9

876 Words
Sesudah itu, Rasa dan Antara pamit untuk pulang pada Bu Lita. Juga Bu Lita yang berterima kasih pada mereka, yang telah membuatnya tahu akan isi buku harian mendiang putri keduanya. “Kita nggak dapet apa-apa yang bisa dijadiin petunjuk,” gumam Antara, pelan, sambil terus menyusuri sisi jalan yang menuju pintu keluar perumahan. Seketika Rasa menarik napas panjang, dan mengembusnya perlahan. “Tapi nggak apa-apa, saya tetep merasa lega. Seenggaknya kita udah melakukan hal yang benar. Menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan.” “Iya,” sahut Antara. “Ternyata benar, ya, kata pepatah.” “Apa?” respon Rasa, cepat, dengan pandangan terangkat menatap Antara. “Jangan menunggu kehilangan dulu, baru menyesal.” *** “Yess, aku menang! Wohooo! Yeah!” Dengan begitu semangat, Ara membanting kartu terakhir di tangannya. Vera yang sudah menang di awal pada sesi itu, langsung terbahak keras menertawai kekalahan Tita yang melawan bocah SMA dalam bermain kartu. “Wah kacau lo, Tit. Masa sama bocah sekolah aja main kartu bisa kalah mulu!” cibirnya sambil meraih lipstik. “Tit-tit, manggil orang yang bener dong. Pake suku kata belakang ‘Ta’, atau nama lengkap Tita! Jangan ‘Tit’! Nggak enak didengernya. Apalagi ada bocah di bawah umur gini!” Diam-diam Tita menunjuk Ara dengan mengembungkan sisi kiri pipinya. “Enak aja bocah! Ara bukan bocah, tahu! Main kartu begini, sih, Ara udah sering sama temen-temen tiap jamkos. Jangan main asal remehin ‘bocah’, ya,” peringat Ara dengan senyuman miring di bibir. “Heleh, baru menang main kartu aja udah bangga lo, cil! Anak sekolah, tuh, harusnya menang olimpiade yang dibanggain,” decih Tita, yang kalah dan wajahnya sudah banyak tercoreng lipstik itu cuma bisa kesal dan memasrahkan diri ketika Vera dan Ara harus menambah coretan lipstik lagi di sekitaran wajahnya. “Buat apa menangin olimpiade? Nggak seruu!” dalih Ara, yang tangannya masih sibuk melukis di wajah Tita. “Dasar!” keluh Tita. Lalu Vera cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala, tak habis pikir. “Ini, nih, alesan gue kenapa lebih suka adek kedua lo, Ris, daripada bocil tengik yang satu ini.” Sementara Tita, Vera, dan Ara asyik bermain kartu dengan coretan lipstik di wajah sebagai hukumannya, sejak tadi sore sampai malam ini pukul 7 Rissa tampak gelisah sendirian. Gadis itu berjalan bolak-balik menggigiti kuku sambil terus memandangi layar ponselnya, karena adik keduanya yang tak kunjung membalas pesan dan menjawab panggilan darinya. “Maunya apa, sih, itu anak, dihubungi dari tadi nggak bisa-bisa!” Sahutan Rissa yang sama sekali tidak ada nyambung-nyambungnya dengan bahasan Vera, seketika mampu menginterupsi kegiatan Tita, Ara, dan Vera sendiri. “Rasa masih belum pulang juga, Ris?” tanya Vera. “Belum,” jawabnya dengan gelengan kecil dan masih mondar-mandir. “Mungkin Kak Rasa hari ini ada kelas tambahan kali, Kak,” ucap Ara, mencoba berpikir positif tentang Rasa yang belum pulang ke rumah sejak tadi pagi berangkat kuliah. Yang mana hal itu sangat berbeda sekali dengan apa yang ada di kepala Rissa. Karena tidak bisa dipungkiri lagi, kalau sekarang bayang-bayang negatif justru hinggap kuat dalam pikiran wanita 24 tahun itu. Makanya dapat dikatakan, dalam keadaan semacam ini jalan pemikiran Rissa dan Ara bisa bertukar otomatis secara mendadak. “Kalau emang ada kuliah tambahan, masa iya sampai malam begini? Dan kalau ‘iya’ pun seharusnya dia ngabarin Kakak,” tandas Rissa, yang membuktikan hasil pemikiran negatifnya. “Iya juga, sih.” Vera menimpali. “Eh, tapi, katanya lo kemarin siang gue liat si Rasa di kamar F sendirian⸻Aw!” Belum sampai Vera menghabisi kalimatnya, Tita segera mencubit pinggang belakangnya. Juga saat Vera menoleh, sebuah pelototan tajam Tita langsung menusuk pandangannya. “Lo bisa diem nggak?” tegur Tita dengan intonasi berbisik, namun penuh penekanan.  Meski mungkin teguran itu sia-sia saja. Karena sepertinya raut wajah Rissa sudah terlanjur menggambarkan kecemasan yang dia rasa. “Serius lo, Ta, liat adek gue di kamar F itu?” Tidak dapat mengelak lagi, akhirnya Tita memberi anggukan samar atas kesaksiannya. Yang detik itu pula hal tersebut benar-benar menyebabkan Rissa semakin gelisah, dan kini malah menjadi tambah cemas memikirkan Rasa. “Kenapa lo nggak bilang, Tita???” Seketika Tita terlihat kebingungan mencari jawaban untuk berkilah. “Gue⸻” Tok tok tok Suara ketukan pintu sesaat menginterupsi semua percakapan dan ketegangan yang terjadi di ruang tamu tempat tinggal tiga bersaudara itu. Yang tak lama setelahnya, menampakkan sosok Rasa berdiri di baliknya yang seketika sukses membuat Rissa naik pitam. “Kamu dari mana aja, jam segini baru pulang?” tanya Rissa, menatap adiknya tegas. “Kenapa telpon Kakak nggak diangkat? Chat pun nggak dibales. Sesibuk itu kamu sampai lupa waktu?” Tidak berani membantah, Rasa pun menunduk dalam. “Maaf, Kak. Aku tadi abis dari rumah temen,” terangnya, penuh kehati-hatian. “Kalau abis dari rumah temen, ya, seenggaknya kamu kabarin Kakak kan bisa? Atau memang kamu sengaja mau buat Kakak cemas di saat-saat kayak gini?” Rasa hanya menggeleng. Pandangannya masih melihat lantai di bawah kakinya. “Kamu jujur sama Kakak, apa benar kemarin kamu ke kamar F kosan kita?” Layaknya sedang menginvestigasi, tiap pertanyaan yang diajukan Rissa seakan benar-benar menyudutkan Rasa. “Iya, Kak,” sahut Rasa pelan, mengangguk samar. Seketika Rissa menarik napasnya berat. Membuang pandangannya sesaat dari Rasa, yang kemudian tampak mulai berair. “Mau apa kamu ke sana?” “Ada yang perlu aku cari tahu, Kak.” “Cari tahu apa?!” “Tentang keanehan di kos-kosan kita. Aku yakin mereka semua yang bunuh diri⸻” “Cukup, Rasa! Kakak nggak mau kamu libatin diri kamu dalam situasi bahaya kayak gini!” Napas Rissa seketika terburu emosi. “Udah cukup kamu buat Kakak mencemaskan kamu seharian ini!” Kepala Rasa terangkat. Bola matanya tertuju langsung pada kakaknya. “Nggak bisa, Kak. Semua ini harus diselesaikan sebelum memakan lebih banyak korban lagi. Kak Rissa nggak perlu cemasin aku, karena aku bisa jaga diri aku sendiri.” Tanpa ingin memperpanjang pembicaraan, Rasa bergegas meninggalkan ruangan itu, dan masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Ara, Vera, dan Tita, baru beranjak setelah pertengkaran usai. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD