PENYESALAN SUAMI SETELAH TALAK 3
.
Mata Mas Erga tampak membeliak. Laki-laki itu menatapku dan Oji secara bergantian. Berulang kali.
Sungguh, aku penasaran dengan isi pikirannya saat ini.
"Be—benarkah?"
"Tidak Erga, jangan percaya sama wanita jahat ini! Dia itu ...."
"Bu! Biarkan aku bicara sama Naura."
Ibu terdiam dengan wajah pias. Sementara Mas Erga langsung menghampiriku yang masih terduduk di ujung sofa.
"Naura, katakan sekali lagi apa benar yang kamu sampaikan barusan?" tanya Mas Erga yang kini sudah berdiri di hadapanku. Sampai aroma mint yang berasal dari tubuhnya tercium olehku. Begitu jelas. Wangi yang selalu kurindukan dulu.
"Harusnya Mas tanyakan itu pada diri Mas sendiri, bukan melemparnya padaku? Silahkan Mas ingat-ingat lagi apa yang Mas katakan tadi pagi."
"Ta—pi, kenapa tadi kamu diam saja. Mas benar-benar lupa, kenapa tidak kamu jelaskan apa yang terjadi? Kenapa kamu malah diam saja?"
Tangannya kutepis dengan kasar, saat Mas Erga hendak menyentuh bahuku.
"Maaf, Mas, tolong jangan pegang-pegang, kita bukan muhrim!"
"Naura," ujarnya tidak terima.
Apa laki-laki ini kembali lupa dengan ucapan talak yang baru saja dia keluarkan.
"Kenapa? Memang benarkan kita bukan muhrim?"
"Jangan seperti ini, Sayang. Tadi Mas lagi emosi. Mas sangat marah mengetahui kamu membawa Oji ke kamar kita, Mas marah karena mengira kamu sekingkuh, makanya sampai mengucapkan talak."
"Terus,"
"Ki—ta masih bisa memperbaiki semuanya, kita masih bisa rujuk."
"Hahaha!" Aku sampai tertawa keras mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut suamiku. Mantan, maksudnya.
"Rujuk? Kamu pikir kenapa tadi aku hanya diam tanpa menjelaskan apapun, Mas? Kamu pikir, kenapa aku bahkan tidak merengek dan memohon sekalipun saat kamu mengancam dengan kata talak?" Aku menghela nafas pelan, "karena aku memang ingin mengakhiri semuanya, Mas. Mengakhiri lukaku dengan cara berpisah denganmu!"
"Apa kamu pikir selama ini aku bahagia? Apa kamu sudah memperlakukanku selayaknya seorang istri, hah? Jawab! Apa Ibu dan saudaramu sudah memperlakukanku sebagai menantu dan ipar?! Tidak, Mas, tidak sama sekali. Aku tidak lebih dari seorang pembantu gratis di sini!"
Amarah yang dulu tertimbun, kali ini tidak bisa kutahan lagi. Entah apa julukan yang pantas disematkan untuk keluarga suamiku ini. Mereka benar-benar lucu.
"Naura, kenapa kamu bisa berkata seperti itu? Selama ini aku berkerja siang malam untuk kamu dan Afra, aku selalu memberimu setengah dari gajiku setiap bulan, apa itu belum cukup?"
" Heh, kamu memang bekerja siang malam Mas, tapi apa kamu yakin itu hanya untukku dan Afra? Kamu memang memberiku 10 juta perbulan, tapi, lebih dari setengah uang pemberianmu dirampas Ibu dan Kak Santi!
Apa kamu lupa, saat sedang di luar kota kamu menelponku dan marah-marah hanya gara-gara tidak kuberikan uang untuk Ibu arisan seminggu yang lalu? Lupa, ya? Oh, ya kamu kan sudah mulai pikun akhir-akhir ini. Asal kamu tahu, Mas, saat itu uang peganganku hanya tinggal sedikit, putri kita sedang sakit dan ingin kubawa ke dokter tapi tidak jadi, karena uang yang aku pegang semuanya diminta Ibu. Apa kamu tahu itu?"
Kutatap wajah Ibu dengan tajam, berharap dia kembali ingat dengan kejadian tempo hari, namun, sepertinya hati nurani wanita itu memang sudah mati.
"Bu, apa benar seperti yang Naura bilang?" tanya Mas Erga pada wanita yang sudah melahirkannya itu.
Tentu saja Ibu tetaplah seorang Ibu dan Mas Erga wajib menghormatinya. Namun, ketika surga anak lelaki berada di bawah telapak kaki ibunya, bukan berarti dia bisa semena-mena dengan istrinya.
"Hah, tidak ... tidak. Itu tidak benar, Erga. Kamu jangan terhasut omongan mantan istri kamu itu. Waktu itu Afra baik-baik saja, kalau tidak, mana mungkin Ibu rela menelantarkan cucu Ibu demi pergi arisan."
"Sudahlah, tidak ada gunanya bicara sama kalian. Aku ingin siap-siap, sebentar lagi orangtuaku akan datang," ujarku yang bersiap melegang pergi, namun, Mas Erga berhasil mencekal pergelangan tanganku.
"Naura, tolong jangan gegabah. Kita masih bisa memperbaiki semuanya. Aku minta maaf atas semua kesalahanku. Kenapa kamu harus menghubungi orangtua kamu secepat ini, aku tidak mau kalau mereka tahu masalah kita."
"Maaf, Mas, tapi aku tidak bisa. Aku sudah muak tinggal di sini. Orangtuaku sudah tahu semuanya, sebelum acara sidang terkutuk ini dimulai, aku sudah lebih dulu menghubungi mereka dan menceritakan semuanya."
"N—naura, ta—tapi ...."
Tanpa peduli lagi dengan Mas Erga yang memohon-mohon memintaku agar mau kembali. Aku gegas berlalu ke kamar untuk membereskan barang-barangku dan Afra dan memasukkannya ke dalam koper.
Setelah kurasa semuanya selesai, langkahku tertuju pada ranjang, di mana malaikat kecil sedang tertidur dengan pulasnya.
'Berat sekali masalah yang baru saja Mama hadapi, Sayang. Tapi, saat melihat wajah polosmu, semuanya seperti kembali baik-baik saja.'
Cup.
Afra kuangkat dengan sangat hati-hati, agar tidurnya tidak sampai terganggu. Sudah makin berat ternyata putriku. Hehe.
"Wah, anak Mama udah gede sekarang, ya."
Afra sempat menggeliat saat tubuhnya kuangkat, namun, setelah menemukan posisi yang nyaman dalam gendonganku, nafasnya kembali terdengar teratur. Gadis kecil ini kembali terbuai dalam mimpinya. Padahal, dunianya baru saja porak- poranda.
'Mungkin ini salahku, maafkan Mama, Afra. Duniamu, Mama akan mencoba memperbaikinya nanti. Lebih baik dari yang baru saja Mama hancurkan.
Mama akan memberimu dunia yang di dalamnya hanya dipenuhi oleh orang-orang yang penuh kasih sayang. Bukan oleh mereka yang hanya memandang kita sebelah mata. Mama sayang Afra.'
Setelah merasa posisi putriku aman dalam gendongan, sebelah tanganku yang lain mengambil gagang koper dan kudorong keluar.
Sampai di ruang tamu, Mas Erga masih berdiri di tempatnya semula. Sementara Ibu dan Kak Santi sudah kembali mengambil posisi paling manis di sofa. Hanya Oji yang memberi tatapan kasihan padaku. Sisanya, ya sepertinya biasa.
"Naura, kamu tidak boleh pergi dari sini. Aku tidak mau kita berpisah. Aku masih mencintai kamu," mohon Mas Erga yang terdengar bullshit
"Tolong jangan bersikap egois, apa kamu tidak kasihan dengan Afra? Dia akan tumbuh besar sebagai anak broken home, Naura. Dia akan dibully teman-temannya. Tolong kamu pikirkan itu!" sambungnya dengan suara sedikit keras, sampai Afra menggeliat karena tidurnya terganggu.
"Kalau bicara mohon dikondisikan ya, Mas. Anakkku sedang tidur."
Sekali aku memperbaiki posisi Afra dalam gendongan. Dengan pikiran yang kembali melanglang buana memikirkan nasib bocah berusia empat tahun ini. Semoga kamu akan baik-baik saja dan bisa menerima semua ini ya, Sayang. Mama janji, akan berusaha jadi yang terbaik buat Afra.
"Tapi Naura, aku tetap tidak akan membiarkan kamu membawa Afra dari rumah ini. Kalau bertekad keluar dari rumah ini, kamu akan kehilangan Afra. Titik."
"Masalah itu. Kamu bisa menjelaskannya nanti di pengadilan, Mas. Dan asal kamu tahu, rumah ini atas namaku, dulu kamu sendiri yang memberikannya, katamu sebagai kado pernikahan."
Sekilas aku melirik Ibu dan Kak Santi, mereka tampak terkejut. Raut wajahnya lebih parah dari Mas Erga.
"Kalau kamu ingin mendapatkan rumah ini secara utuh, maka jangan coba-coba memperebut Afra. Sekalipun nanti Afra tinggal bersamaku, aku tidak akan melarangnya bertemu dengan ayah kandungnya, dengan syarat harus dalam pengawasanku. Bagaimana, rumah atau Afra?"
Mas Erga menatapku tajam.
"Sudahlah, Ga. Toh kalian sudah bercerai, biarkan saja dia pergi dan membawa Afra. Nanti biar Ibu carikan kamu wanita cantik, berkelas, dan punya sopan santun, bukan yang model-model begitu. Heuh."
"Iya, Ga. Lagian pembantu ngapain diributin ...."
"Siapa yang kamu sebut pembantu?"
Ucapan Kak Santi terpotong oleh suara seseorang yang sangat kukenali. Seketika aku menoleh ke arah pintu yang masih terbuka lebar itu.
Mama.