“Kamu harus buat analisis tentang peraturan hukum negara yang sedang berkonflik, dengan tulisan tangan yang rapi,” ucap Henry pada Arabelle.
Pria itu kini berdiri tepat di hadapan Arabelle hingga gadis itu bisa melihat dengan jelas wajahnya dari jarak dekat. Mata indah Arabelle terpaku menatap wajah tampan yang terpahat begitu sempurna.
“Arabelle, kumpulkan tugas itu hari Jum’at, sebagai hukumanmu karena terlambat di kelas saya,” lanjut Henry, ucapannya seketika membuat Arabelle tersadar dan ia segera mengalihkan pandangannya, lalu mengangguk pelan.
Henry menatap Arabelle intens, ia memperhatikan gadis itu dari ujung kepala hingga kaki. Seperti sedang memindai apakah gadis itu manusia atau bukan, itu membuat Arabelle tidak nyaman.
“Saya permisi, Profesor,” akhirnya Arabelle pamit lebih dulu.
Hujan masih turun ketika Arabelle keluar dari ruang kelas Profesor Henry Kaito. Dari yang tengkuknya meremang dan sedikit tegang, kini menjadi bahu merosot.
Itu semua karena Henry memanggilnya untuk memberikan Arabelle sebuah hukuman hanya karena telat tiga menit. Dia memberikan tugas analisis pada Arabelle, harus di tulis tangan.
Langkah Arabelle cepat menyusuri lorong fakultas yang mulai ramai oleh mahasiswa, tetapi pikirannya tertinggal di dalam ruangan tadi.
Terutama pada satu hal, cara Henry menatapnya. Terlalu intens untuk dosen yang baru mengenalnya kurang dari dua jam. Apa pria itu selalu memperhatikan muridnya dengan begitu? Tapi Arabelle merasa... Henry hanya melakukan itu padanya.
“Arabelle!”
Suara seorang perempuan membuatnya menoleh, itu adalah teman nya sejak SMA, Claire Danes. Gadis berambut pirang itu berlari kecil menghampirinya sambil membawa dua gelas kopi panas.
“Kamu masih berminat hidup, kan?" Tanya Claire dramatis.
Arabelle mendesah pelan. “Nyaris tidak, tuh."
Claire tertawa kecil sebelum menyerahkan salah satu kopi padanya. “Profesor baru itu benar-benar menyeramkan.”
“Dingin, kejam, seperti seorang pesuruh," gumam Arabelle yang lebih terdengar seperti sedang menggerutu.
“Tampan.”
Arabelle langsung melirik tajam pada Claire, walaupun ia tahu ketampanan Henry memanglah fakta yang tidak bisa ia bantah.
Claire terkekeh tanpa rasa bersalah. “Ayolah, seluruh kampus membicarakannya sejak pagi. Profesor muda masuk ke Ravenwood, tampan, misterius!”
Arabelle meminum kopinya untuk menyembunyikan ekspresi, yang di ucapkan Claire memang sebuah kenyataan yang tak bisa di bantah. Dia sendiri, memperhatikan Henry dari awal hingga kelas berakhir.
Henry Kaito memang terlalu menarik untuk ukuran profesor, blasteran asia yang membuatnya menjadi semakin tampan.
"Dia orang Jepang, kalau di lihat dari namanya."
Claire mengangguk setuju, "memang! Kalau dari gosip yang tersebar, katanya dia keturunan Yakuza, maksudnya keluarganya."
Arabelle mengatupkan bibirnya, sekarang ia mengerti mengapa cara pria itu berdiri, memandang dan bersikap selalu waspad. Dia jelas seseorang yang terlatih.
Dengan wajah tampan seperti itu, bahkan lebih terlihat seperti seseorang yang muncul di sampul majalah mahal dibanding dosen universitas.
"Dan usia tiga puluh dua sudah jadi profesor tetap. Gila," lanjut Claire sambil berjalan di sampingnya
Arabelle mendengus pelan, semua hal positif tentang Henry mengganggu baginya.
"Mungkin karena dia jenius,” ucap Arabelle, "atau agak psikopat."
“Itu juga mungkin. Yakuza terkenal kejam bukan? Gimana kalau dia pembunuh bayaran?”
"Imajinasimu berlebihan, Claire!"
Mereka berdua tertawa kecil sebelum berhenti di depan tangga utama gedung.
Namun senyum Arabelle perlahan menghilang ketika tanpa sadar ia melihat sosok familiar turun dari lantai atas.
Itu Henry, pria itu berjalan tenang sambil membawa beberapa dokumen di tangan kirinya. Jas hitamnya masih rapi sempurna meski sejak pagi hujan tak berhenti turun.
Beberapa mahasiswi langsung menoleh, tentu saja, sulit mengabaikan pria tampan dan matang seperti itu.
Hanya saja, Henry tampaknya sama sekali tidak peduli dengan semua tatapan itu.
Tatapannya lurus ke depan sampai akhirnya berhenti tepat pada Arabelle.
Dia menatap terlalu lama hingga membuat Arabelle merasa jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.
Claire yang menyadari itu langsung berbisik pelan, “Belle, dia sepertinya memang memperhatikan kamu, lihat, matanya sampai gak berkedip.”
“Arabelle," suara Henry memotong ucapan Claire begitu saja hingga gadis itu diam.
Dingin, tegas dengan tatapan yang sama dinginnya, membuat mereka menjadi pusat perhatian beberapa mahasiswi sekarang.
Arabelle berusaha terlihat normal ketika pria itu berhenti beberapa langkah di depan mereka.
“Profesor," sapa Arabelle.
Henry menatapnya beberapa detik sebelum berkata, “Tugas analisis pertama dikumpulkan hari Jumat.”
Pria itu hanya datang menghampiri untuk mengingatkan Arabelle tentang tugas hukuman yang baru saja ia berikan? Bukankah hal itu tidak perlu mengingat tugas itu di berikan bahkan belum lewat dari setengah jam yang lalu? Arabelle menghela napasnya sejenak sebelum akhirnya ia mengangguk.
"Saya ingat, Profesor.”
“Jangan mengecewakan Saya," ucap Henry.
Kalimat sederhana yang terasa memiliki arti berbeda bagi Arabelle, terutama dengan cara Henry bicara dan menatapnya.
Belum sempat Arabelle menjawab, Henry sudah melangkah pergi meninggalkan mereka.
Sial, bisa-bisanya kami bertemu lagi di sini! Batin Arabelle menggerutu.
Claire langsung menatap Arabelle dengan ekspresi tidak percaya, "Belle! Itu aneh, sangat aneh."
“Apa?”
“Dia bahkan gak melihatku, dia hanya fokus pada mu!" Claire berseru.
Arabelle memutar bola mata kecil, "mungkin karena kamu cerewet.”
“Aku serius," Claire mendekat sedikit, "tatapannya ke kamu itu bukan tatapan dosen biasa. Mungkin dia sedikit tertarik karena kamu jenius?”
"Sudahlah Claire, kamu selalu berspekulasi sendiri."
•••••
Malam harinya, Arabelle duduk sendirian di apartemen kecilnya sambil menatap layar laptop penuh dokumen politik internasional.
Jam menunjukkan pukul 11 malam dan ia belum bisa tidur. Pikirannya terus kembali pada Profesor Henry Kaito.
Aneh sekali.
Biasanya Arabelle tidak peduli dengan profesor atau dosen meskipun itu tampan, tapi Henry berbeda. Tatapannya seperti menyimpan sesuatu, dia juga sangat observatif.
Seperti seseorang yang selalu waspada. Tapi apa yang pria itu khawatir kan? Waspada karena apa?
Arabelle menghela napas pelan lalu bangkit mengambil air minum dari dapur kecil apartemennya.
Ponselnya bergetar, ada sebuah pesan masuk dari nomor tak di kenal.
Mission briefing in 20 minutes. Don’t be late.
Ekspresi Arabelle langsung berubah. Seluruh rasa lelahnya menghilang seketika.
Ia menatap pesan itu beberapa detik sebelum berjalan menuju lemari di sudut ruangan.
Begitu pintu lemari terbuka, di balik pakaian kuliah biasa, tersimpan pistol hitam, pakaian gelap, dan identitas lain yang tidak diketahui siapa pun di kampus.
Termasuk Profesor Henry Kaito, dia juga tidak tahu siapa Arabelle sebenarnya, kan? Setidaknya itulah yang Arabelle pikirkan. Setelah ia bersiap dengan pakaian khususnya yang cukup ketat dan serba hitam, ponselnya bergetar lagi.
Kau mendapat Partner baru malam ini.