Brak!!! Satu dentuman solid bergaung ekstrem, mengguncang kubus ruang VIP yang kedap suara itu dengan mutlak. Sepasang telapak tangan kekar Samudra menghantam permukaan kayu jati meja perjamuan dengan satu sentakan konstan yang kuat, membuat sisa botol wine dan gelas kristal di atasnya bergetar hebat. Tatapan sepasang obsidian pekat sang CEO kian melotot tajam, memancarkan kilat kebencian yang sedingin es kutub langsung menghunus pusat nyali lawan bicaranya. Napasnya memburu kaku, selaras dengan pergerakan rongga dadanya yang kembang-kempis ekstrem disulut kobaran amarah yang membakar ulu hati. “Jangan pernah berani ikut campur dalam hidup saya! Sudah ratusan kali saya tegaskan kepada Anda, Kakek!” raung Samudra, suaranya merosot ke titik bariton yang mengintimidasi, menguliti sisa-sisa

