12. Mahasiswa Magang

1301 Words
Kedatangan mahasiswa magang dari universitas swasta salah satu yang ada di Bandung disambut dengan hangat di perusahaan keluarga Dirga Pratama. Dirga Company, atau DG Company menerima permohonan pihak kampus untuk mengizinkan beberapa mahasiswa semester tujuh mereka magang di perusahaan tersebut. Para mahasiswa telah mengajukan surat magang dari kampus sudah diterima dengan baik mulai hari. Mereka bisa mulai menyesuaikan diri di sana dengan sebagaimana mestinya. Ada dua puluh pegawai magang yang ditempatkan di berbagai bidang yang ada di sana. Bahkan di devisi keuangan terdapat dua magang yang berasal dari jurusan Akuntansi. "Wah banyak anak magang sudah datang di kantor," seru salah satu pegawai merasa senang akan kedatangan mahasiswa magang. Selain mendapatkan kesempatan cuci mata daun muda, mereka juga bisa melakukan aksi pendekatan jika suka sama suka Bu Mina, selaku Kepala Devisi Keuangan memperkenalkan kedua magang tersebut kepada pegawai di sana. Bu Mina melirik kursi meja bername tag Cecilia yang masih kosong tanpa pemiliknya berada di sana. Suatu kebiasaan, batin Bu Mina sudah lelah menyumpah serapahi wanita cantik tersebut. Mengingat kinerja Sisil yang begitu rapi dan juga teliti, membuat Bu Mina enggan terus-menerus mempermasalahkan kekurangan Sisil. "Perkenalkan diri kalian di depan para senior yang akan membimbing kalian," ucap Bu Mina kepada kedua magang tersebut. "Ekhem. Perkenalkan, nama saya Ares Rewangga," tutur lelaki yang dikenal sebagai most wanted di angkatannya. "Perkenalkan nama saya Jefri Anwar," kata rekan mahasiswa satunya. Mereka berdua memperkenalkan diri kepada pegawai yang ada di Divisi Keuangan. Mata mereka mengedar, menatap semua pegawai divisi tersebut sekadar untuk mengingat wajah dan nama mengingat mereka akan bertemu setiap harinya dalam waktu yang lumayan lama. "Selamat bergabung dengan kami," ucap salah satu pegawai Divisi Keuangan. "Hello Ares, Jefri," sapa Sisil yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Wanita itu lantas duduk di mejanya, netranya menatap Bu Mina yang secara terang-terangan menatapnya dengan bengis. Mungkin Bu Mina sudah kehabisan kata-kata untuk menegur anak buahnya. "Terlambat lagi, Cecilia?" seru Bu Mina membenarkan letak kaca matanya. Sisil menggeleng, dia datang tepat waktu jika saja bos besar mereka tidak memaksa Sisil mengerjakan pekerjaan dadakan dan meminta selesai secepatnya. Wanita bernetra coklat terang itu segera menuju divisinya setelah memastikan laporan keuangan terbarunya kepada Nata. Jefri menyenggol lengan Ares. "Ini dia yang katanya bidadarinya perusahaan. Dia satu divisi dengan kita?" bisik Jefri kepada Ares. Ares hanya mengangguk mematung mengamati wajah cantik wanita di depannya. Banyak wanita pernah Ares temui selama berada di kampus maupun di luar kampus. Beberapa teman kencannya juga para wanita berparas jelita. Hanya saja tidak ada dari mereka yang bisa mengalahkan kecantikan surga yang melekat pada diri seorang Cecilia Fanyandra Corlyn. Pakaian yang dikenakan melekat sempurna di badan molek Sisil. Semua wanita menjulukinya sebagai kiblat fashion para karyawati perusahaan Dirga Company. "Hello, Bu Cantik," jawab Jefri dengan polosnya membuat pegawai di sana terkikik geli. Rupanya bukan hanya lelaki dewasa matang yang mengagumi kecantikan Sisil, bahkan lelaki seperti Ares dan Jefri yang baru setengah matang saja sangat tertarik dengan Sisil. Tak heran, Sisil memang cantik meski tak memakai polesan make up tebal di wajahnya. "Jefri kamu akan bekerja di bawah panduan Ibu Mitha, dan Ares kamu bersama Ibu Cecilia," jelas Bu Mina diangguki keduanya. Kedua magang itu sangat beruntung, mereka berada di bawah panduan para wanita idola di Kantor. Sepertinya magang mereka akan berlalu dengan cepat. Biasanya anak magang akan merasakan kejenuhan setiap hari, namun Jefri dan Ares akan merasa berada di surga bersama bidadari-bidadari Dirga Company. "Silahkan mulai menyesuaikan diri, saya tinggal dulu," ucap Bu Mina sebelum meninggalkan ruangan karyawan menuju ruangan kepala divisi. Ares tidak melakukan apapun, dia hanya diam sambil mengamati Sisil di sebelahnya. Wanita itu sangat fokus sekali ketika mengerjakan pekerjaannya. Ares menghela napas panjang, sejak tadi Sisil bahkan tidak memberikannya pekerjaan apapun. Haruskah Ares meminta bidadari cantik itu memberikannya pekerjaan sebagaimana mestinya? Ares tak ingin mendapatkan nilai jelek dalam mata kuliah magang yang kini tengah dia lakoni di semester tujuh. "Maaf Bu, saya tidak melakukan apapun?" tanya Ares yang merasa sangat terganggu karena Sisil tidak memberikannya pekerjaan seperti Mitha yang sudah memberikan pekerjaan kepada Jefri. Sisil membenarkan kaca mata anti radiasinya, wanita itu mengerutkan kening heran. Sisil beranggapan bahwa hari pertama akan lebih baik jika Ares cukup diam mengamati cara kerja divisi keuangan. "Bukannya kamu sudah bekerja sejak tadi?" pungkas Sisil. Ares menautkan alisnya bingung, apa wanita itu tengah menyindirnya karena berdiam diri sejak tadi? Tetapi bukan salah Ares karena dirinya tidak mendapatkan pekerjaan apapun. "Saya tidak melakukan apapun, Bu," jawab Ares. "Tadi saya lihat kamu sibuk merhatiin saya," jawab Sisil tersenyum. 