Hujan membasahi jendela apartemen Arabelle ketika ia mengenakan sarung tangan hitamnya perlahan. Membawa tas khusus yang berisi senjata dan keperluan untuk menyamar.
Dalam hitungan menit, sosok mahasiswi Ravenwood University itu menghilang, dia tidak terlihat lagi seperti mahasiswi dengan sweater oversize atau laptop dan wajah lelah karena tugas.
Yang tersisa hanyalah Arabelle Haugen versi lain, versi yang tidak diketahui siapapun.
Ia mengambil pistol kecil dari dalam lemari, lalu menyelipkannya di balik jaket gelapnya.
Ponselnya kembali bergetar.
Location sent.
Arabelle membuka pesan terenkripsi itu cepat.
Warehouse District.
11:45 PM.
Bagus, daerah paling menyenangkan untuk ditembak mati.
Arabelle mendesah pelan sebelum mengambil helm motornya dan keluar apartemen. Apakah misi malam ini akan menjadi misi bunuh diri lainnya? Dia sudah mengalaminya berkali-kali walau selamat tapi tetap saja itu melelahkan.
Meski begitu, ia masih senang dengan pekerjaan sampingan ini.
•••••
Kota ini terlihat berbeda di malam hari.
Gedung-gedung tinggi dipenuhi cahaya neon, jalanan basah memantulkan warna lampu merah dan biru, sementara hujan membuat daerah ini terasa lebih dingin dari biasanya.
Arabelle menghentikan motornya di depan bangunan gudang tua dekat pelabuhan. Tempat sunyi yang cocok untuk di jadikan tempat briefing malam, untuk agen rahasia.
Ia memasukkan tangan ke saku jaket sambil berjalan menuju pintu belakang gudang. Begitu masuk, aroma logam dan debu langsung memenuhi inderanya.
Beberapa orang sudah berada di dalam, mereka adalah Agen Vanguard Elite.
Sebagian besar mengenakan pakaian hitam formal dengan wajah datar tanpa banyak bicara karena tidak ada yang benar-benar berteman di organisasi ini, karena dalam pekerjaan mereka, kepercayaan adalah sebuah kelemahan.
“Arabelle.”
Seorang pria paruh baya menghampirinya sambil membawa tablet, di lihat dari penampilan nya yang paling berbeda dan tampak kuat, dia adalah pemimpin organisasi ini, Marcus Reed. Tapi kadang, beberapa agen selalu bilang kalau Marcus mirip dengan Arabelle.
Arabelle pikir, mungkin itu kebetulan?
“Misi sederhana malam ini,” ucap Marcus. “Pengambilan data dari broker senjata ilegal. Tim utama sudah bergerak.”
Arabelle menerima alat komunikasi kecil darinya, kadang ia suka pekerjaan sampingannya ini, tapi kadang juga ia benci.
“Kenapa aku dipanggil mendadak ke tempat mengerikan itu?” tanya Arabelle.
Marcus menatapnya sebentar, “karena partner-mu terlambat.”
Arabelle menghela napas kecil. Hebat, ia belum setahun menjadi agen penuh dan sekarang mendapatkan partner baru yang terlambat untuk sebuah misi.
"Jadi harusnya siapa yang mendapat misi itu?" Arabelle terlihat agak kecewa.
"Harusnya dia sendiri, tapi karena ini keahlianmu, jadi kau di panggil juga."
Arabelle mengangguk pelan, matanya menyisir para agen tapi ia tidak mendapati wajah baru.
“Siapa?” Ia bertanya lagi.
Marcus belum sempat menjawab ketika suara langkah kaki terdengar dari arah pintu gudang yang langsung memecah keheningan dalam ruangan ini. Semua agen otomatis menoleh dan Arabelle langsung merasa ada sesuatu yang aneh.
Pria itu tinggi dan mengenakan coat hitam panjang yang basah oleh hujan. Wajahnya tertutup bayangan karena pencahayaan gudang yang redup, tetapi aura dinginnya langsung terasa, bahkan Marcus mendadak berdiri lebih tegak.
“Arabelle, partner-mu datang,” ucap Marcus.
Pria itu berjalan mendekat tanpa suara berlebihan, gerakannya teratur dan tatapannya tajam seperti predator. Arabelle tanpa sadar menegang, entah kenapa sosok nya terasa familiar.
Namun sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, pria itu langsung mengambil file misi dari tangan Marcus.
“Target?” tanyanya singkat dengan suara yang rendah.
