4. Sirloin Steak

1167 Words
Suasana hati dan pikiran Sisil benar-benar kacau, sejak keluar dari ruangan Nata wanita itu tidak mengeluarkan sepatah katapun. Beberapa rekannya mencoba mengajak bicara Sisil, namun wanita itu memilih membiarkan mereka begitu saja. Mita sebagai sahabat baik Sisil merasa bahwa terjadi hal buruk dengan wanita itu di dalam ruangan CEO baru mereka. Sepertinya tidak mungkin kalau sahabat baiknya itu sampai dipecat karena satu kesalahan saja yang jelas-jelas bukan disengaja. “Ini, minum,“ ucap Mitha menyodorkan minuman kepada Sisil. Mita sengaja membelikan minuman dingin untuk mengurangi kegelisahan yang dia tangkap di raut wajah Sisil saat ini. Setidaknya Mita harus mencari tahu apa yang terjadi, hingga mereka menemukan jalan keluar atas solusi permasalahannya. Sisil menerima minuman itu, dia menghembuskan napas lelahnya. Sisil memilih menutup pekerjaan yang sama sekali belum dia lanjutkan sejak kembali dari ruangan Nata. “Elo kenapa?” tanya Mita khawatir. “Tidak apa, gue males banget sama Pak Nata,“ jawab Sisil membuat Mitha mengerutkan keningnya. “Ada masalah apa?” tanya Mita penasaran dengan apa yang terjadi. Mata Mita melebar. "Jangan-jangan, kamu dipecat?" pekik Mita. “Bukan begitu, ke mari,“ ucap Sisil meminta Mita mendekat ke arahnya, menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan ucapannya tak akan didengar oleh orang lain. Tatapan wajah Sisil berubah menjadi sangat serius. “Dia nyium gue, itu ciuman pertama gue!“ bisik Sisil penuh kecemasan. “APAAAAA? Dia nyium elu?” pekik Mita tak percaya. Mita tahu jika Sisil memiliki wajah yang sangat cantik, bahkan wanita itu selalu memakai pakaian mahal setiap harinya. Tentu saja penampilan yang dia kenakan menambah nilai plus pada diri Sisil. “Gimana rasanya?” tanya Mita penasaran, matanya berbinar menantikan jawaban dari Sisil. “Apanya?” tanya Sisil binging. “Ciuman Big Bos,“ goda Mita, menatap Sisil dengan berbinar. “Buruk, dia bukan pencium yang handal,“ ucap Sisil berbohong, wajahnya mendadak merah padam. Nata benar-benar mampu membuat kakinya lemas meskipun durasi ciuman mereka tidak lebih dari lima detik. Jantung Sisil mungkin akan berhenti berdetak jika mereka ciuman lebih dari itu. Cara lelaki itu menciumnya membuat Sisil gila jika membayangkannya lagi. Sisil menggelengkan kepalanya, mengusir pemikiran menjijikkan itu dari otaknya. Dia tidak boleh jatuh hati pada lelaki yang mampu mencium wanita saat mereka saja belum mengenal dengan baik. Dan Mita, dia sungguh tidak percaya dengan apa yang baru saja Sisil katakan. Rasanya tidak mungkin jika lelaki setampan dan segagah Nata tidak ahli dalam berciuman. Sisil pasti berbohong kepadanya. Sedangkan Nata hanya bisa tersenyum, membayangkan wajah merah padam Sisil seperti hiburan tersendiri baginya. Tanpa sadar lelaki itu memegang bibirnya, membayangkan kejadian beberapa jam lalu yang mampu membuatnya tersenyum sendiri seperti ABG yang baru menyukai lawan jenisnya. Nata sendiri tidak tahu apa yang sudah dia lakukan kepada wanita yang baru saja dia temui. Wanita unik yang mampu membuat Nata semakin penasaran, ingin mengenal lebih dalam tentang Cecilia. Sejak Sisil keluar dari ruangannya, yang dilakukan Nata hanya mengecek CCTV ruangan di mana Sisil berada. Memantau dan juga mengawasi setiap gerak-gerik wanita itu. Dan mungkin, ini adalah pekerjaan baru bagi Nata, menjadi stalking seorang wanita. Mata Nata terbelalak ketika mendengar apa yang Sisil ucapkan kepada temannya. “Dia mengatakan aku tidak ahli dalam ciuman? Dia saja baru pertama kali ciuman, bagaimana dia bisa menilaiku seburuk itu?” cibir Nata memandang rekaman CCTV di depannya. Lelaki itu menatap Sisil dari layar laptopnya tidak percaya. Dan akhirnya, waktu yang semua orang tunggu-tunggu telah tiba. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, di mana waktu bekerja mereka semua telah usai. Nata menyimpan dokumen yang sudah dia kerjakan, dia segera merapikan barang-barangnya ke dalam tas. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, Nata langsung bergegas menuju lantai 8 di mana divisi keuangan berada. Sesampainya dia di sana, dia tidak melihat sosok Sisil lagi di tempatnya. Komputer wanita itupun sudah mati. Apa Sisil sudah pergi lebih dulu untuk menghindarinya kali ini? “Pak Nata,“ sapa Mita ketika berpapasan dengan Nata di sana. “Di mana Cecilia?” tanya Nata ketika melihat Mita yang dia tahu teman dekat Sisil di kantor. “Sudah turun lima menit yang lalu Pak,“ jawab Mita. Ada yang aneh dengan tatapan Mita kepadanya. Rekan kerja Sisil itu seolah tengah menilai kepiawaian Nata dalam berciuman. Tanpa membuang waktu lebih banyak lagi, Nata berlari kecil menuju lift dan langsung menekan basement agar dirinya tidak kehilangan jejak dari wanita itu. Untung saja, Nata sudah menghubungi security yang berjaga di basement sejak tadi siang, meminta security itu untuk menggembosi ban mobil milik Sisil yang terparkir di sana. Dan benar saja, Sisil menatap mobilnya dengan mata membulat sempurna. Mungkin mobil itu sudah saatnya meminta ganti. Baru saja mobilnya di kirimkan ke mari dari bengkel service, sekarang giliran ban mobilnya yang bocor. “Sialan, bocor lagi,“ umpat Sisil merutuki kesialan beruntun yang menimpanya seharian ini. Sisil mengamati ke sekelilingnya, hanya tinggal dua mobil saja yang ada di sana, mobilnya dan satu mobil lainnya. Niat hati ingin segera pergi dari sana secepat mungkin rasanya sudah sia-sia. Padahal Sisil sengaja menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin untuk menghindari Nata, tapi ternyata usahanya tidak membuahkan hasil. “Mau kabur?” sergah Nata yang tiba-tiba saja datang. Sisil berjingkat kaget ketika seseorang berdiri belakangnya. “Astaga Pak, Anda mengagetkan saja,“ ucap Sisil mengelus dadanya yang kini bergetar. “Kenapa mobilmu, bocor?” tanya Nata menatap ban mobil Sisil. “Kok Bapak bisa tahu?” tanya Sisil menatap Nata dengan curiga. Nata memutar matanya malas, wanita itu mencurigainya membuat bocor ban mobilnya. Memangnya Nata tidak punya pekerjaan lain hingga harus melakukan hal merepotkan seperti itu. “Itu, kan saya bisa lihat!“ jawab Nata menunjuk ban mobil Sisil yang gembos. Sisil mengangguk. “Benar juga sih Pak,“ jawab Sisil mengiyakan. “Makanya, jangan sok-sok’an kabur segala. Kualat kan jadinya.“ Sisil menatap Nata tak percaya, rasanya Nata seperti seorang ibu yang mendoakan anaknya kualat jika membangkang kepadanya. “Ayo aku antar kamu pulang,“ ucap Nata, menggandeng tangan Sisil menuju mobilnya. “Mobil saya bagaimana, Pak?” “Aman di kantor, kalau hilang aku ganti!“ “Aishh sok bossy,“ cibir Sisil hanya dijawab kekehan dari Nata. Nata bukan tipikal lelaki yang dingin, atau misterius. Nata bisa dibilang cerewet dalam ukuran para lelaki, Nata juga sangat perfectionis dalam segala hal. Mereka tidak langsung pulang, Nata mengajak Sisil mampir ke sebuah restoran yang dulu sering dia datangi bersama keluarganya dan juga keluarga teman sang ayah. “Kita mampir makan dulu,“ ucap Nata. “Terserah Bapak saja,“ jawab Sisil tanpa protes. “Jangan memanggilku Bapak ketika di luar kanor, aku merasa tua,“ keluhnya. “Memangnya Bapak masih anak-anak?” tanya Sisil menggoda Nata. Mata Nata menyipit tajam. “Berani ya kamu mengolok-ngolok bosmu, mau aku cium kamu?” Perkataan Nata tentu saja membuat Sisil spontan menutup bibirnya. Dia segera membuka pintu mobil dan keluar dari penjara berjalan itu. Nata terkekeh melihat gelagat Sisil yang sedang salah tingkah. Para waiters menjamu mereka dengan sopan “Sirloin steak,“ ucap mereka bersamaan, membuat para waiters disana terkikik geli, menganggap kedua manusia itu pasangan yang sempurna. “Bapak dan Ibu sangat serasi, kesukaan kalian pun sama,“ ucap waiters itu. “Tentu saja, bulan depan kami menikah,“ ucap Nata memeluk Sisil yang duduk di sampingnya. Mata mereka saling bertemu, satu tatapan mata memuja, dan yang satu tatapan mata membunuh. Keduanya seperti air dan minyak yang mungkin sangat sulit untuk disatukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD