16. Kekasih Nata

1362 Words
Sisil menatap koleksi gaunnya dengan kening berkerut, dua jam lagi Nata akan menjemputnya untuk ikut gala dinner bersama koleganya, serta penandatanganan kontrak baru mewakili orangtua Nata sebagai salah pemegang saham tertinggi di Dirga Company. Berkali-kali Sisil menempelkan semua gaun di badannya. Dia sangat bingung harus memakai gaun yang mana untuk dia kenakan nanti. Sepertinya berbagai gaun rancangan designer ternama dengan segala macam model serta merk bagaikan berpindah tempat di dalam walk in closet pribadinya. Sisil merutuki dirinya yang selalu saja menolak ketika sang mommy mengajaknya ke butik langganan keluarganya untuk membeli gaun keluaran terbaru. Meski begitu koleksi pribadi Sisil tidak dapat dikatakan ketinggalan mode karena wanita itu baru saja berbelanja di pusat perbelanjaan Singapura kurang dari sebulan. "Kamu lagi nyari apa Sil?" tegur Vere saat memasuki ruang kamar Cecilia. Tanya mommy Sisil ketika tidak sengaja melihat pintu walk in closet Sisil tidak tertutup mendapati putri sematawayangnya berdiri bingung di depan koleksi pribadinya. "Ini, nanti malam Sisil nemenin bosnya Sisil, Mom. Gaun mana yang masih pantas untuk Sisil kenakan?" tanya Sisil kepada mommynya. Mommynya dengan cekatan memilihkan gaun yang pas untuk Sisil. Memang para wanita selalu saja merasa tidak memiliki pakaian ketika mereka hendak berpergian. Itulah mengapa jumlah pakaian wanita dan pria seperti tiga banding satu. "Ini sepertinya bagus untuk kamu kenakan dalam acara tersebut," ucapnya menyodorkan gaun hitam di atas dengkul dengan bahan jatuh menambah kesan mewah dan elegan jika dipakai Sisil. "Mommy memang yang terbaik!" seru Sisil memeluk mommynya dengan manja. Pada beberapa kesempatan, Sisil memang memasrahkan segala sesuatu kepada ibu kandungnya itu. Vereneden yang mengetahui segala kesukaan dan style fashion putri sematawayangnya sama sekali tidak kesulitan menentukan gaun yang tepat untuk Sisil. Tak ingin membuang waktu lagi, Sisil segera bersiap untuk mendampingi Nata dalam gala dinner yang akan mereka hadiri malam ini. Sebenernya Sisil merasa gundah, di sana dia pasti bertemu dengan banyak orang dari kalangan mereka. Sisil takut jika pada acara itu ada seseorang yang mengenal Sisil sebagai anak tunggal pasangan Reivan dan Vereneden. Sedangkan di rumah keluarga Dirga Pratama, Nata mengeluarkan seluruh setelan jas yang dia miliki selama ini. Nata harus tampil luar biasa pada kesempatan malam ini. Nata berniat menyadarkan Sisil betapa tampannya bos barunya itu sebenarnya. Semenjak kejadian kemarin, Nata semakin yakin bahwa Sisil akan menerima cintanya sebentar lagi. Tinggal menunggu waktunya saja. "Sepertinya jas ini akan melekat sempurna pada tubuhku," gumam Nata menilai pantulan dirinya dari kaca hias. Nata kembali terngiang, bagaimana tatapan Sisil terakhir kali kepada dirinya. Lelaki itu bisa menilai bagaimana cara Sisil menatapnya setelah kejadian itu. Nata layaknya wartawan yang ingin tahu segala sesuatu barang milik wanitanya. Semoga saja perkiraan Nata tidak meleset, jika Sisil menerima cintanya maka Nata tidak akan menunggu waktu lebih lama lagi untuk mempersunting wanita itu. Karena bagaimanapun juga umur mereka telah matang untuk membina suatu rumah tangga. . Sisil menunggu di tempat biasa Nata mengantarkannya pulang. Gaun yang dia pakai mampu membuat semua mata yang menatapnya terpukau. Bahkan sejak tadi banyak orang yang terang-terangan memberikan pujian pada anak keturunan keluarga Corlyn yang digadang-gadang mewarisi sejumlah saham ibunya perusahaan. Tinnnnn... Suara klakson mobil membuat Sisil menoleh, Sisil tersenyum ke arah Nata yang kini keluar dari mobil untuk menghampirinya. Sisil menatap pemilik mata hitam legam yang baru saja keluar dari kendaraan besi super mewah. Nata berdecak kagum dengan penampilan wanita itu kali ini. Penampilan Sisil lebih berani dari biasanya. Wanita itu sangat pandai dalam memilih pakaian yang pas untuknya. Belum lagi hiasan make up melekat sempurna di wajah ayu karyawan Dirga Company itu. "Kamu sangat cantik," ucap Nata menatap Sisil takjub. Sisil menunduk malu. "Kamu pun terlihat berbeda kali ini," ucap Sisil malu. "Lebih tampan bukan?" tanya Nata dengan tingkat kepercayaan dirinya yang terlampau tinggi. Mau tidak mau, Sisil harus mengakui bahwa lelaki itu sangat tampan dari sananya.Tanpa pakaian mewah dan juga bermerk, Nata sudah tampan sejak lahir. Begitupun Sisil, sesederhana apapun pakaian yang dia kenakan, tubuh wanita itu sudah tercetak ideal dari sananya. Apapun yang dia pakai, akan terlihat sangat bagus dan juga membuat semua wanita iri kepadanya. Apalagi ditambah wajah wanita itu yang cantik alami dan juga kekayaan yang dia miliki sejak lahir. Siapa wanita yang tidak akan iri dengen keberuntungan Sisil? "Silahkan masuk Tuan Puteri," seloroh Nata menggoda Sisil. Tangan Nata berada di atas kepala Sisil, melindungi kepala wanita itu saat hendak masuk ke dalam mobilnya. Nata tidak akan membiarkan wanitanya mengalami hal buruk apapun juga, karena Nata siap berada di depan wanita itu dalam keadalam seburuk apapun. "Bukannya acaranya jam delapan? kenapa kita berangkat jam lima sore?" tanya Sisil penasaran. Padahal jadwal gala dinner tersebut masih beberapa jam lagi, namun Nata sudah bersikeras menjemput Sisil pukul lima sore waktu setempat. "Perjalanan kita dua jam untuk sampai ke sana," jawab Nata membuat Sisil ber'oh' ria. "Lalu penandatanganan kontraknya kapan?" pungkas Sisil menyuarakan keingintahuannya. "Sebelum gala dinner dimulai, Sayangku," ucap Nata mengelus pipi Sisil dengan gemas. Wajah Sisil berubah merah meskipun tanpa memakai riasan blush on di pipinya. Nata bukan hanya tampan, tapi dia mampu memperlakukan wanita dengan sangat baik dan juga lembut. Walaupun terkadang sikap kekanakannya keluar begitu saja, semua itu tidak menyingkirkan sikap perhatiannya pada wanitanya. Nata menggenggam erat jemari Sisil, mereka saling menatap satu sama lain. Nata tersenyum lembut ke arah Sisil yang kini menatapnya dengan pandangan tak bisa diartikan. . Sisil berjalan di samping Nata, mereka memasuki restoran yang ada di lantai tiga puluh Hotel Banyu Wangi, salah satu hotel bintang lima kelas bisnis rekomended yang wajib para wisatawan kunjungi saat datang ke kota itu. Langkah kaki Sisil terlihat semakin sexy dan anggun dengan high heels hitam yang dia kenakan sekarang. Penampilan Sisil malam ini mampu menyita banyak perhatian para tamu undangan di sana. "Pak Adinata Dirga Pratama?" panggil salah satu tamu undangan di sana yang kebetulan akan menandatangani kontrak dengan Nata, pengusaha asal Singapura. "Pak Jerome, senang bertemu dengan Anda," jawab Nata dengan Bahasa Inggris yang fasih. Jerome menatap Sisil. "Dia sekretaris Anda?" tanya Jerome penasaran. "My Mine," jawab Nata membuat Sisil tersipu malu. Jerome terkekeh, dia memberikan ucapan selamatnya kepada Nata. Jerome mengajak Nata dan Sisil untuk masuk keruangan pribadi yang telah dia sewa untuk melakukan penandatanganan kontrak. "Senang bisa bekerja sama dengan Anda," ucap Nata dengan ramahnya. Jerome mengangguk, lelaki itu merangkul Nata sekilas. "Selamat menikmati gala dinner malam ini," ucap Jerome bersikap welcome kepada Nata dan Sisil. Ketukan di pintu ruangan pertemuan membuat mereka menoleh, anak buah Jerome masuk dan memberikan salam kepada ketiga orang di sana. "Mr. Reivan datang mewakili Corlyn Company." Apa? Daddy Sisil berada di sana? Netra Sisil melebar sempurna begitu mendengar nama ayahnya disebutkan dengan penuh penghormatan dari para koleganya. Jelas saja, Reivan adalah petinggi dari perusahaan berkancah internasional. Kenapa Sisil tidak tahu jika dia dan daddynya dalam satu acara yang sama? Bisa tamat riwayat Sisil jika ayahnya tahu dia datang ke acara tersebut dengan diperkenalkan sebagai pasangan Adinata Dirga Pratama. "Saya keluar menyapa tamu-tamu saya dulu, jangan sungkan nikmati acaranya," tutur Jerome kepada Nata dan Sisil. Sisil menggaruk tengkuknya, dia melirik ke arah Nata. Apa yang harus Sisil lakukan sekarang? "Ayo kita keluar, aku ingin menyapa Om Reivan. Beliau teman dekat orang tuaku," ucap Nata membuat mata Sisil terbalalak. Lagi-lagi Sisil tidak mengetahui ini, dia sama sekali tidak tahu menahu jika orang tua Nata mengenal orang tuanya. Kenapa dunia rasanya begitu sempit? Nata menggandeng tangan Sisil untuk mengikutinya. "Om Reivan?" panggil Nata menyapa Reivan yang tengah berbincang dengan para rekannya di dunia bisnis. Ayah Sisil menoleh begitu namanya dipanggil oleh seseorang. Senyum Reivan mengembang melihat lelaki muda nan tampan berdiri di seberang tempatnya berdiri. "Kamu Adinata kan?" tanya Reivan tidak menyangka anak temannya tumbuh besar dengan cepat. "Iya Om, Saya Nata," jawab Nata mencium tangan Reivan. Reivan memicingkan matanya ketika melihat Sisil berdiri di belakang Nata, Nata menoleh. Reivan mati-matian melayangkan tatapan mata menelisik ke arah putri sematawayangnya. "Siapa gadis cantik ini?" tanya Reivan dengan menatap Sisil menggoda. "Kekasih Nata, Om, doakan saja sampai di pelaminan," ucap Nata merangkul pinggang Sisil. "Kekasihmu?" tanya Reivan menekan kata-katanya. Membuat Sisil tidak bisa berkutik lagi, di depannya sang daddy menatapnya dengan pandangan meminta penjelasan, di sampingnya Nata tersenyum tak berdosa mengklaimnya sebagai kekasihnya. Ah rupanya karena Nata, Sisil selalu pulang dari kantor dengan berbagai macam keadaan, terkadang marah tidak jelas, kadang juga tersenyum sendiri seperti orang gila.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD