Suasana terasa mencekam di dalam ruangan divisi keuangan. Kedatangan CEO tampan mereka secara mendadak menciptakan ketegangan di seluruh penjuru ruangan. Lelaki itu mengedarkan pandangannya.
Netra Nata menatap lurus ke arah meja Sisil berada. Wanita itu tampak berdekatan dengan mahasiswa magang yang diketahui Nata bernama Ares. Mahasiswa tengil yang berani mendekati wanitanya.
Berani sekali bocah tengik itu berdekatan dengan bidadari hatinya! Nata tidak akan membiarkan mahasiswa bernama Ares melancarkan aksi mendekati Sisil.
"Kau, mulai sekarang magang dengan sekretaris pribadiku!" ucap Nata menunjuk Ares yang saat ini menatapnya bingung.
Ares menganga tidak percaya, bos besar perusahaan Dirga Company datang secara langsung menyambangi divisi keuangan tempat di mana Ares ditempatkan.
Mereka semua yang ada di sana langsung saling menatap satu sama lain. Bahkan dari mereka ada yang saling berbisik mendengar pernyataan yang keluar dari mulut CEO mereka.
Mendapatkan kebungkaman tanpa jawaban dari mahasiswa magang, Nata menjadi semakin kesal bukan kepalang. Andai saja dia tidak sedang menjaga kehormatannya sebagai pemimpin perusahaan, mungkin Nata lebih baik meminta Ares melakukan pekerjaan selayaknya office boy.
"Mengerti kamu?" tanya Nata dengan nada tegas.
"Me-mengerti Pak," jawab Ares mengikuti perintah Nata.
Sisil menaikkan alisnya, kenapa Nata berlaku seperti itu? Apa karena Nata anak pemilik perusahaan jadi dia bisa seenaknya saja dalam memberikan perintah.
"Kenapa dia harus dipindahkan bersama Aneta? Bukankah sudah jelas apa jurusan mereka yang magang di sini?" tanya Sisil menyuarakan pendapatnya.
Nata menatap Sisil, pandangan mereka bertemu. Bahkan pandangan keduanya mampu meremukkan satu sama lain jika tidak ada yang mengalah sama sekali.
Wanita itu tidak gentar sekalipun semua mata menatap ke arahnya. Sisil hanya menegaskan kepada Nata bahwa mahasiswa magang sudah dibagi sesuai dengan jurusan mereka saat menempuh pendidikan.
"Cecilia!" seru Bu Mina menyadarkan Sisil untuk tahu batas sebagai pegawai di sana.
"Saya pemimpin perusahaan di sini, saya berhak memberikan perintah selagi itu tidak mengambil atau mengurangi hak para pegawai saya," jawab Nata tidak mau kalah.
"Lalu apakah Bapak memberikan kami hak atas privasi kami?" cetus Sisil mengskak matt Nata.
Mata Nata berkilat terkejut, bisa turun derajatnya jika Sisil menyebutkan kelakuannya yang sering memantau Sisil dari CCTV. Kali ini Nata harus rela mengalah dan meredakan egonya demi menjaga martabatnya selaku CEO perusahaan milik keluarganya.
"Cecilia, jaga batasanmu!" hardik Bu Mina.
Untunglah, ucapan Bu Mina mampu membuat Sisil berhenti menatap Nata dengan menantang. Nata berjanji akan memberikan Bu Mina sedikit bonus di akhir bulan nanti karena menyelamatkan harga dirinya.
Bukan karena Nata tak mampu menjawab ucapan Sisil, lelaki itu hanya berpikir menyelamatkan kehormatannya sebelum Sisil membongkar kelakuannya menjadi stalking rahasia wanita cantik tersebut.
"Saya minta maaf Pak atas sikap Cecilia," ucap Bu Mina meminta maaf atas sikap Sisil kepada Nata.
"Kamu, ikut saya sekarang juga!" tunjuk Nata kepada Ares.
Ares mengangguk, dia mengemasi barang-barangnya. Mahasiswa magang itu terlihat sangat patuh dan pasrah dengan perintah yang Nata berikan padanya.
"Cecilia, kamu ikut saya ke ruang disipliner!" ucap Bu Mina membuat mata Sisil terbelalak.
Kenapa dia yang mendapatkan sanksi? Seharusnya Nata yang tidak masuk akal dalam memberikan larangan ataupun perintah kepada bawahannya, mendapatkan teguran dari komite disipliner perusahaan. Enak saja mereka tebang pilih, hanya berani memberikan sanksi kepada para karyawan yang menyuarakan pendapatnya.
Berbeda dengan Sisil yang masih mendumel tidak terima atas ketidakadilan itu, Ares hanya mengikuti langkah kaki Nata menuju lantai di mana ruangan Nata berada.
"Kamu mau ke mana?" tegur Nata saat Ares hendak masuk ke dalam list exsecutif.
"Maaf Pak, bukannya Bapak meminta saya mengikuti Bapak?" tanya Ares bingung.
"Naik lift karyawan saja, ini khusus petinggi perusahaan!" ujar Nata menatap Ares bengis.
Ares mengangguk mengiyakan, lagipula memang kesalahannya sudah lancang masuk ke dalam lift yang bukan diperuntukkan untuk karyawan di sana. Nata segera menutup lift, menekan tombol di mana ruangannya berada. Nata masih merasakan kesal bukan main, lelaki itu tak bisa meredakan api amarah di dalam hatinya usai mengawasi kegiatan Sisil dan Ares selama mereka duduk berdampingan.
Tak lama setelahnya, mereka akhirnya sampai di depan ruangan Adinata Dirga Pratama.
"Kamu, sekarang berada dalam pengawasan Aneta," ucap Nata.
"Baik Pak, saya mengerti." Ares mengangguk mengiyakan. Lagipula yang memerintahkan dia adalah pemimpin utama perusahaan di mana dia dan rekannya lain magang guna menyelesaikan mata kuliah magang.
"Hem ... bagus kalau kamu paham," jawab Nata.
"Tapi Pak, jurusan adik Ares kan perbankan kenapa tidak di divisi keuangan saja?" tanya Aneta yang merasa bingung dengan gelagat bosnya akhir-akhir ini.
Mendengar pertanyaan dari Aneta, sontak saja Nata menoleh ke arah sekretaris pribadinya. Aneta memang memiliki keberanian berbincang langsung dengan Nata tanpa sungkan, akan tetapi Aneta jelas tak memiliki kendali atas setiap keputusan yang akan diambil oleh Nata.
"Kok kamu malah ngajarin saya?" sergah Nata tak terima.
Aneta tergagap, wanita itu menunduk merasa tak punya keberanian menatap bosnya. "Maaf Pak."
"Kamu urus saja mahasiswa magang ini," ucap Nata melenggang masuk ke dalam ruangannya.
Nata mengawasi Ares dari dalam ruangannya, Nata tidak akan membiarkan bocah itu mendekati wanitanya. Apalagi Nata bisa melihat, jika Sisil begitu membela bocah itu meskipun mereka baru pertama kali bertemu.
Apa menariknya Ares di mata wanita? Nata lebih unggul seratus perse dari bocah itu. Masalah wajah? Tentu saja Nata tidak tersaingi sama sekali.
Ataukah Nata harus berpura-pura bertanya teori pembukuan juga kepada wanita itu? Siapa tahu Sisil akan dengan sangat ramah serta sabar menjelaskan kepada Nata sama seperti cara Sisil menjelaskan teori tersebut kepada Ares.
Senyuman langsung muncul dari bibir lelaki itu ketika satu ide terlintas dalam benaknya. Bersyukurlah dia berteman dengan Fernand yang memiliki seribu akal bulus dalam memperdaya wanita. Kini Nata akan belajar dari apa yang Fernand ajarkan kepada mereka. Untuk kali ini, Nata merasa beruntung berteman dengan Fernand.
Nata mencari laporan keuangan yang menurutnya masih kacau, Nata sengaja menggunakan laporan itu untuk membuatnya dekat dengan Sisil.
"Biasanya aku benci laporan kacau, sekarang aku berterimakasih padamu," kikik Nata tersenyum memandang laporan itu yang tergeletak di atas mejanya.
Seberkas susunan laporan kacau dari salah satu anak perusahaan Dirga Company. Laporan yang akan Nata kembalikan jika saja pemikiran cemerlang itu tidak datang di waktu yang tepat, dan di saat yang tepat pula.
**
Sisil menghentakkan kakinya, keputusan Bu Mina yang memberikannya beberapa tugas tambahan membuat kepalanya pusing. Tugas awalnya saja masih banyak yang belum dia kerjakan, ditambah lagi Sisil harus menggarap pekerjaan sebagai hukuman untuknya.
Ada dalam benak Sisil untuk risign dari pekerjaan itu,mencoba bergabung dengan perusahaan keluarganya yang sudah lama menantikan kedatangan penerus keluarga Corlyn. Sisil berjanji kepada orang tuanya, jika dia keluar dari Perusahaan Dirga maka Sisil akan bersedia bekerja di Perusahaan Corlyn. Haruskah Sisil menghentikan niatnya menjajal ilmu pendidikannya di perusahaan lain, dan segera bergabung dengan perusahaan keluarganya saja?
Lama-lama Sisil merasa tidak nyaman jika harus bekerja dengan diawasi dari kamera CCTV yang mengganggunya. Sisil seakan tidak bisa bebas jika semua aktivitasnya diawasi Nata seperti itu. Wanita itu teramat sangat heran, memangnya Nata tidak memiliki pekerjaan sampai mengawasi Sisil setiap harinya?
"Bu Cecilia?" panggil Ares dengan senyuman sumringah di wajahnya.
Sisil menoleh dan mendapati mahasiswa magang tersenyum ke arahnya. "Ah, Ares."
"Ibu mau makan siang di mana?" tanya Ares membuat Sisil mengecek jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Kenapa memangnya? Ares mau nraktir saya ya?" tanya Sisil menggoda Ares.
"Boleh, Ibu biasa makan di mana? Tapi jangan mahal-mahal ya, Bu. Maklum kantong akhir bulan anak kos," kekeh Ares membuat Sisil turut tersenyum.
"Dia makan siang sama saya!" jawab Nata yang tiba-tiba saja muncul di belakang mereka, mengagetkan keduanya yang tidak menyadari kehadiran Nata sebelumnya.
Ares menatap Sisil, mempertanyakan lewat sorot matanya apakah yang dikatakan Nata adalah kebenaran. Kalau memang benar, Ares tidak akan berani menjadi penyebab batalnya janji Sisil dengan bos besar mereka di perusahaan.
"Bagus kalau Pak Nata bergabung, dia yang akan bayarin kita. Iya kan Pak?" tanya Sisil tersenyum ke arah Ares dan Nata.
"Benar Pak? Wuahhhh makasih Pakk Nata!" teriak Ares girang.
"Oh ya, panggil Bu Mita dan yang lainnya. Kita makan siang enak hari ini!" seru Sisil diangguki Ares.
Ares berlari menuju divisi keuangan, mengumumkan bahwa makan siang mereka hari ini akan ditanggung Nata. Seluruh devisi keuangan terpekik bahagia, jarang-jarang atasan mereka mengajak makan di luar karena kantin perusahaan sudah menyediakan makanan untuk para pegawainya secara gratis.
Nata menatap Sisil tak percaya, mencebik atas ucapan Sisil beberapa saat lalu.
"Saya tidak bilang setuju, Cecilia," protes Nata akan sikap Sisil yang mengambil keputusan sepihak.
"Saya juga tidak setuju Bapak mengawasi saya dari CCTV," jawab Sisil.
"Saya hanya mengawasi kinerja pegawai saya saja," ucap Nata berkelit.
"Saya juga begitu Pak, saya mau berbagi sama yang lain. Masa saya makan dibayarin Pak Nata yang lain enggak? Toh kalau pegawai Bapak hatinya senang, kinerja mereka juga bagus kan?" jawab Sisil melipat tangannya ke depan d**a.
Nata menggelengkan kepalanya, wanita itu sangat kerasa kepala rupanya. Baiklah, tunggu saja apa yang akan Nata lakukan untuk membuat Sisil takhluk kepadanya. Nata tidak akan melepaskan Sisil dengan mudah, wanita itu harus menjadi miliknya.
Setelah para pegawainya berkumpul, Nata dan mereka semua yang berasal dari divisi keuangan langsung menuju cafe yang ada di seberang kantor. Sisil melirik ke arah Nata yang tengah mati-matian menyembunyikan emosinya.
"Awas Pak, ada lubang!" pekik Sisil membuat Nata berhenti dengan spontan.
Nata menunduk, lelaki itu sama sekali tidak melihat ada lubang ada di sana. CEO baru Dirga Company menatap ke arah Sisil bingung.
"Tapi bohong," sambung Sisil di ikuti tawa dari pegawai yang lain.
Wajah Nata memerah, Sisil benar-benar menguras kesabarannya untuk hari ini. Awas saja nanti, akan ada waktunya Sisil yang jatuh dalam pesona seorang Adinata Dirga Pratama.
"Bu Cecilia lucu ya," ucap Ares terpesona dengan karisma wanita itu.
"Oh iyakah, Ares mau jadi pacar saya?" goda Sisil merangkul lengan Ares, berjalan di sampingnya meninggalkan Nata yang kini berada di belakang mereka dengan wajah memerah menahan kekesalan.
Nata mendengkus, dia tidak akan tinggal diam melihat kedekatan Sisil dengan bocah ingusan yang sudah menantangnya untuk bersaing. Jangankan bergandengan tangan, Sisil dan Ares harus diberikan jarak pembatas agar keduanya tak saling menempel satu sama lain.
Bughh. Nata sengaja menabrak Ares dan Sisil hingga tangan Sisil lepas dari lengan Ares. Sisil memicingkan matanya menatap Nata. Lelaki itu nampaknya sengaja menabrak Ares.
"Mmm sorry, nggak sengaja tadi ada lubang!" jawab Nata tersenyum, menunjukkan deretan giginya yang rapi.