5. Bos Enggak Modal

1408 Words
Waktu terasa berlalu begitu lama, Sisil menatap bosnya yang tengah menikmati makanannya dengan santai. Entah kenapa menurut Sisil lelaki itu sengaja memperlambat makannya hingga dia bisa terjebak dengan lelaki itu lagi. Ah, andai saja Sisil menuruti orang tuanya untuk memakai mobil terbaru mereka. Mungkin kejadian ini tidak akan terjadi. Tapi, Sisil juga harus memikirkan apa yang dipikirkan rekan-rekan kerjanya jika dia memakai mobil mewah. Sisil mendengus, bosnya memang sengaja menahannya lebih lama disana. Sisil dengan malas menatap Nata yang kini sedang asyik menikmati makanan yang tengah lelaki itu santap. "Aku tahu aku tampan, jangan menatapku begitu," ucap Nata membuat Sisil kembali mendengus. "PD sekali Anda, Pak," ucap Sisil bergidik ngeri. Nata mendongak menatap Sisil, matanya menyipit menatap Sisil di tempatnya. "Yakin kamu nggak terpesona denganku? Lihat saja semua pelayan wanita di sini." Nata menaikkan alisnya, menunjukkan kepada Sisil kalau semua pelayan wanita di sana tengah menatapnya lapar. Sisil melipat tangannya, menghendikkan bahunya tidak mempercayai ucapan lelaki yang kelewat PD menurutnya. Sejak pertama pertemuannya dengan Nata, segala tindak-tanduk lelaki itu sudah pasti overthinking. Mata Nata memberikan petunjuk untuk Sisil mengikuti arah pandangnya. Nata seperti ingin membuktikan perkataannya kepada Sisil agar wanita di depannya tak lagi meremehkan pesona yang dia miliki. Dia mampu memikat banyak wanita jika dia menginginkannya. Sisil menoleh ke arah yang Nata tunjuk, memastikan apa yang dikatakan bosnya itu hanya sebuah becandaan. Sisil menganga dengan apa yang kini dia lihat. Ucapan Nata terbukti adanya, beberapa pelayan di depannya tidak tahu malu mengamati Nata dengan pandangan takjub. "Ini gila," ucap Sisil ketika mendapati ucapan bosnya benar-benar terjadi. Pelayan wanita di sana menatap Nata dan tersenyum sangat ramah ke arah lelaki itu. Sehebat apa Nata sampai bisa menarik perhatian para pelayan wanita di restoran itu. Mungkin para pelayan itu hanya menunjukkan keramah-tamahan mereka kepada tamu yang datang. "Mereka tersenyum kepada Anda karena mereka profesional, Pak. Anda jangan terlalu percaya diri," sanggah Sisil tidak terima. "Kamu beruntung makan satu meja denganku," ucap Nata dengan PDnya membuat Sisil terbahak. Beruntung makan satu meja dengan dirinya katanya? Sisil adalah wanita idaman tiga dunia, jelas saja yang paling beruntung di antara mereka berdua yaitu Nata, karena berhasil membuat wanita idaman tersebut makan bersama satu meja dengannya. Catat, satu meja dengannya! "Anda hanya dikagumi para pelayan saja rupanya," kekeh Sisil, mengambil gelas minumannya dan meneguknya kembali hingga tandas tak tersisa. Nata menatap Sisil dengan kening berkerut, beberapa detik yang lalu wanita itu terlihat jengah, dan beberapa detik kemudian dia terbahak? Apakah Sisil memiliki gangguan kejiwaan? "Kamu meremehkan pesonaku?" tanya Naya menatap Sisil tidak percaya. Sisil mengangguk, padahal tanpa Nata membuktikannya Sisil tahu benar bahwa lelaki yang kini duduk satu meja dengannya, tepatnya lelaki yang duduk di depannya sangat tampan, tidak perlu diragukan lagi ketampanan lelaki itu. Namun keinginan Sisil untuk mengerjai Nata membuatnya sengaja memancing kekesalan Nata. Nata menoleh ke arah pelayan wanita yang sejak tadi tersenyum kearahnya. Dan mereka semua ikut terkikik bersama Sisil. Nata merasakan ada sesuatu yang aneh terjadi kepada mereka. Ada apa ini? Apakah aura positif Nata membuat para wanita menjadi over bahagia sehingga mereka tertawa ketika menatapnya. Nata menatap Sisil meminta penjelasan dari wanita itu. "Why?" tanya Nata yang merasa terganggu dengan tatapan yang semua layangkan kepadanya. Bukannya menjawab, Sisil justru memuaskan dirinya untuk tetap tertawa di tempatnya. Sisil mengambil ponselnya. Sisil mengarahkan kamera ponselnya kepada Nata. "Ada saus steak di bibir Anda, Bos," kekeh Sisil menunjuk saus yang tertinggal di bibir lelaki itu. Dengan cepat Nata mengambil tissue, mengelap bibirnya sebelum tawa Sisil semakin pecah. Lelaki itu merasa malu bukan kepalang. Tidak elok rasanya lelaki dewasa yang digandrungi banyak wanita bisa bersikap kekanakan. "Bukan di sana, tapi di sini," ucap Sisil mengelap bibir Nata, menuntun tangan lelaki itu hingga menyapu saus yang tertinggal di sudut mulut Nata. Tangan mereka bersentuhan, menimbulkan gejolak panas dalam tubuh Nata. Lelaki itu menengang di tempatnya. Matanya menatap Sisil penuh arti. Kenapa dadanya bergemuruh hebat hanya karena tangannya bersentuhan dengan tangan wanita itu? Padahal Nata sering berinteraksi lebih dari bersentuhan tangan dengan wanita-wanita yang pernah menjadi teman kencannya. Perasaan apa yang menghinggap di hatinya? Merasakan tangannya menyentuh tangan Nata, Sisil dengan cepat melepaskan tangan lelaki itu. Wajahnya memerah, sentuhan beberapa detik dengan lelaki itu mampu membuat tubuhnya panas dingin tidak karuan. "Ma-maaf, Pak," kata Sisil sambari menarik kembali tangannya. Nata berdeham guna menetralkan detak jantungnya. Lelaki itu bergegas meraih minuman, meneguknya perlahan untuk mengisi kerongkongannya yang terasa kering kerontang akibat aura gesekan panas dari kulitnya dan kulit Cecilia. "Kamu tidak menambah lagi?" tanya Nata dijawab gelengan kepala dari Sisil. "Tidak usah, Pak. Saya sudah cukup kenyang." "Em, oke," pungkas Nata mengangguk. Nata melambaikan tangannya, memanggil pelayan yang ada di sana. Meminta bill makan untuk dia bayarkan. "Ini total keseluruhannya, Pak," ucap pelayan wanita itu tersenyum. Nata mencari dompetnya, mengambil black card di dalam sana. Lelaki itu menyodorkan kartunya kepada pelayan itu. "Saya pakai kartu kredit," ucap Nata diangguki pelayan itu. Setelah pelayan itu pergi, Nata menatap Sisil yang sibuk dengan ponselnya. Lelaki itu menatap penasaran apa yang tengah wanita itu lihat hingga bisa tersenyum seperti itu. Mungkinkah Sisil mendapatkan pesan dari kekasihnya? Kenapa memikirkan hal itu membuat darah Nata mendidih secara tiba-tiba. Ada perasaan tidak nyaman melihat Sisil tersenyum setelah membuka ponsel milik wanita itu. Secepat kilat, Nata merebut ponsel Sisil, membuat pemiliknya mendelik terkejut. "Heiii, kembalikan ponselku," kesal Sisil. "Biar aku lihat apa yang tengah kamu lakukan," pungkas Nata. Lelaki berparas copyan dari sang ayah tersebut menatap layar ponsel Sisil. Di sana dia melihat wajahnya. Rupanya Sisil mengambil fotonya tanpa meminta izin dulu darinya. Seperti ada kupu-kupu menari dalam perut Nata. Mungkin Sisil sudah jatuh hati padanya hingga membutuhkan foto dirinya untuk meredakan kadar kebucinan. "Kamu memotretku diam-diam?" tanya Nata membuat wajah Sisil memerah. "Aku hanya mengabadikan saus yang ada di bibirmu," gagap Sisil mencari alasan. Baru saja lelaki itu hampir mengecek ponsel Sisil lebih jauh lagi, tapi suara pelayan membuat mereka berdua menoleh. "Maaf Pak, kartu kredit Anda tidak dapat digunakan saat ini karena ada penahanan," ucap pelayan itu membuat Nata menyerngit heran. Tidak beruntung, kartu kredit miliknya hanya dapat digunakan setelah pengaktifan kembali. Apakah orang suruhan ayahnya belum mengurus pengaktifan kartunya di Indonesia? "Bisa pakai kartu lain atau uang cash, Pak?" lanjutnya. Nata membuka dompetnya lagi, tidak ada uang cash di sana. Kemudian lelaki itu menatap Sisil. Hanya Sisil yang dapat menyelamatkan citranya sebagai bujang tampan nan rupawan di depan para pelayan wanita itu. "Sayang, kamu yang bayar dulu ya?" ucap Nata tersenyum ke arah Sisil. Mata Sisil terbelalak mendengar ucapan lelaki di hadapannya. Bagaimana bisa lelaki itu yang mengajaknya makan tapi malah dia yang membayarnya? Sialan, lelaki itu yang mengajak makan di sana tapi Sisil yang disuruh membayar tagihannya! Padahal Nata bisa kapan saja meminta sekretaris pribadinya atau keluarganya melakukan debit pada restoran itu. Dengan setengah hati Sisil mengeluarkan uang cashnya sejumlah total bill yang pelayan itu sodorkan kepadanya. Sisil lalu berdiri meninggalkan Nata di belakangnya, Nata berlari kecil mengejar Sisil. Hancur sudah wibawanya sebagai lelaki kaya raya pewaris perusahaan, makan saja dia harus dibayari bawahannya. Bisa hilang citra dia di depan Sisil. Catat dalam sejarah, ini pertama kalinya Nata makan di bayar oleh seorang wanita. Memalukan sekali! "Cecilia!" panggil Nata tergesa-gesa. "Saya naik taxi saja, Pak," ucap Sisil menahan kekesalannya. Gawat, Nata bisa kehilangan kesempatan mengetahui di mana wanita itu tinggal. Nata menyentuh tangan Sisil. "Aku minta maaf, aku ganti uangmu. Hmmm?" ucap Nata. Sisil mendengus, tentu saja uangnya harus diganti. Kalau tidak Sisil akan menyebarkan kejadian hari ini ke semua pegawai di tempatnya bekerja. Agar mereka tahu, bos yang mereka sanjung-sanjung tidak sesempurna kelihatannya. "Ya harus Bapak ganti lah, itu kan saya masukin ke daftar hutang perusahaan!" "Apa? Ckck," tanya Nata tidak percaya dengan apa yang baru saja Sisil katakan. Hutang? Ini pertama kalinya lelaki itu memiliki hutang, apalagi ini hutang kepada seorang wanita. "Memang Bapak mau saya tadi pergi tanpa bayar? Bapak bakalan nyuci piring sekalian ngepel di sini. Mau?" tanya Sisil menakut-nakuti Nata. "Iya kan mau aku ganti, besok, atau beri aku nomor rekeningmu," jawab Nata pasrah. "Baguslah kalau Bapak sadar." "Ya sudah, ayo masuk ke mobil," ajak Nata. Daripada membuang ongkos untuk pulang, Sisil memilih pulang bersama Nata. Okeh, penghematan dimulai! Sisil menghidupkan radio dalam mobil Nata, mengisi keheningan yang ada di dalam sana. "Sil, pinjami aku uang lagi. Bensinku hampir habis," ucap Nata dengan ragu. "Pinjam lagi? Dasar bos enggak modal! Arghhhhh!" pekik Sisil emosi. Bukannya marah, Nata justru terbahak di tempatnya melihat kekesalan terlihat di paras ayu Cecilia Fanyandra Corlyn.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD