Love Me as Much as You Love Him

1455 Words
"Kevin, kau akan lembur hari ini?" tanya Sharon saat pagi-pagi Kevin sudah rapi dengan setelan jas hitam, kemeja biru laut dan celana hitam—tak lupa dasi biru dongker yang sudah tersimpul rapi di lehernya. Sangat keren. "Tidak," jawab Kevin singkat. Ia memakan roti panggangnya dengan santai sembari sesekali mengecek segala t***k bengek perusahaanya. "Lalu ... kau akan pergi sehabis pulang kerja nanti?" "Tidak." Sharon agak sedikit mati kutu, ia ingin mencari topik obrolan yang sekiranya tak hanya mendapat automatic answer seperti robot dari Kevin. "Kau ... mau kubawakan bekal untuk makan siang?" Lagi, tanpa repot-repot menoleh, Kevin hanya menggeleng sebagai jawaban bahwa ia menolak niat baik istrinya. "J-jika aku datang ke kantormu, apa boleh?" Akhirnya Kevin menumpukan atensinya pada Sharon sambil menaikkan satu sisi alisnya. "Untuk apa?" "A-aku akan mengantarkan makan siang." "Aku akan makan di luar bersama kolegaku,"—dan juga sekretarisku, lanjutnya dalam hati. Suasana sedang tidak mendukung untuk menyebut Eren pada Sharon atau Sharon pada Eren. Istrinya tersenyum kikuk. Kemudian dengan canggung, ia melanjutkan acara memakan rotinya dengan perlahan. "Kevin ...," panggilnya dengan suara bimbang yang kentara sekali. "Hmmm?" Kevin menyahut agak malas. Sejujurnya ia tak suka perempuan cerewet seperti Sharon—tapi ia malah tak masalah dengan lelaki cerewet seperti Eren—namun, ia harus menyahuti istrinya itu. Mau bagaimanapun, wanita ini sudah mau berbaik hati mengandung anaknya walau anak itu terbuat dari ketidaksengajaan. "Boleh aku bertanya?" tanya Sharon, sedikitnya ia meragu. "Apa?" "Apakah kau menyukaiku?" Dengan alis menukik tajam, Kevin menatap ekspresi takut-takut yang wanita itu layangkan—entah takut akan wajahnya atau dari respons dari dirinya, ia tak tahu. "Tentu." Namun tentu saja, maksud kata 'suka' dari Sharon dan Kevin itu berbeda. Sharon yang berharap lelaki itu menyukainya dalam artian cinta, sedangkan Kevin menjawab seolah pertanyaan Sharon adalah suka dalam artian kepribadian serta perilakunya yang memang disukai oleh siapa pun. Omong-omong, siapa yang tak menyukai Sharon? Ia cantik, sangat baik, lembut dan penyayang. Hanya hati Kevin saja yang bodoh malah lebih mencintai Eren. Oh, cinta memang kadang membodohi seseorang. "K-kalau kau menyukaiku ...," Sharon menunduk malu, "b-bisakah kau mencintaiku sebanyak kau mencintai Eren?" Kevin terdiam, sedangkan Sharon sedang menunggu jawabannya di seberang meja sana dengan menggigit bibir bawahnya pelan. "Maaf," kata Kevin sambil berdiri dari duduknya, "aku hampir telat. Aku berangkat dulu." Sharon hanya tersenyum getir, merasa bahwa Kevin menghindari pertanyaannya dan justru meninggalkannya dalam sebuah ketidakpastian. - Sharon tak peduli bahwa tadi suaminya bilang tak ingin dibawai makan siang. Ia rasanya sekarang sedang mengidam untuk bertemu daddy dari jabang bayinya yang baru berusia hampir dua minggu ini. Ia pikir ia hanya merindukan Kevin, tapi semakin ditahan semakin menggebu keinginannya untuk bertemu sang suami. Maka dari itu Sharon membawakan beberapa potong chiffon cake yang baru saja ia buat sebagai camilan untuk Kevin, berhubung pria yang dua tahun lebih tua itu akan makan siang bersama koleganya, jadi tak mungkin ia membawakan makanan berat. Setelah menutup tempat bekalnya, perempuan itu langsung beranjak pergi meninggalkan rumah mereka. Menaiki mobil yang telah disopiri oleh anak Pak Pierre. Sesampainya di lantai teratas kantor Kevin, Sharon hanya dapat merasakan keheningan. Tentu saja karena ruang paling atas ini hanya berisikan ruang CEO dan direktur—yang jarang hadir di kantor—alias ayah mertuanya sendiri serta sekretaris mereka. Sharon dapat melihat bahwa meja sekretaris yang berada di depan ruangan Kevin itu kosong. Harusnya Kevin dan Eren sudah pulang makan siang bersama kolega setengah jam yang lalu sebab jam makan siang telah usai dari tadi. Wanita itu tanpa banyak berpikir langsung membuka pintu ruangan suaminya tanpa perlu mengetuk—karena, hei! Dia kan istrinya. Dapat dilihatnya punggung sempit Eren yang sedang berdiri menghadap Kevin. Ia tenang saja karena masih ada meja yang membatasi tubuh keduanya, tak seperti waktu itu ... ya, meja itu kemarin adalah penumpu tubuh Eren yang sedang ditunggangi suaminya alih-alih menjadi pembatas. Oh, astaga. Rasa sakit itu muncul kembali saat melihat mereka berduaan seperti ini. Ya, tentu saja. Bagaimana perasaanmu kalau suami yang tidak mencintaimu justru berdua dalam satu ruangan bersama orang yang dia cinta? Sungguh, betapa menyakitkannya. Perempuan tiga puluh tahun yang sedang berada di ambang pintu langsung mengurungkan niatnya untuk nyelonong masuk, ia justru mendekatkan telinganya ke arah dua pria itu. Sedikitnya ia ingin mendengar percakapan keduanya yang ... entahlah, menjadi terasa sangat mencurigakan bagi Sharon. "... Jadi, itulah schedule Anda tiga hari ke depan, Pak," pungkas Eren tenang. "Ada yang ingin ditanyakan? Atau ada ingin jadwal yang Anda ubah?" Kevin mendesah pelan, tapi kemampuan mendengar bak kelelawar Sharon masih bisa bisa menangkap helaan napas itu. "Tidak ada, Eren." "Baik, kalau begitu saya izin undur di—" "Eren," panggil suaminya dengan nada rendahnya. Sial, bahkan Kevin tak pernah memanggil Sharon dengan nada yang begitu seksi seperti ini! "Ya, Pak?" "Aku merindukanmu." Mendengar hal itu, Sharon meremas gagang pintu pelan-pelan. Ia tak dapat melihat ekspresi suaminya karena badan Eren menutup pandangan pria itu. "Jika tidak ada hal penting lain yang ingin Anda sampaikan, saya akan kembali ke ruangan sa—" "Eren, majulah." Pria mungil itu menggeleng tanpa beranjak sedikit pun dari posisinya. "Kubilang maju atau kau kupecat," ancam Kevin dengan segala kekuasaannya. "Pecat saja," jawab Eren sangat ringan. "Bukankah aku sudah memberikan surat pengunduran diriku yang tak kau acc-acc?" Kevin sekali lagi mengembuskan napasnya berat. Hingga tiba-tiba ia menyeringai lebar di hadapan Eren. "Jika kau keluar dari sini, kupastikan tak ada surat referensi kerja yang akan dikeluarkan dari perusahaan ini. Juga, aku akan memblokir aksesmu pada seluruh perusahaan di negara ini untuk tak menerimamu." "Kau selalu seenaknya sendiri!" bentak Eren murka. Lelaki itu pasti tertekan sekali dengan ancaman yang Kevin berikan. "Aku mau sedikit egois," ucap Kevin. "Maka dari itu, kembalilah padaku. Kita lupakan semua masalah kita. Ini hanya tentangku dan dirimu." Sharon merasakan matanya memanas. Ia ingin mendapatkan paksaan posesif seperti itu, ia ingin diberikan ucapan manis penuh cinta seperti itu dari Kevin. Ia menginginkannya, sangat. "Apa kau sudah tak waras?" Si mungil bertanya dengan ekspresi tidak percayanya. Ia pikir beberapa waktu ini Kevin memikirkan kesalahannya, alih-alih kembali bersikap serakah karena menginginkannya kembali. "Bahkan istrimu sedang hamil sekarang, Ya Tuhan!" "Kubilang ini hanya tentang kau dan aku, Eren!" Si dominan mendesis dengan nada penuh