Usai aksi penambahan larangan baru di kantor khusus untuk Sisil, Nata mencari cara lagi untuk bisa selalu dekat dengan Sisil setiap harinya. Rasanya Nata masih tidak puas hanya melihat Sisil dari layar laptopnya yang merekam semua kegiatan Sisil di mejanya.
Notifikasi di media sosial WA yang membengkak membuat Nata dengan malas membukanya. Nata bukan tipe lelaki yang suka membalas chat dengan cepat, bahkan bisa dibilang Nata jarang sekali bermain ponselnya. Menurutnya, hal-hal seperti hanya membuang-buang waktunya saja.
Lebih baik Nata menggunakan waktu lengangnya untuk memantau kegiatan bidadari tanpa sayap yang bekerja di divisi keuangan perusahaan keluarganya.
Senyum lelaki itu mengembang, notifikasi dari grup teman-temannya yang rese nampaknya dipenuhi obrolan-obrolan tidak penting lainnya.
-Fernando-
Nata, lu baru nyimak chat kita, ke mana aja?
-Racka Duda-
Dia sibuk menempel ke pegawai ceweknya, Bro!
-Fernando-
Really?
-Regan-
(2)
-Fernando-
@Regan, ngomong kek lu jangan angka doang !
-Rehan-
Kalian banyak b*cot deh
-Racka-
Iya, cakep. Kalian datang aja ke kantornya, lihat sendiri.
-Fernando-
Cakep mana sama Nadia?
-Regan-
2
-Fernando-
Eh lu ya @Regan ngikutin gue mulu.
-Nata-
Banyak omong kalian, kapan bisa nongkrong bareng?
-Fernando-
Sekarang , gimana yg lain?
-Regan-
Setuju !
Nata terkekeh, Fernand juga seorang dokter sama dengan Rehan. Tapi Fernand lebih santai, pembawaan lelaki itu seperti tidak mau tahu. Apa yang dia suka dan apa yang dia mau pasti akan dia lakukan.
Berbeda dengan Rehan, Rehan lebih tenang di segala hal. Sangat berbanding terbalik dengan Fernand.
Kalau Racka, lelaki itu tidak sebebas dulu. Yap karena dia sudah punya satu putra yang masih kecil, Devaro. Menjadi single daddy di usia sekarang memang tantangan tersendiri untuk lelaki berjiwa bebas seperti Racka. Meski begitu, Racka tetaplah ayah yang baik dan super hero untuk putranya.
Sedangkan Regan, dia paling perfectionis. Maklum saja lelaki itu seorang dosen, dia benar-benar harus tahu dan memilah mana yang baik mana yang buruk. Sayangnya, Regan masih belum cukup mampu menentukan wanita yang layak mendapatkan kemantapan hatinya.
Begitulah keseharian Nata dan teman-temannya, setiap kali mereka bersama pasti ada saja alasan untuk mereka saling mengejek satu sama lain.
"Anetta, saya akan makan siang bersama teman-teman saya. Kamu urus saja telepon yang masuk," kata Nata kepada sekretaris pribadinya.
"Baik, Pak."
Nata berlalu dari meja kerja Anetta, lelaki itu sudah memutuskan untuk bertemu di cafe depan kantor perusahaan keluarga Nata. Sesekali bertemu para cecunguk kebanggannya mungkin akan menghilangkan rasa penatnya.
.
"Siang Pak," ucap pegawai Nata yang kebetulan bertemu dengan Nata.
Namun langkah Nata terhenti, ketika Sisil berada di depan kantornya. Wanita itu terlihat memberikan satu kotak putih kepada tukang kebun di kantornya. Mungkin saja itu makanan?
Hati Nata langsung merasa hangat melihat pemandangan seperti itu. Tiap harinya, Nata selalu menemukan nilai plus akan wanita yang sudah mencuri perhatiaannya sejak pertama kali mereka bertemu.
"Tidak hanya cantik parasnya, hatinya bagaikan malaikat."
Sisil benar-benar wanita yang sangat baik, pantas saja jika semua pegawai lelaki di kantornya begitu mengidolakan wanita itu. Kali ini Nata tidak bisa menutupi perasaan takjubnya atas pribadi salah satu pegawai andalannya itu.
Nata menghampiri Sisil di depan sana.
"Kamu tidak makan siang?" tanya Nata membuat Sisil terpekik karena kaget ada suara yang tiba-tiba berasal dari belakangnya.
"Bapak ini ngagetin saya saja!" marah Sisil kepada Nata.
"Maaf kalau sapaanku mengejutkanmu," ucap Nata menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ini saya mau makan siang, Pak," kata Sisil menjawab pertanyaan Nata sebelumnya.
"Ayo ikut denganku, makan siang di cafe seberang jalan," ajak Nata menawarkan makan siang bersama.
Sisil menggeleng, semua pegawai akan mengedarkan isu tidak sedap tentang hubungan Nata dan Sisil jika keduanya kedapatan makan siang bersama. Kalau berita itu sampai beredar luas, mungkin Sisil akan jad target olok-olokan pegawai satu kantor.
"Tidak perlu Pak, saya makan dengan yang lainnya saja di kantin," jawab Sisil menolak ajakan Nata dengan halus.
"Ya sudah, aku ke depan dulu," ucap Nata, mengelus puncak kepala Sisil.
Perlakuan lembut bos barunya membuat jantung wanita itu berdebar untuk kesekian kalinya karena sentuhan-sentuhan hangat tangan Adinata Dirga Pratama.
Sisil menatap punggung Nata yang kian menjauh, dia memegang da-danya. Kenapa anggota tubuhnya selalu bereaksi berlebihan ketika Nata mendekat ke arahnya?
"Apa aku jatuh cinta dengan lelaki itu? Tidak-tidak, sepertinya tidak mungkin aku jatuh cinta dengan lelaki sembarangan seperti dia!" cetus Sisil berperang dengan pemikirannya sendiri.
Sisil memukul kepalanya pelan, menghilangkan pikiran-pikiran tidak masuk akal tentang perasaannya. Bisa saja jantungnya berdetak hebat karena tubuhnya yang sudah memberontak meminta segera diisi bahan bakar tenaga untuk bekerja kembali sampai sore nanti.
.
Fernando melambaikan tangannya bersemangat ke arah Nata, mereka ber tos ria seperti dulu ketika mereka sering berkumpul. Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah Nata kembali ke tanah air.
Kesibukan mereka membuat waktu bertemu sangat sulit ditentukan. Justru dengan bertemu secara mendadak tanpa direncanakan menjadi waktu paling tepat.
"Wishhh, aura CEO makin gemilangg broo," kekeh Fernand mengamati wajah Nata yang nampak semakin segar.
"Kan udah gue bilang oneng, dia bucin sama pegawainya sendiri," ucap Racka menjawab pertanyaan Fernand.
Mendengar celotehan Racka, Nata hanya mendengkus sebal. Harusnya Nata tak membiarkan Racka bertemu dengan Sisil.
"Rehan mana?" tanya Nata.
"Masih perjalanan mungkin," jawab Fernand diangguki Nata.
Mereka memesan makanan, karena tidak mungkin mereka datang ke sana tanpa memesan makanan dan minuman. Bisa turun tujuh level kadar ketampanan mereka kalau mereka hanya numpang 'ngadem' di sana.
"Tapi Nat, emang lu yakin dia bukan sepupu atau saudara kembarnya Viona mungkin?" tanya Racka kepada Nata.
"Otak kamu isinya Viona aja, salah siapa dulu tidak memperjuangkan dia. Nyesel kan?" ejek Nata.
Di pandangan Nata, dia memang menemukan beberapa kemiripan Sisil dan Viona dari beberapa angel wajah mereka. Hanya saja, setiap kali Nata mengamati lekat-lekat wajah Sisil yang dia dapati adalah debaran jantungnya semakin berdetak hebat tak beraturan.
"Bagaimana denganmu, apa hubungan kalian ada kemajuan?" tanya Racka tidak mau kalah.
"Dia kan statusnya pacarku, meskipun sepihak sih," jawab Nata lesu, membuat ketiga temannya terbahak.
"Tukang paksa!" ejek Regan.
"Mending aku lah, daripada jomblo permanen?" kekeh Nata membalas ejekan Regan.
Nata juga tidak habis pikir, apa yang membuat lelaki setampan dan sekaya Regan memilih jauh dari wanita?
Bukankah sudah saatnya bagi mereka untuk mencari pendamping di umurnya yang sekarang? Regan memiliki segalanya, karir yang bagus, perekonomian yang jauh dari kata kurang, pun juga kehidupannya terbilang lempeng tanpa suka berbuat neko-neko.
"Gimana kalau gue tantang lo?" tanya Fernand membuat Nata memicingkan matanya.
"Apa?"
Fernand menyerahkan kunci mobilnya kepada Nata.
"Mobil terbaru gue, buat lo. Kalau wanita itu benar-benar jatuh hati sama lo," ucap Fernand.
"Lo gila? Dia wanita bro, bukan bahan taruhan!" protes Regan yang tidak terima dengan kelakuan para temannya ini.
"Ini hanya taruhan biasa, tidak melukai siapapun," pungkas Fernando menjelaskan.
"Bener juga sih, lagi pula nggak ada salahnya buat Cecilia beneran cinta sama lo. Kan itu juga mau lo," jawab Racka.
Nata memandang kedua temannya, haruskah dia mengikuti permainan Fernand. Tapi bagaimana jika dia menolaknya? Apa yang akan dia katakan? Mereka pasti akan membullynya habis-habisan karena tidak bisa mendapatkan hati seorang wanita.
Wanita ini, Cecilia Fanyandra Corlyn.
Meskipun Nata tidak tahu bahwa singkatan C adalah marga keluarga Corlyn. Tapi Nata memiliki firasat jika Sisil bukan dari keluarga biasa.
Namun jangan lupakan dirinya, dia Adinata Dirga Pratama. Anak pemilik Perusahaan lokal yang masih jaya hingga sekarang.
"Setuju!" ucap Nata.
"Kalau elu nggak bisa, biarkan gue membeli lima persen saham perusahaan lo?" tanya Fernand.
Sialan, ini memang akal-akalan Fernand untuk mendapatkan saham perusahaannya. Fernand memang penggila saham di mana-mana.
"Oke, deal!"