Everything's Seems So Broken

1026 Words
"Kau harus bersamaku," Kevin menekankan tiap kata dalam kalimatnya, "kau tak punya pilihan lain." Lelaki itu menggeram di akhir ucapannya. "Ah! Gaaah!" Tubuh Eren berguncang seiring dengan hentakan pinggul Kevin yang keras di bagian selatannya. Ia menggelengkan kepalanya ke kanan-kiri guna melepaskan diri—yang sebenarnya tak berpengaruh apa-apa. Wajah lelaki mungil itu sudah memerah banjir air mata. Ia diperkosa, tapi ia malah menikmatinya seperti jalang. Ia menyukai tiap hantaman kejantanan Kevin pada prostatnya, padahal di awal ia meronta tak ingin ada ciuman. Tapi, lihat sekarang! Bahkan ia sudah berada di kungkungan pria itu dengan p***s besarnya yang menyodok analnya kasar. Ia tak menginginkan ini, sungguh. Tapi tubuh bodohnya ini justru terpasrahkan dengan mudah. "Ah, Eren cintaku, kau sungguh nikmat." Si tinggi mempercepat tempo genjotannya, merasakan kelelakiannya diremas oleh rektum Eren yang sempit. Ia menyukai jepitan yang Eren berikan, ia menyukai betapa indahnya tubuh telanjang Eren, ia lebih menyukai ekspresi frustrasi penuh air mata Eren seperti ini. Semua yang ada pada Eren sangat menggairahkan baginya-apalagi dengan desahannya itu. Yang lebih muda menggeleng, berusaha tak menikmati. Ia tak mau seperti ini. "Lepas—le-lepashkan—ah! Aah! C-cukup ... a-akuh—ugh!" ujaran bercampur desahan itu semakin menyenangkan bagi Kevin. Kevin menurut, ia mengeluarkan kejantanannya pada Eren yang tengah menungging memunggunginya, persis seperti ketika pertama bercinta. Namun, alih-alih melepas Eren, lelaki bongsor itu justru membalikkan tubuh Eren sehingga menghadapnya. Ia menaikkan tubuh lelaki yang melemas itu di atas meja, membuka kedua kaki pria itu lebar-lebar untuk menampilkan kerutan merah kecil di bagian bawah pria kecil itu. "Angh!" pekikan serak terlalu banyak berteriak dan menangis itu seketika keluar ketika kemaluan Kevin kembali menghujamnya. Ia merasa Kevin dapat menjangkau lubangnya lebih dalam daripada posisi yang sebelumnya. "H-hentikan, sudah! Ke-Kevin—nyaaah!" Eren menjerit keras ketika ia memuntahkan spermanya sehingga mengotori kemeja biru laut Kevin. Tubuhnya melemas, hingga tergeletak dengan napas memburu di atas meja berlapis kaca milik sang bos. Eren sangat kepayahan dengan ini semua, ia sudah berjam-jam ditunggangi Kevin dari kira-kira jam setengah satu sampai sekarang matahari sudah nyaris tenggelam. Ia sudah lemas sebab terlalu banyak keluar, terlalu banyak menangis, menjerit dan digempur habis-habisan. Ia lelah. Fisik dan batinnya lelah. Saat ini ia hanya bisa menangis dengan tubuh yang terus dilecehkan oleh lelaki gila yang tak pernah merasa puas ini. Ia benci Kevin, ia benci dirinya yang lemah. Dengan mudahnya ia kembali berada di bawah kuasa lelaki itu. Dengan napas tertahan serta kejantanan yang kian membesar di dalam tubuh Eren, pria itu menyerukan nama Eren sambil mendesah kuat-kuat, "Kau milikku, Eren." Dan laki-laki itu memasukkan penisnya semakin dalam, mengeluarkan spermanya sebanyak mungkin di dalam lubang hangat Eren. "Aku mencintaimu!" Tubuh Eren mengejan dengan mata terpejam tatkala prostatnya ditekan kuat-kuat untuk pada akhirnya ia merasakan cairan panas yang memenuhi lubangnya, mengalir keluar hingga ke pahanya. Ia merasakan pandangannya mengabur, entah karena diberi gelombang kenikmatan atau karena terlalu banyak air mata yang berkumpul di pelupuk matanya. Pria kecil itu merasakan tubuhnya melemas hingga sebelum kesadarannya terenggut, ia berbisik, "Aku membencimu ..., Kevin." Diiringi dengan air mata yang menetes ke arah telinganya. Ia pingsan. - "Papa, Papa tak apa-apa?" Suara khas anak-anak yang sangat familier di telinga Eren langsung menyapa di saat matanya mengerjap pelan guna membiasakan matanya dengan cahaya lampu yang berada di ruangan ini. "E-Emer?" "Papa, minum dulu," titah Emer sambil berusaha membantu Eren untuk duduk sekaligus mengambilkan air putih yang berada di atas nakas kamar mere—tunggu, kamar siapa ini? "Kita di mana, Sayang?" tanya Emer dengan bingung. "Ini di apartemen P-Paman Kevin," jawab anak itu sedikit sungkan menyebut nama itu. Keduanya sudah berjanji untuk tak membahas atau mengganggu mantan daddy-nya, tapi di saat ia dijemput dari day care dengan keadaan papanya yang pingsan, ia seketika melupakan janji mereka. "Papa kenapa?" tanya Emer lagi. "Tadi papa pulang diantar dad—maksudnya Paman Kevin dengan keadaan pingsan. Emer jadi khawatir!" Bibir anak itu mengerucut lucu hingga membuat Eren terkekeh lemas. "Papa tidak apa-apa kok, Emer." Tidak, itu bukan Eren yang menjawab. Namun, seorang pria tinggi dengan nampan berisikan mangkuk berisikan sup yang masih mengepul, segelas air putih, dan obat-obatan itu tiba-tiba menginterupsi percakapan antar ayah dan anak itu. "Emer, sudah jam sepuluh malam. Emer tidurlah di kamar sebelah, kamar Emer sudah daddy siapkan. Biar papa makan dan lanjut istirahat ya, Jagoan?" Eren ingin menolak dengan keras, tapi tubuhnya masih terlalu lemas. Entahlah, ia jadi sering jatuh sakit akhir-akhir ini. Emer mengangguk ragu sambil menatap papanya, "Pa-Papa ... hari ini kita ingkar janji dulu, ya? Hari ini kita merepotkan Paman Kevin dan mengganggunya dengan keluarganya lagi," ujar Emer polos, sedangkan Eren hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Anaknya ini benar-benar .... "Kenapa sedari tadi Emer memanggil paman? Panggil daddy, Emer," protes Kevin sambil menatap Emer dengan dahi berkerut tak suka. Wajah anak berusia tujuh tahun itu mendongak menatap Kevin, untuk kemudian menunduk sendu. "Paman sudah bahagia bersama Tante Sharon dan adik bayi. Kami tak boleh mengganggu kebahagiaan Paman. Dan ... karena Paman memiliki keluarga lain, jadi Paman b-bukan ... daddy-ku lagi." Kevin tercengang mendengar penuturan bocah itu, ia merasakan sakit di hatinya yang teramat dalam. Ucapan anak polos itu benar-benar menggores hatinya. "E-Emer ...." "Ah, jam tidurku sudah terlewat," pekik anak itu sambil menatap jam yang terpasang di dinding kamar. "Emer mau tidur dulu, Paman, Papa. Selamat malam!" Emer pun keluar dari kamar, meninggalkan sepasang anak Adam yang diliputi kecanggungan luar biasa. "M-makanlah dulu," pinta Kevin sembari menampilkan senyum manisnya. Eren tak bergeming. Dirinya hanya memasang wajah tembok lurus-lurus tanpa perlu menatap pria yang sedang memegang mangkuk sup, ia tak ingin berbicara apa pun. "Maafkan aku karena menyakitimu, Sayang," bisik Kevin sedikit menyesal. Oh, omong-omong pria tinggi ini tak menyesal karena memaksa Eren. Ia tak menyesali hal itu, ia hanya menyesal dengan sakit fisik yang dirinya torehkan pada kekasih hatinya. "Aku mau tidur." Dan Eren pun langsung membalikkan tubuhnya dan membungkus badannya dengan selimut tebal kepunyaan Kevin. Ia memunggungi Kevin yang menatapnya sedih. Sedangkan Kevin hanya membuang napasnya ketika dirasakannya Eren merajuk-padahal Eren benar-benar marah bukannya merajuk seperti bocah. Kevin pun memilih mengalah. Ia menaruh kembali sup itu di nampan atas nakas, juga langsung menyusul Eren memasuki selimut itu. Memandangi punggung sempit sang kekasih dan mendekatkan tubuhnya ke pria mungil itu untuk kemudian mendekap si pendek dengan kehangatan yang dalam. "Aku mencintaimu, Eren." Dan ia merasakan tubuh Eren bergetar, diiringi dengan isakan pelan. Membalas ucapannya dengan lirihan penuh dengan kesakitan. "Aku benar-benar membencimu, Kevin."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD