3. Pencuri Ciuman Pertama

1208 Words
Suara intercom membuat wanita yang tengah menyusun pembukuan menyerngitkan keningnya. Semua menatap ke arah Sisil berada. Mereka terlihat bingung, namun juga penasaran. Apa yang dikhawatirkan oleh Sisil pada akhirnya menjadi kenyataan. Bos barunya tidak akan mungkin melepaskannya begitu saja, mengingat kecerobohannya sewaktu pertemuan pertama mereka berdua. 'Cecilia dari devisi keuangan, datang ke ruanganku segera!' ucap Nata, CEO baru di Dirga Company mengulangi ucapannya. Wanita yang dipanggil Cecilia sontak menoleh ke arah timnya, memastikan apakah dia tidak salah dengar atas perintah CEO baru mereka. Melihat raut wajah para rekan kerjanya, sudah jelas kalau apa yang dia dengar memanglah kenyataan. "Elu dipanggil Pak Nata," ucap Mita, selaku sahabat baik Sisil. Sisil mengigit bibir bawahnya, kesalahannya tadi pagi mungkin akan berbuntut panjang. Seharusnya dia tidak telat datang ke kantor, atau seharusnya dia sudah mencari informasi bagaimana wajah CEO baru mereka sehingga bisa menghindari kejadian buruk seperti itu. Kalau sudah seperti ini, apa yang bisa Sisil lakukan demi memperbaiki kesalahannya? "Baiklah, aku wanita tercantik dari tiga dunia tidak akan takut bertemu lelaki itu!" ucapnya menyemangati dirinya sendiri. Teman-temannya hanya bisa mendoakan, agar tidak ada hal buruk yang terjadi pada Sisil. Padahal di dalam hatinya, Sisil benar-benar gugup. Ini pertama kalinya dia membuat kesalahan fatal karena tidak update informasi mengenai bos baru mereka. Dengan helaan napas panjang, wanita itu menghembuskan napasnya beriringan doa untuk keselamatannya sendiri. Sisil melangkah menuju lantai 20, di mana ruangan Nata berada. Terlihat secretary Nata duduk di meja kerjanya, Sisil mendekat ke arahnya. Sisil mengetuk meja Aneta, membuat wanita itu mendongak ke arahnya. "Net, Pak CEO ada?" tanya Sisil pada Neta. "Ada, Miss langsung masuk saja, Anda sudah ditunggu," ucapnya. Rupanya kedatangan Sisil sudah ditunggu-tunggu oleh Nata. Entah rencana apa yang sedang direncanakan Nata saat ini. Ada perasaan was-was dalam diri Sisil ketika Neta mengatakan bahwa dia telah ditunggu. Apakah kedatangannya sudah dinantikan oleh Nata untuk memberikannya hukuman atas perilaku tidak sopannya? Apa kira-kira rencana Nata kepadanya? Sisil mengetuk pintu ruangan Nata dengan gamang. Kalau boleh, Sisil akan memilih melarikan diri dari ruangan itu sebelum segalanya terlambat baginya. "Masuk!" teriakan dari dalam ruangan itu bulu kuduk Sisil merinding. Masuk. Tidak. Masuk. Tidak. Masuk? Sisil menatap pintu di depannya dengan penuh pertimbangan. Setelah dia masuk ke dalam sana dia tidak akan bisa menghindari apa yang terjadi padanya. Tanpa berpikir panjang, Sisil nekat masuk ke dalam ruangan Nata dengan yakin. Sisil masuk ke dalam ruangan itudan langsung berhadapan pada Nata. Sedangkan di dalam sana, Nata seperti telah menanti-nantikan moment ini. Nata menatap Sisil dengan pandangan tajamnya, lelaki itu bermain dengan bolpoinnya, mengetuk-ngetukkan bolpoin itu di atas meja. Sisil menunduk, meremas roknya karena gugup berhadapan Nata secara langsung. Tidak ada orang lain di sana, hanya ada dia dan Nata, lelaki yang sebenarnya ingin sekali Sisil skip dari hidupnya. Kenapa udara di ruangan itu mendadak raib, tanpa menyisakan pasokan udara untuk Sisil bernapas? "Kamu tahu, kenapa saya manggil kamu ke mari?" pungkas Nata. Glek, Sisil menelan salivanya sendiri. Suara Nata membuatnya merinding. "Emh, saya tahu Pak. Saya minta maaf Pak atas kecerobohan saya tadi pagi," ucap Sisil gugup. Detik selanjutnya, Sisil memberanikan dirinya menatap Nata. Mata mereka bertemu, bahkan mereka terlihat saling menilai lewat tatapan mata mereka. 'Aku seperti tidak asing dengannya,' pikir keduanya di dalam hati. Keduanya nampak berpikir, senyuman devil muncul di bibir Nata membuat Sisil menatapnya dengan waspada. Satu ide licik muncul dalam pikiran Nata. "Ekhhm saya bisa memaafkanmu asal kamu bersedia jadi pacar saya. Bagaimana?" tawar Nata dengan entengnya, seakan kalimat itu tidak memiliki nilai berarti baginya. Jederrrrrrrrrr ..... Bagaikan sambaran petir di siang bolong, ucapan Nata barusan tidak bisa diterima Sisil begitu saja. Sisil menatap Nata dengan pandangan 'Kau Gila?' Apa semua CEO memiliki tingkat stress paling atas sehingga Nata bisa mengatakan hal itu di depan karyawanya yang baru saja dia temui tadi pagi. Sisil menggeleng, Nata benar-benar nampak seperti lulusan rumah sakit siwa yang kehabisan obat kewarasannya. Mungkin lelaki itu perlu menjalani beberapa pengobatan rutin agar otaknya tidak meracau. "Apa tawaran saya tak cukup bagus untukmu, Nona Cecilia?" tanya Nata mengamati Sisil secara lekat. Bentuk tubuh Sisil sangat proporsional, pakaiannya sopan, berkelas, serta begitu elegan. Wanita itu paket lengkap di netra Nata. "Tapi Pak, saya ...." Ucapan Sisil tidak jadi dia lanjutkan. "Saya tidak menerima penolakan, terima atau resign?" sambung Nata memberikan penawaran. Hah? Seenaknya lelaki itu meminta Sisil menjadi pacarnya? Padahal ini adalah pertemuan kedua mereka. Begitu banyak pikiran yang berkecambuk dalam benak Sisil. Mulai dari lelaki itu yang telah jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya, ataukah lelaki itu maniak s*x yang membutuhkan lawan mainnya tak peduli siapa dan bagaimana status mereka. "Pak, saya-" "Kamu masih single kan?" tanya lelaki itu pada Sisil. "Saya punya suami dua, Pak," jawab Sisil menatap Nata dengan datar. "Ceraikan semua," ucapnya tak berekspresi. Sisil mengerjapkan matanya, bahkan Nata tidak peduli jika dia bersuami dua? Astaga, CEO macam apa yang berperilaku seperti itu? Kening Nata berkerut, apa tadi kata wanita itu? Dia memiliki dua suami? Yang benar saja, ini Indonesia mana mungkin dia bisa bersuami lebih dari satu. Indonesia merupakan negara yang memakai pernikahan monogami, tidak membenarkan atau melegalkan pernikahan dua suami. "Apa, kamu punya suami dua?" teriaknya menatap Sisil tak percaya. "Ya kali Pak, ini Indonesia yang menganut sistem pernikahan monogami," ejek Sisil karena berhasil membuatnya kaget. Nata tertawa, dia tidak menyangka Sisil akan mengerjainya seperti itu. Sisil benar-benar berani rupanya. Nata berjalan ke arah Sisil, tangannya dia masukkan ke saku celana formilnya. "Dengarkan aku baik-baik, kau pacarku mulai detik ini," ucapnya berbisik di telinga Sisil. Kaki Sisil melemas, tangan Nata menarik pinggangnya hingga posisi mereka saat ini sangat dekat. "Kamu mengerti?" Mereka semakin dekat, bahkan napas Nata menyapu wajah Sisil hingga Sisil membuang mukanya ke samping. "Eh, i-iya Pak saya mengerti," jawab Sisil gugup. "Nanti aku akan mengantarmu pulang, aku ingin tahu latar belakang pacarku," perintah Nata lagi. "Saya bawa mobil, Pak," bohong Sisil mencoba menjaga jaraknya dengan Nata. Sisil sadar, semakin dia menolak keinginan Nata. Maka semakin keras pula lelaki itu memaksakan kehendaknya kepada Sisil. "Baik Pak, kalau begitu saya permisi," pamit Sisil. Saat Sisil hendak membuka hendel pintu, Nata mencekal tangannya. "Maaf saya harus kembali," kata Sisil gugup. Tapi Nata tidak bergeming, lelaki itu malah memeluk Sisil dari belakang. Entah apa yang merasuki pikiran Nata, rasanya dia begitu dekat dengan Sisil. Lelaki itu merasakan perasaan hangat dalam dirinya ketika menatap wajah cantik Sisil. Jantung lelaki itupun berpacu lebih cepat dari biasanya. "Biarkan seperti ini sebentar saja," pinta Nata, menenggelamkan wajahnya di.lekukan leher Sisil, menghirup aroma tubuh wanita itu. Jantung Sisil berpacu tidak karuan, sentuhan tangan Nata membuatnya tidak bisa berkutik lagi. Nata memutar tubuh Sisil menghadap ke arahnya. Lelaki itu memajukan wajahnya. Lembut! Terasa basah! Otak Sisil bereaksi keras, matanya terbelalak begitu bibir Nata menyapu bibirnya dengan lembut. Lelaki itu mencuri ciuman pertamanya. Dengan sekuat tenaga, Sisil mendorong tubuh Nata hingga lelaki itu menjauh darinya. "Apa yang Bapak lakukan? Dasar otak m***m!" teriak Sisil marah. Sisil membanting pintu dengan keras, bahkan Neta yang berada didepan ruangan itu sampai berjingkat kaget melihat wajah Sisil yang terlihat sangat marah. "Miss tidak apa-apa?" tanya Neta khawatir. Tanpa menjawab pertanyaan Neta, Sisil pergi begitu saja dengan wajah merah padam menahan amarah. Rasanya Sisil ingin menampar lelaki itu yang seenaknya saja menciumnya tanpa izin. Dan catat, itu adalah ciuman pertama Sisil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD