Menikmati makan malam di tempat sederhana bersama seorang wanita spesial seperti Cecilia merupakan makan malam bernilai bagi Nata. Itu adalah kali pertama di mana Nata merasakan nuansa merakyat yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan.
Biasanya, untuk makanan sehari-harinya saat berada di luar negeri, Nata memasrahkannya pada chef yang bertanggungjawab di gedung apartemen tempatnya tinggal. Dan ketika lelaki itu berada di rumahnya, ibunya adalah juru masak paling handal teruntuk dirinya dan keluarga besar.
Lalu lalang kendaraan melewati warung makan menjadi pemandangan baru di matanya. Tidak ada kawasan hunian elit, ataupun background estetik sebagai pemandangan. Tapi Nata sangat menikmatii setiap detiknya yang terlewat di sana.
"Perutku rasanya kembung, makanan di sini memang memanjakan lidah para pembelinya," puji Sisil meng-elus perut ratanya.
Nata menoleh ke arah wanita yang kini berbicara dengan sorot mata berbinar.
"Kamu mau bungkus untuk dibawa pulang?" tanya Nata.
"Eh, tidak usah Pak. Sudah kenyang, lihat perutku buncit," jawab Sisil menunjuk perutnya yang sama sekali tidak buncit.
Sebanyak apapun wanita itu makan, Sisil mendapatkan karunia terindah dari Tuhan yang membuat banyak kaum hawa merasa iri dengan dirinya. Pasalnya, Sisil bisa memakan apapun juga makanan yang dia inginkan tanpa takut berat badannya bertambah.
"Untuk papa dan mamamu mungkin?" tawar Nata.
Sisil memicingkan matanya curiga. "Maksudnya Bapak mau nyogok orang tua saya juga, begitu?" tuduh Sisil.
"Kamu ini suka sekali berburuk sangka dengan saya. Ya sudah kalau tidak mau," pungkas Nata berdiri dari tempat duduknya untuk menuju meja kasir.
Sisil berjalan di belakang Nata, untung saja dia memakai flatshoes nyaman sehingga tidak susah mengikuti langkah kaki Nata yang menurutnya sangat lebar.
"Bapak tidak lupa aktivasi kartu lagi, kan?" bisik Sisil menyenggol Nata.
"Saya bawa uang cash satu bagasi kalau kamu khawatir," jawab Nata ketus.
Sisil terkikik geli, rupanya bos barunya itu mudah sekali tersinggung dan emosi.
"Kan saya cuma tanya, Bos," kekeh Sisil mangut-mangut.
Usai mengeluarkan dua lembar uang seratus ribu sebagai alat pembayaran, Nata dan Sisil bergegas kembali menuju mobil. Langit semakin menggelap, bintang-bintang mulai bersaing memamerkan kilauannya.
Sisil hendak memasang kembali titik GPS di mobil Nata, namun tangan sang pemilik lebih dulu mencekal tangannya.
"Tidak usah, saya hafal jalan menuju lokasi rumahmu," tutur Nata hanya dijawab 'oh' ria oleh Sisil.
Mobil Nata berhenti di komplek tentara, kilasan balik tentang masa lalunya di daerah sana membuatnya terdiam. Gadis kecilnya dulu, bukankah dia sudah beranjak menjadi wanita dewasa? Seperti apa rupanya?
Di belakang kompleks tentara, di sanalah gadisnya tinggal. Hidup di keluarga konglomerat sudah pasti hidupnya akan baik-baik saja.
"Stop di sini saja Pak."
Nata sangat penasaran, kenapa Sisil selalu meminta berhenti di gerbang masuk komplek tentara. Seharusnya Nata bisa datang ke rumah Sisil, bertemu dengan orang tua Sisil. Setidaknya Nata harus tahu bibit bobot dan bebet dari wanita yang sedang dia kencani.
"Kamu benar tinggal di sini?" tanya Nata penasaran.
Sisil mengangguk, jika Nata memaksa untuk mampir ke rumahnya maka selesai sudah penutupan jati dirinya selama ini. Wanita itu harus mencari cara menghindari pembicaraan yang akan mengarah pada niat bos barunya.
"Iyaaa Pak, rumah saya di sini," jawab Sisil frustasi dengan pertanyaan Nata.
Nata hanya mengangguk tidak yakin. Lelaki itu menatap Sisil menimang, ada perasaan ragu untuk menanyakannya kepada Sisil.
"Apa ada wanita yang usianya sama denganmu di sini?" tanya Nata membuat Sisil mengerutkan keningnya.
Wanita seusia dengannya? Sepertinya tidak ada. Sisil tidak pernah melihat anak sebayanya tinggal di komplek perumahan mewahnya. Atau, yang Nata maksud seorang wanita seusia Sisil tinggal di komplek tentara, bukan komplek asli rumahnya?
"Di komplek sini?" tanya Sisil menatap bosnya dengan penasaran.
"Bukan, di belakang komplekmu."
Itu berarti komplek rumah Sisil tinggal, hanya ada tiga rumah di sana. Rumahnya, dan yang dua lagi milik pegawai negara yang tidak bisa Sisil sebutkan namanya.
Siapa wanita yang tengah dibicarakan oleh Nata? Jangan-jangan malah ibunya? Ckck, pemikiran macam apa itu, Sisil!
"Sepertinya tidak ada Pak," jawab Sisil mengingat-ingat kembali tentang wanita seusianya.
Sisil yakin benar, di sana tidak ada anak perempuan selain dirinya. Ataukah ada anak perempuan yang pindah dari sana saat Sisil masih kecil?
Kalau memang anak perempuan itu pindah ketika Sisil masih kecil, kemungkinan kedua orang tuanya akan tahu siapa yang dimaksudkan oleh bos barunya.
Nata menatap Sisil dengan teliti. "Kamu yakin bukan dia?" tanya Nata.
Bukan dia? Bukan dia siapa maksud Nata?
Dia gadis kecil Nata maksudnya? Wuah rupanya lelaki tampan nan mengesalkan di depannya termasuk kategori lelaki gagal move on pada jamannya.
"Jadi Bapak menganggap saya copy-an gadis itu?" tanya Sisil tidak percaya ada lelaki yang menyamakannya dengan wanita lain.
Memangnya gadis itu secantik apa sampai Nata menganggap Sisil adalah gadis itu? Apakah gadis itu mampu menjadi wanita tercantik dalam 'tiga dunia' seperti dirinya?
Huh, membayangkannya saja sudah membuat darah Sisil mendidih. Wajahnya bukan tipe wajah pasaran, bisa dengan mudah disamakan atau dikembari kalau tidak kemiliki kualitas gen mumpuni yang sama dengan dirinya.
"Memangnya siapa nama gadis kecil Bapak?" tanya Sisil penasaran.
Nata hanya menghendikkan bahunya. Ucapan anak perempuan di masa kecilnya terasa samar dalam pemikiran Nata.
"Entah, aku juga lupa namanya," jawab Nata sontak membuat Sisil terbahak.
"Maksudnya, Bapak tidak tahu nama gadis itu tapi menyamakan wanita tercantik di tiga dunia ini dengannya?" tanya Sisil menatap Nata tajam.
Nata menghela napasnya panjang, bukan begitu maksud pertanyaan yang dia lontarkan. Nata hanya ingin mencari informasi mengenai gadis di masa kecilnya, lebih tepatnya mengenai kabar yang sudah tidak dia dengar lagi rimbanya.
"Bukan begitu maksudku."
"Jangan-jangan gadis itu masih kecil?" tanya Sisil menyipitkan matanya ke arah Nata.
Iya, jika gadis itu masih kecil tentu saja Sisil tidak mengenalnya. Ya kali Sisil bergaul dengan anak-anak.
What, anak-anak?
Jadi Nata ....?
"Bapak p*****l?" pekik Sisil menutup mulutnya, dia menatap Nata tak percaya.
Pletak, Nata menjitak kepala Sisil. Entah apa yang ada di dalam pikiran wanita cantik itu, semua yang keluar dari mulutnya hanya tidak masuk akal saja.
Sudah tahu dia begitu, kenapa Nata masih juga menginginkan Sisil untuk menjadi kekasihnya? Sama saja Nata menggali lubangnya sendiri.
"Kamu pikir saya kelainan?" ucap Nata memutar bola matanya kesal.
"Yaaa siapa tahu benar, Pak," ejek Sisil.
Sisil membuka pintu mobil Nata, dia tersenyum geli menatap Nata.
"Terimakasih untuk makanan dan tumpangannya, Pak," ucap Sisil tulus, menampilkan senyuman menggemaskan khas dirinya.
Nata keluar dari mobil, mengikuti Sisil di belakang wanita itu.
"Cecilia," panggil Nata menghentikan langkah Sisil.
Nata berjalan menyusul Sisil hingga posisi mereka saling berhadapan. Manik mata Sisil menatap Nata dengan pandangan penuh tanya. Pandangan Nata padanya terasa begitu mencurigakan bagi Sisil.
Atau lelaki di depannya itu tengah merencanakan sesuatu?
Cup.
Satu kecu-pan di bibir ranum Sisil mampu membuat wanita itu bagaikan menjadi jelly seketika. Kakinya tiba-tiba lemass, padahal itu hanya ciu-man sekilas di antara dua orang dewasa. Sisil benar-benar wanita yang sangat polos.
"Hukuman karena memanggilku 'Bapak' saat kita berada di luar kantor," ucap Nata tersenyum menatap ekspresi wajah Sisil yang saat ini berubah semerah tomat.
"Kau menciumku lagi! Dasar bos mesummm!" keluh Sisil dengan kekesalannya yang sudah mencapai ubun-ubun.
Nata terkekeh, lelaki itu malah mendekat lagi ke arah Sisil. Dengan spontan Sisil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Kecu-pan lembut di kening Sisil membuat Sisil mengerjap, lagi dan lagi. Lelaki itu memang suka mencuri ciuman darinya.
"Semoga tidurmu nyenyak, Sweet Heart," ucap Nata, mengelus pipi Sisil dengan lembut.
Sebelum kesadaran Sisil kembali, Nata berlari menuju mobilnya.
"Heiiiii, dasarrrrr pen-curi ciumann abadi!" teriak Sisil mengacak rambutnya frustasi.