6

1035 Words
“Tentang kepergian putri Ibu, ada hal yang mau saya bicarain sama Ibu,” jelas Rasa atas tujuan kedatangannya. “Boleh saya minta waktunya sebentar?” Mendengar orang asing menyebut-nyebut putrinya, tentu saja emosi Bu Lita benar-benar tersulut saat itu juga. “Tidak bisa. Saya tidak ada waktu!” Ia mengetus, tatapannya tajam menusuk sepasang bola mata Rasa. Setelahnya Bu Lita hendak berlalu. Namun dengan cepat Rasa meraih salah satu pergelangan tangan Ibu itu, menahannya. “Saya mohon, Bu. Sebentar aja,” pinta Rasa lagi, tidak menyerah. “Kamu tuli, ya?! Saya bilang tidak bisa!!!” Bu Lita menyentak lebih keras. Dihempasnya tangan Rasa begitu kasar, lalu didorongnya tubuh gadis itu sampai terhuyung ke belakang menabrak d**a Antara. Dengan cekatan Antara menangkap tubuh mungil itu, memegangi sampai keseimbangannya benar-benar pulih. Jujur saja ia mulai emosi melihat pemandangan ini, terlebih saat Bu Lita tampak tidak merasa bersalah sama sekali akan perbuatannya barusan. “Denger ya, Bu. Niat teman saya ini baik, mau ngebantu Ibu dan anak Ibu. Seharusnya Ibu nggak perlu berlaku kasar sama dia!” tukas Antara, tegas kepada Bu Lita. “Saya tidak peduli. Sekarang saya minta kalian pergi dari rumah saya!” usir Bu Lita, murka, dengan satu tangan yang terangkat menunjuk jalan. “Pergi! Dan jangan pernah mencampuri urusan keluarga saya!!!” Antara sudah benar-benar tidak akan bisa tinggal diam, ketika dilihatnya Bu Lita ingin mendorong Rasa lagi. Dengan segera ia menepis tangan Bu Lita. “Baik. Kami akan pergi.” Lalu dengan penuh penekanan, ia juga kembali menegaskan, “Tapi perlu Ibu ketahui betul-betul, tujuan teman saya ke sini bukan untuk mencampuri urusan keluarga Ibu. Teman saya cuma ingin ngebantu.” Bu Lita menggeming. Kemudian acuh tak acuh ia berlalu, sementara Antara menarik tangan Rasa untuk ikut bersamanya. “Lepasin saya! Kakak apa-apaan, sih!” Tiba-tiba Rasa memberontak, membebaskan paksa tangannya dari genggaman tangan Antara. “Seharusnya Kakak yang nggak usah mencampuri urusan saya!” “Kok apa-apaan? Gue cuma bantu lo.” Seketika Antara heran bukan main dengan sikap gadis di hadapannya itu, yang kini malah memarahinya setelah dirinya cuma berusaha menolong. “Tapi saya nggak butuh bantuan Kakak!” tandas Rasa, yang kemudian kembali berbalik mengejar Bu Lita yang baru saja memasuki pagar rumahnya. Antara membuang napas kasar. Ia baru tahu kalau gadis itu ternyata sangat keras kepala. Sehingga mau tak mau, dirinyalah yang harus mengalah. Menurunkan egonya dan menyusul gadis itu. Sejujurnya ia seperti ini cuma karena cemas saja dengan Rasa. Ia tidak ingin rasa cemas itu bersarang dan menguasai dirinya. “Bu Lita, tunggu, Bu!” panggil Rasa, lagi. Dengan segera ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya, lalu ia tunjukan pada Bu Lita. “Buku ini punya anak Ibu kan?” Pertanyaan Rasa yang to the point seketika membuat Bu Lita tergugu beku. Lebih-lebih ketika dilihatnya buku diary yang Rasa bawa. Walau tidak terlalu dekat dengan putrinya yang satu itu, tetapi ia mengenali betul bahwa buku tersebut memang milik putrinya. “Sebentar aja, saya perlu bicara sama Ibu. Ini semua penting menyangkut anak Ibu,” tutur Rasa, pelan. Namun mampu meyakinkan siapapun yang mendengarnya. Termasuk Bu Lita. *** Berkat buku itu, Bu Lita akhirnya luluh dan memberikan kesempatan bagi Rasa untuk bicara dengannya. Mempersilakan Rasa masuk, yang kemudian diam-diam Antara mengikuti di belakang, padahal Rasa sudah tidak peduli sama sekali akan keberadaannya. Bahkan saat ini Bu Lita sedang ke dapur, mengambilkan minum untuk dua tamu asingnya yang tak diundang itu. Rasa dan Antara duduk bersebelahan di sofa yang