Retrograde Girl

1518 Words
"Siapkan 200 joule!" Defribillator berulang kali dikejutkan pada Erine. Tanda vital gadis itu mengalami penurunan akibat henti jantung. Sesuai permintaan Lean, tak ada alasan bagi tim yang dipimpin langsung oleh Dokter Jin itu untuk tidak mengusahakan yang terbaik meski sekarang harapan pasien yang mereka tangani memiliki presentase kurang dari lima puluh persen. "Pasien telah kembali!" seru seorang dokter wanita yang bertugas sebagai ahli anestesi, mengabarkan kondisi terkini yang ia lihat di monitor elektrokardiograf. Terdengar embusan napas lega dari sejumlah dokter yang tergabung di dalam ruang ICU. Meski belum menunjukkan tanda kesadaran, setidaknya pasien wanita yang masih anonim di mata para dokter itu sudah kembali bernapas perlahan. "Angka saturasi mendekati jumlah normal, sepertinya pasien telah melewati masa kritis," simpul Dokter Jin. "Tetap pantau kondisi pasien, kita belum bisa mendeteksi kerusakan kepalanya sampai dia sadar," pesannya. Setelah melewati kondisi genting, mereka meninggalkan ruangan Erine. Terisalah dua perawat yang mencatat informasi vital dari gadis itu. Bak putri salju yang tertidur, gadis dengan wajah pucat dan bebat di kepala itu terbaring lemah meninggalkan sejenak beban yang selama ini dipikulnya. *** "Ingat, Pak Lim. Jika Bapak tidak kembali dalam waktu yang sudah kutentukan, aku tidak akan segan menyeret Bapak dari kampung!" peringat Lean, kemudian patah-patah melipat koran di tangannya sambil melotot. "Baik, Tuan. Saya mengerti," jawab Pak Liman. Setelah mengutarakan niat untuk mengundurkan diri kemarin, nyatanya Lean tidak benar-benar memberi izin pada abdi setianya itu untuk pergi. Satu bulan. Setelah masa cuti itu berakhir, Pak Liman harus kembali pada rutinitasnya dengan jajaran mobil mewah milik Lean. Melihat aura tegang yang menyeruak di ruang kerja Lean, seorang wanita menerobos celah pintu sambil membawa satu vas bunga lili putih yang terangkai cantik di tangannya. Usianya tak lagi muda, tapi masih bisa dianggap terlalu cantik untuk ibu tunggal seukurannya. "Lean, jangan terlalu keras pada Pak Liman. Mama tahu seperti apa setianya, beliau sudah berada di sini bahkan sebelum kamu dilahirkan," ucap wanita yang tak lain adalah Mama Diana, satu-satunya wanita yang terlihat di sekitar kehidupan Lean. Pak Liman menekuk lehernya, memberi sambutan hormat untuk nyonya rumah yang sudah dilayaninya lebih dari tiga puluh tahun tersebut. "Selamat pagi, Nyonya," katanya. "Selamat pagi, Pak." Wanita dengan potongan rambut sebahu itu tersenyum manis, kemudian meletakkan buah tangannya di sudut meja kerja Lean. Setelahnya, Mama Diana merangkul bahu putranya yang sedang duduk di kursi dengan penuh kasih sayang. "Satu bulan itu sebenarnya terlalu lama," ujar Lean. Mama Diana menggeleng, lalu menatap Pak Liman sambil berkata, "Malah seharusnya Pak Liman dapat libur satu semester. Kalau tidak salah, Bapak terakhir kali mengambil cuti sekitar dua tahun lalu saat anak Bapak menikah, bukan?" "Benar, Nyonya," jawab Pak Liman, masih setia pada posisi berdirinya. "Tidak. Aku sudah berbaik hati meluangkan satu bulan untuk Bapak, tidak ada penawaran lagi!" tegas Lean. "Kalau Pak Liman cuti, siapa yang akan mengantar Mama ke mana-mana?" tanya pria itu pada akhirnya. "Mama bisa nyetir sendiri, Sayang. Usia itu hanya angka, tapi stamina tetap jiwa muda," pamer Mama Diana seraya mengibaskan rambut red rose miliknya. Jangan salah, wanita itu memang selalu mengikuti gaya kekinian. Usianya setengah abad, tapi penampakan luarnya seperti perawan kembang. Memiliki mamanya saja sudah cukup, itulah mengapa kata kekasih tak pernah terlintas dalam benak pria perfeksionis itu. "Baiklah, Nyonya, Tuan. Kalau begitu, saya permisi sekarang. Kereta saya akan berangkat sebentar lagi," pamit Pak Liman. "Lean," Mama menepuk bahu putranya, "anterin Pak Liman ke stasiun, dong!" perintahnya. "Terima kasih, Nyonya. Saya sudah memesan taksi online," tolak Pak Liman. "Itu Mama dengar sendiri, untuk apa aku repot-repot mengantarnya," sahut Lean, kemudian bangkit dari kursi. Mama Diana menegakkan tubuhnya. "Ya sudah, Pak Liman hati-hati di jalan. Selamat berlibur, salam untuk keluarga Bapak di kampung," pesan wanita itu. "Terima kasih, Nyonya. Saya permisi dulu. Mari, Tuan." Pak Liman lantas meninggalkan ruang kerja Lean, menenteng tas hitam yang sudah dikemasnya semalam. Setelah matanya mengawal Pak Liman keluar pintu, Mama Diana kemudian bertanya, "Jadi ..., kenapa Pak Liman tiba-tiba meminta cuti?" Lean mengangkat kedua bahunya. "Mungkin memang lelah, atau rindu dengan keluarga yang sudah dua tahun tak dikunjungi," jawabnya sembari menghindari tatapan mamanya. Lean melirik punggung Mama Diana yang tangannya tengah sibuk menata map berserakan di meja. Semoga jawaban itu cukup memuaskan rasa penasaran Mama. Baik Lean maupun Pak Liman, keduanya memang tak memberi tahu wanita itu bahwa alasan sebenarnya masih memiliki kaitan dengan kecelakaan yang dibungkus kain rahasia rapat-rapat itu. "Kamu nggak ke kantor, Sayang?" tanya Mama Diana, setelah sebelumnya membiarkan hening melanda. "Hari ini aku kerja dari rumah aja, Ma. Lagi pengen santai," jawab Lean. Mungkin bukan hanya Pak Liman, tapi Lean juga. Kalau sopirnya itu memilih mengambil cuti untuk menenangkan diri, sepertinya sang majikan akan absen memegang setir mobil sampai atmosfer batinnya berada dalam status terkendali. Sebelum benar-benar berakhir di stasiun, ternyata Pak Liman menyempatkan diri untuk mengunjungi rumah sakit. Wanita yang terlihat cantik bahkan dengan bebat dan beberapa alat penunjang kehidupan itu hanya bisa ditatap dari luar ruangan berbatas kaca. "Maafkan kami, Nona. Kenapa Anda harus berada di sana saat hari bahagia Anda?" Bagaimana jika tersadar nanti, tidakkah wanita itu dan keluarganya akan menuntut? Sekarang saja pasti sanak saudaranya tengah kebingungan mencari, tapi belas kasihan saja mana sanggup melawan kehendak Lean? Pria yang sudah keriput tipis itu masih sadar untuk memikirkan nasib keluarganya daripada memilih jalan lurus dan berakhir di ranah hukum. Jadilah, Pak Liman bersembunyi di balik harta dan kekuasaan Lean juga. Selesai menamatkan paras yang terbaring di brankar itu, Pak Liman beringsut lunglai dari posisinya. Setidaknya bayangan kampung yang asri dan senyum anak istri sedikit menyemburkan udara sejuk di hati. Bersimpangan dengan beberapa petugas medis yang berlarian di tikungan koridor, Pak Liman sangat sadar jika dokter dan perawat itu memasuki ruang tempat di mana Erine dibaringkan. Tapi, apa yang harus diharapkan sekarang? Wanita itu bangun dan segala tatanan rahasia akan berantakan, atau mendoakan kematian demi keamanannya dan Lean? Meninggalkan Pak Liman yang sudah mantap menjauhi area intensif, gadis yang menjadi berita hangat di seantero gedung rumah sakit itu perlahan mengerjapkan mata, setelahnya disambut dengan sorot senter yang di arahkan ke dua pupilnya. "Nona, Anda bisa mendengar saya?" sapa seorang pria berjas putih dengan masker yang menutup di mulutnya. Erine, gadis yang terkonfirmasi telah bangun dari tidur sakitnya itu hanya mengangguk samar. Dari tampilannya mereka seperti petugas medis, tapi sedang apa mereka berkerumun seperti ini? Kepala terasa berat dan pening, apa sudah terjadi sesuatu? Tidak ada rasa selain kantuk yang teramat sangat, akhirnya Erine hanya menyimpan seluruh persoalan di dalam hati. Sejumlah aktivitas pemeriksaan segera dilakukan pada Erine. Gadis itu juga diam saja menerima guncangan brankar dan beberapa ketukan di tulang hasta dan lututnya. Sebenarnya ia bertanya-tanya mengenai penyebab yang mengantar tubuhnya sampai ke ranjang pesakitan ini, tapi kepalanya terlalu sakit untuk diajak mencerna hal mendadak seperti itu. “Segera lakukan CT Scan dan MRI!” seru suara pria sambil melepaskan alat bantu pernapasan dari mulut Erine. Dua orang yang menerima instruksi itu langsung melakukan prosedur yang perlu. Ruangan beraroma khas dengan sejumlah orang berpakaian nuansa putih itu menakuti Erine. Sungguh, ia penasaran dengan alur yang menyeretnya sampai ke tempat itu. Apalagi polah cekatan orang-orang di sekelilingnya, membuat gadis itu berasumsi buruk tentang keadaannya yang tak bisa dikategorikan baik-baik saja. “Ini hasilnya, Dok.” Seorang wanita berpakaian hijau dengan masker dan penutup kepala menyerahkan beberapa lembar kertas film. Sorot mata Dokter Jin, pria yang menerima lembaran itu tampak tak enak. Erine yang masih setengah sadar saja dapat menilai tentang sesuatu yang buruk dari isi kertas tersebut. Apa aku lumpuh, atau ada bagian tubuhku yang harus diamputasi? Apa pun itu, setidaknya bukan buta. Sembari memegang kertas hasil CT Scan, dokter pun bertanya, “Nona, bisa sebutkan siapa nama Anda?” “Erine …,” gadis itu menjeda, “Chaerine Yujune,” jawabnya. Gerak bibir gadis itu samar cenderung lemah, tapi paling tidak suara seraknya masih bisa ditangkap telinga dokter dan suster yang mencatat informasi dari gadis itu. “Baiklah, Nona Erine. Berapa usia Anda?” Setelah berpikir sejenak, gadis yang kepalanya masih menyatu dengan bantal itu akhirnya menjawab, “Dua puluh tujuh tahun.” Sejauh ini masih aman, pertanyaan yang ditujukan untuk memeriksa kesalahan otak itu sepertinya masih dijawab dengan baik. Entahlah, gadis itu tak memberi apa-apa untuk dijadikan patok penilaian. Yang dipegang hanya hasil rontgen, semoga saja tak benar-benar berdampak serius. “Kalau begitu, di mana Anda tinggal?” Tak ada balasan, Erine hanya berkedip lewat matanya yang sayu. Rumah, di mana huniannya itu berada? Seperti mengobrak-abrik paksa sebuah brankas, tak ada satu pun gambaran mengenai bangunan yang lazimnya ia miliki tersebut. “Ashh … s-sakit.” Erine merapatkan mata, mengeluhkan denyutan hebat yang bermain di kepalanya. “Nona, Nona Erine! Anda bisa mendengar saya?” Dokter Jin menepuk bahu Erine, kemudian menjalankan stetoskopnya untuk memeriksa gadis itu. “Jangan dipaksakan kalau memang tidak ingat. Tetap tenang, tarik napas perlahan,” ucapnya, sedikit gupuh melihat reaksi kesakitan pasiennya. “Amnesia retrograde, benarkah?” Erine mengikuti instruksi yang ia dengar dari dokter, mengolah oksigen dan karbondioksida yang menghidupkan paru-parunya. Amnesia … apa tadi? Suara samar milik seorang wanita itu menakuti saja. Ini hanya gurauan, bukan? Hei, sakit kepala saja mana mungkin sampai separah itu! Tapi, sakit kepala jenis apa yang sampai membuatnya tak ingat alamat rumah sendiri? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD