Mata Racka dan Sisil bertemu, mereka saling menatap satu sama lain seperti mereka pernah mengenal sebelumnya. Entah di mana Sisil pernah bertemu dengan lelaki yang tak lain adalah teman dari bos barunya.
Kening Sisil berkerut, dia yakin bahwa ini adalah kali pertama pertemuannya dengan lelaki di depannya. Tapi kenapa lelaki itu tetap menatap Sisil dengan menilai?
Sayup-sayup dalam pendengaran Sisil, wanita itu mendengar lelaki asing di depannya menyebutkan sebuah nama. Sebuah nama yang teramat dekat dengan dirinya, salah satu keluarga tercinta.
'Siapa lelaki itu?' batin Sisil menilai.
Sisil berjalan ke arah Nata, mencoba bersikap tenang diri walaupun dalam hatinya masih terusik. Siapapun lelaki itu, Sisil dapat memastikan kalau lelaki di depannya mengenal sepupunya—Viona Roseandra Corlyn.
"Ini laporan yang saya kerjakan Pak, Anda dapat mengeceknya kembali," ucap Sisil sambil mencuri pandang ke arah lelaki asing yang tidak lain adalah Racka.
Ya, sekarang Sisil mengingat wajah itu. wajah yang dulu sempat dia lihat dari wallpaper ponsel Viona sebelum sepupunya hancur lebur ditinggal menikah oleh kekasihnya. Lelaki yang patut disalahkan atas kesendirian Viona sampai detik ini.
Lelaki yang menghancurkan perasaan Viona sepupunya hingga mati rasa dan susah kembali mencinta.
Nata mendengkus atas aksi saling tatap kedua manusia dewasa itu. Dengan sengaja Nata memeluk Sisil dari belakang.
"Honey aku merindukanmu," ucap Nata seperti anak kecil yang tidak suka miliknya diusik orang lain.
Sisil memberontak, tangannya mencoba melepaskan pelukan dari bosnya yang sinting. Perlakuan Nata secara tiba-tiba membuat wanita itu tidak nyaman. Terlebih di depan orang lain, takut menjadi gosip buah bibir di luaran sana.
"Pak apaan sih, nggak malu dilihat rekan Bapak?" tanya Sisil emosi.
"Dia bukan rekanku, anggap saja dia patung di sini," ucap Nata dijawab dengkusan dari Racka.
"Pak Adinata, lepaskan saya, atau saya teriak sekarang juga!" ancam Sisil.
"Tidak mau! Kamu kan kekasih saya!" bela Nata atas perlakuan semena-menanya.
"Kekasih paksaan lebih tepatnya! Mana ada hubungan yang dimulai dari paksaan!" oceh Sisil dengan sengaja menekan kata paksaan dalam kalimatnya.
Mau tidak mau, rela tidak rela, Nata melepaskan pelukannya dari Sisil. Lelaki itu seperti merajuk ketika mainnya direnggut paksa darinya. Baru kali ini Nata ditolak mentah-mentah oleh wanita.
Mainan? Ini Cecilia Fanyandra Corlyn, dia masuk jajan wanita idaman di masa kini. Wanita lain mungkin akan jatuh bertekuk lutut di bawah Nata, namun bukan berarti hal yang sama akan dilakukan Sisil pula.
"Lebih baik saya permisi kembali ke ruangan saya, Pak. Silahkan hubungi saya kembali kalau ada koreksian tentang laporan yang saya kerjakan," pamit Sisil.
"Hanya untuk koreksian pekerjaanmu saja? Kalau saya merindukanmu bagaimana?" tanya Nata.
"Ya itu urusan Bapak, bukan urusan saya. Saya di sini sebagai karyawan perusahaan sungguhan, bukan karyawan PT Mencari Cinta Sejati," pungkas Sisil ketus.
Sisil berbalik hendak melangkah meninggalkan ruangan bosnya. Dia akan menjadi penghuni baru rumah sakit kejiwaan kalau lama-lama berada satu ruangan dengan Nata.
"Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Suara Racka menghentikannya.
Tidak hanya Racka yang penasaran akan jawaban Sisil, Nata juga penasaran. Bahkan Nata sampai menyipitkan matanya menunggu jawaban dari mulut manis wanita yang dia klaim sebagai kekasih kilatnya itu.
"Kalian pernah bertemu? Kapan? Dan di mana?" Berondong Nata dengan banyak pertanyaan atas rasa penasarannya.
"Emmmm, sepertinya tidak pernah," jawab Sisil tampak menimang.
Hembusan napas lega keluar dari mulut Nata, lelaki itu bahkan sampai mengelus da-danya.
"Syukurlah," gumam Nata penuh kelegaan.
Nata menatap teman sekaligus sahabat karibnya. Dari sorot mata Racka, jelas terlihat banyak pertanyaan tercetak di sana. Nata harus secepatnya meminta Sisil keluar dari ruangannya, sebelum Racka memiliki niat memiliki pegawai cantiknya.
"Haishh, sudah-sudah biarkan Cecilia kembali ke ruangannya."
Itu hanya alasan Nata, mencoba mengusir Sisil dari ruangannya agar tidak menarik perhatian dari Racka. Nata tidak rela jika harus membiarkan Sisil jatuh dalam pelukan duda beranak satu. Apa jadinya jika dia dan temannya harus merebutkan satu wanita? Tidak bisa dibayangkan.
"Baik Pak Nata, saya permisi dulu," ucap Sisil membungkuk hormat ke arah Nata, dan Racka.
Pintu tertutup, menandakan Sisil sudah keluar dari ruangan Nata.
"Lo ngerasa nggak, dia nggak asing banget," ucap Racka.
Nata berpikir sejenak, dia juga merasa bahwa Sisil sosok yang tidak asing baginya. Bedanya, Racka menyadari kemiripan Sisil dengan mantan kekasihnya. Sedangkan Nata merasa terdapat banyak kemiripan antara Sisil dengan gadis kecil di masa lalunya.
"Iya," jawab Nata.
"Kamu pernah ketemu dia di mana?" tanya Racka.
"Di kantor lah, pertanyaan macam apa ini?" tanya Nata menyipit heran.
"Maksudnya, kamu kenal dia di mana?" Racka menyipitkan matanya menelisik.
"Sumpah deh, lu harus alih profesi jadi wartawan atau reporter berita. Banyak tanya sih lu!" keluh Nata dengan sifat Racka yang penuh tanda tanya.
Racka terdiam, wajah Sisil benar-benar mengingatkannya akan seseorang di masa lalunya. Perasaan bersalah tiba-tiba saja datang menggelayuti hatinya.
Andai waktu dapat kembali diputar, Racka akan kembali pada waktu di mana dia dan Viona masih bersama. Mempertahankan Viona, mungkin kehidupannya tidak akan bergelung dalam lubang penyesalan seumur hidup.
"Gue butuh data karyawan lo tadi."
Nata tersedak softdrink yang baru saja dia tenguk. Direktur utama dari Dirga Company membelalakkan matanya mendengar keinginan dari teman baiknya.
"Hei! Jangan dia!" ucap Nata frustasi.
"Dia mungkin Viona yang operasi plastik," seru Racka membuat Nata menganga tidak percaya.
Dari mana asal pikiran temannya itu? Apakah Racka sudah mulai berhalusinasi setelah merana sebagai duda beberapa tahun?
Benar-benar tidak waras otak Racka, Nata tidak tahu harus membawa Racka ke mana untuk membuat lelaki itu tersadar dari kegilaannya atas Viona.
*****
Sisil meminta security perusahaan untuk memanggilkan taxi untuknya. Sore ini Sisil mungkin akan naik taxi lagi seperti kemarin. Sepertinya tawaran memakai mobil baru tidak salah, daripada dia harus menunggu taxi, atau ojek online via aplikasi yang terkadang menguras waktu saja.
"Pak, gimana taxinya?" tanya Sisil ketika security itu datang ke arahnya.
"Maaf Bu, saya tidak diperbolehkan Pak Nata memesankan Ibu taxi," jawab security kantor penuh sesal.
"Pak Nata?" seru Sisil tak percaya.
Apa hubungan Nata dengan taxi yang akan dia pesan? Mungkinkah Nata berniat membuka perusahaan ojek online?
"Iya Bu, saya disuruh memberitahu Ibu. Beliau sudah menunggu Ibu di mobil." Penjelasan dari security perusahaan membuat Sisil menghembuskan napas panjang.
Sisil menarik napas, lebih baik dia memesan ojek online mobil saja dengan ponsel temannya. Ponsel miliknya tiba-tiba mati kehabisan baterai.
Kalau sudah begini, dia akan kembali merasakan udara panas di sekitarnya saat berdekatan dengan bos barunya.
"Ibu harus ke sana," jelasnya.
"Sudah Pak, kembali ke luar. Saya pesan ojol saja," jawab Sisil mencari salah satu orang untuk dia mintai tolong memesan aplikasi online itu.
Sisil celingukan, dia sudah menemukan seseorang yang bisa dia mintai tolong memesan ojek online. Mengeluarkan uang untuk membayar ojek online lebih baik daripada harus kembali bertemu Nata, begitu pikirnya.
"Tapi Bu, kalau Ibu Sisil tidak ke sana saya bisa dipecat," pungkas security membuat Sisil menoleh.
"Pak Nata bilang begitu?" tanya Sisil terkejut.
"Iya Bu," jawab security itu menghela napasnya panjang.
Nata benar-benar keterlaluan. "Ya sudah, saya ke sana," sahut Sisil pada akhirnya.
Dengan terpaksa, akhirnya Sisil menuruti kemauan dari Nata. Sisil berjalan ke arah parkiran mobil khusus VVIP di perusahaan.
"Kenapa lama sekali?" cibir Nata saat Sisil memasuki mobilnya.
"Memangnya jalan kaki tidak butuh waktu?" tanya Sisil kesal.
"Memangnya sejauh apa lobby dengan parkiran mobilku?" tanya Nata balik.
Jelas-jelas Nata melihat Sisil masih berbincang dengan security perusahaannya. Kalau saja Sisil tidak kunjung tiba, Nata akan memecat security itu karena sudah berani menyita waktu wanita yang dia tuju.
"Antarkan aku ke alamat ini." Sisil memasukkan alamat rumahnya pada maps di mobil Nata.
"Apa?" pungkas Nata tidak percaya.
Gilaa! Bukannya memberikan penjelasan, Sisil malah acuh dan tanpa berdosa mengatur setelan maps di mobil mewahnya.
Sisil mengatur tempat duduknya, wanita itu memilih memejamkan matanya daripada harus bercengkrama dengan lelaki yang selalu saja mengusik hidupnya beberapa minggu ini.
"Cecilia, kamu tidur?" Nata menoleh ke arah wanita cantik itu.
"Hmmmm."
Nata tersenyum geli, mana ada orang tidur bisa menjawab pertanyaannya. Ada sesuatu yang beda ketika Sisil memejamkan matanya. Wanita itu tidak lagi nampak ketus dan judes terhadapnya.
Wajah Sisil terlihat damai, namun masih nampak sisa-sisa kelelahan usai bekerja.
"Kita mampir makan dulu, mau?" ajak Nata.
"Enggak ah, nanti aku yang bayar lagi," jawab Sisil melipat tangannya ke depan da-da.
"Kan sudah aku ganti uangnya ,aku lebihin pula," keluh Nata yang tidak suka kejadian itu diungkit lagi.
"Mmm boleh, tapi aku yang nentuin tempat makannya," ucap Sisil diangguki semangat Nata.
Sisil memilih salah satu tempat makan yang sangat ramai, menjadi topik pembahasan hangat di vloger pecinta makanan. Tiba lah mereka di sebuah warung lesehan, warung 'Nasi Solo' yang sangat ramai di jam-jam seperti ini.
"Kita makan di sini?" tanya Nata ragu.
"Kenapa? Tidak mau? Di sini enak loh Pak," ucap Sisil mengacungkan dua jempolnya.
Melihat ekspresi bersemangat Sisil membuat Nata percaya, dia menurut saja apa yang Sisil mau. Ini pertama kalinya Sisil antusias ketika berada di dekatnyam
"Buk, Nasi Solo dua ya, pakai sate ayam," ucap Sisil memesan makanan kesukaannya.
Sisil melihat ketidaknyamanan yang dirasakan Nata, Sisil menarik jas Nata. Memberikan isyarat lelaki itu untuk duduk.
"Tikarnya kotor, ini pakai sapu tangan," ucap Nata melebarkan sapu tangan di dalam tasnya, memberikan alas untuk Sisil duduk.
Percayalah, perhatian sekecil itu mampu membuat Sisil tidak bisa berkata apapun lagi kecuali terimakasih. Untuk memanjakan wanita dan membuat wanita terbang bebas, Nata juaranya.