Jantung Arabelle langsung berhenti sepersekian detik, suara itu sangat familiar.
“Arabelle akan masuk lewat sisi timur,” lanjut Marcus cepat, tampaknya tidak menyadari perubahan ekspresi Arabelle. “Kau mengawasinya dari atas.”
Pria itu akhirnya menoleh. Tatapan gelapnya jatuh tepat pada Arabelle, meski pencahayaan gudang terlalu redup untuk melihat wajahnya jelas, tapi Arabelle tahu suara itu pernah ia dengar sebelumnya.
Pria itu memandangnya beberapa detik sebelum berkata dingin, “Kau memberikan anak kecil untuk operasi seperti ini.”
Nada suaranya datar dan membuat Arabelle langsung tersinggung, dia memang agen yang baru bekerja dua tahun di sini dan baru menjadi seorang agen penuh setahun ke belakang setelah menjalani banyak misi yang hampir mencelakainya.
“Aku bisa menangani diriku sendiri,” desis Arabelle yang kesal, "dan aku bukan anak kecil!"
Beberapa agen lain langsung diam, dan Marcus langsung terlihat gugup. Namun pria itu hanya menatap Arabelle tanpa ekspresi. Namun tanpa Arabelle sadari, pria itu menyeringai sangat tipis.
Dia merasa telah melihat sesuatu yang menarik.
“Kita lihat saja nanti.”
•••
Misi dimulai lima belas menit kemudian, Arabelle bergerak cepat menyusuri sisi luar gedung tua tempat transaksi ilegal berlangsung. Hujan membuat langkahnya lebih sulit terdengar.
Ia memeriksa alat komunikasi kecil di telinganya.
“Posisi aman,” bisiknya.
Suara rendah itu langsung menjawab dari seberang sambungan.
“Jangan gegabah.”
Lagi, Arabelle mendengar suara dingin yang khas itu hingga ia menggertakkan gigi pelan, karena menahan kesal. Pria itu terdengar sangat sombong, Arabelle tidak tahu apakah partnernya ini adalah seorang senior atau bukan.
Tapi cara dia bergerak, terlihat kalau dia sering memimpin namun dengan cara yang menyebalkan.
Arabelle melompati pagar belakang dan masuk melalui jendela rusak lantai satu. Di dalam ruangan gelap dan sunyi itu Arabelle bergerak perlahan sambil mengeluarkan flashdisk kecil dari sakunya.
Tugasnya sederhana yaitu mengambil data transaksi dalam waktu lima menit, masuk lalu keluar. Namun tentu saja misinya tidak pernah semudah itu.
Suara langkah mendadak terdengar dari lorong sebelah, Arabelle seketika membeku. Dia harus bersembunyi dengan cepat. Dua pria bersenjata muncul lebih cepat dari perkiraan.
“Siapa di sana?!”
Lampu senter menyorot langsung ke arahnya.
“Arabelle, keluar sekarang,” suara di earpiece terdengar tajam.
Terlambat.
Salah satu pria langsung mengangkat pistol dan sebelum Arabelle sempat bergerak.
BRAK!
Seseorang muncul dari bayangan dan menjatuhkan pria itu hanya dalam satu gerakan brutal. Gerakan yang cepat itu tepat, efisien untuk menyelamatkan Arabelle yang nyaris tertembak.
Arabelle membelalak, ia mendongak pelan untuk melihat siapa yang telah menolongnya di saat ia tersudur. Pria bercoat hitam tadi berdiri di depannya sambil memegang pistol berperedam.
Gerakannya terlalu sempurna, dia sangat ahli melebihi Arabelle yang sudah di latih dengan ketat.
Satu tembakan lagi terdengar pelan dan pria kedua jatuh, ruangan gelap dan berdebu itu kini kembali sunyi.
Arabelle menatap sosok di depannya dengan napas tercekat. Hujan dari jendela pecah membasahi bahu pria itu sedikit demi sedikit.
Untuk pertama kalinya, Arabelle bisa melihat sorot mata dingin pria itu dengan jelas. Meski wajahnya masih terhalang kegelapan, tapi kali ini mata itu saling berpandangan dengannya.
“Kamu sangat ceroboh padahal bukan agen baru,” ucapnya pelan.
Jantung Arabelle berdegup lebih kencang, karena ia yakin pernah mendengar suara ini tadi pagi. Berkali-kali, suara yang memanggilnya, memberinya tugas, di Universitas Ravenwood.