sama. Tak lama Bu Lita kembali keluar, menyajikan dua cangkir teh yang ia bawa menggunakan nampan. Bu Lita kemudian duduk berhadapan persis dengan Rasa. “Silakan diminum tehnya,” ujar wanita paruh baya itu, yang sudah tidak seketus sebelumnya. “Makasih, Bu,” ucap Rasa dan Antara, dibarengi dengan senyum tipis mereka. Sejenak mereka menyesap teh manis hangat itu, untuk sekedar menghargai Bu Lita. Lalu usai ditaruhnya gelas masing-masing, Rasa memberikan buku diary yang ditemukannya waktu lalu pada Bu Lita sambil berkata, “Saya menemukan buku ini di kamar putri Ibu, sehari setelah kepergiannya.” Bu Lita menerimanya. Perlahan tangan yang sudah sedikit mengeriput itu membuka halaman pertama. Tiga detik berlalu, air mata Bu Lita mengembang dengan sangat pesat, membendung di pelupuknya. Karena pada halaman itu, ia diperlihatkan sebuah potret putri keduanya yang kini sudah pergi untuk selamanya. Fanya. “Fanya...” Bu Lita melirih pilu, sambil mengusap-ngusap wajah putrinya dalam foto itu. Kemudian rasa rindu yang teramat sangat menelusup ke dalam relung hatinya begitu saja. “Fanya maafkan Ibu, Sayang...” Bu Lita membalik halaman berikutnya. Namun ternyata, semakin ia membalik halaman lebih lanjut, perasaannya sebagai seorang ibu terasa semakin perih membacanya.      Hari ini semua memiliki kebahagiaannya masing-masing, kecuali aku. Ibu bahagia karena semester ini Fano mendapatkan peringkat satu. Ayah bahagia karena hari ini adalah hari ulang tahun Kak Fanisa. Fano bahagia karena peringkatnya. Kak Fanisa bahagia karena mendapat banyak hadiah dari orang yang ia sayangi.      Tetapi hanya aku yang masih di sini sendiri. Menunggu kebahagiaanku tiba. Karena masih belum ada seorang pun yang bahagia untukku. Dan belum ada satu hal pun yang membuatku bahagia.      Bahagia, aku menunggumu :) Saat itu juga hati wanita itu sungguh seperti tersayat-sayat membacanya. Kata demi kata yang dituliskan oleh Fanya dalam buku itu benar-benar menyambutnya dengan kesedihan dan penyesalan yang mendalam. Bahkan lebih dalam dari lautan yang terdalam sekalipun. Aku sayang Ayah-Ibu. Walau aku tahu kalian nggak menyayangiku. Bahagia, aku masih menunggumu. Fanya bukan anak angkat ataupun anak tiri sepasang suami istri itu. Fanya anak kandung mereka. Lalu bisa-bisanya hanya Fanya yang diperlakukan secara berbeda dalam keluarga itu. Ketika Ayah dan Ibu menyayangiku sama seperti mereka menyayangi Kak Fanisa dan Fano... Mungkin itulah bahagiaku. Bahagia, aku masih tetap bertahan menunggumu. Curhatan Fanya tentang apa yang dirasakannya selama ini, benar-benar mampu menyadarkan Bu Lita akan segala perbuatannya. Ibu setengah baya itu menangis dengan penuh isak. Masih baik Tuhan memberinya kesempatan untuk menyesali semua ini. Tidak seperti suaminya, Pak Handoko yang saat ini hanya bisa memandang kosong di sebuah rumah sakit jiwa akibat depresi paska menerima kabar mengenai kepergian Fanya yang secara tragis. Meskipun yang benar seharusnya; jangan tunggu kehilangan dulu untuk merasakan sesal. Bagaimana mungkin sebagai ibu kandungnya sendiri, ia tidak tahu akan apa yang dirasakan sang putri saat itu dan malah mementingkan egonya sendiri. Bahkan lebih parah dari itu, ia tega melukai hati putrinya sendiri. “FANYA...” Bu Lita menangis dengan meneriaki nama Fanya, sambil memukul-mukuli dadanya dengan satu tangan, sementara satu tangannya yang lain memeluk erat buku diary Fanya. Ia menyesal. Sangat menyesal. Dadanya terasa sangat sakit akan penyesalan itu. “FANYA MAAFIN IBU, NAK... INI SEMUA SALAH IBU. SALAH IBU KAMU MENJADI SEPERTI INI. SALAH IBU KAMU HARUS MENGALAMI HAL SEPAHIT INI...”   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD