Hoooammmm...
Lenguhan wanita yang masih meringkuk di bawah selimut ketika gorden kamarnya dibuka tiba-tiba. Wajahnya dia tutupi dengan selimut, mengeratkan kain tebal tersebut agar tidak disibak paksa oleh pelaku yang sama.
Siapa lagi pelakunya jika bukan sang mommy, tidak ada yang berani membangunkan putri raja selain mommy dan daddynya. Bahkan para asisten rumah tangga mereka harus membersihkan kamar sang tuan putri setelah Sisil bangun tidur, mereka diberikan perintah Sisil untuk tidak mengusik tidur nyenyaknya.
Jam berapa sih ini kok mataharinya silau banget? Begitu gerutu Sisil saat ini.
"Sisil, kamu mau seharian tidur tanpa bekerja?" seru sang ibu berkacak pinggang.
"Mommy, sebentar lagi, please," sahut Sisil masih enggan beranjak dari posisi ternyamannya.
"Sebentar lagi ya? Memangnya kamu pikir kamu itu pengangguran tanpa pekerjaan?" kata Vere menegur putri sematawayangnya.
Menyebutkan kata pekerjaan tentu mengganggu pikiran sang putri. Sisil mengingat kembali, ini masih hari kerja, dan hari libur masih dua hari lagi dari sekarang.
"Ohh sh*t! Jam berapa sekarang?!" pekiknya menyibak selimut yang dia pakai dengan sekali hentakan.
Sisil mengerjapkan matanya, dengan malas wanita itu melihat ke dinding kamarnya, lebih tepanya jam dinding. 06.30!
"Masih setengah tujuh, tidur sepuluh menit lagi tidak apa."
Ehh tunggu jam berapa? Setengah tujuh? Baru saja mata cantiknya akan kembali terpejam, Sisil menyadari sesuatu.
'Aduhh sial masa telat lagi sih bisa mam-pus nih sama bos gila!' batin Sisil.
Membayangkan kegilaan bosnya yang tidak segan-segan akan merecokinya. Sisil menyingkap selimutnya asal, berlari memasuki kamar mandi untuk ritual mandi kilatnya. Dia harus segera menyelesaikan rutinitas paginya lantas bergegas berangkat ke kantor.
Bos sin-tingnya itu mungkin akan membuatnya dalam kesulitan kalau sampai tahu Sisil telat lagi untuk ke sekian kalinya. Kesalahan Sisil kali ini mungkin akan membuat bos barunya memiliki niat selanjutnya.
"Mimpi apa aku semalam sampai harus berurusan lagi dengannya setiap hari!" gerutu Sisil menyisir rambut panjangnya.
Setelah 20 menit bersiap diri, Sisil menyambar tas dan mengambil heelnya. Tanpa buang waktu lagi Sisil segera turun ke meja makan untuk sarapan pagi bersama keluarganya.
"Pagi, Mommy, Daddy," sapanya sambil mencium daddy dan mommynya seperti biasanya.
"Pagi Sayang, kamu telat lagi bukan?" tanya Reivan seakan hafal akan kelakuan anaknya.
Sisil tersenyum, dia mengambil roti dengan selai coklat kesukaannya. Beberapa pelayan hendak membantu Sisil, namun Sisil cepat-cepat mengangkat tangan pertanda dirinya bisa melakukannya sendiri.
"Hehe, iya nih Dad, nebeng ya? Sisil lagi males bawa mobil nih," ucap Sisil dengan memasang pupeyes andalannya.
"Tentu saja sayang, kenapa mobilmu? rewel lagi?" kekeh Reivan yang tidak tahu jalan pikiran Sisil.
Mobil yang sudah lama namun masih menjadi kesukaan putrinya. Mungkin bagi putrinya bukan perkara tahun kendaraan besi tersebut, melainkan cinta yang tersirat dari pemberian orang tuanya sayang diganti begitu saja.
"Ayo cepat habiskan sarapannya, jangan ngobrol terus," tegur Nyonya Corlyn mengomeli anak dan suaminya.
"Baik Mommy," jawab Sisil dengan Reivan serempak.
"Ughhh daddy dan anak sama saja," gerutu Vereneden, hingga membuat mereka tertawa.
Keluarga mereka menjadi keluarga idola bagi sebagian orang. Pasalnya pasangan suami istri itu jarang sekali cek-cok, bahkan bisa dikatakan hampir tidak pernah adu mulut sama sekali. Ditambah keramahan mereka atas para pegawai mereka di rumah maupun di kantor. Mereka tipe keluarga ideal menurut sebagian orang.
"Sudah selesai, ayo Dad kita pergi," seru Sisil membuat Reivan menyerngitkan keningnya.
Baru kali ini putrinya sangat takut terlambat, biasanya Sisil sangat cuek.
"Tumben kamu takut telat?" tanya Reivan.
"Dad belum tahu sih CEO baru di kantorku kayak singa kehilangan induknya," ucap Sisil menggebu-gebu membayangkan bosnya yang super duper rese.
"Dicek dulu nanti ada yang ketinggalan," ucap mommy Sisil kepada anak dan suaminya.
Merasa tidak ada yang tertinggal, Reivan memanggil sopir pribadinya.
"Kita ke kantor Sisil dulu ya, Mang," ucap Reivan diangguki sopir pribadi mereka.
"Siap Pak."
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai di depan pelataran Dirga Company.
"Sudah Dad di sini saja, aku tidak mau ketahuan sebagai anak Daddy."
Reivan segera menjitak Sisil mendengar penuturan tidak masuk akal dari putrinya. Banyak anak mimpi menjadi anak dari Reivan, dan Sisil sebaliknya.
"Kamu malu punya ayah seperti
Daddy?" tanya Reivan berpura-pura marah.
"Maksudnya Sisil takut mereka tahu tentang keluarga kita Daddy, Daddy nethink mulu sama anaknya," keluh Sisil.
"Ya sudah, sana masuk."
Sisil mencium tangan dan pipi Reivan, Sisil melambaikan tangannya ketika mobil yang ditumpangi ayahnya melaju meninggalkannya di sana.
Sisil sangat beruntung, dia memiliki orang tua yang sangat baik dan pengertian. Meskipun dulu Reivan non muslim, tapi sebelum menikahi mommynya sang daddy rela menjadi mualaf demi wanitanya—sang mommy.
Sisil menatap tubuhnya pada kaca hitam didepan kantornya. Sisil merapikan penampilannya.
"Ekhmmm."
Sisil menoleh, ternyata Nata berdiri di belakangnya menatap aktivitas yang baru saja dia lakukan.
"Apa Bos?" tanya Sisil tidak suka.
"Honey, tidak usah ketus denganku."
Sisil menutup mulut Nata, matanya melebar ketika tanpa malu Nata memanggilnya honey di depan karyawan lainnya yang berlalu lalang masuk ke dalam kantor.
Sisil menarik Nata menuju lift khusus jajaran eksekutif perusahan itu. Dia harus mengamankan nyawanya terlebih dahulu dari intaian mata pegawai lainnya.
"Dengarkan aku baik-baik, Pak Nata. Jangan membuat karyawan lain berpikir buruk tentangku. Dan lagi, jangan ember!" ucap Sisil marah.
"Kamu ini bukannya menyapa bosmu malah memarahinya sepagi ini!" keluh Nata tidak terima.
"Ah sudahlah, selamat bekerja Bosque," ucap Sisil ketika lift terbuka tepat di mana divisi Sisil berada.
Sisil berlari kecil meninggalkan Nata di dalam lift seorang diri. Lelaki itu berdecak sebal, kali ini Nata begitu patuh pada seorang wanita yang jelas-jelas mendekatinya karena niatnya numpang menaiki lift executive.
"Wahh, dia memanfaatkanku untuk naik lift ini," cibirnya Nata ketika menyadari kejanggalan yang terjadi.
Yah tentu saja, bukan Sisil namanya jika tidak mencari kesempatan dalam kesempitan. Satu menit saja dia telat absen dengan sidik jarinya maka hangus sudah bayarannya hari ini.
Nata memasuki ruangannya, lelaki itu nampaknya begitu penasaran dengan Sisil. Baru saja sampai, bisa-bisanya Nata mengecek CCTV yang terhubung dengan ruang kerja Sisil.
Getar ponselnya membuat Nata berdecak kesal.
Racka Calling...
"Apa? Mengganggu saja!" sentak Nata ketus.
'Hai bos sombong, aku mau berbicara denganmu bukankah kau sudah kembali ke Indonesia dan menjadi CEO di perusahaan ayahmu.'
"Kamu seperti reporter saja," keluh Nata.
'Aku dan anak-anak mau ke sana,' jelas Racka di seberang sana.
Kening Nata berkerut ketika mendengar ke empat teman-temannya akan datang. Mereka pasti akan membuat kehebohan, bahkan bisa jadi mereka menggoda karyawan di kantornya.
Bagaimana jika mereka menggoda Sisil? Herrrrr, membayangkannya saja membuat Nata geram.
"Baik aku akan ke sana secepatnya."
Nata melotot mendengar ucapan Racka, bukankah dia belum memberikan mereka izin untuk datang? Lalu mengapa teman baiknya itu berlagak tak tahu diri seakan-akan Nata sudah memberikannya lampu hijau.
Nata menatap Sisil dari layar laptopnya, wajah Sisil selalu mengingatkannya akan sosok anak kecil di masa lalunya. Matanya menatap dalam sosok wanita yang kini fokus pada layar komputer di depannya. Dari samping, Nata sekilas melihat kemiripan di antara gadis di masa kecilnya, dan Cecilia.
- Flashback on -
Adinata kecil bersama dengan orang tuanya mengunjungi rumah rekan kerja papinya,disana ada gadis kecil yang imut dan manis,rambutnya dikepang kesamping
"Hai adik kecil, siapa namamu?"
"Akuu ... Lia," ucapnya tak jelas karna memakan brownis.
"Oh baik aku panggil kamu Lia," ucap Nata pada akhirnya.
"Hei tidak ada yang memanggilku itu," jelasnya.
"Tidak apa-apa biar spesial," kata Nata tersenyum.
"Kakak anak Om Dirga ya?" tanya gadis itu menatap Nata.
"Iya, kamu umur berapa?"
"Aku 7 tahun Kak, kelas 2 SD." Anak perempuan itu tersenyum menunjukkan deretan giginya yang begitu rapi.
"Kalau Kakak kelas 5 SD."
Semenjak itu mereka sangat dekat, hingga suatu saat kedua orang tua Nata pindah keluar negeri karena bisnis.
"Kakak jangan pergi, hiksss."
"Jangan menangis, aku akan pulang," ucap Nata berjanji kepada anak itu.
"Janji?" katanya dengan mengacungkan jari kelingkingnya,
"Iya aku janji."
"Ayo Sayang sebentar lagi pesawat kita terbang," kata mami Nata memutus hubungan yang terjalin tanpa disadari.
- Flashback off -
Suara Anetta menyadarkan Nata dari lamunannya. Sekretaris pribadi Nata melambaikan tangannya, mencoba menyadarkan bos barunya ke realita.
Anetta bukannya tidak sopan, hanya saja ada beberapa berkas yang membutuhkan tanda tangan Nata secepatnya. Serta beberapa dokumen yang harus Nata cek ulang kembali sebelum dilegalisasi pihak Legal Officer mereka.
"Bapak melamun?" Anetta melambaikan tangannya di depan wajah Nata.
"Hah? Ya ada apa? Sudah selesai laporanmu?" gagap Nata terkejut dengan kedatangan sekretarisnya.
Nata mengeluarkan tampilan laptopnya dari dokumen kamera CCTV. Bisa malu dirinya kalau sampai anak buahnya tahu sang bos tengah stalking salah satu pegawai cantik.
"Ini Pak," ucapnya menyerahkan berkas laporan kepada Nata.
Nata menerima berkas itu. Matanya menatap tumpukan berkas di mejanya dengan hembusan napas panjang. Inilah yang membuat Nata enggan mengambil alih posisi ayahnya.
Dirinya masih ingin hidup bebas, berkeliaran ke manapun dia mau. Serta melakukan traveling sambari menyalurkan hobby fotografinya.
"Saya permisi Pak," pamit Anetta undur diri.
Nata mengangguk, tangannya mulai membuka lembar demi lembar laporan yang diserahkan Netta padanya.
Suara ketukan pintu membuat Nata mengalihkan matanya dari laporan itu ke arah suara.
"Woeee Bro, how are you? Kusut amat," kata Racka melenggang masuk ke dalam ruangan sahabatnya tanpa permisi.
"Kau tetap berandalan meski sudah punya anak!" ejek Nata.
"Hei aku papa yang keren," ucapnya bangga.
Nata hanya mendengus mendengar ucapan penuh bangga dari mulut Racka.
"Apa kau tidak ingin mencari istri dan ibu untuk anakmu? siapa tahu sifat berandalanmu berubah," goda Nata membuat Racka memukul kepalanya pelan.
"Daripada pusing mikir istri buat gue, elo kapan nyari istrinya?" balas Racka mengejek.
"Bisa aja lu ngelesss," jawab Nata menggelengkan kepalanya.
"Permisi Pak, hello?" Suara lembut interupsi seorang wanita berparas cantik jelita di ambang pintu.
Mereka berdua menoleh, Sisil berada di ambang pintu dengan laporan keuangan yang ada di genggaman tangannya. Wanita itu mengamati dua lelaki di depannya, tatapannya terlihat jengah.
Andai saja dia tidak memiliki kewajiban menyerahkan laporan keuangan itu, Sisil tentu tidak harus beradu wajah kembali dengan bos menyebalkan.
"Vi-Viona?" gumam Racka tak percaya ada wanita semirip itu dengan wanita di masa lalunya.
Nata melirik ke arah Racka, wajah keterkejutan Racka membuat lelaki itu tidak tenang. Bagaimana jika Racka menyukai Sisil?
Bagaimana jika Racka berniat menjadikan Sisil istrinya? Seharusnya Nata tidak usah menyarankan Racka untuk mencarikan ibu untuk putranya.