bc

Menantu Warisan

book_age18+
31
FOLLOW
1K
READ
arrogant
maid
billionairess
drama
sweet
bxg
royal
enimies to lovers
lies
poor to rich
like
intro-logo
Blurb

Meminta takdir baik berpihak agar bisa lepas dari keluarga bengis yang mengincar harta warisan orang tuanya, hidup Chaerine Yujune justru dimulai ulang dari lampu merah persimpangan jalan.

Terbangun di ranjang pesakitan, Erine harus menerima keadaannya yang tak memiliki apa-apa selain nyawa dan ingatan yang rusak sebagian. Berbekal nama, usia, dan sepotong memori acak, Erine nekat mencari pekerjaan bahkan saat alamat rumahnya sendiri tak mampu diingat.

Dipertemukan dengan Malean mahendra, akankah Erine sanggup disiksa batin demi kelangsungan hidupnya yang melarat dapat bertahan?

Malean Mahendra yang perfeksionis dan mengandalkan uang di segala urusan, tak akan pernah menyangka jika pembantu pilihan ibunya adalah calon pewaris yang dulu hampir dicelakainya.

Berangkat dari rasa kasihan dan saling mengandalkan, akankah Erine dan Lean berlabuh di bahtera perasaan yang sejalan?

chap-preview
Free preview
Pertunangan Berdarah
“Huh, bising sekali.” Gadis bersurai sepinggang itu terduduk, mengucek kedua netra coklat yang baru saja terjaga. Suara riuh kendaraan yang sepertinya lebih dari satu itu mengganggu telinganya. Derap kaki gupuh dan jeritan histeris semakin menarik kesadaran gadis cantik itu. Benar sekali, dua matanya langsung melebar begitu mendapati diri berada di tengah keramaian asing. “Erine! Sayang, ke marilah!” Samar-samar, suara lembut bernada rindu itu menyusup di antara kebisingan. Itu namanya, gadis yang baru terbangun itu adalah Erine. Tapi, suara yang baru saja menginterupsinya …. “Bunda?” Segera bangkit dari tanah, Erine kemudian berlari menyibak hamparan manusia di depannya. Meliarkan jarak pandang, tak ada satu siluet pun yang Erine tandai sebagai ibunya. Meneliti dan terus mencari, bisikan lembut di telinga gadis itu terus menggiring kaki untuk berlari. Entah takut atau sakit, Erine merasa jantungnya bekerja sangat keras. Sepanjang meter yang Erine tempuh, semuanya bergelimang air mata. Gadis itu benci seperti ini, air mata adalah wujud kekuatan sekaligus kelemahan yang bahkan ia sendiri sangat hafal rasanya. Untuk apa orang sebanyak ini menangis, Erine membatin semakin kalap dalam pencariannya. Apa pula ini, mendadak suara sirene berdengung mengguncang gendang telinga gadis yang tengah kebingungan itu. Itu dia Bunda, ada Ayah juga rupanya. Secercah harapan tumbuh di paras cantik Erine, lesung pipi kanannya sampai timbul karena kepalang girang. Senyumnya semakin lebar, seiring dengan langkah yang semakin liar. Cepat, sepasang orang tua itu juga tersenyum lebar sambil merentangkan tangan ke arahnya. Tap! Sekali rem mendadak, langkah Erine terpaksa dihentikan oleh gotongan kantong oranye yang berlalu di depan matanya. Tidak mungkin! Senyum yang tadinya tergaris cantik langsung sirna, lesung pipi sebelahnya juga menghilang diguyur sebulir air dari sudut mata. Empat orang pria bermantel biru navy itu sembarangan sekali menempatkan sesosok pucat yang mirip Ayah. Siapa yang tertidur kaku dan kuyup dalam tandu tadi, bukankah Ayah sedang … eh, tidak ada? Ke mana Ayah dan Bunda yang semula berdiri di depan ruang berkaca tadi? “Ayah, Bunda! Kalian di mana?” pekik Erine dengan suara serak menahan tangis. Gadis itu benci ditinggalkan, terlebih saat harus merasa bodoh di tengah orang-orang asing seperti ini. Celingukan ke kanan dan kiri, matanya tak juga menemukan keberadaan orang tua yang sangat ia rindukan. Udara panas berembus, bangunan kaca di depan Erine mendadak mengelupas, berganti dengan jajaran helikopter yang sayap dan ekornya tampak tak utuh. Kendaraan udara di depan gadis itu memutar baling-balingnya sangat kencang. Gaun putih dan surai gadis itu sampai berkibar-kibar, tangannya menghalau debu yang sudah membungkus jarak pandang. Suara-suara yang semula begitu ramai pun mendadak senyap, menyisakan tiupan angin yang seolah akan menerbangkan tubuhnya. Zingg, duar! “Aaaa, Bunda!” Erine meremat kepala sambil terpejam, berharap kemustahilan agar pecahan baling-baling itu tak menyasar tubuh mungilnya. Duagh! “Hei, b*d*h!” Erine terjingkat, seluruh organ tubuhnya seperti dipaksa siaga dalam satu kali sentakan. Huh, apa itu tadi … mimpi? Tak ada baling-baling pesawat, apalagi Ayah dan Bunda, yang ada hanya rasa pening akibat botol air mineral yang mendarat di kepala. Memuakkan, bahkan lebih baik dirajang baling helikopter daripada bersitatap dengan iblis berkedok manusia di hadapannya itu. “Ada apa? Tante Jihan perlu sesuatu?” Erine akhirnya bangkit dari kursi, sedikit menjinjing gaun putih yang mengembang di badannya. “Ada apa, ada apa! Bisa-bisanya kamu tidur di saat seperti ini!” bentak Tante Jihan. Memangnya kenapa jika tertidur?  Erine sangat lelah setelah menyiapkan segala keperluan untuk pesta menyebalkan ini. Pesta pertunangan, lebih tepatnya pertunangan paksa. Erine yang dipaksa bertunangan, gadis itu sendiri juga yang menyiapkan semuanya. Memang aneh, tapi gadis itu tak punya kesempatan menolak segala hal yang telah diatur oleh Om Ardi, suami dari Tante Jihan. Coba saja menolak, atau gadis itu akan berakhir di dalam club malam lagi. Jangan tanya bagaimana, untung saja sepuluh tahun lalu Erine berhasil melarikan diri dari tempat durjana itu. Sekarang sudah hampir dua puluh tahun orang tua Erine meninggal. Yatim piatu sejak berusia sepuluh tahun, ia terpaksa masuk ke hunian neraka setelah rumahnya sendiri dijual oleh Tante Jihan. Padahal mereka adalah paman dan bibi Erine sendiri, tapi tega memperlakukan keponakannya lebih parah dari seorang pembantu. Tante Jihan meremas surai panjang Erine seraya mengatakan, “Cepat sambut para tamu, dasar payah! Jangan membuat malu, apalagi terlihat menyedihkan di depan mereka!” Setelah selesai dengan kalimatnya, wanita itu menghempas Erine hingga gelang emasnya gemerincing heboh. Setelah memastikan Tante Jihan meninggalkan ruang makan, Erine memperbaiki penampilannya sebentar. Sudah cantik, riasan tipis ala-ala itu semakin menambah kadar pesonanya. Kalau bukan karena desakan balas budi pada keluarga iblis yang telah menampungnya selama ini, Erine mana mungkin mau berdandan cantik untuk pria yang tak jelas asal-usulnya. Hei, perjodohan sama sekali bukan mimpi untuk gadis lulusan strata pendidikan dua farmasi itu. Pesta pertunangan diadakan di ruang tengah, dari ruang makan harus melewati lorong terlebih dahulu. Luar dan dalam rumah ini Erine sudah hafal, bertahun-tahun ia membersihkan semua tanpa bayaran. Termasuk ruang khusus yang didesain dari kayu gaharu ini, baru tadi pagi Erine bersihkan. Eh, suara milik siapa di sana? Tawa milik pria yang terdengar sangat lugas, mungkinkah itu Theo? Dengan siapa sepupunya itu berbicara? “Apa sepupumu semurah itu, 250 juta?” Tap! Sedikit terpanggil, Erine memutuskan mencuri dengar terlebih dahulu sebelum mencapai ruang tengah. Terlihat kepulan asap rokok dari celah pintu. Mungkinkah itu Theo dan … calon tunangannya? Namanya Bian, setahu Erine dia adalah teman Theo. Sepupunya itu sering membawa Bian ke rumah, tapi Erine hanya tahu tampangnya sekilas saja. Lagi pula, untuk apa gadis itu ingin tahu soal pria berandal macam mereka. Namun sialnya, pria berandal itulah yang akan bertunangan dengannya. “Hei, Bung! 250 juta itu terlalu mahal, justru di sini kamu yang paling diuntungkan,” suara Theo terdengar menjeda, “utangmu 250 juta lunas, dan mendapat perawan cantik seperti dia. Aku jamin kamu akan jauh lebih merdeka setelah kalian menikah,” imbuh pria itu dengan bangga. “Aku akan mendapat bagian warisan itu, ‘kan?” tanya pria yang menjadi lawan bicara Theo. “Tentu saja! Selesai mengurus warisan, gadis bodoh itu tak ada gunanya lagi. Mungkin kita bisa menjadi makelar untuk tubuh wow-nya itu?” Suara tawa pecah, sepertinya Theo dan Bian sangat bangga dengan rencana jahatnya. Deg! Warisan?  