mengintimidasi. "Lupakan Sharon dan jabang bayinya. Aku hanya mencintaimu." Dapat dilihat Sharon bahwa tubuh Eren bergetar dengan tangan mengepal kuat di sisian tubuhnya. "Kau benar-benar berengsek!" "Kau tahu, Eren? Dari kecil aku selalu mendapatkan semua yang aku inginkan ...," Kevin terkekeh pelan, "... dan mendapatkanmu adalah kesulitan yang aku nikmati sampai sekarang." Eren maju selangkah, menarik kerah Kevin kasar. Ia ingin sekali menonjok wajah Kevin sampai babak belur, ia rasa itu adalah sesuatu yang menarik demi melawan ke-otoriter-an pria yang beberapa bulan lebih tua darinya itu. "Kau ...." Bukannya takut, Kevin justru tersenyum bagai i***t. "Kau cantik sekali jika memandangiku seperti itu. Aku jadi tegang." "AH!" pekik Eren tatkala mendadak Kevin memegang kedua pinggulnya dan mengangkatnya menaiki meja kerja bosnya itu seperti bayi yang didudukkan oleh orang tuanya. Eren kaget, lebih kaget lagi Sharon yang melihat pemandangan itu. Ia juga ingin diposisikan sebegitu intimnya. Ya Tuhan, Eren sampai linglung antara bobot tubuhnya yang terlampau ringan atau Kevin saja yang terlalu kuat. Dirinya bengong tanpa menyadari tahu-tahu dirinya sudah berhadapan sangat dekat dengan Kevin, tanpa halangan. "Eren, pria cantikku," bisik Kevin sambil memeluk Eren. Pria tinggi itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher si mungil, menghirup dalam-dalam aroma favoritnya. "Aku merindukanmu. Aku benar-benar sudah gila karenamu." Eren yang tersadar langsung mendorong d**a bidang itu kuat, yang mana menimbulkan jarak sekitar se-hasta bagi keduanya. "Kevin, kumohon lepaskan aku. Kembalilah pada keluargamu, berbahagialah dengan mereka." Sharon tanpa sadar meneteskan air matanya. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan guna menahan isakan. Ia sedikit terenyuh, Eren itu adalah orang baik yang terjebak cinta pria iblis seperti Kevin—termasuk dirinya. "Aku tak bahagia!" teriak Kevin hingga suaranya menggelegar memenuhi ruangan, membuat Eren tersentak kaget di atas meja. "Sepuluh tahun bersamanya, tanpamu ... aku tak bahagia! Aku tak mencintai Sharon, Eren. Tak bisakah kau mengerti?!" Sharon merasakan air matanya menderas. Ia meremas dadanya yang sakit dengan keras. Rasanya mendengar teriakan itu dari Kevin seperti ditusuk ribuan pisau di dadanya. Sakit sampai-sampai ia sesak tidak bisa bernapas. "Itu karena kau tak mencoba!" Pria mungil itu balas berteriak. Ia muak dengan lelaki di hadapannya ini, sungguh. "Kau terlalu berengsek, egois, jahat, keras kepala, b******n, sial—hmph!" Cukup sudah! Seharusnya Sharon tak memaksa datang ke sini sehingga ia tak perlu mendengar percakapan menyakitkan ini. Perempuan itu memalingkan wajahnya dengan tetesan air mata yang kian menderas ketika terdengar lenguhan atas ciuman panas yang Kevin berikan pada Eren. Rasanya sangat menyakitkan. Lagi-lagi pemandangan ini yang harus ia dapatkan. Ia kecewa dengan Kevin, pun dengan dirinya sendiri. Ia harusnya melabrak keduanya—bukannya lari memasuki lift dengan wajah bercucuran air mata seperti ini. Bodoh, sungguh bodoh kau, Sharon. Wanita itu terisak keras di dalam lift yang kosong, merasakan cinta pertamanya yang tragis bersamaan dengan rumah tangganya yang hancur—pun hatinya yang ikut melebur. Kevin, apakah kau benar-benar membenciku sampai-sampai kau tak bisa mencintaiku? Aku hanya ingin merasa dicintaimu seperti Eren yang kau cintai. Bisakah ... kau mencintaiku sebesar kau mencintainya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD