“Ayah, Ibu, aku lolos tes terakhir!!!”
Terkecuali Fanya yang tengah terbaring lemah di atas ranjangnya, semua berlarian ke sumber pekikan itu yang berasal dari kamar Fanisa. Bahkan Fano yang sebenarnya tidak mengerti apa-apa pun juga berlari cuma karena berlandaskan penasaran dan ikut-ikutan ayah-ibunya.
“Nisa diterima di Seoul University!” ucap Fanisa dengan aura yang sangat bahagia.
Sebuah senyum mengembang lebar di bibir Handoko dan Lita saat itu, ketika terpampang jelas nama lengkap Fanisa pada layar kompoter yang dinyatakan lolos seleksi terakhir. Mereka sangat senang sekaligus bangga sekali pada putri sulungnya itu. Terutama Handoko, karena memang Fanisa itu kesayangan ayahnya. Jadi tentu jelas saja kini Handoko semakin sayang dan sangat bangga pada Fanisa lebih dari siapapun, bahkan lebih dari Lita yang melahirkannya.
Handoko mengecup puncak kepala Fanisa, lalu mengusapnya. “Kamu memang anak Ayah yang paling membanggakan!”
“Wah, hebat kami, Nisa!” puji Lita, yang kemudian beralih pada Fano. “Fano, kamu harus mencontoh Kak Fanisa, ya!”
“Siap, Bu! Itu mah gampil buat Fano!” tanggap bocah cilik itu.
“Untuk merayakan hari bahagia ini, gimana kalau liburan ini kita sekeluarga jalan-jalan keluar negeri?”
Fano dan Fanisa berbinar tak percaya. “Serius, Yah?” tanya Fanisa.
“Serius dong! Kalian packing dari sekarang, ya. Biar Ayah minta sekretaris Ayah pesankan tiket dan hotel untuk kita,” tutur Handoko, seraya mengeluarkan ponselnya.
“Eh, tapi Yah, Kak Fanya kan lagi sakit?” tanya Fano dengan raut sedih, membuat pergerakan tangan Handoko yang memegang ponsel tertahan.
Handoko diam, Lita diam. Keduanya tidak ada yang bisa memutuskan. Sampai akhirnya Fano bersuara lagi, “Kita tunggu sampai Kak Fanya sembuh aja gimana?”
“Ah, nggak bisa! Kita aja nggak tau si Fanya sembuhnya kapan. Ntar ditunda-tunda yang ada malah nggak jadi. Gagal deh selebrasi buat Nisa!” Fanisa berceloteh dengan bibir mengerucut, ngambek.
Sedangkan Handoko yang tidak bisa melihat hal itu. Tidak bisa melihat wajah putri kebanggaannya cemberut, kesal, ataupun kecewa, memberi keputusan, “Berhubung liburan kali ini dibuat khusus untuk merayakan keberhasilan Fanisa, jadi biar aja Fanya nggak perlu ikut untuk masa pemulihan. Daripada tetap memaksa ikut dan kondisinya malah semakin memburuk?”
Fano tertunduk, tanpa bisa lagi menyanggah. Sama seperti Lita yang tidak mengeluarkan suara barang sepatah kata pun. Karena yang memegang kendali adalah suaminya, dan tentu saja keputusan berada sepenuhnya di tangan Handoko.
Sementara di balik dinding kamar Fanisa sana, tanpa ada yang menyadari Fanya mendengarkan semuanya. Kamar Fanisa yang benar-benar bersebelahan dengan kamarnya membuat suara apapun di kamar Fanisa, selalu terdengar sampai ke kamarnya menembus dinding.
Pada hari itu semua orang rumah bahagia, terkecuali Fanya. Seseorang yang selalu terlupakan dan bahkan tak pernah dianggap keberadaannya. Fanya menangis dalam tidurnya. Terlihat dari luar gadis itu tampak sedang tertidur tenang membelakangi pintu. Namun sebenarnya, susah payah ia menahan tangisnya dan menyembunyikan air matanya agar tidak diketahui oleh siapapun. Sehingga saat itu, ia benar-benar tidak memiliki siapa-siapa selain dirinya sendiri yang berusaha untuk menanangkan walau rasanya sangat sesak.
“Hari itu kami semua bahagia. Euphorianya masih sangat terasa, lebih-lebih di hari keberangkatan kami ke USA. Termasuk Fanya yang saat itu juga ikut berbahagia sekalipun dia tidak bisa ikut liburan bersama kami.”
“Selamat, ya, Kak Fanisa!” Fanya mengulurkan tangannya dengan senyum, namun Fanisa sama sekali tidak menjabatnya.
Sampai kemudian, Fano yang menuntun tangan Fanisa untuk menyambut jabatan Fanya. “Kak Fanisa itu tangannya Kak Fanya jangan dicuekin,” ocehnya, polos.
“Have fun, ya, liburannya....” Fanya tersenyum penuh arti, namun tak ada satu pun yang mampu mengerti.
“Saya nggak pernah menyangka kalau hari itu adalah saat terakhir saya melihat Fanya.” Mata Bu Lita yang tertutup perlahan saat membayangkan senyum terakhir putrinya yang telah tiada itu, seketika menjatuhkan tetesan air lagi, entah ini sudah kali yang ke berapa. “Sampai setelah itu, setibanya kami kembali dari liburan, kami sudah tidak lagi mendapati Fanya di rumah, dengan sebuah surat yang tertinggal di kamarnya.”
Fanya akan baik-baik aja. Ayah sama Ibu nggak perlu mengkhawatirkan Fanya, ya.
“Menanggapi permintaannya dalam surat, kami benar-benar mengabaikan Fanya. Suami saya selalu sibuk dengan Fanisa yang mulai kuliah dan menetap di Korea. Lalu saya fokus pada pendidikan Fano yang sebentar lagi akan menjalani Ujian Nasional. Kami benar-benar melupakannya, sampai kabar buruk tentang Fanya kami dapatkan dari pihak kepolisian yang datang malam itu. Yang mengakibatkan suami saya terkena serangan jantung, hingga saat ini harus dirawat secara intens di rumah sakit.”
“Ibu macam apa saya ini,” tangisnya yang kemudian kembali pecah. “Saya memiliki anak yang luar biasa, tetapi baru menyadari kalau keberadaannya sangat berharga dalam hidup saya setelah saya kehilangan dia.”
Sepanjang Bu Lita bercerita, di sisi lain Antara mendengarkan sambil mengedarkan pandangannya, melihat-lihat ke sekeliling rumah megah itu.
Seumur-umur bertetangga dengan keluarga Pak Handoko dan Bu Lita, ini merupakan kali pertama baginya mendapat kesempatan untuk memasuki rumah mereka. Karena yang Antara tahu sebelumnya, selama belasan tahun ia berlangganan membeli permen Milkita di Bang Japri, penghuni rumah megah ini tidak pernah membaur dengan orang-orang di lingkungan sekitar mereka. Pagarnya yang menjulang tinggi, jarang sekali terbuka.
Antara memang mengenal keluarga itu, dari Bang Japri. Namun sepertinya keluarga itu sama sekali tidak mengenali dirinya. Dapat dilihat dari reaksi Bu Lita tadi saat mengusirnya tadi, tidak mungkin Bu Lita mengusirnya sekasar itu jika dia tahu bahwa Antara adalah salah satu tetangganya, bukan?
Menurut info yang Antara dapat dari Bang Japri, orang-orang serumah ini tampak selalu sibuk. Bu Lita yang merupakan seorang dosen, hampir semua berangkat pagi-pulang larut malam. Pun dengan suaminya yang merupakan seorang ajudan terpercaya seorang Anggota DPR RI. Sedangkan Fanisa dan Fano, mereka juga sibuk belajar di sekolah maupun di luar sekolah dengan menjalani les sana-sini. Tetapi berbeda dari mereka, kesibukan Fanya selain belajar di sekolah adalah bekerja paruh waktu di salah satu mini market. Sehingga tidak ada waktu bagi mereka untuk bermain-main walau hanya sekedar memberi sapaan pada para tetangga.