PENYESALAN SUAMI SETELAH TALAK 4
.
Dari berbagai rupa manusia yang telah kutemui, akan kujadikan pelajaran terbaik darinya. Naura Hunaivi.
.
Netraku menangkap satu per satu wajah mereka yang kini berdiri di depan pintu. Wajah teduh lagi bijaksana milik Papa, mata tajam lagi menyala-nyala milik Kak Doni, wajah wanita berusia 55 tahun milik Mama, Kak Namira yang tampak sinis menatap penghuni rumah ini, serta Om Wahyu yang terlihat sangat murka.
Hatiku bertanya-tanya, sudah berapa lama mereka tiba? Berapa banyak yang telah memereka dengar? Dari balik pintu sana.
"Eum, Papa, Mama, semuanya silahkan masuk dulu," Mas Erga menghampiri keluargaku dengan langkah tergesa. Saat hendak meraih tangan Mama untuk disalimnya, tangan Mas Erga ditepis kasar oleh Mama.
Mama, aku sangat mengenalnya, wanita yang memiliki sisi paling hangat itu, jika sudah marah jangan ditanya garangnya. Beda dengan Papa yang lebih bijaksana.
"Siapa yang pembantu?" ulang Mama terdengar ketus.
"Ma, ini cuma kesalahpahaman ..."
Tanpa peduli dengan Mas Erga, Mama menyelonong masuk begitu saja dengan angkuhnya. Lalu diikuti oleh yang lainnya.
"Doni, tolong bawakan koper adikmu ke mobil."
Tanpa menjawab, Kak Doni mengambil koper dari tanganku dan membawanya keluar.
"Ma, Papa, Om Wahyu, Kak Namira silahkan duduk dulu, kita bisa bicara baik-baik," ucap Mas Erga mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Iya, Bu Besan, silahkan duduk dulu. Kita bicarakan ini dengan kepala dingin," timpal Ibu yang baru saja bangkit dari tempat duduknya. Sementara Kak Santi masih mempertahankan wajah ketusnya. Sekilas kulirik dia seperti perang mata dengan Kak Namira—kakak iparku.
"Tidak perlu," potong Mama cepat.
"Ma, sebaiknya kita duduk dulu." Papa menengahi. Mau tidak mau kami semuanya berjalan ke sofa.
Om Wahyu yang melihatku sedikit kesusahan karena Afra, lekas mengambil alih putri kecilku ke pangkuannya. Selama ini, Afra memang lumayan dekat dengan Om Wahyu. Adiknya Papa, sering mengunjungi kami di sela-sela jam kantornya yang jaraknya memang dekat dari sini.
"Bu Naura dan semuanya kalau begitu saya permisi keluar dulu," Oji mengundurkan diri. Setelah mendapatkan anggukanku, laki-laki bertubuh kekar itu berlalu dari hadapan kami. Sementara Kak Doni, entah kenapa belum muncul hingga sekarang.
"Jadi, apa yang ingin dibicarakan, Bu Besan?" tanya Papa tenang.
"Eum ... eum begini Pak Abdullah dan Bu Wardah bagaimana kalau kita ngeteh dulu. Sebentar saya panggilkan bibik untuk membawakan minum dan cemilan," ujar Ibu tampak salah tingkah. Entah drama apalagi yang akan diperankan paruh baya itu.
"Memangnya di rumah ini ada pembantu, selain anak saya, Naura yang tadi kalian sebut sebagai pembantu?"
"Eum ... itu hanya kesalahpahaman, Bu Wardah."
"Oh, begitu ya Bu Rumana? Kami sudah berdiri di balik pintu lebih dari 30 menit, loh. Kira-kira, apa masih ada yang belum kami ketahui setelah berdiri di sana hampir setengah jam?"
"Ma, Pa, tolong maafkan Erga, tadi Erga khilaf dan tidak sengaja menceraikan Naura. Erga menyesal," Mantan suamiku tampak memohon dengan raut wajah penuh penyesalan. Tampak sungguh-sungguh. Sama sepertiku yang sungguh-sungguh muak mendengarnya.
Sekilas kulirik ke arah Papa yang tampak menghela nafas berulang kali. Untung orangtuaku tidak memiliki riwayat penyakit jantung.
"Begini saja Bu Rumana, Erga dan Santia, saya dan keluarga kemari untuk menjemput Naura dan putrinya. Lagian sudah jatuh talak, jadi tidak ada yang perlu dibicarakan lagi."
"Pa, tapi ...."
Papa mengangkat tangannya hingga Mas Erga terpaksa menutup mulutnya kembali.
"Atas kasus ini saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa, meski sebenarnya hati saya sakit sekali mengetahui anak perempuan saya diperlakukan sangat tidak manusiawi sama kalian. Sakit sekali hati saya asal kalian tahu, itu. Tapi, biarlah ini menjadi pelajaran untuk Naura, biar dia mengerti alasan kami kenapa sempat tidak merestui pernikahan mereka dulu.
Asal Bu Rumana tahu, saya tidak akan menikahkan anak saya dengan orang sembarangan. Sebelum mengambil keputusan, saya sudah menyuruh orang untuk menyelidiki seluk beluk keluarga Anda.
Namun, karena Naura keras kepala ingin menikah dengan laki-laki yang bahkan dulu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan seseorang yang hendak saya jodohkan dengan putri saya, akhirnya saya pasrah dan merestui mereka, karena saya kira anak saya bisa bahagia. Tapi, ternyata hasilnya nol, orang-orang kaya baru memang suka lupa diri, ya?"
Papa berbicara panjang lebar yang berisi sindiran halus untuk Mas Erga dan keluarganya. Laki-laki itu terlihat menunduk, sementara Ibu dan Kak Santi tampak berang sekali.
Namun, ada poin dari ucapan Papa yang membuatku terkejut. Perjodohan. Benarkah aku sempat ingin dijodohkan? Tapi, Papa dan Mama tidak pernah menberitahuku tentang itu. Apa karena dulu aku sangat tergila-gila dengan Mas Erga?
Ya, dulu aku memang begitu menggilai laki-laki yang wajahnya nyaris sempurna itu. Dan akhirnya aku sendiri merasakan akibatnya, hampir gila.
"Karena tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, kami akan segera pulang. Dan kamu Erga, jangan pernah mempersulit perceraian ini di pengadilan nanti. Atau kamu akan menyesal!" tegas Papa.
"Tapi, Pa, Erga tidak mau berpisah dengan Naura. Erga janji akan berubah, Pa. Erga menyesal sudah menyakiti Naura," mohon Mas Erga berurai air mata.
"Sudahlah. Mau kamu menangis darah sekalipun, saya tidak akan pernah membiarkan kamu kembali dengan putri saya. Di luar sana masih banyak laki-laki lain yang berasal dari keluarga baik-baik untuk Naura. Memang sebenarnya kamu itu tidak pantas bersanding dengan Naura."
Ucapan Mama terdengar buruk. Tapi, entah kenapa aku senang mendengarnya. Setidaknya ini bisa menjadi pembalasan atas penghinaan yang mereka lontarkan padaku.
"Heh, Bu Wardah, jaga ucapan Ibu, ya. Bukan Erga yang tidak pantas untuk Naura, tapi putri Ibu yang tidak pantas untuk anak saya. Lagian siapa sih yang suka mereka rujuk. Saya bisa mencarikan wanita yang jauh lebih baik untuk Erga, bukan istri yang tidak berguna seperti Naura."
"Siapa yang Anda sebut tidak berguna, hah?"
"Ma, sudah Ma, sudah. Tolong, jangan terpancing emosi," Aku mencoba menenangkan Mama.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi, dulu. Terima kasih atas waktunya. Maaf, karena sudah membuat keributan. Ayo, Naura kita pulang," Papa masih tetap berusaha tenang.
"Naura, tolong jangan pergi, aku tidak bisa kehilangan kamu dan anak kita."
Mas Erga meraih kedua tanganku, namun, tatapan tajam milik Papa membuatku melepaskan tangan dari cekalan Mas Erga dengan paksa.
"Kamu kehilanganku dan Afra karena ulahmu sendiri, Mas. Aku pergi dulu, sampai bertemu di pengadilan."
"Kamu Erga yang menjabat sebagai manager pabrik di Adromeda, kan?" Aku kembali menoleh saat mendengar Om Wahyu bertanya tentang pekerjaan Mas Erga. Entah, apa maksudnya?
"I—ya, Om."
"Hehehe. Semoga tidak ada kabar buruk dari Adromeda, ya."
"Maksud, Om?"
"Tidak ada. Aku hanya tidak suka jika ada orang yang menyakiti keponakanku."
Om Wahyu menepuk-nepuk pundak Mas Erga. Sebelum akhirnya menyusul kami yang sudah berada di depan pintu dengan putriku dalam gendongan.
Dengan rasa penasaran dengan maksud perkataan Om Wahyu barusan. Aku melangkah keluar dengan perasaan campur aduk. Akhirnya, rumah yang sempat kuterima sebagai hadiah pernikahan, harus kutinggalkan.
.
Saat kami berjalan ke mobil, mataku tidak sengaja menagkap Kak Doni sedang duduk bersama Oji di pos satpam di samping gerbang.
Pantes Kak Doni tidak kembali masuk ke dalam. Memangnya apa yang sedang mereka bicarakan.
"Dek, itu Kak Doni lagi ngomong sama siapa?" tanya Kak Namira.
"Itu Oji, sopir yang dituduh berselingkuh denganku.
.