Mereka semua duduk dengan rapi saling berhadapan, di samping Nata ada Sisil tentu saja. Sepertinya Nata konsekuen dengan apa yang telah dia bicarakan, Nata tidak akan membiarkan mahasiswa magang itu berdekatan dengan Sisil.
Mereka memesan makanan dan minuman yang akan mereka jadikan penambah tenaga untuk beberapa jam ke depan.
"Terimakasih Pak Nata sudah mengajak kami makan siang di sini," ucap Mita tersenyum.
"Tidak masalah, kalau kalian senang kan kinerja kalian juga bagus," jawab Nata santai.
Dia tidak akan miskin begitu saja meskipun membayari seluruh pegawai perusahaannya makan siang. Tapi hatinya masih saja kesal atas perilaku Sisil yang berani berdekatan dengan bocah tengik bernama Ares.
"Lagipula, dengan seperti ini kita bisa lebih dekat. Saya ingin tahu pribadi kalian dari dekat. Kan kalau pegawai merasa diperlakukan dengan baik, pekerjaan mereka akan baik juga ke depannya," lanjut Nata dengan bijak.
Sisil melirik Nata, wanita itu mendengus. Bisa saja lelaki itu untuk menarik perhatiaan para pegawai di sana.
"Kalau begitu ajak kita makan siang bersama satu minggu sekali dong Pak, digilir gitu dari divisi satu ke satunya lagi," usul Sisil sengaja untuk merepotkan Nata.
Para pegawai divisi keuangan mengangguk setuju. Ide Sisil memang ada benarnya juga. Karyawan perusahaan Dirga Company jarang makan bersama di luar kantor kalau tidak ada moment khusus.
"Iya Pak, itu ide yang baik," jawab mereka menyetujui usulan Sisil.
Nata menoleh ke arah Sisil, mata lelaki itu melotot garang. Sisil tersenyum geli melihat tatapan wajah lelaki itu. Sisil tahu, itu bukan permintaan besar, tapi bagi Nata yang memiliki jadwal padat dengan segudang pekerjaan itu merupakan permintaan yang sangat sulit untuk dikabulkan.
Terkadang, untuk makan siang saja Aneta harus membelikan makan Nata untuk dimakan di dalam ruangannya.
Sisil bisa berkaca dari Nata, bahwa calon penerus harus siap menghadapi segala keadaan untuk mempertahankan eksistensi dan juga harga saham perusahaan agar tidak mengalami guncangan dari dalam maupun luar.
"Akan saya pikirkan ide Cecilia, asalkan Cecilia yang mengaturnya saya tidak masalah," jawab Nata tersenyum.
Sisil mendengkus, ucapan Nata terasa begitu manis. Padahal lelaki itu secara terang-terangan tengah meluncurkan aksi balas dendamnya kepada Sisil, meminta wanita itu turut serta pada setiap makan siang yang akan diadakan satu minggu sekali per divisi.
"Pak Nata ini baik sekali ya," puji karyawan yang lain.
Baik sekali? Sisil rasanya ingin muntah seketika itu juga mendengar pujian yang dilontarkan untuk Nata. Mereka hanya belum tahu bagaimana kelakuan Nata yang sebenarnya.
Baik dari mananya? Lelaki itu mengancam Sisil, memaksa wanita cantik itu agar bersedia menjalin hubungan dengan Nata, memberikan perintah secara paksa agar Sisil berkenan diantarkan pulang ke rumah.
"Saya punya satu pengumuman penting yang harus kalian ketahui," ucap Nata membuat para pegawainya menatap Nata dengan penuh tanya.
Nata menggenggam tangan Sisil, sontak para pegawai divisi keuangan langsung menutup mulut mereka karena terkejut.
Kode itu, apakah Nata dan Sisil memiliki hubungan spesial? Sisil membelalakkan matanya tidak percaya atas sikap Nata yang tiba-tiba berubah menjadi romansa seperti ini. Harusnya Sisil curiga, lelaki itu mana pernah melakukan sesuatu tanpa membuat dirinya sendiri merasa diuntungkan.
"Saya dan Cecilia baru saja jadian, kami resmi pacaran," ucap Nata mengelus punggung tangan Sisil, membuat wanita itu tidak bisa berkata-kata lagi.
Jantung Sisil berpacu begitu kencang, dadanya bergemuruh. Pemilik manik mata coklat terang itu mengerjapkan matanya berkali-kali, mencoba mencerna setiap kata yang baru saja keluar dari bibir Nata.
Seluruh pegawai di sana bertepuk tangan, mereka memberikan selamat kepada Nata dan Sisil yang sudah meresmikan hubungan mereka.
Sebenarnya di belakang Sisil, para rekannya sudah menebak ada yang tidak beres dengan keduanya. Keanehan sikap Sisil dan Nata satu sama lain, juga kesediaan Nata turun langsung ke ruangan mereka untuk memberikan tugas yang mereka yakini hanya sebuah alibi untuk bertemu Sisil.
Sisil menginjak kaki Nata, Nata meringis kesakitan karena injakan heels wanita itu dikakinya. Mungkin setelah ini Nata akan membuat larangan untuk pegawai wanitanya agar tidak memakai high heels saat di kantor.
**
Mita mengejar langkah Sisil yang sengaja berjalan lebih cepat untuk menghindarinya. Mita berteriak memanggil nama Sisil ketika mereka baru saja sampai di divisi keuangan.
"Elo utang penjelasan ke gue!" ucap Mita kesal karena tidak tahu apa-apa tentang sahabatnya.
Sisil berhenti, memutar kepalanya menatap sahabat baiknya.
"Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Kami tidak memiliki hubungan apapun," sergah Sisil.
"Apanya yang tidak, Pak Nata bilang kalian jadian! Semua orang mendengarnya dengan jelas, Cecilia!" hardik Mita kesal.
Mita merasa sahabatnya tidak berbagai kabar baik dengan dirinya, padahal Mita adalah orang pertama yang akan mendukung jika memang Sisil dan Nata menjalin hubungan selayaknya wanita dan pria dewasa pada umumnya.
Si lelaki berparas tampan, kaya, dan juga pintar. Kemudian si wanita memiliki kecantikan paripurna, cekatan, pandai berbicara, serta mudah bergaul dengan lingkungan sekitar. Keduanya merupakan pasangan serasi, dan layak mendapatkan pujian sepanjang jalan kenangan.
"Iya jadian, sejak pertama kali kita ketemu. Dan itu terpaksa, aku tidak mengiyakan permintaannya," sahut Sisil menjelaskan.
"Whattt? Pertama kali ketemu?" pekik Mita terbelalak karena penjelasan dari Sisil.
"Sudah puas?" tanya Sisil memutar bola matanya.
Sisil mengangkat tangannya ketika Mita hendak membuka mulutnya kembali. Pertanda wanita itu enggan menjawab lebih rinci pertanyaan dari Mita.
"Close order, Mbak," ucap Sisil, pertanda bahwa wanita itu tidak menerima pertanyaan apapun dari Mita.
Baru saja Sisil menyalakan kembali laptopnya, panggilan telepon untuknya membuat Sisil mendesah.
"Hallo, dengan Cecilia Fanyandra di sini?" kata Sisil dengan berat hati.
"Aku kesulitan membaca sheet laporan, bisa kamu datang ke ruanganku sekarang?" tanya Nata di sana.
Sisil menghembuskan napas lelahnya, Nata memang ahlinya membuat mood Sisil berantakan bukan main.
"Nanti, jam tiga. Saya masih ada deadline pekerjaan yang harus aku urus. Bye!" jawab Sisil menutup panggilan telepon.
Sisil merebahkan punggungnya di kursi kerjanya, lelaki itu memang juaranya memberikan pekerjaan tambahan kepadanya. Mungkin jika ini terus terjadi, Sisil lebih baik jadi pengangguran sukses daripada harus berhadapan bos sintingg seperti Adinata.
Tidak terasa, Sisil berkutat dalam pekerjaannya sudah dua jam berlalu. Sisil menatap jam laptopnya yang menunjukkan pukul tiga lebih lima belas menit. Ck, Nata pasti akan mengomel tidak karuan karena dia terlambat.
Sisil meregangkan otot-otot tubuhnya, seharusnya Sisil bisa hidup mewah tanpa harus bekerja keras seperti sekarang. Tapi Sisil tidak suka mengandalkan harta orang tuanya.
Sisil segera melangkahkan kakinya menuju ke lift untuk sampai di lantai ruangan Nata berada.
"Bu Cecilia?" panggil Ares melambaikan tangannya melihat Sisil yang baru saja keluar dari lift.
"Dia tidak merepotkan kan Aneta?" tanya Sisil pada Aneta yang menatapnya.
"Tidak Bu, dia pandai menyerap ilmu yang saya ajarkan," jawab Aneta diangguki Sisil.
"Pak Nata ada di dalam?" ucap Sisil basa-basi.
Sisil sudah tentu tahu jawabannya, Nata pasti ada di dalam sana sambari menanti kedatangan Sisil.
"Ada Bu, sudah ditunggu sejak tadi," tutur Aneta mengedipkan matanya.
Sisil mengetuk pintu ruangan Nata sebelum membukanya. Salah satu etika yang selalu dia jaga untuk menghormati atasannya.
"Masuk," ucap Nata dari dalam.
Sisil masuk menghadap Nata, mata mereka saling bertemu satu sama lain. Nata mengulum senyumnya tatkala hatinya merasa damai usai melihat Sisil berada di depannya.
Tidak melihat wanita menggemaskan itu membuat Nata merasakan kegundahan abadi.
"Apa yang bisa saya bantu Pak?" tanya Sisil.
"Kamu telat dua puluh menit delapan belas detik," ucap Nata dengan mengamati jam tangannya.
"Maaf Pak, saya banyak tugas di divisi saya," jawab Sisil jujur.
Nata tahu wanita itu tidak berbohong, karena Nata mengamati Sisil dari CCTV yang terhubung di laptopnya. Sisil benar-benar fokus dengan pekerjaannya, wanita itu berkali-kali terlihat mengubah posisi duduknya menandakan kepenatan yang tengah Sisil rasakan.
"Ini." Nata menyerahkan laporan keuangan kepada Sisil. Sisil mengambil laporan itu dan duduk di sofa ruangan Nata.
"Kesulitan Pak Nata ada di bagian mana?" pungkas Sisil menaikkan satu alisnya.
"Jangan berbicara formal ketika kita hanya berdua, kamu tidak lupa kan?" tanya Nata menaikkan satu alisnya.
Tentu saja Sisil tidak lupa, Nata akan menciumnya sembarangan jika dia memanggilnya 'Pak atau Bapak' saat mereka berdua saja, mengesalkan!
"Mana yang menjadi kesulitanmu?" tanya Sisil santai, membuat Nata tersenyum.
Nata duduk di samping Sisil, lelaki itu menunjuk bagian yang menurutnya janggal. Sisil menyerngit membaca laporan itu. Dari satu kali pandangan saja Sisil dapat menemukan kejanggalan dalam susunan pembukuan.
"Kayaknya mulai salahnya di sini Pak," ucap Sisil menoleh kearah Nata, menunjuk bagian yang menurutnya salah.
Cup! Nata mencium bibir Sisil. Mata Sisil terbelalak saat sentuhan lembut bibir Nata menyapu bibirnya. Tubuh Sisil menegang seketika itu juga.
"Itu hukuman karena melanggar kesepakatan kita," ucap Nata mengedipkan matanya.
"Jangan menyiumku sembarangan, atau aku keluar nih?" ancam Sisil dengan wajah memerah.
"Oke-oke tidak akan lagi, tapi kalau izin denganmu kamu perbolehkan tidak?" tanya Nata menggoda Sisil.
"Pak Adinata Dirga Pratama!"
Mati kau Sisil!
Nata tersenyum penuh kemenangan kearah Sisil, lelaki itu menarik tubuh Sisil hingga jarak keduanya sangat tipis sekali.
Sisil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Aku tidak akan menciummu sembarangan, kan aku sudah bilang," ucap Nata membuat Sisil melepaskan tangannya dari mulut.
Cup!
"Nataaaaaaaaa, aku akan membunuhmu!" pekik Sisil marahhh memukul Nata dengan marah.
Nata mengaduh kesakitan, lelaki itu menangkis tangan Sisil namun selalu kalah gesit dari wanita itu. Sisil juara taekwondo saat SMP dulu, jangan remehkan wanita itu.
"Ampunnn-ampun, aku menyesal," ucap Nata menyerah.
Nata menggenggam kedua tangan Sisil, Nata menarik Sisil ke dalam dekapannya. Mata mereka saling memandang satu sama lain. Bahkan keduanya mampu mendengar degup jantung di antara mereka.
*Hello pecinta Love You Boss...
Jangan lupa tekan love dan tinggalkan komentar.
Ditunggu ya teman-teman.*