'Sialann, senyuman Bu Cecilia membuatku klepek-klepek!' umpat Ares didalam hatinya. Ares memajukan kursinya mendekat ke arah Sisil, Ares menatap layar laptop milik Sisil yang terdapat beberapa laporan yang tengah Sisil kerjakan. "Kamu dapat materi kuliah ini nggak di Kampusmu?" tanya Sisil. "Saya baru melihat laporan model seperti ini Bu," jawab Ares. "Jadi seperti ini sistem penyusunannya, kalau di perusahaan yang sudah go internasional pakainya metode begini untuk mengecek detail keuangan," jelas Sisil menunjukkan detail satu persatu yang tengah dia kerjakan. Ares mendengarkan ucapan Sisil dengan seksama, lelaki itu memahami apa yang Sisil ucapkan, mencernanya dengan baik. Banyak hal yang bisa Ares resapi dari pemahaman tersebut meski terkesan singkat. . Nata melempar berkas yang tengah dia tangani ketika layar laptopnya menunjukkan kedekatan Sisil dengan pegawai magang. Nata memicing, menatap mereka dengan tidak suka. Dalam benaknya, haruskah Sisil mengajarkan materi dengan jarak sedekat itu? Memangnya kenapa Sisil harus mengajari bocah itu? Bukankah bocah itu mendapatkan pelajaran dari dosennya sendiri? Lalu apa gunanya mereka membayar uang semesteran mahal-mahal kalau metode penyusunan keuangan perusahaan tidak diajarkan memakai beberapa metode terbaru. "Ck, dasar mahasiswa tidak kompeten!" cibir Nata yang tidak suka melihat Ares berdekatan dengan Sisil. Nata mengambil gagang telepon di sampingnya, menekan nomor devisi keuangan. "Selamat siang, dengan Cecilia di sini. Ada yang bisa saya bantu?" sapa Sisil yang kebetulan menerima panggilan tersebut. "Berhenti berdekatan dengan brondong itu!" teriak Nata marah. Sisil membelalakkan matanya, dari mana lelaki itu tahu jika dia sedang berdekatan dengan Ares? Apakah lelaki itu memantaunya dari kamera CCTV? Netra Sisil mendongak ke arah kamera CCTV, matanya melotot seakan dia tengah bertatapan mata dengan Nata secara langsung. Beraninya lelaki sintingg itu memata-matai kegiatannya! "Kenapa dengan matamu hah?" hardik Nata. Nata tidak suka cara Sisil menatapnya. Tatapan mata bengis dan mengesalkan bagi lelaki itu. "Berhenti memantauku dari CCTV!" pekik Sisil setengah berteriak, membuat para pegawai yang satu ruang dengannya menatapnya penuh tanda tanya. Sambungan telepon terputus secara sepihak, Nata merasa dirinya harus mencari cara agar Sisil dan mahasiswa magang itu tidak bisa berdekatan lagi. "Dasarrrrrr penguntit!" umpat Sisil dengan nafasnya menggebu-gebu. Jadi selama ini lelaki itu memantaunya? Apa lelaki itu tidak memiliki pekerjaan yang lebih penting sehingga membuang waktunya untuk mengawasi rekaman CCTV di ruangan Sisil? Lelaki itu benar-benar keterlaluan! "Kenapa Bu?" tanya Ares penasaran. "Bukan apa-apa, kita lanjutkan sampai mana tadi " tanya Sisil tanpa memperdulikan Nata yang mungkin saat ini masih mengawasinya dari CCTV. Kenapa lelaki itu harus marah? Salah Nata sendiri kenapa dia mengawasi Sisil. Wanita itu tidak merasa melakukan kegiatan apapun yang melanggar aturan perusahaan. "Benar-benar kunyuk satu ini, dia masih menempel saja dengan wanitaku!" risau Nata tidak terima. Nata keluar dari ruangannya, lelaki itu menekan lift di mana divisi keuangan berada. Nata langsung masuk ke sana hingga membuat para pegawainya kalang kabut atas kedatangan Nata yang tiba-tiba. Ada apakah ini? Pikir mereka yang kebingungan dengan kedatangan Nata di sana. Apakah Nata akan melakukan sidak di divisi keuangan? Padahal kinerja mereka dianggap yang paling kompeten daripada divisi lainnya. "Cecillia Fanyandra?" panggil Nata dengan suara tegasnya. Mata Sisil terbelalak begitu mendapati Nata datang ke ruangannya. "Pak Na-tta?" gagap Sisil langsung berdiri dari tempat duduknya Pandangan Nata langsung tertuju kepada Ares yang kini duduk disamping Sisil. Sisil menggigit bibirnya, kenapa lelaki itu sampai ke divisinya? Kekacauan yang akan Nata lakukan sekarang? Banyak pemikiran buruk tentang kedatangan Nata menemui dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD