknya, jangan harap cowok itu akan menawarkannya lagi.
“Lo ngapain di sini?” tanya Antara sambil mengamankan kembali dua permen gagang milkita sisanya di dalam kantung.
“Kakak sendiri ngapain di sini? Ngikutin saya?” ketus Rasa dengan lirikan kesal setengah mati pada Antara.
Antara mengemut sejenak permennya, lalu mengeluarkannya dari dalam mulut. “Bang Japri, kasih tau die dong rumah gue di mane. Kayaknye die mau mampir, cuma malu nanya ke gue langsung.”
“Heh, sembarangan!” Refleks, tangan Rasa memukul paha Antara dengan pelototan.
“Kelamaan jomlo begitu die, Neng. Jadi sabarin aje,” sambar Bang Japri, menyela.
“Bang, lu kenape nggak bela gue, sih! Gue bangkrutin warung lu gimana?” protes Antara pada Bang Japri.
“Nggak usah sok kaya lu, bagong. Beli permen harga serebuan aje masih suka ngutang. Belagu mau ngebangkrutin warung gue. Lagian dari tadi gue tau, nih, si Neng itu mau ke rumahnye Bu Lita. Bukan ke rumah lu!” ujar Bang Japri, yang tak lama perhatiannya teralih oleh kedatangan Bu Lita. “Nah, ntu die orangnye yang si Neng cari.”
Mendapati seseorang yang dicari dan ditunggunya sejak tadi, Rasa bergegas berdiri. “Siang, Bu, saya Rasa. Anak dari pemilik kos-kosan tempat putri ibu menetap.” Gadis itu memperkenalkan diri setelah mencium tangan, sambil memaparkan senyum pada Bu Lita.
Bu Lita menatap sinis Rasa benar-benar dari atas sampai bawah. Sedangkan di pihak lain, Antara yang seperti mengetahui sesuatu, tampak cemas ketika mengetahui bahwa seseorang yang ingin ditemui oleh Rasa tidak lain adalah tetangganya itu.
“Tentang kepergian putri Ibu, ada hal yang mau saya bicarain sama Ibu,” jelas Rasa atas tujuan kedatangannya. “Boleh saya minta waktunya sebentar?”