7

1002 Words
Tidak tega melihat Bu Lita menangis seperti itu, Rasa berpindah tempat duduk di sebelah Bu Lita. Ia memberikan pelukannya pada Bu Lita dengan harapan pelukan itu dapat menenangkan bagi Bu Lita. “Kita doakan aja, ya, Bu, semoga Fanya bisa tenang dan menemukan kebahagiaannya ‘di sana’.” Suara dan pelukan dari Rasa, sesaat kembali menyadarkan Bu Lita bahwa ada orang lain yang sedang bersamanya saat ini, dan segera ia mengusap air matanya dan menstabilkan emosinya. “Maaf, ya, Dik. Ibu jadi menangis seperti ini.” “Iya, Bu, nggak apa-apa,” balas Antara, yang akhirnya bersuara. Karena sejak tadi tidak sepatah kata pun ia ucapkan selain kata terima kasih. “Tapi, Bu, kalau boleh jujur... Saya merasa ada yang janggal dengan kepergian anak Ibu. Saya yakin anak Ibu nggak bener-bener bunuh diri.” Rasa yang masih berupaya menenangkan Bu Lita dengan mengusap punggung Ibu itu, mulai menyuarakan pikirannya setelah cukup lama ia menimbang ragu. “Maksud kamu?” Perlahan emosi Bu Lita kian stabil, walau suaranya masih terdengar bergetar. Rasa membalik jauh halaman demi halaman buku diary itu, lalu kemudian berhenti di halaman paling terakhir. “Coba Ibu baca tulisan ini.” Ayah, Ibu, Kak Fanisa, Fano, maafin aku. Bukan mauku pergi meninggalkan kalian untuk selamanya. Tapi aku harus pergi... Aku sayang kalian semua. Love, Fanya Seketika Rasa dan Bu Lita saling bertuk`ar tatap penuh tanya. Pun dengan Antara yang juga menaruh kecurigaan serupa. “Makanya tujuan saya datang ke sini, saya butuh informasi dari Ibu untuk mencari tahu semuanya lebih lanjut. Sebenarnya apa yang terjadi sama Fanya dan keluarga, Bu?” *** “Makanya tujuan saya datang ke sini, saya sangat membutuhkan informasi dari Ibu untuk mencari tahu semuanya lebih lanjut. Sebenarnya apa yang terjadi sama Fanya dan keluarga, Bu?” tanya Rasa dengan nada penuh kehati-hatian. “Dan saya juga butuh informasi tentang Fanya,” lanjutnya, pelan. Bu Lita tampak mengembus napas berat. Tak lama sepasang mata sayunya menerawang jauh dan mulai berair lagi. “Fanya itu anak kedua saya yang sangat menyayangi adik dan kakaknya lebih dari apapun. Dia sering sekali mengalah demi Fanisa dan Fano.” “FANO!!!” pekikan Fanisa sang kakak tertua yang usianya tertaut 2 tahun dengan Fanya, seketika membuat Fano si kecil berlari terbirit menuju kamar Fanya. Bukan tanpa alasan Fanisa berteriak sekencang itu. Baru saja dirinya hampir jatuh terpeleset karena cairan merah muda yang menghiasi lantai kamarnya. “Kak Fanya tolongin Fano!” “Kenapa lagi?” ‘Lagi’, karena ini bukan pertama kalinya bocah gembul itu mengumpat di balik punggungnya dan berlindung meminta pertolongan. “Tadi pas bola Fano masuk ke kamar Kak Fanisa, Fano mau ambil. Tapi pas Fano mau ambil, es Fano tumpah di lantai kamar Kak⸻” “Heh, Fano! Kamu numpahin es ya di kamar Kakak?!” “Lagian, sih, nutup pintu kamar aja males. Kalau pintunya ketutup kan bola Fano nggak mungkin masuk. Iya kan, Kak?” lawan Fano, namun tetap meminta pembelaan dari kakak keduanya. Fanya sedikit tertawa. “Iya, dia nggak sengaja, Kak. Nanti biar aku aja yang pel kamar Kak Fanisa.” “Pel yang bersih, ya! Awas aja kalau sampe masih lengket dan ada semut gara-gara kamu ngepelnya nggak bener,” ancam Fanisa kesal. “Iyaa,” sahut Fanya. Sampai setelah Fanisa berlalu dan menyisakan hentakan pada langkah pertamanya, barulah ia beralih kembali pada Fano. “Kamu, sih. Jadi Kakak kan yang diomelin Kak Fanisa, huh!” ledeknya sambil mencubit hidung bulat Fano. Anak itu menyengir. “Ehehehe, makasih ya, Kak!” Bu Lita tersenyum getir membayangkan kembali tingkah anak-anaknya kala itu. “Fanya selalu menjadi anak yang baik dan penurut. Dia tidak pernah membantah apapun yang saya dan ayahnya minta. Dia juga rajin belajar walaupun jarang sekali mendapat nilai yang sempurna. Dia berusaha untuk itu, supaya bisa buat ayahnya bangga. Walau kenyataannya dia selalu saja salah di mata kami, padahal kami orangtuanya,” tutur Bu Lita penuh sesal. “Fanisa bisa tolong bantu Ibu cuci piring?” Dari dapur, Lita berteriak yang suaranya terdengar sampai ke tengah rumah. “Nggak mau, ah. Nisa lagi belajar, Bu,” pekik Fanisa yang memang dirinya tengah belajar. “Suruh aja Fanya, Bu. Fanisa lagi fokus belajar dia.” Tak jauh dari meja Fanisa belajar, Handoko yang terlihat tengah membaca koran sambil bersantai dan menyesap kopi, ikut menyahut. “Kamu ini Fanya, sudah nggak belajar bukannya cekatan bantuin Ibu kamu. Malah ngabisin waktu nggak jelas. Mau jadi apa kamu, hah?!” “Fanya udah belajar kok, Yah,” jawab Fanya sambil tersenyum semangat. Ia pikir setelah itu dirinya akan mendapat pembelaan dari sang Ayah. Tetapi nyatanya tetap saja tidak. Handoko dengan ketusnya malah menimpal, “Halah, kamu belajar tidak belajar tetap aja nilaimu kecil. Nggak mungkin bisa saingi nilai kakakmu. Malu-maluin orangtua aja kami bisanya. Sana, bantu Ibu kamu.” “Fanya lagi ajak main Fano, Yah. Fano, tuh, kalau nggak ada teman suka tahu-tahu ilang main ke luar sama temennya. Keluyuran sampai sore. Udah tau dunia luar bahaya untuk anak-anak!” oceh Lita. Meski sebenarnya bukan maksud membela Fanya. Tetapi kata-kata itu ia lontarkan untuk suaminya semata-mata demi putra bungsunya, Fano. Dan Fanya sangat menyadari hal itu, namun Bu Lita baru menyadarinya sekarang. Setelah semuanya telah terjadi, baru saat ini Bu Lita menyadari kalau selama ini Fanya sadar ketika dirinya sedang dibedakan. Ketika dirinya sedang dibanding-bandingkan. Ketika dirinya bahkan cuma dimanfaatkan layaknya sebuah alat oleh kedua orangtuanya sendiri, hanya demi kesejahteraan dua saudara kandungnya yang lain. Fanisa dan Fano. Alat untuk perbandingan. Alat untuk diperintah ini itu. Alat untuk disalahkan sekalipun ketika dirinya tak bersalah. Alasannya? Sangat sederhana. Karena Fanya satu-satunya anak mereka yang tidak pernah memiliki kebanggaan dalam akademis. Lalu yang bisa Fanya lakukan hanya satu. Tahu diri. Fanya tahu diri kalau memang ia tidak pernah mendapat nilai sempurna. Walau sekeras apapun ia belajar, nilainya tidak akan pernah mampu manandingi nilah Fanisa. Jangankan menandingi, mendapat 80 saja sangat jarang bagi Fanya. Rata-rata nilainya sejak dulu tidak pernah lebih dari 70. “Fanya itu anak yang pantang menyerah. Saking inginnya dia membanggakan orangtuanya dengan nilai bagus, saya sering sekali melihat dia belajar sampai larut malam. Dan sayangnya saat itu saya sama sekali tidak menyadari kerja kerasnya,” ucap Bu Lita sambil menyingkirkan air matanya yang nyaris jatuh. “Fanya itu anak yang paling mengerti kondisi perasaan semua orang. Selalu lebih mementingkan orang lain dibanding dirinya sendiri. Tidak peduli meski tidak ada satu pun orang yang dapat mengerti perasaannya. Bahkan termasuk saya ibunya sendiri.” “Sampai suatu hari, Fanisa membawa kabar baik untuk keluarga. Dia diterima di Seoul University, yang merupakan Universitas ternama di Negeri Gingseng Korea Selatan...” Tatapan Bu Lita kembali menerawang jauh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD