Ke lima lelaki tampan yang dulunya menjadi most wanted boy di sekolah mereka kini berkumpul bersama seperti yang terakhir kali mereka lakukan dulu, waktu sebelum Nata berada di luar negeri beberapa tahun lamanya.
Semakin bertambahnya umur, meluangkan waktu sekadar bertegur sapa dengan teman adalah hal yang membutuhkan timing tepat. Mereka disibukkan oleh padatnya rutinitas kerja, kegiatan sehari-hari, dan rumitnya tentang hati.
Pikiran Nata melayang, dia terdiam membayangkan apa yang akan dia lakukan setelah menerima tantangan dari teman-temannya. Ada pikiran dalam dirinya merasa takut dan gelisah.
Bagaimana jika nanti Sisil mengetahui rencananya dan berbalik arah membencinya?
Membayangkannya saja membuat Nata bergidik ngeri, dia harus menyembunyikan pertaruhannya dengan teman-temannya dari Sisil. Dan mungkinkah Sisil bisa mencintainya?
"Itu dia!" ucap Racka ketika Sisil dan salah satu temannya memasuki cafe.
"Siapa?" tanya Fernando penasaran sambari mengikuti arah jari telunjuk Racka.
"Pegawai cantik di kantor Nata, siapa lagi memangnya wanita yang sedang kita bahas sejak tadi?" jawab Racka memutar bola matanya.
Mendengar penuturan Racka, Nata lantas mengerjap, lelaki itu mengarahkan pandangannya ke arah Sisil yang tengah tertawa dengan manisnya bersama temannya Mita.
Apa yang Sisil lakukan di sana?
"Siapa namanya tadi?" tanya Fernando melupakan nama wanita gebetan Nata.
"Cecilia," jawab Racka.
"Secantik orangnya, aku tidak pernah meragukan tipe Nata," kekeh Fernando menepuk pelan bahu temannya.
Nata mendengkus, melihat ekspresi Fernando berbinar cerah tatkala melihat Sisil membuat Nata menjadi gelisah bukan main. Fernando sangat berbeda dengan teman-temannya yang lain. Lelaki itu mudah sekali menarik perhatian lawan jenisnya, pandai mencairkan suasana, dan ahlinya dalam merangkai kata romansa.
Nata mengaku kalah sebelum bertanding kalau dilawankan dengan Fernando dalam hal merayu perempuan. Tapi perihal ketampanan dan kesuksesan, Nata tak akan gentar sedikitpun.
"Cecilia?" panggil Fernand melambaikan tangannya, sok kenal dengan Sisil.
Merasa namanya dipanggil, pemilik nama tersebut celingukan mencari-cari sumber suara di seluruh penjuru cafe. Wanita itu memicingkan matanya, mengamati dalam-dalam sosok lelaki tampan yang melambaikan tangan ke arahnya dengan begitu antusias.
Sisil terkejut ketika pandangannya juga menemukan Nata ada di meja yang sama bersama ke empat lelaki tampan.
Racka melambaikan tangannya. "Kamu masih ingat denganku, bukan?" tanya Racka sedikit mengencangkan nada suaranya mengingat jarak meja mereka berjarak empat meja.
Sisil mengangguk mengiyakan, tentu saja dia mengingat siapa lelaki yang telah mematahkan hati sepupunya sampai-sampai sepupunya tak dapat membuka kembali pintu hatinya untuk lelaki lain.
Dalamnya cinta Viona terhadap Racka tak mudah untuk sepupunya kendalikan hingga memilih berlari menjauhi tempat di mana cintanya berada. Perasaan yang Sisil sendiri masih yakin bahwa penghuninya sosok lelaki di depannya.
"Tentu saja saya mengingatnya," jawab Sisil tersenyum kaku.
Padahal niat Sisil mengajak teman satu divisinya untuk mencari coffe agar kepalanya sedikit tenang selama beberapa saat. Aroma kopi yang diseduh seperti racikan aromaterapi bagi beberapa orang. Termasuk juga bagi Sisil.
Menciumm aroma kopi diseduh membuat hati Sisil menjadi tenang, kepalanya menjadi ringan seolah tanpa beban dipikulnya.
"Ke mari," ucap Racka kepada Sisil, melambaikan tangannya.
Sisil menoleh ke arah Mita, meminta jawaban dari temannya. Akhirnya Mita mengangguk mengiyakan, lagipula tidak sopan menolak tawaran baik dari teman bosnya. Terlebih bos mereka juga ada di sana.
"Tapi ada bos sin-ting itu juga di sana," bisik Sisil pada Mita.
"Daripada kita dicap sebagai pegawai tidak punya tata krama?" pungkas Mita.
"Kamu benar juga, tadi aku sudah menolaknya satu kali saat dia meminta makan siang bersama," jawab Sisil kebingungan mencari alasan baru lagi untuk menghindari Nata.
"Ya sudah, ayo,” ajak Mita.
Keduanya dengan terpaksa bangkit dari tempat duduk yang sebelumnya mereka tempati. Sisil setengah hati mengiyakan ajakan Mita karena tak memiliki alasan mangkir dari sana, sedangkan Nata tengah bersama teman-temannya.
Bukankah tidak sopan menolak panggilan yang berasal dari teman atasannya sendiri? Terkecuali posisi mereka saat ini tidak sedang di tempat yang sama.
"Siang Pak Nata," sapa Sisil dan Mitha bersamaan kepada Nata yang tengah duduk di samping lelaki berjas putih khas dokter.
"Wahhhhh!" decak kagum Fernand melihat wajah Sisil dari dekat.
Fernando sekarang tahu, mengapa perasaan teman baiknya tidak mendapat balasan. Wanita itu sangat cantik, sangat. Wajah wanita di depannya ini begitu teduh, bulu matanya lentik alami, hidung mancungnya, dan juga bibirnya yang penuh membuat wajah Sisil sangat menyenangkan untuk diamati.
Pantas saja, Nata yang biasanya pandai merayu kaum hawa kini kelimpungan untuk mendapatkan perhatian seorang wanita, tak lain salah satu karyawati di perusahaan keluarganya. Fernando ingin tertawa keras jika tidak ada pengunjung lain di sana.
"Auhhh!" ringis Fernando ketika merasakan kakinya ditendang.
Fernand hanya tersenyum menatap Nata yang kini membalas tatapan matanya dengan kesal. Berani-beraninya Fernando menatap Sisil seperti itu. Nata merasa tidak terima melihat Sisil menjadi pusat perhatian teman-temannya.
"Ke mana maskermu?" tanya Nata yang tidak mendapati masker di wajah Sisil.
Biasanya wanita itu selalu memakai masker ketika bertemu dengannya. Tapi di depan khalayak umum kenapa Sisil tidak memakainya juga? Mau memamerkan kecantikannya kah?
Membayangkannya saja sudah membakar perasaan cemburu di dalam hati Nata.
"Ada di tas Pak," jawab Sisil mengerutkan keningnya dengan pertanyaan Nata.
"Emangnya kenapa sama maskernya?" tanya Regan penasaran.
Sisil mendongak, mengamati wajah tampan yang baru saja bertanya. Sepertinya lelaki itu seorang pengajar jika dilihat dari pakaian formalnya saat ini.
"Nata memang tidak jelas, silahkan duduk, ayo duduk di sini," ucap Fernand mempersilahkan kedua wanita itu untuk duduk.
Fernando memang juaranya mencari muka, lelaki itu memanggil pelayan. Meminta kedua wanita yang tak lain pegawai perusahaan Nata untuk memesan makanan
"Kalian pesan saja, kita yang bayar. Pesan apapun yang kalian mau," ucap Fernand tersenyum ke arah Sisil.
'Lelaki ini berengs*k sekali!' umpat Nata yang sedari tadi menahan kesal dengan perlakuan Fernando kepada Sisil.
Seperti membakar kayu di tengah padang pasir, Fernando semakin gencar membuat Nata kebakaran jenggot melihatnya sok akrab dengan Sisil.
Mereka semua saling bertanya tentang Sisil, ada satu hal yang baru Nata ketahui tentang wanita itu. Dia lulusan Magister dari Oxford University. Bukankah itu berarti Sisil sangat pandai atau mungkin Sisil dari keluarga kaya raya?
Sisil tertawa mendengar kelucuan-kelucuan yang terlontar dari mulut para lelaki di sana. Sedangkan Nata hanya menjawab beberapa pertanyaan yang mereka ajukan kepadanya. Selebihnya, lelaki itu lebih asyik memandang wanita yang kebetulan duduk di depannya.
Kenapa wanita itu sangat menarik di matanya. Jika karena rupa, rasanya Nata sudah berkali-kali bertemu wanita cantik dari berbagai ras dan suku. Tapi tidak ada yang semenarik Sisil.
Sisil benar-benar wanita yang misterius, wanita itu seperti menyembunyikan bom waktu yang akan meledak suatu saat nanti. Tapi apa yang wanita itu sembunyikan.
"Sil, waktu istirahat sudah selesai. Kita enggak balik?" ucap Mita berbisik.
"Tidak apa, bos kalian kan ada di sini. Bukan begitu Pak Nata?" goda Racka kepada Nata.
Mereka terkekeh, Nata tidak sadar ikut tersenyum saat Sisil tertawa karena perkataan Racka. Senyuman Sisil memiliki kekuatan magis hingga membuat lelaki itu turut menyelam bersamanya.
Bolehkah senyuman itu hanya untuk Nata seorang? Nata benar-benar takut jika Sisil tidak bisa dia miliki. Apa yang bisa Nata lakukan untuk membuat wanita itu bersedia berada di sisinya.
"Ayo kita kembali ke kantor," ajak Nata membuat ke empat temannya mendesah, Nata memang penghancur mood mereka.
Mereka begitu asyik bercanda dengan kedua wanita menyenangkan seperti Sisil dan Mita, dan Nata dengan sengaja memerintah keduanya untuk kembali ke kantor.
"Yahhhh!" hela mereka bersamaan.
"Mereka dibayar buat bekerja, Monyet," ucap Nata melempar kentang goreng kepada Fernando.
"Sisil, kamu mau jadi asisten dokter saya?" Fernand bertanya kepada Sisil.
Asisten dokter katanya? Enak saja dia!
"Tidak boleh, dia terikat kontrak dengan perusahaanku!" sahut Nata.
"Tapi kontrak saya berakhir enam bulan lagi, Pak," jawab Sisil menaikkan satu alisnya.
"Tidak bisa, khusus kamu seumur hidup!" jawab Nata spontan membuat Sisil menatapnya tak percaya.
Dan yang lainnya hanya tersenyum geli mendapati Nata untuk pertama kalinya cemburu atas seorang wanita. Mereka semua bertanya-tanya, bisakah Nata menakhlukkan hati seorang Sisil?
NOTE: JANGAN LUPA TEKAN LOVE YA :*