Erine berharap telinganya salah dengar soal itu. Setelah orang tuanya meninggal, pengacara ayahnya memang berkunjung untuk menyampaikan isi wasiat yang sudah disusun sejak Erine masih bayi. Tak jauh soal warisan, dengan syarat baru bisa diberikan setelah Erine menikah. Tunggu! Jadi …, inikah maksud mereka? Sial! Melakukan pertunangan, sama dengan mengabdi dalam jerat pesakitan seumur hidup. Bukan soal harta, tapi ia sudah membayangkan betapa jahannam kehidupannya setelah kedok hubungan rekayasa ini terjadi. Selagi cincin pengikat belum terpasang, masih legal bagi gadis itu untuk membelot. Srat, srek! “Siapa itu?” Theo langsung bersuara setelah tawanya dihentikan secara paksa. Aish, sial! Kenapa gaunnya harus tersangkut di saat seperti ini?  Peduli amat, Erine brutal menyobek gaun riyap-riyap itu hingga meninggalkan jejaknya di sudut pintu. Gadis itu langsung menuju pintu belakang, satu-satunya akses yang langsung terhubung ke jalan tanpa perlu melewati kerumunan tamu. Payah berganda, dua pria dengan setelan jas itu rupanya mengejar Erine. Gadis itu menyingsingkan gaunnya hinga betis, berkelit lincah diiringi umpatan kasar dari Theo dan Bian. Satu-satunya keberuntungan adalah sepatunya. Kebetulan Erine mengenakan sepatu flat, jadi ia tak perlu berpikir panjang soal keseleo atau semacamnya. “Chaerine, berhenti!” Astaga, itu suara Om Ardi. Entah kapan Theo mengabari ayahnya, tapi pria berbadan gempal itu bisa saja menghajar Erine jika sampai tertangkap. Ini adalah usaha kabur yang ke sekian kali setelah usaha sebelumnya selalu gagal. Kali ini Erine bersikeras untuk berhasil meski tak memiliki modal apa pun selain nyawa dan pakaian yang menempel di tubuhnya. Adegan kejar-kejaran menjadi tontonan gratis bagi khalayak yang berlalu di jalan. Terserah apa kata mereka, Erine mengerahkan seluruh tenaga untuk menghindari tiga pria yang tersisa beberapa meter lagi menjangkaunya. “Takdir baik, tolong berpihaklah kali ini saja,” mohon Erine, sungguh pasrah dalam hatinya. Gadis itu menyeberang, berharap takdir yang ia minta diawali dari lampu merah persimpangan ini. Tiiiin, brak! Ckitt! Seperti melakukan pertunjukan akrobat di depan barisan kendaraan, Erine melayang dengan gaun putihnya sebelum berakhir menimpa aspal dengan tidak etis. Senyum terakhir, Erine membayangkan kedua orang tuanya melambai dari surga. Kepalanya teramat sakit dalam sekali hantaman, kesadaran gadis itu direnggut paksa oleh simbahan darah yang mengguyur di wajah. Sempat mengerjap beberapa kali, setelahnya gadis itu tak tahu apa-apa. Mungkin inilah yang takdir pilihkan, kematian yang memutus seluruh beban. “Mampus, jangan sampai kita disalahkan! Cepat berbalik sebelum kita direpotkan oleh gadis si*l*n itu!” Dalam satu komando, Om Ardi menarik Theo dan Bian kabur dari pinggir jalan. Mungkin setelah ini mereka harus memikirkan jalan ninja untuk menghadapi Tante Jihan dan tamu undangan. Tak menyadari ingsutan tiga pria durjana itu, perhatian publik tersedot oleh Erine. Sebagian orang mengerumuni gadis itu, sisanya menggedor kaca jendela Lexus putih yang pemiliknya belum juga menunjukkan usaha pertanggungjawaban. Sebenarnya tak ada niat untuk lari, tapi dua pria yang bersitatap tegang di dalam kendaraan itu terganjal suatu alasan. “Tuan, kita harus segera menolongnya!” peringat seorang pria dengan setelan sopir, tapi tidak duduk di kursi kemudi. Tatapannya sangat risau, lebih mengkhawatirkan kondisi pria di sampingnya ketimbang korban yang saat ini masih tergeletak sekarat di aspal. Pria yang masih mencengkeram setir itu bergetar, matanya berkaca menatap cipratan darah di kaca mobilnya. “A-aku … a-apa yang sudah kulakukan?” tanya pria itu, diakhiri meremas dadanya yang mendadak terasa sesak. “Tuan Mahendra!” sentak sopir itu, menyadarkan majikannya yang menumpangkan kepala di atas setir. Publik tidak bisa menunggu lama-lama, apalagi korban yang mereka tabrak. Pria yang diduga majikan sekaligus penabrak Erine itu mengangkat wajah, menggeleng keras sambil mengelola deru napasnya. “Tidak, aku tidak bisa membiarkan ada darah selain milikku sendiri! Tidak bisa, areaku tak akan pernah dikotori olehnya!” tegas pria itu. Pria paruh baya itu sangat tahu kendala yang dialami majikannya, tapi seseorang yang diseruduk mobil mereka itu mana mungkin bisa menunggu hanya karena hemophobia seorang Malean Mahendra. ***

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook