Malean, My Phobia

1559 Words
BAB 2 : Malean, My Phobia “Minggir, beri jalan!” Sejumlah petugas rumah sakit gupuh setelah kedapatan satu pasien yang diinapkan menggunakan nama MM Group. Seperti itulah dunia bekerja, harta dan tahta menjadi patokan utama dalam beberapa urusan. Tidak semua hal, tapi rumah pesakitan itu tentu saja harus mengutamakan pelayanan untuk keluarga pemiliknya. Benarkah itu keluarga Mahendra, tapi siapa? Begitulah kiranya batin para dokter dan perawat yang menangani seorang gadis di kamar operasi. Itu Erine, gadis dengan gaun putih yang separuh dibilas darah itu adalah dia. Mengabaikan segala heran, dokter segera melakukan penanganan pada gadis mengenaskan itu. Jajaran petugas dan peralatan rumit milik rumah sakit disiagakan di dekat Erine, cukuplah kiranya menunjukkan seberapa parah gadis malang itu terluka. Syukurlah, monitor denyut jantung masih menunjukkan detak harapan hidupnya. Pyar! Terbaring disorot lingkar lampu menyilaukan, tangan terpercaya di M’Health Center mulai fokus menindak pusat permasalahan yang terletak di kepala gadis itu. Mengintip ruang VVIP nomor tujuh, seorang pria yang tak lain adalah Lean sedang bersandar penat di bahu brankar. Semua masalah kecelakaan akan segera tuntas dalam sekali komando, tapi tidak dengan keluhan pribadi milik pria itu. Keluhan berkelanjutan yang belasan tahun bersarang dalam diri Lean, phobia terhadap cairan merah yang sejatinya juga mengalir dalam tubuhnya. Untuk pertama kali dalam hidup Lean, sekalinya gegabah membawa dampak sampai separah ini. Siapa yang tak mengenal Malean Mahendra, pria perfeksionis pemilik MM Group itu bahkan sangat akrab di gendang telinga pengusaha seantero negeri. Kapok, setelah ini ia tak akan mengambil posisi sopir dalam keadaan kacau lagi. Tapi tak apa, seorang Lean tak akan meninggalkan cacat cela dalam setiap urusannya. Memang seperti itu. Lean yang tampan dan mapan, namun juga tak berperasaan. Bukan kejam, ia hanya enggan membuang tenaga untuk hal yang bisa diselesaikan dengan kekuasaan dan uang. Menurut pria itu, tidak ada orang yang benar-benar tulus kecuali ibunya. Selain itu, mereka hanya orang asing yang tak lebih dari sekadar hubungan timbal balik dengan tahtanya. Termasuk ayah Lean, sosok munafik yang menorehkan trauma sebelum suami ibunya itu berakhir dengan gelar mendiang. Di dalam salah satu ruang rumah sakit itu Lean menunggu sopirnya, Pak Liman. Pria paruh baya yang menghabiskan hampir separuh usianya di bawah naungan keluarga Mahendra itu diperintahkan untuk mengurus beberapa hal bersama sekretaris Lean. Tak berselang lama, akhirnya hening Lean dipecah dengan suara pintu yang bergeser. Dua pria yang berstatus sebagai sopir dan sekretarisnya itu menampakkan diri, sepertinya problematika kecelakaan sudah beres. “Selamat sore, Tuan.” Sekretaris yang bernama Dana itu menunduk hormat, pun dengan Pak Liman. “Apa perintahku sudah kalian laksanakan semua?” sambut Lean, tak ingin berbasa-basi bahkan sekadar menyuruh dua pekerjanya untuk duduk. Pria berkaca mata dengan setelan jas itu menjawab, “Sudah, Tuan. Privasi Anda aman bersama staf rumah sakit, pihak kepolisian juga sudah berhasil ditangani. Anda tidak perlu khawatir kejadian ini mengganggu Anda.” “Jangan lengah, aku tidak ingin hal kecil seperti ini mengotori namaku. Reputasi perusahaan tetap yang paling utama, jangan sampai berita ini bocor ke perusahaan kompetitor!” tegas Lean. “Tentu saja, Tuan. Saya jamin,” jawab Dana. Lean mengerutkan dahi mulusnya. “Seperti ada yang kurang. Bagaimana dengan keluarga korban?” tanya pria itu. “Eee, itu ….” “Aku tidak menerima kecerobohan dalam bentuk apa pun, kamu tahu itu,” sergah Lean, melototi sekretarisnya yang menunduk penuh ragu. “Maaf, Tuan. Identitas korban belum diketahui, dia tak membawa tanda pengenal apa pun,” balas Dana. “Apa perlu saya minta pihak kepolisian untuk melacak identitas korban?” cetus pria itu. Lean mengangkat sebelah telapak tangannya, lalu mengatakan, “Biarkan. Siapkan saja kompensasi yang pantas. Begitu sadar, pasti dia langsung sehat setelah menerima gepokan uang di depan mata. Lagi pula, staf administrasi bisa menanyakan identitasnya saat sudah sadar nanti.” Setelahnya, ia mengendikkan dagu sebagai kode agar sekretarisnya itu meninggalkan ruangan. “Baiklah, Tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu,” pamit Dana, hanya dibalas anggukan oleh Lean. “Pak Lim, duduklah!” suruh Lean. “Pastikan juga hal ini tidak sampai ke telinga Mama,” pria itu menghela napas, “aku tidak ingin dia berpikiran berat,” imbuhnya. Setelah mengisi kursi di pinggir brankar, dengan suara rendah Pak Liman menjawab, “Baik, Tuan. Tapi ….” “Apa lagi?” tanya Lean dengan tidak ramah. “Sepertinya wanita yang Anda tabrak kondisinya cukup parah,” ungkap Pak Liman. “Dari tampilan, sepertinya dia akan menikah. Apa kita tidak terlalu bersalah dengan membiarkan keluarganya mencari,” terang pria paruh baya itu dengan hati-hati. Lean sedikit terkejut. “Jadi, korbannya seorang wanita?” tanya pria itu. Mana mau ia melihat manusia berdarah-darah, Lean sampai tidak tahu kalau korbannya adalah seorang wanita. Pria itu terlalu sibuk mengelola diri yang hampir ambruk karena phobia yang kambuh. Ia tak peduli apa-apa, tahu-tahu telinganya disapa suara sirine ambulan dan mobilnya diambil alih Pak Liman hingga tiba di rumah sakit. “Dia seorang wanita, Tuan. Masih muda,” papar Pak Liman. “Oh, ya? Aku tidak peduli. Dia sendiri yang menyusahkan, masih baik aku urus sampai di sini,” ujar Lean, ketus nan dingin. Sudah jelas siapa yang menerobos lampu merah, tapi siapa juga yang berakhir salah. Mengetahui itu, Pak Liman memilih diam. Hendak disalahkan seperti apa pun, tetap saja majikannya adalah Tuan Muda Malean Mahendra. Pria paruh baya itu masih sayang jantungnya, tak ingin ditampar dengan kalimat-kalimat bengis dari Lean. “Apa Tuan tidak ingin memeriksa keadaan wanita itu?” tanya Pak Liman, menyerobot suasana dingin di ruang mewah itu. “Kalau kamu sudah melihatnya, untuk apa aku melakukannya lagi?” Ceklek! Seorang pria berjas putih memasuki ruangan, merogoh stetoskop dari saku jas. Di belakang pria itu diikuti satu perawat yang membawa nampan penuh wadah. “Permisi, Tuan. Bagaimana keadaan Anda?” sapanya untuk Lean, tak lupa juga tersenyum pada Pak Liman. “Sangat baik,” Lean melengos, “jika kamu tidak memasukkanku ke dalam ruang pesakitan ini, Direktur Jin,” sambungnya. “Ini juga demi kebaikan Anda. Atau mungkin Tuan ingin menempati ruangan saya saja?” canda pria yang ternyata menjabat sebagai direktur di M’Health Center tersebut. “Aku lebih suka mencorat-coret kertas daripada harus melayani orang sakit,” balas Lean. Direktur Jin tertawa, kemudian mengatakan, “Baiklah, Tuan. Sebelum mencoreti kertas, biarkan saya memeriksa keadaan Tuan terlebih dahulu.” Pria itu mulai memasang stetoskop di telinga, lantas mengode perawat yang menyertainya untuk menyiapkan catatan. “Tidak perlu repot-repot, aku baik-baik saja. Obat-obatan itu juga,” Lean menunjuk nampan di atas nakas, “aku tidak membutuhkannya,” ujar pria itu, galak. “Tapi, Tuan ….” Lean menyorotkan bola matanya begitu tajam. “Apa aku menunjukmu sebagai direktur di sini untuk bersikap kaku seperti itu? Lebih baik cari pasien sungguhan, atau paling tidak urus orang yang kutabrak tadi dengan benar,” katanya. “Sudah, Tuan. Tadinya saya ke mari sekaligus ingin menyampaikan kondisinya kepada Anda,” ucap Direktur Jin. “Maaf, Dokter. Apa dia baik-baik saja? Operasinya berjalan lancar, bukan?” tanya Pak Liman menyela. Dokter spesialis bedah itu menghela napas, dari ekspresinya tak bisa diterjemahkan apakah operasi yang dilakukan berhasil atau tidak. Seharusnya tak terlalu serius, mengingat bagaimana Direktur Jin bisa tersenyum lebar saat pertama memasuki pintu tadi. Dokter Jin menatap Pak Liman sambil mengatakan, “Operasi berjalan lancar, perdarahan kepalanya sudah berhasil kami tangani. Namun, sekarang wanita itu dalam kondisi kritis,” pria itu berganti menatap Lean, “kami masih terus memantau perkembangannya di ruang ICU.” Tanggapan yang diberikan Pak Liman berbanding terbalik dengan Lean. Menatap wajah datar sang majikan membuat pria paruh baya itu semakin merasa terbebani. Sopir itu terlalu gamblang memajang rasa bersalahnya di muka, helaan napasnya terdengar berat dan lelah. Tidakkah Tuan Lean terlalu sepele menanggapi sebuah keseriusan? “Maaf, Dok. Keadaan darurat, kondisi pasien menurun drastis!” ungkap perawat yang menyertai Direktur Jin, bergantian menatap layar ponsel dan atasannya itu dengan cemas. “Bukankah semua baik-baik saja?” Lean menurunkan kakinya dari ranjang, menuntut jawab dari Dokter Jin. “Cepat lakukan sesuatu!” gertak pria itu. “Maaf, Tuan. Saya permisi dulu,” pamit Dokter Jin, kemudian bergegas meninggalkan ruangan bersama suster. Lean meninju bantal di sampingnya. “Aish, dasar wanita merepotkan!” gertak pria itu, kemudian meremas surai hitamnya. “Tidak, aku tidak bersalah. Dia yang melompat ke mobilku, bukan aku yang menubruknya.” Berulang kali Lean menegaskan dalam hati bahwa ia tidak bersalah, tapi tetap saja tidak bisa. Ini menakutkan, seketika bayangan reputasi dan nama Mahendra membebani pundak pria itu. Banyak staf rumah sakit tahu kejadian yang sebenarnya. Meski sudah diatur untuk tidak menyudutkan Lean, tapi pamor pria itu tetap saja terancam jika sampai terjadi sesuatu pada wanita yang ia tabrak. Ini mengacau tatanan mental. Baru kali ini Pak Liman merasa tak sependapat dengan majikannya. Lean memang terbiasa menilai apa-apa dengan uang, tapi setahunya majikan muda itu tak pernah membohongi diri sampai sejauh ini. Lain dengan alur bisnis, ini menyangkut nyawa dan etika. Tidakkah Tuan Muda bisa membedakan hal ini dengan jelas? Pak Liman tiba-tiba berdiri, membungkuk sembilan puluh derajat ke arah Lean. “Tuan Muda Mahendra, dengan berat hati saya menyatakan ingin mengundurkan diri,” ucapnya, begitu serius dan dalam. “Bapak bilang apa?” tanya Lean dengan nada tinggi, air mukanya semakin tidak santai. Dalam keadaan seperti ini, bisa-bisanya pria yang sudah mengabdi selama puluhan tahun itu meloloskan kalimat yang bahkan belum pernah diperdengarkan di telinga anak keturunan keluarga Mahendra. Lean benci segala hal yang keluar jalur kehendaknya, termasuk ucapan Pak Liman barusan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD