.
"Itu Oji, sopir yang dituduh berselingkuh denganku."
"Itu kan laki-laki yang tadi di dalam," Mama maju beberapa langkah, ingin melihat dengan jelas.
"Iya, Ma. Itu Oji, sopir kami. Dia pekerja yang baik dan jujur, sayangnya harus dikambinghitamkan oleh Ibu dan saudaranya Mas Erga. Tadi, dia ikut berada di dalam, karena kami mau disidang. Tadi, Oji bahkan lebih memilih mengundurkan diri demi bisa melindungiku yang hendak ditampar Mas Erga. Jadi, Pa, Naura mohon, tolong beri Oji pekerjaan," ujarku yang kembali teringat dengan kejadian beberapa waktu yang lalu. Sesak.
"Apa! Erga menampar kamu?!" berang Mama tampak tidak terima.
Sama. Semuanya menunjukkan kemurkaan untuk keluarga Mas Erga, melalui raut wajah mereka.
Papa, Mama, Kak Namira, serta Om Wahyu. Ternyata masih banyak yang menyayangiku tanpa syarat. Bodohnya aku sempat menyia-nyiakan hidupku yang begitu berharga, demi orang-orang yang tidak punya hati nurani seperti keluarga Mas Erga.
"Mama tidak terima kamu diperlakukan seperti itu sama mereka! Mama harus buat perhitungan ...."
"Ma!" Suara Papa menghentikan langkah Mama yang ingin kembali ke dalam.
"Jangan halangi Mama kali ini, Pa! Mama sakit hati melihat anak Mama diperlakukan semena-mena sama mereka!" protes Mama dengan sudut mata yang tampak berair.
Melalui cahaya lampu taman, kesedihan Mama tak sengaja tertangkap oleh mata. Kesakitan yang begitu kentara, melebihi siapapun bahkan termasuk Papa.
Ma, aku mengerti bagaimana rasanya. Karena aku juga seorang ibu sekarang. Maaf, Ma, kerap kali Mama dibuat khawatir olehku.
"Sabar, Ma, sabar! Papa juga sakit hati melihat anak kita diperlakukan seperti itu. Tapi, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Sejak keluar sana, kita sudah memutuskan untuk tidak lagi berurusan dengan mereka. Lebih baik sekarang kita pulang dan memikirkan jalan terbaik untuk Naura ke depannya.
Tentang perbuatan mereka, serahkan saja semuanya sama Allah. Allah tidak tidur, bagaimana mereka menyakiti Naura, mereka akan mendapat balasannya. Entah sekarang, nanti, di dunia atau di akhirat. Karena setiap perbuatan pasti akan ada balasannya, entah itu perbuatan baik atau jahat."
Tenang sekali Papa membujuk Mama yang tengah diselimuti amarah. Sungguh, aku merasa sangat beruntung memiliki cinta pertama seperti sosok laki-laki yang kini mulai banyak uban dikepalanya.
"Tapi, Pa, Mama belum ikhlas ...."
"Sudah, Kak Wardah tenang saja. Soal mereka biar aku yang urus," timpal Om Wahyu yang membuat kami semuanya menatap heran ke arahnya.
Entah kenapa aku sedikit merinding. Jika Papa sosok yang tenang, lagi lemah-lembut perangainya. Tidak dengan adiknya. Om Wahyu sosok yang keras dan tak tersentuh. Selain misterius, juga tipe laki-laki yang tidak bisa memberi pemakluman bagi siapapun yang mengusik keluarganya.
"Maksud kamu apa, Wahyu? Jangan bilang kamu ingin membalas mereka?" tanya Papa dengan kening berkerut.
"Abang tidak perlu khawatir, aku tidak akan melakukan sesuatu yang ekstrim, aku hanya ingin memberi Erga pelajaran kecil, karena sudah berani menyakiti keponakanku."
"Tapi, apa yang inging kamu lakukan, Wahyu?"
"Sudah. Namira cepat panggil Doni, kita pulang. Cucuku sangat berat, aku tidak kuat lagi menggendongnya! Oh, ya Namira, bilang sama Doni untuk menyuruh Oji datang ke rumah Papa kalian, besok!"
"Baik, Om."
Om Wahyu menutup pembicaraan dengan segera masuk ke mobil. Mau tidak mau kami harus mengikutinya dengan segudang rasa penasaran. Sementara Kak Namira sudah menyusul suaminya yang masih betah mengobrol dengan Oji.
Aku baru tahu kalau ternyata mereka naik mobil terpisah. Karena kata Mama, kakak dan kakak iparku itu akan langsung kembali ke rumahnya. Sementara aku ikut Papa dan Mama untuk kembali ke rumah utama. Hehe, memangnya ke mana lagi?
.
Setelah menyelimuti tubuh mungil Afra dan memastikannya tertidur pulas, aku bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan menunaikan salat insya. Berharap kecamuk dalam hatiku sirna, dan kembali tenang setelahnya.
Setelah menunaikan kewajiban, niat hati ingin mengistirahatkan badan, suara ketukan pintu terdengar dari luar.
"Naura, ini Mama."
"Ya, masuk aja, Ma. Enggak dikunci, kok."
Dari balik pintu yang baru terbuka, menampilkan seorang wanita paruh baya yang raut wajahnya masih sama seperti tadi, ketika menjemputku.
Sendu dengan mata tak berpendar sama sekali. Aku paham akan isi hatinya. Di waktu yang sama, juga merasa tidak berguna sebagai anak.
"Kamu sudah mau tidur?" tanyanya yang kini sudah menghempaskan tubuh di tepi ranjang.
"Iya, Ma. Baru mau tidur. Mama kenapa belum tidur? Ini sudah larut, loh?"
Mama hanya tersenyum, matanya menatap ke arahku dan Afra secara bergantian, berulang kali. Hingga sepasang tanganku sudah berada dalam genggamannya.
"Mama tahu, ini tidak akan mudah, Nak. Tapi, kamu harus kuat, kamu tidak sendirian, kamu punya keluarga, kita keluarga dan semuanya sayang pada kamu dan Afra.
Jujur, Mama sakit sekali mengetahui kamu begitu menderita selama ini. Kenapa kamu enggak pernah cerita sama kami? Kenapa kamu harus pura-pura bahagia di hadapan kita semua? Sampai sekarang Mama masih belum bisa terima, Naura! Memangnya mereka siapa berani sekali memperlakukan anakku dengan kejam seperti itu!"
Aku membawa Mama ke dalam pelukan, dan kami menangis bersama. Tak ada jawaban paling tepat yang bisa kuberikan untuk malaikatku. Memang aku yang bodoh, bertahan dengan dalih Mas Erga dan keluarganya akan berubah suatu saat dan akan menerimaku.
"Maafkan Naura, Ma. Naura sudah menyusahkan Mama dan semuanya."
"Pokoknya Mama tidak bisa tinggal diam, Naura. Mama akan menyuruh Om kamu untuk membalas mereka. Sakit sekali hati Mama sama keluarga Bu Rumana itu."
"Tapi, Ma, membalas bagaimana?"
"Sudah, tidak perlu kamu pikirkan. Kamu fokus saja sama Afra dan kesehatan kamu. Persiapkan diri dan mental kamu sebelum kita melayangkan gugatan ke pengadilan. Kamu harus kuat Nak, kamu putri Mama satu-satunya."
"Baik, Ma."
Mama mengusap punggung tanganku lembut. Matanya sibuk menelisik setiap ruas jemari, seperti memastikan jika tidak ada yamg berubah atau berkurang darinya.
"Kulitmu sedikit kasar, pakailah scrub khsuus tangan dan lotion."
Mama tersenyum kemudian berlalu setelah mencium kening Afra. Dan aku ... masih fokus memperhatikan tanganku dan baru kusadari satu hal. Ternyata banyak hal yang luput dari perhatian selama ini.
"Hehe. Demi kamu, aku sampai melupakan diri sendiri, Mas. Bod0h."
.
Aku membawa secangkir teh untuk kunikmati di gazebo. Sementara Afra sedang berada di kolam ikan yang ada di belakang rumah, bersama Kakeknya. Kata Papa, dia ingin menghabiskan waktu bersama cucunya sebelum berangkat ke restoran. Sampai-sampai Mama ngambek karena merasa diabaikan. Hehe.
Keluargaku sudah lama terjun dalam bisnis kuliner, mulai dari warung makan biasa, hingga sekarang memiliki beberapa cabang restoran yang sekarang di kelola Kak Doni. Papa hanya berkunjung sesekali saja.
Sedangkan Om Wahyu sendiri, lebih memilih menjadi pekerja kantoran. Yang kuketahui menjabat posisi penting di perusahaan milik temannya. Sayangnya, adik kesayangan Papa itu, belum berkeluarga hingga saat ini.
Bersantai di gazebo untuk menikmati segarnya pagi adalah hal yang sering kulakukan ketika di rumah Papa. Sedari dulu. Me time yang sudah lama kutinggalkan, sejak tinggal di rumah Mas Erga yang setiap harinya tidak pernah lepas dari pengawasan mertua.
Secangkir teh dan sejuknya pagi. Aku tidak sabar ingin menikmatinya. Bagian dari healing untuk diri sendiri. Aku harus mengontrol pikiranku agar tetap waras, serta fisik dan batin harus baik-baik saja. Ada malaikat kecil yang masih membutuhkan kasih sayang ibunya.
Saat pintu terbuka, cangkir teh di tanganku hampir saja mendarat di lantai.
"Mas Erga?"
Bagaimana bisa laki-laki ini sudah berada di rumah orang pagi-pagi buta.
"Naura ak—"
"Ngapain kamu di sini, Mas?"
"Aku ingin bicara," jawabnya tanpa beban sedikitpun. Ternyata laki-laki ini masih punya muka untuk ke rumah orangtuaku.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan."
"Ini tentang Afra. Bagaimana kalau dia menanyakan tentang papanya? Kamu akan menjawab apa?"
Sejak membuka mata, putriku belum sempat bertanya apapun, bagaimana kami bisa berada di tempat yang berbelok. Mungkin karena terlalu girang, karena bertemu kakek dan neneknya. Jika nanti bocah mungil itu bertanya sesuatu, entah bagaimana harus menjawabnya.
Baiklah aku tidak ingin memikirkan hal-hal yang berat sekarang.
"Itu biar menjadi urusanku, kamu tidak perlu memusingkannya."
"Tapi, Naura kita tetap butuh bicara! Pokoknya aku tidak akan pergi sebelum kita selesai bicara!"
Tingkah Mas Erga membuatku tersenyum. Entah apa yang ada dalam pikiran laki-laki ini.
"Hai, Naura."
Saat memalingkan wajah dari Mas Erga, dari jauh aku melihat seseorang yang baru turun dari mobil dan sedang berjalan ke arah kami.
Laki-laki asing itu, siapa lagi. Bahkan saat jarak kami semakin dekat, aku tetap tidak mengenalinya. Apa tamunya Papa? Tapi, kenapa pagi-pagi sekali. Jangan bilang dia juga kurang waras seperti Mas Erga.
"Hai, Naura," sapanya membuatku kaget, bersamaan saat Mas Erga yang menoleh dengan mata memicing.
"H—hai, maaf siapa, ya?"
.